Mencintai Ayah Sahabatku

Mencintai Ayah Sahabatku
Terungkap


__ADS_3

"Pulanglah Willy. Aku bisa menjaganya," kata Keyla dingin. Sudah jam delapan malam. Tapi Willy seperti tidak ada niat untuk pulang. Willy sebelumnya sudah mengatakan akan menjaga Billy malam ini dan menyuruh Keyla untuk beristirahat di rumah.


"Kita bisa menjaganya bersama sama. Aku akan tidur di bangku panjang yang di luar," jawab Willy pelan. Dia masih ingin menemani Billy. Apalagi ketika Billy tadi bangun. Putranya itu memandangi dirinya tidak berkedip. Willy ingin. Ketika putranya bangun lagi, Billy bisa melihat dirinya di ruangan itu.


"Pikirkan istri muda kamu. Aku tidak ingin karena Billy. Ada kesalahpahaman diantara kalian. Bagaimanapun seorang istri pasti tidak ingin melihat atau tahu suaminya berduaan dengan mantan istrinya. Jika kamu masih ngotot menjaga Billy di sini. Panggil istri kamu kemari. Kita bisa menjaganya bertiga," jawab Keyla pelan. Hatinya sangat sakit mengatakan itu. Tapi dia sudah berterima bahwa Willy tidak akan bisa lagi menjadi miliknya. Keyla hanya ingin. Setelah kebenarannya terungkap dirinya dan Willy bisa berdamai. Tentang Billy, Keyla sangat yakin Willy bisa menyayanginya seperti menyayangi Alda.


"Baiklah aku pulang. Besok pagi aku kemari lagi. Jika Billy bangun, katakan padanya. Aku kemari besok." Keyla mengangguk.


Willy menatap Keyla sebentar, kemudian melangkah keluar dari ruangan itu. Perasaannya campur aduk sekarang, bahagia, sedih, marah dan merasa bersalah.


Sepanjang perjalanan menuju ke rumah, Willy terus berpikir tentang Keyla dan Billy. Teka teki tentang kepergian Keyla dulu memang belum jelas. Tapi entah mengapa. Willy sepertinya percaya dengan apa yang diucapkan Keyla. Willy mengepalkan tangannya.


"Ke rumah papa," kata Willy kepada supirnya. Dia mengambil ponselnya dan mengabari Mita bahwa dirinya pulang agak larut malam. Istrinya itu hanya membalas pesan Willy dengan tanda love. Willy merasa terhibur dengan balasan itu.


Willy memasuki rumah kakek Jhon dengan tergesa. Dia tidak sabaran untuk mengetahui kebenaran dari cerita Keyla.


"Papa mana ma," tanya Willy tanpa bertanya kabar ke mama Bunga. Nenek tua itu merasa asing dengan sikap Willy malam ini.


"Ada di ruang keluarga,"


Willy masuk ke ruang keluarga itu. Papa Jhon yang sedang menonton tv terkejut melihat kedatangan Willy. Karena sangat jarang sekali Willy berkunjung ke rumah ini malam hari. Willy duduk di hadapan kakek Jhon. Dia menatap papanya tajam. Tidak lama kemudian, nenek bunga bergabung dengan membawa segelas wedang jahe.


"Minum wedang jahenya. Pengantin baru seperti kamu pasti masuk angin karena keseringan buka baju," kata kakek Jhon bercanda. Willy tidak tertawa sama sekali. Tapi tetap saja dia mengambil gelas itu dan meneguk sedikit demi sedikit. Seperti candaan papanya. Willy memang merasakan sudah mulai masuk angin. Willy bersendawa setelah meminum wedang jahe tersebut. Kedua orangtuanya terkekeh.


"Pa, ternyata Alda mempunyai adik laki laki," kata Willy tenang setelah meletakkan gelas di atas meja. Kedua orangtuanya merasa bingung mendengar perkataan Willy.

__ADS_1


"Maksud kamu apa Willy?" tanya kakek Jhon sambil merubah posisi duduknya.


"Namanya Billy. Ketika Keyla pergi dari sini. Ternyata dia sedang mengandung," jawab Willy tenang. Dia mengamati kedua wajah orang tuanya. Willy juga dapat melihat keterkejutan di wajah kedua orang tua itu.


"Ya ampun. Ternyata kita mempunyai dua orang cucu pa," kata nenek bunga senang. Sedangkan kakek Jhon biasa saja setelah keterkejutan itu hilang dari wajahnya.


"Apa kamu yakin itu putramu?"


"Sangat yakin. Apa kalian meragukan dia darah daging aku. Coba kalian perhatikan foto ini. Dan bandingkan dengan foto yang di sana," kata Willy sambil menyodorkan ponselnya ke kakek Jhon. Kedua orang tua Willy bergantian melihat foto itu dan menoleh ke dinding dimana foto Willy ketika berumur sekitar enam belas tahun masih awet di dinding ruang keluarga itu.


Kakek dan nenek itu melihat banyak persamaan antara foto Willy dan Billy. Kakek Jhon yang awalnya meragukan kini ikut senang.


"Mana cucuku itu Willy. Aku ingin bertemu dengannya," kata kakek Jhon senang. Wajah dan matanya sudah berbinar. Selama ini dia menginginkan Willy menikah juga ingin mendapatkan cucu laki laki. Itulah sebabnya dia pura pura merestui pernikahan Willy dan Mita. Setelah keinginan tercapai, dia juga sudah menyusun rencana tanpa sepengetahuan istrinya.


"Untuk saat ini, kalian belum bisa menemuinya," jawab Willy tenang. Dia ingin mendapatkan jawaban dari teka teki kepergian Keyla dulu tanpa membuat papanya mengelak.


"Ternyata dia cukup punya nyali juga untuk balas dendam," kata kakek Jhon geram. Willy tersenyum kecut melihat wajah papanya. Kakak Jhon tidak menyadari bahwa dia sudah terperangkap dengan jawabannya sendiri. Dan Willy semakin yakin. Jika kakek Jhon lah dalang dari kepergian Keyla dulu.


"Kenapa Keyla harus balas dendam. Bukankah dia pergi karena kemauannya sendiri. Atau adakah sesuatu yang papa sembunyikan selama ini?"


Kakek Jhon tergagap. Dia menyadari jawabannya tadi menimbulkan kecurigaan. Dia berdehem untuk menetralkan kegugupannya. Sedangkan nenek bunga hanya bisa menunduk. Dia sadar. Walau dia tidak setuju karena perbuatan suaminya tetapi juga dia sangat bersalah karena menyembunyikan kebenarannya dari Willy.


"Tidak ada. Tentu saja itu karena kemauannya sendiri," jawab kakek Jhon pura pura tenang.


"Keyla tidak melarang kita untuk menemui Billy pa. Cuma saat ini keadaan Billy tidak baik. Dia sakit karena dehidrasi. Selain itu, Billy juga depresi," kata Willy sedih. Air mata Willy hampir menetes mengingat keadaan putranya. Nenek sampai menutup mulut karena terkejut dan bercampur sedih mendengar tentang cucu yang belum pernah dilihatnya itu. Sama seperti nenek, kakek Jhon juga ikut sedih.

__ADS_1


"Apa kalian tahu, kenapa putraku. Bisa mengalami seperti itu. Dia depresi karena dibully teman dan tetangganya karena tidak mempunyai ayah dan miskin. Putraku itu sekarang seperti mayat hidup pa, ma," kata Willy dengan suara yang serak. Hingga akhirnya Willy tidak bisa menahan air matanya. Willy akhirnya menangis. Sama seperti Willy, nenek bunga juga ikut menangis. Sedangkan kakek Jhon terdiam dan merenung.


"Ini semua gara gara kamu kakek tua. Kalau kamu bisa menerima Keyla. Cucuku tidak mangalami penderitaan sekejam itu," kata nenek akhirnya. Dia tidak sanggup lagi menyimpan rahasia besar itu. Nenek bahkan memukuli lengan kakek Jhon. Willy masih menunduk. Dia bisa mendengar jelas apa yang diucapkan oleh mamanya. Sebelumnya Willy berharap, bahwa kepergian Keyla bukan karena papanya.


Willy merasakan hatinya semakin berdenyut nyeri. Membayangkan Keyla hidup sendiri dengan mengandung dan membesarkan Billy seorang sendiri. Keadaan Billy saat ini menggambarkan bagaimana memprihatinkan kehidupan mantan istri dan putranya itu.


Bertahun tahun dia menyalahkan Keyla dan memendam sakit hati sendiri dan menjadi ibu bagi Alda tidaklah mudah. Bagaimana Alda semasa kecil selalu bertanya tentang bundanya dan sangat merindukan Keyla. Willy bisa membayangkan bagaimana Billy merindukan dirinya. Dirinya dan Alda bergelimang harta dia ini sedangkan putranya sangat berkekurangan.


Willy semakin terisak. Perlakuannya kepada Keyla yang selalu kasar dan mengacuhkan Keyla. Willy merasa bersalah dan melihat sikap dingin Keyla tadi. Willy tahu tidak mudah mendapatkan maaf dari mantan istrinya tersebut.


"Aku tidak menyangka papa bisa melakukan itu semua pa," kata Willy marah.


"Papa yang merusak mental anak anakku. Apa salah Keyla pa. Kalaupun dia masih kekanakan waktu. Itu wajar pa. Usianya bahkan belum genap Tujuh belas tahun saat melahirkan Keyla," kata Willy semakin marah. Dia merasa tidak berdaya setelah mengetahui kebenarannya. Andaikan orang lain yang berperan dibalik kepergian Keyla dulu. bisa dipastikan orang itu akan babak belur dan berakhir di penjara.


"Maafkan papa Willy. Papa menyesal," kata kakek Jhon penuh sesal. Willy menatap ayahnya sinis.


"Mudah bagi papa menyesal setelah semua ini terjadi. Aku sudah hancur pa. Aku hancur. Percuma aku memiliki banyak harta. Tapi kedua anakku kekurangan kasih sayang. Dan itu penyebabnya kedua orang tua aku. Katakan pa. Apa salah Keyla sehingga papa menyingkirkannya," teriak Willy kencang.


"Papa mu menginginkan menantu dari golongan yang kaya Willy," jawab nenek takut. Kakek masih terdiam. Willy seketika mengingat perkataan Keyla. Willy mengusap wajahnya kasar. Willy benar benar merasa bersalah kepada Keyla. Di saat sakit hati dan menjadi korban, Keyla masih mau mengingatkan dirinya menjaga Mita supaya tidak terulang hal yang sama kepada Mita.


"Tega kamu pa. Kita sudah kaya sejak dulu. Untuk apa mencari wanita yang kaya kalau tidak saling mencintai. Papa tahu saat itu aku dan Keyla saling mencintai," jawab Willy pelan. Dia merasa tidak sanggup lagi untuk mendengarkan kebenaran lain.


"Bagaimana kalian mengusir Keyla malam itu ma," tanya Willy lagi. Dia penasaran dan mengingat perkataan Keyla yang harus menanyakan hal ini.


"Papamu menyuruh suruhannya untuk menitipkan Keyla ke pick up barang menuju daerah pegunungan." Terjawab sudah semua. Apa yang dikatakan Keyla memang benar adanya. Willy semakin merasakan hatinya berdenyut nyeri, dadanya sesak seakan akan oksigen tidak bisa masuk ke paru parunya. Willy menggebrak meja dan menjatuhkan apa saja yang ada di atasnya.

__ADS_1


"Kalian benar benar jahat. Mama juga jahat. Mama mengetahui semuanya. Tapi kenapa mama diam?" tanya Willy sambil menangis meraung. Dia sudah seperti anak kecil yang kehilangan mainannya. Nenek dan kakek juga menangis sambil meminta maaf.


"Mulai hari ini. Jauhi keluarga ku. Aku pastikan Alda akan tahu tentang ini semua. Jangan pernah menunjukkan diri kalian di hadapan kedua anakku," kata Willy lagi. Dalam keadaan marah Willy keluar dari rumah itu.


__ADS_2