Mencintai Ayah Sahabatku

Mencintai Ayah Sahabatku
Meminta Cerai


__ADS_3

Mita merasakan dingin di sekujur tubuhnya. Tangannya meraba mencari selimut. Setelah merasa bahwa apa yang berhasil didapat tangannya. Mita membentangkan selimut itu ke tubuhnya dengan mata terpejam. Mita meringkuk di dalam selimut itu untuk menghangatkan tubuhnya. Dan beberapa menit kemudian. Mita kembali merasakan hawa dingin itu menusuk pori pori kulitnya. Lagi lagi Mita meraba selimut itu. Hingga akhirnya dia tidak bisa mendapatkan apa yang dirabanya. Mita membuka matanya. Dan Mita terkejut. Dia berada di kamar Willy. Yang lebih membuat Mita terkejut bahwa dirinya tidak memakai sehelai benang ditubuhnya.


Mita semakin terkejut. Willy berdiri di dekat ranjang dengan kedua tangannya berada di pinggang. Willy juga sama seperti dirinya. Tidak memakai sehelai benang pun di tubuhnya. Mita meraba area terlarangnya. Sisa lahar panas milik Willy masih tersisa di bagian intim itu.


"Om, apa yang kamu lakukan?" tanya Mita setelah tersadar dari tidurnya dan tidak percaya jika dirinya diperkosa oleh sang suami. Karena Mita tidak merasakan sakit di bagian intim itu. Tetapi dari cairan itu, Mita sangat yakin jika Willy sudah menyentuhnya.


"Kamu bertanya. Aku melakukan hal yang sepantasnya dilakukan oleh suami istri. Lalu kamu. Apa yang kamu lakukan?" tanya Willy balik dengan suara yang sangat kencang.


"Kamu memperkosa aku om?" kata Mita pelan. Nadanya tidak jelas, bertanya atau menuduh.


"Aku bukan pria bejad yang memperkosa istri sendiri. Walau kamu tidur kamu juga terlihat menikmatinya," jawab Willy membantah perkataan Mita.


"Tidak mungkin," desis Mita pelan dan tidak percaya. Mita menggelengkan kepalanya jika hal itu tidak mungkin terjadi. Dia ingat. Dia tidur di kamar Alda.


"Baiklah, kalau kamu tidak percaya. Aku tidak ingin kamu menuduh aku memperkosa kamu. Aku ada buktinya," jawab Willy sambil mengambil ponselnya. Willy memutar video di ponsel itu dan menunjukkan ke Mita.


Mita menutup mulutnya tidak percaya. Apa yang dikatakan Willy adalah benar. Willy tidak memperkosanya. Mita dapat melihat rekaman itu mulai dari Willy menggendong dirinya masuk ke kamar, kemudian membaringkan tubuhnya di ranjang. Dan akhirnya pergulatan itu terjadi. Mita terlihat menikmati dengan mata terpejam. Meliukkan badannya mengimbangi pergerakan Willy. Dan Mita juga bisa mendengar suara suara yang keluar dari mulut sebagai bukti jika dia menikmati permainan itu.


"Sekarang. Jelaskan ini," kata Willy lagi setelah menggeser video yang lain. Mita melihat dirinya yang sedang mengeluarkan kertas dari amplop coklat dan melipatnya menjadi kecil dan memasukkan ke saku celana jeans. Mita seketika takut. Wajahnya memucat melihat wajah Willy yang terlihat marah. Ini pertama kali Mita melihat wajah marah sang suami.


"I..itu surat wali yang tadi om...."


"Ambil. Cepat," kata Willy tegas dengan gigi yang rapat. Dia tidak membiarkan Mita untuk melanjutkan kalimatnya. Mita turun dari ranjang. Memungut pakaiannya yang berserakan di lantai. Mita memakai baju tersebut dan berjalan ke arah tempat celana jeans tempat penyimpanan surat itu.


Dengan gemetar Mita berjalan kembali ke ranjang. Willy juga sudah terlihat memakai pakaiannya. Mita mengulurkan tangannya untuk menyodorkan surat itu. Willy mengambil surat itu menatap wajah Mita sekilas. Kemudian Willy membuka kertas itu hingga terbuka sempurna.


Willy hanya membaca judulnya saja. Kemudian Willy merobek kertas itu menjadi bagian bagian kecil dan mencampakkannya ke lantai.


"Apa maksud dari semua ini?" tanya Willy tajam dan marah. Dia mencampakkan kertas yang tidak berbentuk itu. Dia mencengkeram bahu Mita dengan kuat hingga wanita itu merintih kesakitan. Menyadari perlakuan menyakiti tubuh Mita. Willy melepaskan cengkraman itu. Willy kemudian mengacak rambutnya frustasi.


Mita tidak dapat lagi menahan tangisnya. Mita menangis tanpa mengeluarkan suaranya. Willy sudah merobek surat gugatan cerai itu. Itu artinya dia akan berada di rumah ini dan masih istri Willy. Dia akan kembali melihat mata Willy yang penuh cinta kepada wanita lain. Hati Mita berdenyut nyeri memikirkan itu. Dan sejujurnya Mita tidak ingin melihatnya. Tapi sarannya sendiri yang menusuk hatinya hingga terluka dan sakit walau tidak berdarah.


Willy menatap Mita dengan sendu. Melihat Mita menangis hatinya juga ikut bersedih. Tapi rasa marah karena Mita berbohong membuat Willy mengeraskan hatinya untuk tidak membujuk Mita untuk diam.


"Sampai kapanpun. Aku tidak akan menceraikan kamu Mita. Kamu istriku. Sampai kapanpun," kata Willy tegas. Dia menatap Mita penuh kecewa.


"Ceraikan aku om. Bila penting sekarang juga," kata Mita sambil menangis. Keputusannya sudah bulat untuk bercerai dari Willy.

__ADS_1


"Tidak,"


"Om egois. Om tidak mencintai aku. Om hanya ingin mencicipi perawan. Om hanya mencintai Tante Keyla"


Willy terkejut. Dia mengusap wajahnya berkali kali.


"Mita,"


"Ceraikan aku om. Aku bisa melihat cinta om lebih besar ke Tante Keyla dibandingkan kepadaku. Aku menyerah om. Aku memang sangat mencintai dirimu om. Tapi setelah aku melihat cintamu yang begitu besar ke Tante Keyla. Aku mengalah. Aku akan berbahagia jika om juga berbahagia," kata Mita pelan dan menunduk. Dia sudah rela jika harus menyandang gelar janda di usia mudanya.


"Maafkan om Mita. Ini adalah kesalahan aku. Aku tidak bisa menceraikan kamu. Aku juga mencintaimu tapi hatiku juga salah karena mencintai Keyla secara bersamaan," jawab Willy juga menunduk. Jawaban itu semakin menyakitkan hati Mita.


"Aku tidak menyangka kamu seperti ini om. Egois dan serakah. Aku juga jadi ragu. Jangan jangan kamu mencintai wanita lain lagi selain kami berdua," kata Mita sinis.


"Aku serius Mita. Hanya kalian berdua. Hanya kamu yang mampu membuat aku lupa akan dirinya untuk sementara tetapi setelah mengetahui perjuangannya aku semakin mencintainya. Dan aku rasa Keyla adalah korban karena keegoisan orang tuaku. Dan ini tidak adil untuknya. Coba kamu posisikan dirimu di keadaan dia mulai dari awal terusir sampai sekarang. Aku mohon mengertilah," kata Willy sedih dan memohon pengertian Mita.


"Aku mengerti om. Oleh karena itulah aku meminta cerai. Aku ingin kalian hidup bahagia tanpa ada orang lain di dalamnya. Perasaan om untuk aku bukan cinta. Jika itu cinta, om tidak akan mencintai wanita lain."


"Mita. Jangan katakan seperti itu. Bukan hanya aku laki laki mencintai dua wanita sekaligus. Di luar sana juga banyak pria berpoligami. Lagi pula. Kamu yang meminta aku untuk rujuk dengan Keyla. Kenapa kamu jadi marah dan merasa tersakiti seperti ini. Jika kamu tidak menyarankan rujuk itu. Aku juga tidak mengejar Keyla. Kamu benar benar membuat aku frustasi Mita."


"Aku tidak percaya lagi kepadamu om. Aku hanya ingin bercerai."


Mita beranjak dari ranjang. Dia menuju kamar mandi. Tempat yang paling cocok untuk menyendiri saat ini. Keinginan hanya lepas dari Willy saat ini. Tidak perduli jika harus menyandang status janda. Mencintai tidak harus memiliki. Andaikan orang lain yang dicintai oleh Willy bukan Keyla. Mita bersedia berjuang untuk mempertahankan pernikahannya. Tetapi melihat kebaikan Keyla dan ada Billy yang butuh Willy membuat Mita memantapkan hati untuk bercerai.


Mita memeluk lututnya sendiri yang terduduk di lantai kamar mandi itu. Mencintai seseorang duda dan mengikatnya dalam pernikahan ternyata tidak segampang membalikkan tangan. Seorang duda cerai hidup seperti Willy ada masa lalu yang terus mengikutinya. Mita pernah bermimpi. Mempunyai suami yang baik, matang dan mapan akan membuat dirinya berbahagia. Mita merasakan kebahagiaan itu hanya di awal pernikahannya. Setelah itu Mita mendapat kenyataan yang menyakitkan. Bukan karena masa lalu Willy yang kembali muncul di hadapan mereka. Tetapi karena Willy masih sangat mencintai mantannya. Mita menangis. Hatinya tidak sekuat ketika meminta Keyla untuk rujuk dengan suaminya.


"Mita," panggil Willy dari luar kamar mandi. Mita masih betah meringkuk di kamar mandi. Dia tidak menghiraukan ketika Willy kembali memanggilnya berkali kali.


Entah bagaimana Willy masuk ke kamar mandi. Seingat Mita, dia telah menguncinya. Willy yang sudah berdiri menjulang tinggi di hadapan membuat Mita mendongak melihat wajah sang suami.


"Jangan seperti ini baby. Kamu tahu aku sangat mencintaimu. Jangan pernah meminta cerai," kata Willy yang kini berjongkok di hadapan Mita.


"Satu hati mencintai dua wanita itu tidak baik om. Om memang memiliki segalanya dan mampu memberi kami berlimpah materi tapi aku tidak sanggup untuk berbagi. Maafkan aku yang telah memberikan saran itu tapi mengingkarinya. Aku rela jika harus mundur. Om dan Tante Keyla layak untuk bersatu. Ada Alda dan Billy diantara kalian. Sedangkan aku. Aku tidak punya apa apa untuk mengikat om tetap bersamaku."


Mita merasakan hatinya berdenyut nyeri ketika mengucapkan kata kata itu. Mengingat Willy tidak menginginkan hamil di awal pernikahan membuat Mita sangat yakin. Jika Willy hanya menyukai tubuhnya saja.


"Jangan katakan itu sayang. Kamu punya segalanya untuk tetap bersama aku. Kamu punya cinta dan mungkin saja kamu akan hamil dalam waktu dekat ini," jawab Willy. Mita menggelengkan kepalanya. Keinginannya tidak bisa diganggu gugat lagi.

__ADS_1


"Aku tetap ingin bercerai om."


Willy tidak menghiraukan perkataan Mita lagi. Dia keluar dari kamar mandi meninggalkan Mita yang masih terduduk di sana. Dia berjalan menuju balkon. Lebih baik memandang langit larut malam begini daripada harus menuruti kemauan Mita. Dalam hati Willy berjanji. Sampai kapanpun dia tidak akan menceraikan Mita. Andaikan Willy tidak memasang Cctv di setiap sudut kamar. Bisa dipastikan beberapa hari lagi ada panggilan pengadilan untuk perceraiannya.


Flass back on.


Setelah keluar dari kamar mandi. Willy tidak bisa memejamkan matanya. Willy membuka ponselnya untuk menghilangkan Keyla dari pikirannya untuk sementara. Awalnya Willy hanya ingin memeriksa pesan wa dan membalas pesan yang belum dibalasnya mulai dari tadi pagi.


Willy kemudian mengecek Cctv yang langsung terhubung ke ponselnya. Awalnya Willy melihat rekaman Cctv dari pos satpam, ruang tamu hingga ke dapur. Merasa tidak ada yang janggal. Willy hendak menonaktifkan ponsel tersebut. Tetapi hatinya seperti penasaran untuk melihat rekaman Cctv di kamarnya sendiri.


Willy terkejut dan mengepalkan tangannya ketika melihat video dimana Mita memisahkan surat dari amplop dan memasukkan ke dalam saku celana. Willy beranjak dari ranjang. Dengan mudah Willy menemukan celana jeans tersebut dan meraba kertas. Dia mengambil kertas tersebut dan membacanya. Willy marah. Surat itu adalah surat gugatan cerai dari Mita untuk dirinya. Willy memasukkan surat itu kembali ke saku celana dan meletakkan celana jeans itu seperti sebelumnya.


Willy mondar mandir di kamar itu. Dia marah tetapi tidak ingin melampiaskan kemarahan itu kepada Mita. Willy terus berpikir. Surat itu tidak boleh di daftarkan ke pengadilan agama. Bagaimanapun caranya tapi Willy ingin Mita tertangkap basah untuk siasat ini.


Willy akhirnya berjalan menuju kamar Alda. Dia membuka pintu itu kasar. Tapi kedua wanita muda itu tidak terusik sama sekali dengan kedatangan Willy. Willy menggendong tubuh Mita dan membawanya ke kamar mereka.


Setelah Mita berbaring, Willy meraba tubuh istrinya. Willy semakin terkejut. Sesuatu yang tadi dirabanya di antara dua paha Mita tidak ada lagi. Dengan kasar Willy membuka kain penutup dia bawah tubuh Mita. Willy merapatkan giginya. Mita sudah berbohong. Untuk memberi pelajaran atas kebohongan Mita. Willy meraba semua bagian tubuh sensitif milik Mita. Tidak disangka. Wanita muda itu menggeliat dan mengeluarkan suara suara aneh. Willy semakin tertantang dan melepaskan semua kain di tubuh Mita dan kain di tubuhnya.


Willy menikmati tubuh Mita dan begitu juga sebaliknya. Dalam tidur Mita juga sangat menikmati sentuhan Willy.


Flashback off.


Willy kembali masuk ke kamar setelah hampir satu jam berdiri di balkon itu. Willy tersenyum melihat Mita yang sudah berbaring di ranjang. Willy masuk ke dalam selimut yang sama dan memeluk tubuh istrinya.


"Selamanya. Akan tetap seperti ini," kata Willy sambil menciumi tengkuk Mita. Mita yang belum tidur akhirnya membalikkan tubuhnya.


"Jangan egois om."


"Cintamu hanya sebatas ini?" tanya Willy sambil membelai wajah Mita.


"Cinta tidak harus memiliki om."


"Cinta harus memiliki. Kalau tidak dimiliki akan membuat kita semakin tersiksa," jawab Willy. Mita menatap wajah suaminya. Apa yang dikatakan suaminya itu adalah gambaran diri Willy sendiri yang ingin memiliki Keyla kembali. Andaikan Willy setuju dengan apa yang dikatakan Mita tadi bahwa cinta tidak harus memiliki. Mita bisa berpikir tentang hal lain. Mita akan berpikir jika Cinta Willy terhadap Keyla tidak harus rujuk kembali. Tapi kata kata Willy adalah sebuah penegasan jika Willy ingin memiliki Mita dan Keyla secara bersamaan.


"Tidurlah om," kata Mita. Dia tidak ingin membahas tentang cinta ataupun perceraian lagi. Mita hanya ingin tidur dan melupakan sakit hatinya walau hanya sesaat.


Willy mengangguk. Dia mencium kening Mita dan membawa wanita itu ke dalam dekapannya. Mita tidak menolak. Mita berusaha memejamkan matanya. Sedangkan Willy sudah terbang ke alam mimpi.

__ADS_1


Mita memisahkan dirinya dari dekapan suaminya. Mita memandangi sekeliling kamar. Kamar penuh kenangan bersama suami tercinta. Kamar yang menjadi saksi bisu Willy menjadi miliknya. Dan Mita menjadi milik seutuhnya untuk Willy. Dan kamar ini juga menjadi saksi bisu. Bahwa Mita ingin mengakhiri pernikahannya.


Setelah puas memandangi seluruh surat kamar. Mita melihat wajah suaminya. Mita mencium pipi suaminya dan beranjak untuk tidur di sofa.


__ADS_2