
"Cie, yang bersentuhan dengan mantan," bisik Alda. Mita menyenggol Alda dan semakin malu. Dia berharap, Willy jangan sampai mendengar bisikan Alda itu. Tapi sepertinya Willy sudah mendengar, Willy juga terlihat gugup di tempat duduknya.
Sama seperti Mita. Willy juga merasakan hatinya berdetak lebih kencang. Dibandingkan Mita. Willy lebih bisa mengendalikan dirinya. Willy berhasil menguasai rasa gugupnya. Willy masih berusia bersikap biasa.
Salsa berdiri membelakangi ayahnya. Saat ini Salsa lebih tertarik kepada adik kecil itu daripada ke ayah atau kakak kakaknya. Salsa bahkan tidak cemburu dengan sang adik yang kini merasakan kasih sayang dari Mita.
Tidak lama kemudian, kakek dan nenek ikut bergabung di ruang tamu itu. Suara suara Salsa yang tertawa ketika melihat si kecil menguap membuat pasangan lansia itu penasaran dan akhirnya keluar dari kamar. Sama seperti Alda dan Billy. Kakek dan nenek juga langsung bisa menerima Salsa. Bahkan Salsa kini sudah duduk di pangkuan kakeknya.
"Menyambut kedatangan Salsa, bagaimana kalau kita makan malam bersama di luar?" tanya Billy.
"Tidak ada makan malam bersama, jika itu terjadi. Ayah tidak ikut," jawab Willy tegas.Kakek dan nenek menunduk.
"Maaf Mita. Bukan maksud aku menolak maksud baik dari Billy untuk penyambutan Salsa. Aku punya alasan untuk itu," kata Willy ketika menyadari jika kata katanya bisa ditanggapi Mita seolah-olah tidak senang akan penyambutan yang dimaksudkan oleh Billy. Mita hanya mengangguk.
"Baiklah ayah. Begini saja. Bagaimana kalau kita foto bersama saja dulu," kata Alda. Willy mengangguk setuju. Alda mengetahui alasan Willy tidak bersedia makan bersama dengan Kakek neneknya.
Alda mengatur posisi mereka. Alda menyuruh Willy untuk duduk di samping Mita. Tapi Willy pura pura tidak mendengar. Dia melihat Mita yang melotot ke Alda. Willy tahu, itu adalah pertanda protes jika Mita tidak menginginkan dirinya duduk di samping Mita. Willy dan Billy memilih berdiri di belakang sofa yang diduduki oleh Mita. Sedangkan Mita dan Alda bersebelahan dengan Salsa di pangkuan Alda. Sedangkan kakek duduk di samping Alda dan nenek di samping Mita. Setelah posisi mereka sudah siap. Alda menyuruh baby sitter si bungsu untuk memotret.
"Aku mau ke kamar sebentar," kata Alda setelah acara foto itu selesai. Billy juga demikian. Billy pamit untuk keluar rumah. Seakan memberi ruang kepada Willy dan Mita. Kakek nenek juga pamit masuk ke dalam kamar. Hingga yang tinggal di ruang tamu itu hanya Willy dan Mita beserta Salsa dan Si bungsu.
Mita tentu saja merasa tidak enak. Apalagi sejak tadi. Willy tidak ada berbicara sedikitpun tentang Salsa. Tidak ingin semakin gugup, Mita memberi kode kepada baby sitter untuk mengambil si bungsu dari tangannya.
"Pamit sama ayah Salsa. Kita pulang sekarang," kata Mita kepada Salsa yang sudah berada di pangkuan ayahnya. Mereka sudah duduk berhadapan kembali. Willy menatap Mita sebentar. Kemudian memeluk putrinya.
"Pulang sama bunda ya tuan putri. Besok kemari lagi. Kak Alda akan menjemput besok," kata Willy kepada Salsa. Salsa menggelengkan kepalanya. Ikatan darah yang kental membuat Salsa enggan untuk berpisah dengan ayahnya.
"Mita terima kasih," kata Willy akhirnya.
__ADS_1
"Sama sama om," jawab Mita singkat. Mita mengulurkan tangannya untuk menarik tangan putrinya. Tapi Salsa justru memeluk leher ayahnya dengan erat.
"Biarkan sebentar lagi seperti ini. Mungkin dia masih ingin bersama aku," kata Willy. Dia melihat wajah Mita yang sudah kesal karena sudah beberapa kali mengajak Salsa pulang. tapi Salsa tidak mau.
"Kami harus pulang sekarang om. Ini sudah sore," jawab Mita. Itu sebenarnya bukan alasan yang tepat. Jika bersedia, pulang malam bisa juga. Tapi Mita sangat merasa canggung bersama Willy. Apalagi sikap Willy tidak sehangat seperti dulu.
"Kalau begitu. Aku akan mengantar kalian pulang."
"Tidak perlu om. Kami bisa pulang dengan taksi."
Mita kembali membujuk Salsa untuk pulang. Tapi anak itu bukan hanya tidak mau. Tapi sekarang anak itu sudah menangis sambil menyembunyikan dirinya di dada Willy. Willy terlihat sabar menenangkan hati putrinya.
"Mau tidur sama ayah?" tanya Willy setelah mengusap air mata putrinya.
"Mau ayah," jawab Salsa sambil terisak. Mita semakin gelisah. Jika Salsa menginap di rumah Willy. Entah bagaimana dengan dirinya. Salsa selalu tidur bersamanya. Dan Salsa tidak bisa tidur tanpa dirinya.
"Tidak bisa om. Kami harus pulang sekarang. Jangan terlalu dituruti semua permintaannya."
"Baiklah. Bujuk sendiri dia supaya mau pulang. Dan aku tidak ingin putriku dipaksa atau menangis karena ini," jawab Willy kesal. Dia memeluk Salsa dan kemudian membantu Mita membujuk Salsa untuk pulang. Tapi Salsa masih saja tidak mau. Disinilah Willy sadar jika sifat Salsa hampir mirip seperti Alda.
"Mita. Kamu pasti tidak bersedia jika meminta kamu untuk menginap di sini. Tapi begini saja. Aku ingin tahu rencana kamu setelah mempertemukan Salsa dengan diriku," kata Willy hati hati. Dia takut jika perkataan akan membuat Mita tersinggung atau marah.
"Apa maksud dari perkataan itu?" tanya Mita tajam. Benar dugaan Willy. Mita sudah mulai menunjukkan wajah tidak senang.
"Maksud aku. Rencana untuk pembagian waktu Salsa untuk kita berdua," jawab Willy akhirnya. Bukan itu tujuan perkataannya tadi. Tapi karena melihat perubahan wajah Mita. Willy mencari topik lain.
"Aku juga tidak tahu om. Tapi menurutku. Secepatnya memberi pengertian kepada Salsa bahwa dia tidak bisa untuk terus bersama atau tinggal di rumah ini."
__ADS_1
"Kalau begitu. Kamu yang memberi pengertian itu. Aku tidak pandai untuk memberi pengertian seperti itu kepada anak kecil seperti Salsa."
"Kok aku sendiri om. Harusnya om juga memberi pengertian?"
"Yang menjauhkan dia dari aku. Siapa?. Jadi kamu harus mempertanggungjawabkan perbuatan kamu sekarang," jawab Willy tenang. Mita semakin kesal.
"Tapi kamu ayahnya om. Seharusnya kita bertanggungjawab bersama. Bukan memberikan tugas itu sepenuhnya kepadaku."
"Kamu tidak ingat, terakhir kali kita bertemu. Aku sudah mengatakan jika aku sangat yakin jika dia sudah ada di perut kamu waktu itu walau kamu mengatakan jika sudah minum pil KB. Itu artinya ikatan batin kami sudah sangat kuat semenjak dia ada di rahim kamu. Jadi aku sangat yakin, sekeras apapun kamu membujuknya. Dia pasti tidak bersedia pulang sebelum keinginannya terkabul," kata Willy. Dia memberikan ponsel miliknya dan membuka aplikasi YouTube kid untuk mengalihkan perhatian Salsa dari perdebatan mereka.
Mita membenarkan setiap kata yang keluar dari mulut Willy. Salsa tidak akan bersedia pulang jika keinginannya tidak terpenuhi. Yang membuat Mita bingung. Bagaimana jika Salsa juga meminta tidur di rumah ini.
"Sikap seperti ini yang perlu diubah sejak dini om. Aku tidak mau dia tumbuh menjadi anak yang semua kemauannya harus dituruti," jawab Mita.
"Kalau begitu. Silahkan kamu mengubahnya. Aku ingin melihat sehebat kamu bisa mengubah Salsa seperti keinginan kamu," jawab Willy tenang. Mita hanya menatap wajah Willy datar.
"Salsa. Kita pulang ya nak. Besok kita kesini. Bunda janji akan membawa kamu kesini besok pagi," bujuk Mita. Tapi Salsa masih menggelengkan kepalanya. Willy memperhatikan Mita dan Salsa bergantian.
"Bunda pulang. Kamu menginap disini tanpa bunda. Mau?"
Salsa menatap bundanya. Dia kemudian menatap ayahnya.
"Mita, aku mohon. Jangan hanya memikirkan sakit hati kamu kepada aku. Tolong. Pikirkan juga perasaan Salsa," kata Willy sambil berwujud di hadapan Mita. Melihat Salsa yang hanya diam tanpa menjawab pertanyaan Mita. Willy sangat yakin jika Salsa juga menginginkan Mita untuk menginap di rumah ini. Willy rela bersujud di hadapan Mita demi putrinya supaya merasa kasih sayang ayah bundanya walaupun status mereka tidak bersama. Willy tidak ingin Salsa seperti anak anaknya yang lain.
Mita kembali menggelengkan kepalanya. Dia tidak ingin merendahkan dirinya kembali di hadapan Willy dengan menginap di rumah ini dengan alasan apapun termasuk alasan tentang Salsa.
Tidak ingin berlama lama di rumah itu. Mita mengambil ponsel Willy dari tangan Salsa. Dia meletakkan ponsel itu di sofa dan kemudian menggendong Salsa dengan paksa.
__ADS_1
"Mita. Aku mohon jangan seperti ini. Jangan keras kepala," kata Willy sambil mengejar langkah Mita. Mita tidak sedikitpun berniat untuk berhenti. Dia terus melangkah menuju gerbang depan Salsa yang terlihat bingung melihat kedua orangtuanya.