
"Om, jangan panggil baby donk. Kesannya gimana gitu" kata Mita lembut. Mita agak geli bila Willy memanggilnya baby.
"Jadi panggil apa donk?" tanya Willy, tangannya terus membelai rambut Mita. Gadis cantik itu, duduk dan merapikan rambutnya.
"Panggil Mita aja om."
"Gak mau ah. Gak mesra. Kamu juga manggil aku om. Panggil sayang kek, panggil honey kek. Yang penting yang mesra." Willy protes bagaikan anak kecil, wajahnya yang tampan semakin menggemaskan dengan cara berbicaranya. Mita menggeser duduk lebih dekat ke Willy.
"Terus, om maunya dipanggil apa?"
"Suamiku," jawab Willy masih dengan wajah yang membuat Mita gemas. Sah juga belum. Ada ada aja si Willy langsung dipanggil suami. Mita terkekeh sambil memukulkan bantal sofa ke Willy.
"Om, om. Baru semalam jadian dah langsung dipanggil suami. Halal dulu baru itu boleh."
"Ya udah, yuk!" ajak Willy sambil meraih tangan Mita dan keluar dari kamar.
"Kemana om?" tanya Mita berjalan di belakang Willy sementara satu tangannya ditarik Willy.
"Cari penghulu." Mita semakin tertawa. Tingkah Willy sungguh membuatnya bisa tertawa lepas. Willy juga ikutan tertawa. Dengan sebelah tangannya Mita memeluk Willy dari belakang. Merekapun berjalan sambil tertawa dengan Mita yang memeluk Willy dari belakang.
Dengan masih berpelukan, Willy membawa Mita duduk di sofa mewah di ruang tamu. Kebahagian benar benar dirasakan kedua manusia dimabuk cinta itu.
"Om, aku pulang ya. Dah mau gelap."
"Iya, bentar lagi. Dengarkan om dulu. Om mau, kamu menerima pemberianku. Biarkan mulai hari ini om yang menanggung semua kebutuhanmu dan nenek. Nenek tidak usah lagi berjualan keliling," kata Willy sambil menggenggam tangan Mita. Mita terharu, Willy yang bukan siapa siapanya, ingin menanggung semua kebutuhannya sementara ayah kandungnya, jangankan memberi uang hanya melihat keadaannya tidak mau.
"Terima kasih om. Tapi saya rasa tidak perlu. Nenek pasti tidak mau."
" Saya tidak suka ditolak," kata Andre sambil meletakkan sebuah kartu di tangan Mita.
"Om, jangan begini. Jangan buat aku berhutang budi," kata Mita sambil meletakkan kembali kartu itu di tangan Willy.
"Kamu tidak akan berhutang budi. Kamu calon istriku. Setelah lulus SMA, aku akan Menikahi kamu!" kata Willy yang sudah berjongkok di depan Mita dengan menggenggam kedua tangan Mita. Demi apapun Mita sangat terharu dan bahagia. Jatuh cinta di pandangan pertama, dimanja dan bahkan akan dinikahi. Yang buat semakin terharu karena Willy bukan hanya memperdulikan dirinya tetapi juga nenek Ratmi.
"Tapi aku takut om, nanti Alda tahu. Dia pasti kecewa. Dan aku tidak mau itu."
__ADS_1
"Dengarkan om. Cepat atau lambat putriku akan mengetahuinya. Dan satu yang aku minta. Tolong buat dia mau menerimamu sebagai ibu sambungnya." Willy berbicara serius. Mita menarik tangan Willy dan membantunya duduk.
"Kalau aku tidak mampu, gimana om?. Kan tau sendiri Alda gimana."
"Kita akan berjuang bersama untuk mendapat restu putriku. Ayolah sayang, terima ini!" kata Willy lagi sambil meletakkan kartu itu di tangan Mita.
"Baiklah om, jangan marah kalau aku akan menghabiskan uangmu," jawab Mita sambil menggoyang goyangkan kartu itu di depan wajah Willy.
"Habiskan yang kamu mau. Aku bahkan senang," Kata Willy gemas dan mencubit pelan pipi Mita.
"Makasih ya om. Aku pulang ya!. Mita pamit dan mengambil ranselnya. Willy ikut berdiri.
"Biar aku antar sayang!.
"Om, pulang aja ke rumah. Aku bisa sendirian." Willy tidak perduli dan menarik tangan Mita. Mereka keluar dari apartemen.
Mita bingung ketika mereka keluar dari lift mereka bukan ke basecamp. Ternyata Wily membawa Mita ke supermarket yang masih satu gedung dengan apartemen.
Mita mengikuti Willy dengan diam. Willy mengambil troli dan mengisinya dengan berbagai makanan, susu dan masih banyak lagi.
"Mau apa?"
"Keripik," jawab Mita dan Willy mendorong troli ke arah rak keripik.
"Kamu capai?. Naik aja ke sini," kata Willy sambil menunjuk troli. Mita terkekeh dan mencubit pelan lengan Willy.
Mita mengambil berbagai macam keripik dan memasukkannya ke troli. Willy tersenyum.
"Putriku dan calon istriku sama aja. Penyuka keripik." Willy ikut mengambil berbagai jenis keripik.
Willy menentang dua kantong besar di tangannya sementara Mita hanya membawa satu kantong berukuran sedang. Tadi waktu di kasir Mita membedakan belanjaannya dengan belanjaan Willy. Setelah memasukkan Tiga kantong belanjaan ke dalam mobil. Willy mengantar Mita pulang.
"Mana keripik mu tadi. Tanya Willy ketika mobil sudah berhenti. Mita membalikkan badannya dan mengambil belanjaannya yang ada di bangku penumpang.
"Ini om, makasih banyak ya." Willy mengambil kantong itu dari tangan Mita dan membukanya. Benar semua isinya keripik.
__ADS_1
"Di dalam kantong itu, sudah ada keripik yang sama dengan yang ini. Jadi ini untuk Alda," kata Willy sambil menunjuk dua kantong besar di bangku penumpang. Mita terkejut. Ternyata mereka belanja untuk Mita.
"Makasih om, aku jadi tidak enak kalau begini."
"Ssst. Jangan berkata begitu. Ayo turun!"
Hari sudah gelap ketika Willy dan Mita sampai di rumah. Setelah mengetuk pintu nenek muncul di hadapan mereka. Nenek melihat kantong besar yang dibawa Willy. Lagi lagi nenek heran karena Willy mengantar Mita.
"Masuk, silahkan masuk," kata nenek mempersilahkan keduanya masuk.
"Ini nek!" kata Willy meletakkan kantong belanjaan di atas meja setelah mereka duduk di sofa tua yang sudah berganti warna. Setelah Mita masuk ke kamar Willy melihat sekeliling isi rumah. Walau perabot sederhana semuanya tertata rapi dan bersih.
"Ini berlebihan nak," kata nenek yang duduk di sofa tunggal dan membuka kantong belanjaan. Willy tersenyum. Nenek tua itu tidak seperti pertama mereka bertemu. Kali ini lebih agak pendiam.
"Ini om. Diminum!. Mita meletakkan secangkir teh di depan Willy. Willy memandang wajah Mita dan tersenyum. Hal itu tidak luput dari pandangan nenek.
"Rasanya pas," kata Willy setelah meminum sedikit teh dan meletakkannya kembali dia tas meja.
"Ya iyalah. Yang buat kan cantik dan manis. Manisnya pasti turun ke teh," kata nenek dan Willy tersenyum sambil menggelengkan kepala melihat nenek yang sudah kambuh narsisnya.
"Jadi teh ini manis bukan karena gula nek?" tanya Willy dan nenek mengangguk bangga. Mita sudah sedikit malu dengan tingkah nenek.
"Jadi ingin cepat cepat menikahi Mita biar hemat gula." Willy terkekeh dan Mita sudah melotot. Nenek jangan ditanya. Dia duduk sambil menyilang kan kakinya dan terlihat santai.
"Ya coba aja, kalau bisa," kata nenek sambil memandang Willy tajam. Willy menciut seketika. Lebih baik dia menghadapi klien dari menghadapi nenek narsis ini.
"Tapi aku serius nek."
"Kamu serius, aku dua rius," kata nenek sambil menggoyangkan jari telunjuknya di depan muka Willy.
"Bawa semua ini kembali," kata nenek lagi.
" Nenek...." Mita jadi merasa tidak enak dengan Willy.
"Diam kamu Mita!. Jangan karena dia memberimu ini semua, jadi sesuka hatinya membawa kamu pulang ke rumah. Jangan jangan selama ini, kamu bilang mengajari sahabatmu itu hanya mencari alasan saja. Supaya kamu bisa bersama dia sepulang sekolah?.Jawab nenek!.
__ADS_1