
Willy masih masih merasakan kesedihan yang mendalam atas kepergian Mita. Detik detik terakhir kebersamaan mereka masih jelas terekam di pikirannya. Delapan hari yang lalu. Willy mengantarkan Keyla sampai pintu ruang operasi. Dia tidak menyangka jika itu adalah momen terakhir bagi dirinya dengan Keyla. Willy jelas melihat senyum manis sang istri sebelum di dorong masuk ke ruangan itu. Dan itulah senyum terakhir Keyla untuk dirinya.
Hingga satu jam kemudian. Bayi laki laki itu merasakan udara dunia. Setelah melihat bayi laki laki itu. Willy merasa rasa senang berlipat ganda. Tetapi setelah enam jam kemudian Willy merasakan panik luar biasa. Keyla yang seharusnya sudah bangun dari tidurnya. Tapi tidak kunjung bangun. Hingga tiga hari kemudian. Keyla dinyatakan meninggal setelah tidak sadar dari tidurnya setelah dioperasi.
Willy terpukul bahkan setelah seminggu kepergian Keyla, Willy masih sangat sedih. Hanya delapan bulan rujuk dengan Keyla. Takdir berkata lain. Mereka kini berpisah. Berpisah karena kematian. Yang paling menyedihkan, Keyla meninggalkan seorang bayi laki laki.
Willy masih betah di kamar pribadinya. Merenungkan takdir yang seolah tidak berhenti mempermainkan hidupnya. Menikah dengan Keyla di usia muda kemudian berpisah karena keegoisan orang tua. Mereka kembali rujuk juga karena keegoisan orang tuanya. Selama seminggu ini Willy membenci takdirnya. Takdirnya membuat tiga anak tidak merasakan kasih sayang yang utuh dari dirinya dan Keyla. Dulu, dia pernah menyangka jika hanya Alda yang menjadi korban dari perpisahan dengan Keyla tapi ada anak lain yaitu Billy. Dan sekarang bayi bungsunya akan merasakan hal yang sama dengan kedua kakaknya.
Willy menangis di kamar itu. Berkali kali dia memukul dinding hanya untuk mengalihkan rasa sakit hati ke sakit fisik. Punggung tangannya berdarah tetapi sakit yang menyesakkan dada itu tetap saja tidak hilang dari hatinya. Takdir memang benar benar menghukumnya. Seakan akan dirinya adalah manusia yang tidak boleh mendapatkan kata maaf.
Willy menarik nafas panjang sambil mengobati punggung tangannya. Mengingat bayi bungsunya. Willy ingin menemui bayi itu sekarang. Willy terlebih dahulu memantapkan hatinya. Dia tidak ingin terbawa emosi kepada kedua orangtuanya nanti. Willy akhirnya kembali merebahkan diri di ranjang itu. Hingga akhirnya sesuatu yang aneh hingga di hatinya. Terbersit untuk memaafkan kedua orangtuanya yang berkali kali membuat dirinya marah. Beberapa hari ini. Walau kedua orangtuanya tinggal di rumah. Willy masih berusaha untuk menghindar. Tapi hari ini. Willy ingin melepaskan semua beban di hatinya. Willy ingin berdamai dengan takdir.
Rencananya. Mulai besok. Willy akan aktif kembali ke kantor. Willy harus bisa membahagiakan ketiga putra putrinya. Hanya itu yang bisa dia lakukan untuk menebus semua rasa bersalahnya kepada Keyla.
Setelah menuruni tangga. Willy terpaku melihat pemandangan yang ada di ruang tamu itu. Jantungnya hampir melompat dari raganya melihat wanita yang memangku bayinya. Seseorang itu masih jelas dia ingat. Sahabat dari putrinya sekaligus mantan istrinya. Mita. Willy terkejut melihat wanita itu. Hampir dua tahun dia mencari keberadaan wanita itu. hingga di tahun ketiga dia menyerah. Kini wanita itu kembali muncul di rumah setelah banyak perubahan yang terjadi dalam dirinya.
Willy akhirnya mendekat ke ruang tamu. Dia berdehem untuk memberitahukan keberadaannya. Willy dapat melihat keterkejutan di wajah Mita ketika menoleh ke arahnya. Tapi Willy pura pura tidak melihat dan duduk di sofa tunggal.
"Om, aku turut berdukacita cita atas meninggalnya istri om Tante Keyla," kata Mita sedikit gugup. Mita masih bisa melihat kesedihan di wajah Willy. Sedangkan Willy hanya mengangguk menerima ucapan belasungkawa itu. Kata kata itu terdengar penuh penekanan di telinga Willy. Entah apa maksud Mita mengucapkan kata kata seperti itu.
"Mita, aku rasa tangan kamu sudah mulai pegal memangku bayi itu," kata nenek Bunga sambil mengulurkan tangannya mengambil bayi itu. Mita memberikan bayi itu ke nenek Bunga. Nenek Bunga menyenggol tubuh kakek Jhon. Kedua orang tua itu, beranjak dari sofa dan meninggalkan ruang tamu. Nenek bunga ingin memberi Willy dan Mita ruang dan waktu. Nenek Bunga bisa menangkap gelagat yang aneh yang diperlihatkan oleh Mita.
__ADS_1
Kini di ruang tamu itu tinggal hanya Mita dan Willy. Jelas terlihat rasa canggung di pasangan mantan suami istri itu. Willy masih menunduk, begitu juga dengan Mita. Setelah tinggal berduaan di ruang tamu. Mita kehilangan kata kata untuk mencairkan suasana yang terasa kaku.
Begitu juga dengan Willy. Entah karena merasa bersedih atau canggung. Willy juga masih menunduk.
"Apa kabar Mita."
Akhirnya pertanyaan itu keluar dari mulut Willy setelah hampir sepuluh menit mereka saling diam. Willy masih enggan menatap wajah Mita. Bukan karena benci. Hanya saja Willy merasa malu bertemu dengan Mita. Apalagi Willy menduga bahwa Mita sudah mengetahui hal yang terjadi dalam hidupnya satu tahun terakhir ini.
"Kabar baik om," jawab Mita sambil meremas ujung bajunya. Mereka bagaikan dua manusia yang baru saja mengenal.
"Selain mengucapkan belasungkawa. Adakah maksud lain dari kedatangan kamu ini?.
"Iya om. Kedatangan aku memang untuk mengucapkan itu. Karena aku sudah mengucapkannya langsung. Aku pamit sekarang," kata Mita sambil beranjak dari duduknya. Mita sedikit kecewa dengan pertanyaan Willy. Mita menganggap itu sebagai bentuk pengusiran dirinya dari rumah itu.
Sedangkan Willy setelah Mita berdiri dan memunggungi dirinya. Willy mendongak menatap tubuh itu.
"Duduklah Mita. Tunggu Alda pulang dulu. Apa kamu tidak merindukan sahabat kamu itu?. tanya Willy. Mita kembali duduk. Tidak dapat dipungkiri. Mita juga sangat merindukan sang sahabat. Empat tahun adalah waktu yang lama bagi Mita tidak pernah bertemu sahabatnya itu.
"Apa kabar om," tanya Mita akhirnya. Tidak ada kata kata yang terlintas di otaknya selain itu. Padahal tanpa bertanya pun. Mita sudah mengetahui jika kabar Willy tidak baik baik saja saat ini.
"Tidak baik Mita. Tidak mungkin aku katakan jika kabar aku baik. Sementara wanita yang aku cintai selalu meninggalkan diriku. Dan sampai tiga kali hal itu terjadi," kata Willy.
__ADS_1
"Maaf om. Bukan maksud aku untuk kembali mengingatkan Tante Keyla."
"Selama empat tahun. Kamu tinggal dimana?" tanya Willy. Walau masih dirundung kesedihan. Willy masih memberi perhatian kepada sang mantan istri.
"Di kampung nenek om," jawab Mita. Willy mengernyitkan keningnya. Dia sudah mencari Mita ke sana. Tapi yang bernama Mita dan nenek Ratmi tidak ada di kampung tersebut.
"Apa nama kampungnya?" tanya Willy lagi. Mita menyebutkan nama kampung yang berbeda dengan nama kampung yang dia tahu sebagai kampung nenek Ratmi.
"Baiklah Mita. Terima kasih atas waktu yang kamu sediakan untuk datang ke rumah ini. Satu permintaanku untuk kamu. Tetaplah menjadi sahabat untuk putriku. Kehilangan Keyla sangat membuat Alda terpukul."
"Oke om," jawab Mita singkat.
"Aku ke ruang kerja dulu. Kamu tunggu Alda pulang ya. Aku rasa sebentar lagi dia pasti kembali," kata Willy. Mita mengangguk.
Di ruang kerjanya Willy terlihat menghubungi seseorang. Dia tidak sabaran ketika panggilan itu lama dijawab.
"Kemana saja?" tanya Willy kesal setelah panggilan itu terjawab. Willy menghubungi Leo sang asisten.
"Perintahkan seseorang untuk menyelidiki Mita dan nenek Ratmi selama tinggal di kampung Xxxx," kata Willy.
Inilah alasan dia masuk ke ruangan kerja. Melihat Mita menggendong bayi bungsunya tidak kaku. Otak Willy langsung berpikir jika Mita sudah terbiasa menggendong atau memangku bayi. Willy benar benar curiga jika Mita menyembunyikan maksud kedatangannya yang secara tiba-tiba.
__ADS_1