
Selama perjalanan menuju rumah. Willy selalu menggenggam tangan Mita. Seharusnya mereka menginap malam ini di hotel. Tapi ketakutan Willy yang berlebihan karena melihat keberadaan Keyla di hotel tadi. Willy memutuskan untuk malam pertama mereka di rumah saja.
Willy selalu tersenyum, dan membenamkan kepala Mita di dada bidangnya. Sedangkan tangannya sudah mulai berkelana di tubuh Mita. Seandainya mereka hanya berdua di mobil itu. Sudah dipastikan Willy akan menghentikan mobilnya itu untuk mewujudkan keinginannya.
Mita menahan tangan Willy yang semakin menjalar kemana-mana. Matanya menatap kesal pria yang sudah sah menjadi suaminya itu. Untuk menegur langsung, Mita juga merasa malu.
"Om," kata Mita akhirnya. Dia tidak tahan melihat tingkah suaminya. Dia masih memakai gaun pengantin. Tapi tangan Willy sudah berada di area terlarangnya. Willy mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum.
Mita kembali menahan tangan Willy. Mita takut tanpa sadar mengeluarkan suara yang bisa membuat sang supir mengetahui kelakuan Willy. Mita menggenggam tangan itu dan membawa ke dadanya. Itu lebih bagus daripada tangan itu berada di area terlarangnya. Rasanya memang nikmat tapi mobil bukanlah tempat yang tepat untuk itu. Apalagi ada orang lain selain mereka.
Mobil itu akhirnya tiba di kediaman Willy. Setelah membukakan pintu mobil, Willy menggandeng mesra tangan Mita masuk ke rumah. Willy tidak sabar ingin membawa Mita ke dalam kamarnya.
Keinginan itu harus ditunda untuk sementara. Kedua orang tua Willy sudah duduk di sofa menunggu kedatangan Willy dan Mita. Sebelumnya Willy sudah mengatakan bahwa mereka tidak akan menginap di hotel.
Mita tersenyum kaku. Bertemu dengan mertuanya di hari pernikahan bukan hanya membuat Mita canggung. Mita juga dapat merasakan tatapan tidak menyukai dari mertuanya kaki laki. Tapi Mita berusaha menepis perasaan itu. Mita masih bisa berpikir positif.
"Mita, menantuku. Selamat datang di kediaman Willy," sambut nenek Bunga sambil memeluk Mita. Mita tersenyum dan membalas pelukan mertuanya.
"Terima kasih nenek," jawab Mita setelah pelukan itu lepas. Nenek Bunga tidak melarang Mita memanggilnya nenek. Nenek hanya ingin Mita merasa nyaman dalam hal apapun setelah menjadi istri Willy termasuk dengan memanggil dirinya dengan sebutan nenek yang seharusnya memanggil mama.
"Aku tidak melarang kamu memanggil aku nenek. Senyaman kamu saja. Tetapi kalau memanggil dengan sebutan mama. Juga tidak apa apa," kata nenek sambil mengelus lengan Mita. Mita tersenyum.
Mita kemudian mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan kakek Jhon. Kakek Jhon menerima uluran tangan itu dengan terpaksa. Mita kemudian duduk di sofa di samping Willy.
"Gak ada rencana bulan madu?" tanya kakek Jhon datar. Dia hanya basa basi daripada harus berdiam diri. Kakek Jhon tidak ingin, Willy menyadari bahwa dirinya tidak menyukai Mita.
"Ada pa, rencana ke Maldives minggu depan," jawab Willy. Mita menoleh ke Willy. Willy ternyata serius dengan apa yang dikatakannya kemarin. Bersamaan dengan itu. Alda melangkah menuruni tangga. Dia sudah rapi. Dan nampaknya akan bepergian.
"Tuan putriku. Hidupku," kata Willy setelah Alda mendekat ke mereka. Alda tersenyum. Kasih sayang ayahnya masih jelas terasa walau ayahnya sudah menikahi Sahabatnya Mita. Alda duduk di sebelah kiri Willy. Pria yang baru melepaskan dudanya itu duduk di antara istri dan putrinya. Seperti biasa Willy meletakkan tangan kirinya di pundak Alda.
"Ayah dan Mita tidak jadi menginap di hotel?" tanya Alda. Seorang pelayan di rumahnya sedang mengangkat sebuah koper menuju lantai atas. Dugaan Alda itu adalah koper Mita.
"Tidak nak," jawab Willy singkat.
"Alda, kamu jangan memanggil Mita dengan namanya. Bagaimana pun dia adalah istri ayah kamu. Kamu boleh memanggil Mita dengan ibu, mama atau bunda," kata nenek Bunga. Walau Alda dan Mita hanya terpaut satu tahun. Nenek ingin Alda menghargai dan menghormati Mita sebagai istri Willy.
"Tidak apa apa nek. Biarkan Alda memanggil aku dengan Mita saja," jawab Mita malu. Dia merasa tidak enak jika Alda memanggilnya dengan sebutan mama, ibu atau bunda.
"Ya tidak bisa gitu donk. Itu salah satu konsekuensi menikah dengan duda punya anak gadis. Apalagi putrinya itu adalah sahabat kamu. Kamu harus bersedia dipanggil Alda dengan panggilan selayaknya wanita yang sudah menikah," kata kakek Jhon. Sedikit memaksa. Mita menunduk. Dia masih sangat muda. Dipanggil dengan sebutan mama atau bunda oleh gadis seusianya. Tentu Mita risih dan tidak nyaman. Tanpa Willy sadari itu lah maksud dari perkataan kakek Jhon. Membuat Mita tidak nyaman menjadi istrinya.
"Baiklah kakek. Nenek. Aku akan memanggil Mita sebagai mama saja. Tidak apa apa kan mama?" tanya Alda langsung ke Mita. Mita menunduk, walau sudah menjadi istri dari ayahnya Alda. Mita lebih enak jika Alda memanggilnya seperti biasa.
"Alda. Ayah dan Mita. Akan berbulan madu ke Maldives minggu depan. Apa kamu mau ikut dengan kami. Hitung hitung ini sebagai liburan setelah ujian akhir semester,"
"Berapa hari ayah?"
"Satu minggu,"
"Baik ayah. Aku ikut kalian. Tapi selama di sana aku tidur bareng sama mama ya," jawab Alda sambil tersenyum. Alda benar benar memanggil Mita dengan sebutan mama. Mendengar itu, Mita semakin merasa tidak enak hati.
"Mana bisa gitu tuan putri. Mita istri ayah. Ya dia harus tidur sama ayah donk," jawab Willy sewot. Mereka ke Maldives untuk bukan madu. Tetapi Alda meminta tidur bareng dengan istrinya.
"Makanya kalau bulan madu itu pergi berdua. Bukan ngajak anak untuk ikut berlibur. Kalau mau berlibur bareng. Sekalian saja ajak kakek, nenek dan keluarganya Mita. Eh maaf maksud aku keluarga mama,"
__ADS_1
Willy terkekeh mendengar perkataan putrinya. Apa yang dikatakan putrinya itu adalah benar. Willy mengacak rambut Alda dan kemudian mengecupnya dengan sayang.
"Baiklah tuan putri. Nanti ayah akan memberi kesempatan kepada kalian berdua untuk berlibur bersama. Kemana pun kalian mau. Ayah akan ijinkan tapi setelah ayah dan Mita pulang bulan madu," kata Willy membuat Alda dan Mita sama sama tersenyum. Jauh sebelum Willy dan Mita berpacaran. Alda pernah merencanakan untuk berlibur berdua dengan Mita setelah lulus sekolah.
"Terima kasih ayah. Sekarang, bawa istri ayah ke kamar dulu. Aku rasa dari tadi dia sudah menahan gerah karena gaun pengantin itu," kata Alda sambil memajukan tubuhnya melihat Mita.
"Baiklah. Kami ke atas dulu."
Willy menarik tangan Mita untuk berdiri. Ini yang ditunggunya sedari tadi. Masuk ke kamar dan menuntaskan apa yang seharusnya dituntaskan.
"Willy. Kami langsung pulang saja. Alda ikut dan akan menginap di rumah," kata nenek Bunga juga sambil berdiri. Sebelumnya, Alda sudah merenggut untuk ikut kakek neneknya.
"Baiklah. Tolong kalian juga putri aku baik baik."
Alda bersorak kegirangan ketika Willy mengijinkan dirinya untuk menginap di rumah kakek neneknya. Sedari kecil. Alda merasa senang jika menginap di rumah neneknya. Bersama kakek dan neneknya. Alda bisa merasakan mempunyai keluraga yang utuh. Sesuatu hal yang tidak didapatkan jika di rumahnya sendiri. Apalagi kakek dan neneknya sangat menyakiti dan memanjakan Alda. Saking senangnya Alda berlarian keluar dari rumah tanpa pamit ke Willy.
Melihat kedua orangtuanya sudah menghilang dibalik pintu. Willy langsung menggendong Mita. Awalnya Mita tersentak kaget dan berusaha turun.
"Diam sayang. Jangan bergerak nanti kita jatuh."
Mita diam dan pasrah. Dia tidak meronta lagi. Dia takut Willy hilang keseimbangan dan mereka terjatuh. Sama seperti Willy, Mita pun tidak ingin malam pertama mereka gagal. Apalagi harus masuk rumah sakit karena jatuh dari tangga.
"Good honey," kata Willy setelah Mita melingkarkan tangannya di leher Willy. Rasa cinta dan ingin bercinta tidak membuat Willy lelah sedikit pun menaiki tangga demi tangga.
Willy menyuruh Mita untuk membuka pintu kamar. Mita membuka pintu itu dengan tangan kirinya sedangkan tangan kanannya masih di leher Willy. Ini pertama kalinya, Mita masuk ke kamar ini. Mita mengagumi segala sesuatu di kamar. Ranjang, meja rias, dan yang lain adalah barang barang mewah buatan luar negeri yang bisa di pastikan hanya orang kaya berat yang memilikinya.
Willy merebahkan tubuh Mita dengan lembut di atas ranjang. Tidak seperti pengantin lainnya yang malu malu. Mita justru sudah mempersiapkan diri untuk melayani suaminya malam ini. Mita meraih tengkuk suaminya dan mencium bibir Willy lembut. Willy merasa senang dengan perlakuan istri kecilnya dan membalas ciuman itu dengan lembut.
"Om, aku harus mandi dulu. Gerah," kata Mita setelah melepaskan ciumannya. Mita tidak ingin ciuman itu berlanjut semakin panas sementara dirinya belum mandi.
"Sekarang saja om. Mumpung itunya belum bangun," tunjuk Mita ke arah area terlarang Willy. Willy terkekeh dan kembali mencium Mita.
"Baiklah. Itu kamar mandinya," jawab Willy sambil menunjukkan kamar mandi. Willy membantu Mita turun dari ranjang.
"Om mau ngapain?" tanya Mita ketika Willy membalikkan tubuhnya membelakangi tubuh Willy. Willy tidak menjawab. Tetapi tangan Willy sudah bergerak membuka kancing gaun Mita dan kemudian menarik resleting gaunnya.
"Kamu pasti tidak bisa membuka ini sendiri. Pergilah, bersihkan tubuh kamu. Di sana sudah tersedia baju baju untukmu sayang," kata Willy sambil menunjuk ruangan yang hanya dibatasi kaca dari ranjangnya.
Setelah Mita selesai membersihkan tubuhnya, Willy pun masuk ke dalam kamar mandi. Bisa saja sebenarnya mereka mandi bersama tadi. Tapi Willy akan melakukan hal itu setelah malam pertama. Membayangkan mandi bersama Willy tersenyum sendiri di kamar mandi sambil menggosok badannya.
Willy keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dan handuk hanya sebatas pinggangnya. Dia hendak ke ruang ganti pakaian yang ada di kamar itu tetapi suara Mita yang memanggilnya membuat Willy kini berjalan menuju ranjang.
Willy merasa senang dan bahagia. Mita sudah duduk di ranjang dan bersandar ke kepala ranjang. Pose duduk yang tidak biasa membuat Willy menelan ludahnya. Istri kecilnya itu terlihat dewasa hanya untuk membuat Willy senang. Mita dengan lingerie warna merah menyala tersenyum ke arah Willy. Belum apa apa, tubuh Willy sudah bereaksi.
"Kamu membuat aku merasa bahagia sayang," kata Willy setelah dekat ke Mita. Tanpa aba aba Willy sudah mencium bibir itu. Mita yang sudah terbiasa berciuman membalasnya ciuman itu dengan segala keahlian dalam hal berciuman. Bahkan tangan Mita sudah melepaskan handuk milik Willy.
"Apa kamu sudah siap?" tanya Willy setelah mereka seperti bayi polos. Mita mengangguk.
"Awalnya akan sakit. Tapi lama kelamaan akan nikmat. Kamu tahan sebentar sakitnya ya,"
"Ya om, buruan nanti keburu basi,"
"Apanya basi,"
__ADS_1
"Itunya. Gairahnya maksud aku," jawab Mita sambil memejamkan mata. Gesekan gesekan yang dibuat Willy terasa nikmat dan menginginkan hal yang lebih. Willy terkekeh.
"Tahan ya, sudah mau masuk ini. Satu, dua, ti..."
"Ya ampun om. Kita mau lomba lari atau mau enak enak?" potong Mita cepat. Tubuhnya semakin menginginkan lebih tapi Willy terkesan lambat menurut Mita. Mita mencondongkan badannya dan meraba batang milik Willy. Dia membantu batang itu masuk ke dalam gua sempit miliknya.
Jleb. Batang itu sudah masuk sempurna dengan bantuan tangan Mita. Willy terkejut sekaligus senang dengan perlakuan istrinya itu. Dia tidak menyangka bahwa Mita bisa melakukan hal semacam itu.
"Om, sakit," kata Mita hendak mendorong tubuh Willy dari atas tubuhnya. Willy tidak tinggal diam, Willy semakin menindih Mita dan mencium bibirnya. Rasa sakit yang dialami Mita bisa teralihkan dengan ciuman ganas Willy.
Willy perlahan menari di atas tubuh Mita. Beberapa bulan tidak melakukan hal seperti ini membuat Willy merasakan kenikmatan yang tiada tara. Apalagi dia yang membuka segel Mita. Willy sangat merasa berbahagia dan semakin mencintai Mita.
"Om bisa dipercepat. Rasanya kalau cepat gitu semakin enak," kata Mita polos. Tubuhnya yang serasa melayang karena goyangan Willy membuat Mita memejamkan mata. Willy merasa tidak punya waktu untuk menjawab perkataan Mita. Dalam hati, Willy tertawa mendengar perkataan polos Mita.
Willy semakin mempercepat goyangan itu sesuai permintaan Mita. Mita merasakan tubuhnya semakin nikmat. Tangan Willy juga tidak tinggal diam. Sedangkan Mita juga sudah mengeluarkan suara suara indah yang membuat suasana kamar itu semakin panas. Suara merintih kesakitan dan berganti dengan suara yang merasakan kenikmatan.
"Om, om,"
"Keluarkan sayang," jawab Willy. Dia sudah berhenti bergoyang. Sesuatu yang seharusnya sudah keluar kini sudah menyembur masuk ke rahim Mita.
"Om ini namanya bercinta atau hubungan suami istri kan?" tanya Mita polos setelah mereka berbaring. Willy terkekeh, kemudian mencium bibir Mita lembut.
"Iya sayang. Enak kan?"
"Ada enaknya dan ada sakitnya om. Tapi lebih banyak enaknya." Willy kembali terkekeh. Jawaban polos Mita membuat Willy merasa terhibur
"Darimana kamu dapat itu?" tanya Willy sambil menunjuk lingerie merah yang sudah tidak berbentuk lagi dan tergeletak di lantai. Mita tersipu dan menyembunyikan wajahnya di dada Willy.
"Dikasih nenek om. Katanya kalau wanita baru menikah harus pakai itu di malam pertama."
Willy tersenyum mendengar jawaban polos istrinya.
"Apa kamu tidak berniat mengganti panggilan kamu itu?"
"Biar saja aku selalu memanggil dengan seperti itu om.
"Kenapa seperti itu?" tanya Willy sambil mengelus rambut Mita.
"Karena om adalah ayah dari sahabat aku."
"Tapi aku sudah suami kamu sayang,"
"Untuk saat ini, panggil om saja dulu ya!. Seiring dengan berjalannya waktu. Aku pasti bisa mengganti panggilan itu," jawab Mita sambil menatap mata Willy. Mita berharap Willy mengiyakan permintaannya.
"Terserah kamu sayang. Tapi kalau pas enak enak seperti tadi jangan panggil om donk. Rasanya aku seperti tidak bercinta dengan istri sendiri,"
"Aku harus panggil apa?" tanya Mita polos.
"Panggil dengan sebutan sayang. Gini caranya. Sayang... cepat sayang. Ouw ouw lagi sayang. Kurang cepat sayang. Aku pasti makin semangat menggoyang walau keringat sudah sebesar kelereng," jawab Willy sambil tersenyum. Mita mencubit dada Willy dengan manja. Willy menangkap tangan Mita dan mengarahkan ke batangnya yang sudah kembali mengeras.
"Lagi ya." Mita mengangguk. Willy cepat menyingkapkan selimut dan melebarkan paha Mita. Dengan cepat batang itu sudah berada di tempat yang semestinya. Willy menggoyang sambil tersenyum. Mita memanggilnya dengan sebutan sayang persis seperti yang diajarkannya barusan. Mita memang benar benar polos.
"Sayang... Cepat sayang,"
__ADS_1
"Ouw..ouw lagi sayang,"
"Kurang cepat sayang,"