
Willy mengendarai mobilnya dengan kencang. Tujuan adalah rumah nenek Ratmi. Rumah besar yang dibelikan oleh Willy untuk nenek Ratmi dan mertuanya Rudi. Willy berkali kali memukul setir mobil untuk meluapkan segala emosi yang hinggap di hatinya. Willy yang awalnya berpikiran memberikan waktu untuk menginap bagi Mita di rumah nenek Ratmi kini berubah. Dia akan memberi pelajaran kepada Mita dengan mengurungnya di dalam kamar.
Willy turun dari mobil dan dengan tergesa berlari menuju pintu rumah itu. Willy tidak sabar untuk bertemu dengan Mita. Willy mengetuk pintu dengan kencang. Willy dapat mendengar suara nenek Ratmi yang menyahut dari dalam.
"Nak Willy, silahkan masuk," kata nenek Ratmi ramah. Willy hanya mengangguk dan langsung masuk. Dia mencari tanda tanda keberadaan Mita di rumah itu.
"Kok datang sendiri nak?" tanya nenek Ratmi membuat Willy terkejut. Mendengar pertanyaan nenek Ratmi, itu artinya Mita tidak ada di rumah ini. Willy tergagap sebentar dan cepat berhasil menguasainya.
"Nenek, sebenarnya aku datang untuk mencari Mita," kata Willy pelan.
"Mencari Mita?. Mita kabur?" tanya nenek Ratmi terkejut. Willy hanya mengangguk. Nenek seketika melemas mendengar itu. Kekuatiran jelas terlihat di wajahnya.
"Willy, Mita adalah istri kamu dan tanggung jawab kamu. Apa pun masalah kalian aku harap kamu segera menemukan Mita. Dan jika kamu tidak mencintainya lagi. Tolong kembalikan Mita baik baik ke rumah ini," kata nenek kecewa. Dia teringat akan cerita Mita satu minggu yang lalu tentang Willy yang masih mencintai mantan istri dan berniat rujuk. Nenek sebenarnya marah mendengar cerita itu. Tapi nenek menyerahkan semua keputusan kepada Mita. Nenek Ratmi tidak menyangka jika Mita akhirnya nekad kabur. Dan yang membuat nenek sedih, Mita kabur entah kemana.
"Jangan berkata seperti nek, aku masih mencintai Mita."
"Kamu masih mencintai Mita tapi hanya setengah dari hatimu. Aku sudah mendengar semua dari Mita tentang keinginan kamu rujuk dengan mantan istri kamu Willy. Aku tidak menyangka kamu tega berlaku seperti itu kepada cucu ku. Sebelum menikah kamu memperlakukan Mita bagaikan wanita satu satunya di hati kamu. Tanpa memikirkan perasaan cucuku. Kamu justru jujur tentang perasaan cinta kepada mantan istri kamu," kata nenek Ratmi marah. Nenek Ratmi merasa jika Willy sengaja mempermainkan perasaan cucunya.
"Maaf Nek, tapi aku hanya berusaha jujur. Lagipula Keyla pergi dulu karena keegoisan papaku. Aku hanya merasa takdir ini tidak adil bagi Keyla dan juga anak anak nek."
__ADS_1
"Tapi kejujuran kamu sangat menyakiti Mita. Aku setuju jika kalian bercerai. Lagi pula mendengar cerita tentang mantan istri kamu. Aku juga kasihan kepadanya," sindir nenek Ratmi halus. Willy hanya menunduk.
"Maaf nek. Mita sendiri yang menyarankan kami untuk rujuk nek. Awalnya juga aku menolak. Tapi Mita meyakinkan aku jika dirinya tidak akan pergi dari sisiku."
"Harusnya kamu mengerti jika Mita masih sangat muda dan labil. Dia mengira berpoligami itu gampang. Kamu yang jauh lebih dewasa harusnya bisa lebih memahami sifat Mita. Bukannya langsung menuruti tanpa memperhitungkan untung ruginya."
"Jika Mita menghubungi nenek, tolong suruh dia untuk pulang nek. Apapun keputusannya aku akan berterima," kata Willy pasrah tapi tidak dengan hatinya. Perkataan ini hanya pancingan supaya Mita pulang dan menjumpainya.
"Kalau bisa bercerai tanpa bertemu kenapa harus pulang Willy. Aku sebenarnya setuju dengan tindakan Mita ini," jawab nenek menyulut api kemarahan di hati Willy. Dan Willy mengepalkan tangannya mendengar perkataan nenek Ratmi. Dia benci akan ucapan nenek itu dan mencurigai jika nenek sengaja menyembunyikan keberadaan Mita.
"Itu artinya nenek tahu keberadaan Mita saat ini. Mana dia?" tanya Willy sudah marah. Nenek tersenyum sinis. Dari awal dia tidak menyukai dan tidak merestui hubungan Mita dan Willy. Tapi Mita menyakinkan nenek hingga restu itu keluar dari mulutnya sendiri. Nenek Ratmi tidak menyangka, rumah tangga cucunya dalam hitungan bulan sudah diterpa badai. Badai itu tidak tanggung tanggung. Badai itu dari Willy sendiri yang membuat nenek Ratmi setuju jika cucunya bercerai.
Nenek Ratmi tertawa kecil melihat tingkah cucu mantunya itu. Dia berharap Willy lebih baik gila daripada menjadi cucu mantunya.
Willy mengacak rambutnya frustasi. Willy meninju dinding melampiaskan kemarahannya. Nenek Ratmi tidak perduli. Sangat jelas nenek bisa melihat Willy kesakitan, nenek Ratmi sedikitpun tidak memberi perhatian. Malah nenek Ratmi berharap Willy membenturkan kepalanya ke dinding itu. Supaya Willy sadar apa yang diperbuatnya kepada Mita sangat menyakitkan. Dan bagi nenek Ratmi, rasa sakit di punggung tangan Willy tidak sebanding dengan luka hati yang dialami Mita saat ini.
"Nek, aku mohon. Beritahu aku. Dimana Mita saat ini," kata Willy memelas setelah sakit di punggung tangannya agak reda.
"Jujur saat ini. Aku tidak tahu keberadaan Mita nak Willy. Tadi pagi dia menghubungi nenek dan mengatakan dirinya baik baik saja. Bahkan dia juga tidak memberitahu nenek jika dirinya sudah kabur," jawab nenek jujur. Mita memang menghubungi nenek beberapa menit sebelum Willy tiba di rumahnya. Tapi Mita tidak bercerita jika dirinya sudah keluar dari rumah Willy.
__ADS_1
"Lagi pula, kenapa kamu langsung panik seperti ini. Bisa saja kan Mita ada urusan penting dan nanti malam kembali ke rumah kamu," kata nenek Ratmi lagi. Willy juga berharap seperti itu. Yang membuat hatinya yakin jika Mita kabur karena tadi malam Mita meminta cerai.
"Tadi malam Mita meminta cerai dan dia juga mengecoh aku menandatangani surat gugatan cerai nek," jawab Willy sedih.
"Itu artinya Mita memang sudah ingin benar benar berpisah dari kamu Willy. Aku rasa lebih baik kamu kabulkan. Dia juga meninggalkan beberapa surat satu minggu yang lalu yang harus kamu tanda tangani. Tadi pagi Mita juga berkata. Dia hanya menampakkan dirinya jika surat gugatan cerai ini kamu tanda tangani," kata nenek sambil menyodorkan surat gugatan cerai. Ketika Willy mencari Mita di setiap kamar. Nenek Ratmi tadi langsung mengambil surat itu dari laci meja.
Willy melihat surat gugatan cerai beserta pulpen yang disodorkan oleh nenek Ratmi.
"Dia akan muncul jika kamu menandatangani surat itu. Demi Mita. Tolong tandatangani Willy. Aku tidak ingin terjadi apa apa kepadanya. Jika Mita jauh dari aku. Entah dimana dia sekarang," kata nenek sedih. Nenek Ratmi berusaha menyakinkan Willy untuk menandatangani surat gugatan cerai itu.
Willy ragu. Tidak ada keinginannya untuk menceraikan Mita. Tetapi mengingat Mita sudah pergi dan akan muncul setelah gugatan cerai itu ditandatangani, terbersit di pikiran hendak menandatangani. Tetapi hal itu urung dilakukan oleh Willy. Dia tidak ingin lagi kecolongan.
"Beritahu Mita nek. Jika dia masih bersikeras untuk bercerai. Dia harus meminta lagi. Aku akan mengabulkan keinginannya. Dengan syarat. Dia sendiri yang akan mengantarkan surat gugatan cerai ini kepadaku," kata Willy tajam. Dia meremas surat itu sampai tidak berbentuk. Melihat surat itu ada di rumah nenek Ratmi, Willy sadar jika Mita sudah memikirkan bulat bulat untuk bercerai.
Willy melangkah penuh amarah dari rumah itu. Dia masih saja merasa dipermainkan oleh Mita. Willy benar benar tidak menyadari jika dirinya sendiri lah yang menyebabkan Mita ingin bercerai.
Mendengar suara mobil menjauh, seketika nenek Ratmi menangis pilu. Menangisi nasib cucunya yang hampir tidak pernah merasakan kebahagiaan. Ditinggal mati oleh ibunya, ditelantarkan oleh papa kandungnya dan hampir dijadikan tumbal utang oleh ibu tirinya. Dan baru saja mengecap kebahagiaan berumah tangga kini diambang perceraian. Dan yang menyedihkan penyebab perceraian itu bukan karena pelakor tapi karena sang suami yang terang terangan mengejar cinta sang mantan istri. Nenek Ratmi memukul dadanya karena sesak memikirkan sang cucu.
Nenek Ratmi juga sangat khawatir akan keadaan Mita saat ini. Nomor ponsel milik Mita tidak aktif lagi setelah menghubungi dirinya tadi. Terlepas dari permintaan Willy yang meminta harus Mita yang memberikan surat gugatan cerai itu. Nenek Ratmi? juga ingin Mita segera kembali ke rumah ini.
__ADS_1
Berkali kali nenek Ratmi, memanggil nama Mita. Berharap ada kontak batin dengan memanggil nama itu. Dan menghubungi dirinya. Nenek Ratmi ingin permasalahan rumah tangga Mita dengan Willy segera di selesaikan dan status Mita jelas.