
"Masuk Mita," kata Azriel setelah membuka pintu. Mita masuk ke rumah panggung yang terbuat dari kayu itu. Karena kelelahan Mita langsung duduk di lantai dengan meluruskan kedua kakinya.
"Lelah?" tanya Azriel sambil terus berjalan semakin masuk ke dalam rumah. Mita tidak menjawab hanya memandang tubuh bagian belakang Azriel yang terus melangkah hingga tidak kelihatan.
"Kamu boleh tinggal beberapa hari untuk menenangkan pikiran kamu di sini. Tapi jangan sampai hari Sabtu. Jumat kamu harus keluar. Karena hari Sabtu pagi om aku dan keluarganya pasti akan singgah di rumah ini," kata Azriel. Azriel kemudian bercerita jika om adalah pegawai negeri sipil di kota kabupaten dan setiap Sabtu pagi akan singgah ke desa ini karena harus mengecek ladang sawitnya yang hanya berjarak beberapa kilo meter dari desa ini.
"Kok aku. Kamu tidak disini menemani aku?" tanya Mita takut. Tinggal sendirian di rumah asing dan tempat yang asing pula tentu menakutkan bagi Mita.
"Tidak Mita. Aku akan kembali ke kota hari ini juga. Kamu tidak perlu takut. Aku akan menitipkan kamu ke tetangga,"
"Tetangga mana maksud kamu. Tadi aku tidak melihat ada rumah selain rumah ini,"
"Di balik pepohonan sana, banyak rumah Mita. Kamu jangan khawatir. Kekeluargaan di desa ini masih kental," jawab Azriel sambil membuka jendela. Mita berdiri dan mendekat ke jendela untuk membuktikan perkataan Azriel. Dan benar saja. Dari celah celah dedaunan. Mita dapat melihat atap rumah. Tetapi Mita masih tetap takut jika harus tinggal sendiri untuk beberapa hari di rumah ini.
"Aku ikut kembali ke kota. Jika tahu akan ditinggal sendirian di sini. Aku tidak mau menempuh perjalanan berjam jam," kata Mita kesal. Apapun kata Azriel. Mita tidak akan bersedia tinggal di rumah walau hanya satu hari.
"Terserah kamu saja Mita. Aku tidak bisa memaksa. Ini kamu baca," kata Azriel sambil menyodorkan ponselnya. Mita dapat melihat screenshot percakapan Alda dan Nino yang menanyakan keberadaannya. Sebenarnya Azriel tidak sebodoh yang dipikirkan Mita meninggalkan dirinya sendirian di rumah ini. Dia akan meminta salah satu kerabat dari ibunya yang akan menemani Mita untuk menginap di rumah ini. Sebagaimana biasanya jika dia datang sendiri dari kota dan menginap di rumah ini.
"Aku yakin om Willy juga sudah pasti ke rumah nenek kamu," kata Azriel lagi. Mita masih berpikir keras dan tidak terima jika Alda langsung menanyakan dirinya kepada teman teman satu kelas. Mita belum ada 24 jam keluar dari rumah dan masih hitungan jam tapi Alda sudah heboh mencari dirinya. Mita juga yakin bahwa seisi rumah Willy sudah mengetahui kepergiannya. Untuk memastikan apa yang dikatakan Azriel. Mita mengaktifkan ponselnya. Matanya disuguhi dengan banyaknya panggilan tidak terjawab dari Willy, Alda dan nenek Ratmi. Dan juga beberapa pesan dari Willy yang menanyakan dan mengkhawatirkan dirinya. Tapi hal itu tidak berarti lagi bagi Mita. Yang dia inginkan hanya berpisah dari Willy. Pria yang terlihat tulus mencintainya ternyata hanya mencintai dirinya setengah hati.
Mita menyimpan ponsel itu kembali ke tas kecilnya setelah menghubungi nenek Ratmi. Informasi dari nenek Ratmi tentang perkataan Willy yang akan bersedia menandatangani surat gugatan cerai jika bertemu dengan dirinya membuat Mita semakin muak kepada Willy.
"Bagaimana Mita?. Di sini menenangkan diri atau kembali ikut ke kota?. Jangan kelamaan mikir kamu. Lihat tuh langit sudah mendung. Beberapa jam lagi pasti sudah hujan," tunjuk Azriel ke langit yang memang benar benar sudah mendung.
__ADS_1
"Aku ikut kembali ke kota," jawab Mita pasti setelah beberapa menit berpikir. Sesuai kemauan Willy dia akan bersedia kembali bertatap muka dengan pria itu. Demi status yang jelas. Tapi jawaban itu sudah terlambat. Bunyi hujan jelas terdengar dan petir ikut bersahutan. Azriel melangkah lemas menuju bangku kayu yang berada di tengah-tengah rumah itu. Niatnya untuk membantu Mita harus terperangkap hujan.
"Baiklah. Kita tunggu hujan reda," jawab Azriel tidak bersemangat. Dia menyadari membawa Mita ke tempat ini adalah keputusan yang salah. Dia tidak menyangka jika Mita ternyata penakut. Sebelumnya Azriel berpikir membawa Mita ke tempat ini membuat wanita itu merasa tenang karena kondisi lingkungan yang mendukung.
Mita semakin mendekat ke jendela dan menumpukan tangannya di kusen. Mita memandang keluar, melihat hujan yang semakin deras. Bukan merasakan hatinya semakin tenang. Mita justru bersedih. Air hujan itu membuat hatinya terusik. Mengingat luka yang diciptakan oleh Willy. Mita terus memandang keluar. Pikirannya melayang ketika pertama kali duduk berduaan di mobil dengan Willy. Mita merasakan dadanya sesak betapa bodoh dirinya saat itu. Berciuman di pertemuan pertama padahal jelas jelas dia tahu bahwa ada Sofia saat itu.
"Aku yang bodoh terlalu mencintai dan mempercayai kamu om," batin Mita sedih. Air matanya turun di pipinya mengingat semua kenangan indah bersama Willy. Andaikan air hujan itu bisa mencuci otaknya untuk melupakan cintanya kepada Willy. Mita akan segera keluar dan bermain hujan.
"Mau mandi hujan?" tanya Azriel yang sudah berdiri di belakang Mita. Mita mengusap air matanya sebelum berbalik melihat Azriel.
"Apa mandi hujan, bisa melupakan om Willy," tanya Mita membuat Azriel terkekeh.
"Sejak mengenal om Willy, ternyata kamu semakin bodoh Mita. Peringkat kelulusan di tangan Alda dan juga tidak lulus masuk perguruan tinggi negeri. Sekarang malah bertanya mandi hujan bisa melupakan om Willy. Apa kamu mau melupakan om Willy?" Mita mengangguk.
"Mau tahu caranya?" tanya Azriel lagi. Mita mengangguk lagi.
Mita melupakan sesaat luka hatinya. Dia berlarian mengikuti langkah Azriel yang sama sama sudah diguyur hujan. Mita tertawa begitu juga Azriel. Azriel senang bisa menghibur sahabatnya. Mita berharap air hujan ini bisa membersihkan hatinya dari nama Willy.
"Mita, kamu sudah kedinginan. Kita masuk!" kata Azriel yang melihat bibir Mita sudah menghitam.
"Bentar lagi Riel," jawab Mita dengan bibir yang bergetar karena kedinginan. Tetapi Azriel tidak ingin membiarkan Mita sampai kedinginan seperti itu. Dia menarik Mita masuk ke rumah.
"Di kamar sana. Ada lemari pakaian milik kakak sepupu aku. Ambillah yang bisa kamu pakai," tunjuk Azriel ke sebuah kamar paling ujung rumah itu. Mita melangkah ke kamar itu sedangkan Azriel masuk ke kamar utama rumah itu.
__ADS_1
Mita keluar setelah mengganti pakaiannya dengan pakaian milik kakak sepupu Azriel. Mita melihat Azriel mengeringkan lantai akibat Ceceran air dari pakaian basah mereka tadi. Mita membantu Azriel mengeringkan lantai tersebut. Kemudian karena merasa lapar dua sahabat itu kini di dapur memasak mie instan.
Kebersamaan Azriel dan Mita hari ini, entah mengapa Mita bisa menemukan rasa persahabatan seperti bersama dengan Alda sebelum dekat dengan Willy. Ini yang pertama bagi Mita dan Azriel berdua dalam waktu yang cukup lama. Biasanya mereka hanya bercanda sebatas di kelas saja. Tapi hari ini Mita bisa merasakan kecocokan dengan Azriel.
"Makan yang banyak Mita. Sakit hati boleh. Tapi jangan sampai sakit maag," kata Azriel bercanda setelah mereka duduk bersila di lantai sambil menikmati mie instan porsi jumbo dan teh.
"Jangan banyak bicara kamu, habiskan secepatnya kemudian kita berangkat ke kota," jawab Mita sambil memasukkan mie itu ke mulutnya. Azriel melihat ke luar rumah dan masih hujan deras. Mereka tidak memungkinkan untuk pulang hari ini. Jalanan licin dan untuk mencapai perbatasan harus melewati jalan tanjakan dan turunan. Terlalu beresiko jika harus ke kota dengan situasi seperti ini. Belum lagi jurang di sisi kanan dan kiri jalan yang harus dilewati.
"Mita, sepertinya kita tidak bisa balik ke kota hari ini. Cuaca tidak mendukung. Kita menginap saja di sini malam ini?"
"Di rumah ini berdua?" tanya Mita. Dia tidak enak harus berduaan dengan laki laki di atap yang sama. Bagaimana pun dirinya masih istri Willy. Dalam hati, Mita mengumpat Azriel membawa dirinya ke tempat yang tidak semestinya.
"Tidak. Setelah hujan reda. Aku akan meminta salah satu kerabat untuk menemani kita berdua di sini. Aku tidak mau mengambil resiko jika ketahuan warga desa ini kita tidur berdua di rumah ini."
"Beresiko seperti apa maksud kamu Azriel?"
"Di desa ini ada istilah hukum adat. Jika ketahuan berduaan di rumah seperti ini. Kita bisa dinikahkan saat itu juga,"
"Sialan kamu Azriel. Kamu bukan membantu aku kalau begini ceritanya," jawab Mita kesal dan meninggalkan Azriel di dapur. Mita harap harap cemas. Jangan sampai ada warga yang melihat mereka berdua sebelum Azriel meminta kerabatnya menemani mereka berdua.
"Kamu jangan takut Mita. Jika pun warga melihat kita disini. Aku akan menjelaskan. Aku tidak mungkin akan menikah walau dipaksa dengan kamu yang masih istri om Willy. Kecuali kalau kamu mau," kata Azriel terkekeh. Di saat Mita gelisah. Azriel masih sanggup bercanda.
"Yang pasti aku juga tidak mau Riel. Apapun alasannya. Aku harap kamu bertanggung jawab atas dengan perkataan kamu itu," ancam Mita. Azriel kembali tertawa. Membuat Mita seperti ini, Azriel merasa terhibur. Melihat kegelisahan di wajah Mita. Gadis itu terlihat semakin cantik.
__ADS_1
"Kamu mengancam nih ceritanya."
"Bukan hanya mengancam. Tapi lebih dari itu."