Mencintai Ayah Sahabatku

Mencintai Ayah Sahabatku
Rencana Pertama


__ADS_3

Apa yang ditunggu Alda kini sudah tiba saatnya. Jumat sore, mereka akan terbang ke daerah yang terkenal dengan keindahan pantainya. Untuk hari Sabtu, Alda sudah memberi surat ijin ke sekolah. Dia juga memasukkan buku tebal berisi soal soal ujian ke dalam tasnya. Rencananya, Alda akan membaca soal soal itu di sela sela liburannya.


Alda tidak henti hentinya tersenyum. Dia benar-benar bahagia. Keinginannya selalu terpenuhi. Tanpa diminta ayahnya, Alda masuk ke kamar Willy. Dia mengambil koper kecil dan memasukkannya beberapa potong pakaian Willy ke dalam koper. Ini adalah wujud terima kasihnya kepada sang ayah karena menuruti keinginannya. Alda meletakkan koper tersebut dekat sofa di kamar itu, supaya begitu Willy masuk, dia dapat melihat bahwa pakaian sudah dipersiapkan oleh Alda.


Alda menunggu ayahnya Willy sambil berkirim pesan ke bundanya. Saat ini jam satu siang dan penerbangan mereka nanti sore jam enam. Setelah mengetikkan beberapa pesan untuk bundanya. Alda merebahkannya diri. Alda berpikir masih ada waktu untuk tidur siang. Dari rumah mereka akan berangkat jam empat. Karena perjalanan ke bandara hanya memakan waktu sekitar satu jam jika lewat jalan tol.


Belum sempat Alda memejamkan mata. Ketukan di pintu kamar membuyarkan kantuknya. Dengan malas, Alda membuka pintu kamar. Ayahnya sudah berdiri tepat di hadapannya.


"Segera berkemas tuan putri. Kita berangkat sekarang," kata Willy sambil masuk ke kamar Alda. Dia duduk di bangku biasanya Alda belajar.


"Terlalu cepat ayah, kita terbang kan jam enam,"


"Dimajukan, tidak jadi jam enam. Kita terbang jam tiga. Berganti pakaian lah. Ayah cukup seperti ini," jawab Willy sambil memperhatikan kamar putrinya. Tatapannya berhenti di sebuah foto yang terpajang di dinding kamar itu. Foto Alda dan Mita yang tertawa lepas sambil memegang buku. Willy tersenyum tapi hatinya sakit mengingat perlakuan Alda dan dirinya ke Mita. Sedangkan Alda, tanpa berpikir panjang dia mengambil pakaian yang sudah dipersiapkan sebelumnya dan segera mengganti pakaiannya di ruangan terpisah tetapi masih terhubung dengan kamarnya.


"Untung aku sudah berkemas sebelumnya," kata Alda setelah di hadapan Willy. Willy menarik koper Alda ke luar kamar.


"Biar aku yang ambil koper ayah,"


"Tidak perlu Alda. Koper ayah sudah di situ. Makasih ya tuan putri. Kamu sudah repot repot untuk mempersiapkan pakaian ayah," jawab Willy sambil menunjuk koper yang sudah terletak dekat tangga. Alda memeluk ayah dari samping sambil berjalan. Setelah dekat tangga Alda melepaskan pelukannya dan Willy menarik dua koper sekaligus. Mereka menuruni tangga sambil bercanda.


Hanya butuh satu jam bagi mereka untuk sampai di bandara. Selama di mobil Willy memainkan ponselnya. Sedangkan Alda tertidur dengan bersandar di bahu ayahnya. Kali ini Willy memakai jasa supirnya untuk mengantar mereka. Setelah tiba di bandara, Alda terbangun.


"Ayah, bunda mana?" tanya Alda setelah mereka di ruang tunggu. Dia melirik malas kepada sahabat ayahnya yang ternyata juga ikut mereka berlibur.


"Bunda kamu, nanti terbang jam enam sore. Kita duluan ke sana," jawab Willy tanpa memandang Alda. Dia sengaja membeli tiket di jam ini untuk menghindari berdekatan dengan Keyla sang mantan. Dan ini adalah usul dari leo. Alda cemberut.

__ADS_1


"Tapi kenapa harus kita duluan ayah. Kan lebih seru kalau sama sama berangkat. Kasihan bunda kalau harus berangkat sendiri," kata Alda protes. Dia menyesal tidak bertanya lebih detail tadi ketika ayahnya mengatakan jadwal keberangkatan dimajukan. Alda mengira bahwa jadwal keberangkatan yang jam enam lah yang dimajukan. Ternyata ayahnya membeli tiket baru untuk penerbangan di jam ini.


"Ayah ada urusan sebentar nanti jam enam di sana. Kalau kita berangkat jam enam. Urusan ayah bagaimana?. Sudah lah. Yang penting kita berlibur. Tentang bunda kamu. Toh kita nanti ketemu di sana," kata Willy beralasan. Alasan sebenarnya adalah menghindari Keyla. Tetapi tidak mungkin dia mengatakan alasan sebenarnya ke Alda. Untuk menenangkan hati Alda. Willy merangkulnya. Dia mengambil coklat dari tas kecilnya dan memberikannya ke Alda. Benar saja. Alda senang dan memasukkan coklat itu ke tasnya.


"Makasih ayah," kata Alda tersenyum dan berdiri. Mereka harus segera masuk ke pesawat.


Setelah menempuh perjalanan udara beberapa jam, Alda, Willy dan Leo sudah mendarat sempurna dengan selamat. Mereka di jemput oleh seseorang suruhan sahabat dari Willy.


"Ayah, kata bunda kita menginap di Villa dekat pantai Xxx. Bunda sudah membookingnya untuk kita bertiga. Ini alamat lengkapnya," kata Alda sambil menunjukkan ponselnya kepada Willy. Willy membaca alamat tersebut.


"Boleh. Tapi sebelumnya. Kita ke rumah sahabat ayah dulu. Ada hal penting yang harus kami bicarakan saat ini," jawab Willy tersenyum. Ketika leo yang duduk di dekat supir menoleh ke Willy. Willy juga tersenyum.


"Tapi, apa tidak sebaiknya kita antar dulu, barang barang kita ke villa ayah?. Aku juga bisa menunggu ayah dan bunda di sana,"


"Tidak perlu Alda. Ayah takut meninggalkan anak gadis ayah di sana sendirian. Kamu lebih aman bila tetap bersama ayah. Daerah ini adalah daerah asing bagi kita. Lagi pula kamu juga akan tertarik menikmati pemandangan dari lantai dua rumah sahabat ayah. Ayah sudah pernah ke sana. Tidak kalah indah dari villa yang dibooking bunda kamu," jawab Willy lagi. Alda mengangguk setuju.


Setelah saling memperkenalkan anak masing masing mereka kini sudah duduk di ruang tamu di rumah itu. Banyak jenis kue tersaji di meja itu untuk menyambut kedatangan Willy, Leo dan Alda. Sang nyonya rumah juga sudah menyuruh para pembantunya untuk memasak makan malam spesial malam ini. Willy, Leo dan Anton sahabat mereka berbincang serius. Sedangkan Alda dan Terry bermain di tepi pantai. Dibawah pengawasan pengasuh Terry, Alda dan Terry juga berenang di pantai. Alda sudah mengabari bundanya bahwa dia dan Willy sudah berangkat dan menyuruh Keyla tetap datang dengan penerbangan sesuai tiket yang sudah dibooking.


Setelah makan malam selesai. Alda dan Terry menikmati suasana pantai dari balkon kamar Terry. Sementara Keyla, karena keberangkatan delay karena cuaca kurang bagus. Keyla baru bisa berangkat setelah jam delapan malam. Itu artinya dia akan tiba larut malam di villa yang sudah di booking olehnya.


Sedangkan Willy, Leo dan Anton. Mereka sedang berbincang bincang di ruang tamu. Dari suara mereka yang tertawa bisa dipastikan bahwa pembicaraan mereka tidak serius.


"Semoga saja Alda sudah mengantuk dan tertidur. Jadi malam ini terlewat tanpa harus satu atap dengan Keyla," kata Willy sambil tertawa. Mereka senang karena keberangkatan Keyla delay. Rencana Willy dan Leo berhasil untuk saat ini.


"Hari ini kamu bisa lolos, besok bisa jadi kamu sudah masuk perangkap istrimu. Perangkap kenikmatan duniawi," kata Leo membuat Willy kesal.

__ADS_1


"Mantan istri dodol bukan istri. Lagi pula untuk apa kamu ikut kalau aku jadinya kena perangkap Keyla. Itu tugas kamu untuk menggagalkannya. Jika perlu kamu yang menikmatinya,"


"Yee. Percuma donk liburan jauh jauh kemari hanya mengawasi Keyla. Kamu ga bisa jaga diri sendiri,"


"Dengar Leo. Dia sampai menghasut Alda untuk berlibur hanya bertiga karena dia sudah mempunyai rencana. Kamu tidak ingat dia, dia mengatakan bahwa dirinya penyakit kanker. Aku mengajak kamu untuk membantu aku bukan untuk berlibur. Sahabat macam apa kamu," jawab Willy kesal.


"Begini saja, kalian tidak perlu menginap di villa itu. Kalian menginap di sini saja untuk malam ini dan malam besok," kata Anton setelah mendengar perbincangan dua sahabat itu.


"Untuk malam ini mungkin bisa jika Alda sudah tertidur. Tapi untuk malam besok tidak ada alasan Anton. Alda sudah lama memimpikan liburan ini. Yang membuat aku curiga. Alda hanya ingin kami bertiga. Bahkan dia tidak ingin sahabat dekat dan kekasihnya ikut. Itulah sebabnya aku bawa Leo supaya bisa mengawasi gerak-gerik Keyla."


"Jangan negatif thinking dulu. Bisa jadi memang ini murni keinginan Alda. Tapi tidak ada salahnya kalian berhati hati," kata Anton. Willy dan Leo menganggukkan kepala.


"Bentar, aku cek ke atas. Apa mereka sudah tidur atau tidak," kata Anton lagi.


"Mungkinkah Alda juga mengetahui sesuatu Willy. Maksud aku. Apakah mereka bekerja sama?"


"Kalau bekerja sama, aku rasa tidak. Hanya saja menurut aku Keyla hanya memanfaatkan kesempatan ini,"


"Gimana Anton," tanya Willy setelah Anton kembali ke rumah tamu. Anton mengacungkan jempolnya.


"Sudah tidur," jawab Anton dan duduk kembali. Willy menarik nafas lega. Rencana mereka berhasil untuk malam ini.


"Terima kasih sobat. Kamu telah memberi tumpangan kepada kami," kata Willy tulus. Jika tidak ada Anton di daerah ini sudah dipastikan, mereka akan menginap di villa yang sudah disewa Keyla. Dan tidak tahu apa yang terjadi bila mereka menginap di atap yang sama.


"Sama sama Will, Kalian bisa menginap selama yang kalian mau. Jangan sungkan sungkan,"

__ADS_1


"Apapun rencana kamu Key, takkan aku biarkan berhasil. Aku hanya mencintai Mita dan hanya dia yang akan menjadi istri ku. Tunggu saja kejutan selanjutnya," batin Willy sambil tersenyum.


__ADS_2