
"Angkat saja Azriel," kata Mita yang melihat Azriel nampak ragu untuk menjawab telepon. Berkali kali ponsel itu berdering tapi Azriel seperti tidak ingin menjawabnya. Mita mengangkat kepalanya untuk mengintip identitas penelepon. Mita sadar aksinya ini tidak baik dan melanggar privasi. Tapi
melihat kegugupan Azriel, Mita jadi penasaran siapa sebenarnya yang menelepon Azriel.
Melihat pergerakan Mita, Azriel juga spontan meletakkan ponselnya di dadanya. Mita semakin curiga dan penasaran. Kedua matanya memicing melihat tindakan Azriel. Apalagi Azriel yang sudah berkeringat dingin.
"Kamu kenapa?" tanya Mita lagi. Azriel hanya menggelengkan kepalanya. Sikap gugupnya semakin mencurigakan. Mita menatap wajah Azriel mencoba untuk menebak ekspresi itu.
"Kita pesan makanan sekarang," kata Azriel untuk mengalihkan pembicaraan. Azriel melambaikan tangan untuk memanggil pelayan. Mita mengangguk setuju. Azriel berhasil mengalihkan rasa penasaran Mita.
"Pesan makanan untuk kamu Azriel. Aku akan mentraktir kamu," kata Mita setelah menyebutkan makanan dan minuman yang dia pesan.
"Kamu serius. Harusnya aku yang traktir kamu Mita. Tapi karena kamu bahagia. Aku bersedia juga kamu traktir," jawab Azriel senang. Dia tersenyum dan menunjukkan pesanan di buku menu itu. Sang pelayan terdengar membaca ulang pesanan mereka. Mita dan Azriel mengangguk bersamaan. Sang pelayan pun berlalu dari hadapan mereka.
Mita mencerna perkataan Azriel. Benarkah dia bahagia. Sejauh ini hatinya masih biasa saja. Mengetahui dirinya hamil. Mita masih antara percaya dan tidak percaya.
"Siapa lagi yang menghubungi kamu. Diangkat kenapa?" tanya Mita kesal. Ponsel milik Azriel kembali berdering tapi Azriel masih seperti tadi. Menatap sekilas ponsel itu dan akhirnya memasukkan kembali ke dalam saku celananya.
"Sepertinya orang iseng. Nomor tak dikenal," jawab Azriel. Dia tidak gugup lagi. Saat ini. Azriel justru terlihat sangat tenang. Mita percaya.
Dua sahabat itu kini mulai berbincang bincang. Azriel bercerita jika dirinya akan melanjutkan kuliah di kota ini juga. Azriel juga bercerita akan kuliah sambil bekerja. Mita mendukung rencana sahabatnya itu. Mita juga bercerita jika dirinya akan tetap melanjutkan kuliahnya di luar kota seperti rencana sebelumnya sebelum mengetahui hamil.
"Jadi maksud kamu. Anak itu akan kamu bagaimana?" tanya Azriel terkejut setelah mendengar rencana Mita.
"Apa tadi aku berkata seperti itu?" tanya Mita.
"Tidak sih. Tapi bagaimana kamu hamil sambil kuliah dan tentang perceraian itu. Apa tidak bisa dibatalkan?"
"Kita lihat saja nanti," jawab Mita acuh. Azriel mengernyitkan keningnya. Dia tidak bisa menangkap maksud dari perkataan Mita.
"Itu artinya masih ada peluang untuk om Willy," kata Azriel. Mita mengangkat bahunya. Azriel kembali bingung dengan sikap Mita. Hingga pesanan mereka datang bersamaan dengan suara ponsel Azriel yang kembali berdering. Dengan kecepatan yang seperti kilat, Mita menyambar ponsel milik Azriel. Mita terpaksa melakukan ini karena sikap mencurigakan Azriel. Azriel tergagap menyadari jika ponsel sudah di tangan Mita.
"Apa maksudnya ini?" tanya Mita marah. Azriel menggaruk pelipisnya dan gugup. Mita menatap Azriel tajam. Ponsel itu terus berdering dengan nama si pemanggil om Willy.
"Mungkin om Willy hanya ingin bertanya kabar aku," jawab Azriel masih gugup. Kata kata itu terlintas di otaknya. Sedangkan Mita menghubungkan kejadian tadi pagi dengan Azriel yang meminta dirinya untuk bertemu hari ini.
"Jangan bohong kamu Riel. Om Willy kah yang meminta kamu untuk menemui aku?" tanya Mita. Suaranya semakin meninggi membuat pengunjung yang lain menoleh kepada mereka.
"Azriel. Kamu sahabatku. Bisakah kamu jujur kepada aku?" tanya Mita lagi. Azriel masih menunduk.
"Baiklah, kalau kamu tidak bisa jujur. Kamu nikmati semua makanan ini. Aku akan pergi," kata Mita sambil meletakkan beberapa lembar uang di atas meja. Makanan itu baru saja disajikan pelayan di meja itu. Sesuai dengan perkataannya tadi, dia akan mentraktir Azriel.
__ADS_1
"Mita, duduklah. Aku akan bercerita tentang om Willy yang menghubungi aku hari ini," kata Azriel sambil menahan tangan Mita yang hendak berdiri. Mita menghempaskan tangan Azriel. Mita merasa dibohongi. Pantas saja dari tadi Azriel gugup setiap ponsel itu berdering. Ternyata ada yang disembunyikan oleh Azriel dibalik pertemuan mereka hari ini.
"Berbicaralah Azriel. Aku siap mendengar apapun yang kamu ceritakan."
"Om Willy yang menyuruh aku untuk menemui kamu hari ini. Om Willy menyuruh aku untuk membujuk kamu periksa ke dokter kandungan. Karena om Willy sangat yakin kamu hamil."
"Tetapi kenapa kamu bersedia Azriel?" tanya Mita kecewa. Tanpa dibujuk oleh Azriel untuk periksa ke dokter kandungan. Mita sendiri yang memberitahukan hal itu kepada Azriel. Mita merasa terbodoh dan dibohongin oleh Azriel. Andaikan dia mengetahui tujuan Azriel memintanya bertemu untuk membujuk dirinya, Mita tidak akan memberitahukan kehamilannya. Sekalipun Azriel memohon. Mita pasti tutup mulut tentang kehamilan ini. Tapi semuanya sudah terlanjur. Azriel sudah mengetahui tanpa bersusah payah. Willy pasti akan mengetahui kehamilan ini. Mita menarik nafas panjang. Jika dibandingkan dengan hari hari terakhir di rumah Willy Mita lebih bahagia di rumahnya bersama nenek Ratmi. Mita merasa bebas seperti anak gadis.
Azriel semakin gugup. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Jika dia tidak jujur maka dirinya akan hilang kepercayaan dari Mita. Tapi jika dia jujur, hubungan Willy dan Mita tidak bisa dipastikan akan kembali lagi. Bisa saja Mita akan semakin membenci Willy. Azriel bingung. Membiarkan dirinya dibenci oleh Mita atau Mita yang semakin membenci om Willy. Azriel menunduk. Dia tidak sanggup melihat tatapan Mita yang mematikan.
"Jawab Azriel," bentak Mita.
"Aku terpaksa."
"Ceritakan sedetail mungkin. Aku ingin tahu semua apa yang kalian berdua rencanakan di belakang aku. Jika tidak. Aku tidak akan pernah mengingat jika aku pernah mengenalmu," ancam Mita penuh dengan kekecewaan. Azriel mengangguk. Dia lebih baik dibenci oleh Willy daripada harus dibenci oleh sahabatnya.
Flashback on
"Kurang ajar kamu Azriel. Berani sekali kamu membawa Mita istriku. Ke tempat itu?" bentak Willy marah. Matanya memerah dengan tangan yang terkepal. Azriel menunduk takut menyadari kesalahannya yang membawa istri orang lain jauh sampai ke pedesaan. Niatnya memang membantu Mita. Tapi diluar dugaan, niatnya itu membawa Azriel kepada masalah yang rumit. Mulai dari mereka yang dimintai penjelasan tentang mandi hujan bersama. Hingga mereka dipaksa untuk menikah di tempat itu juga.
Dan hari ini, Azriel diminta oleh Willy untuk datang ke kantornya hanya untuk dimintai keterangan. Azriel sudah seperti terdakwa di hadapan Willy. Azriel juga menyadari, bahwa Willy menahan marah untuk tidak berbuat kasar. Tangan itu dari tadi terkepal sejak Azriel menginjakkan kakinya di kantor ini.
"Maaf om. Aku hanya ingin membantu Mita menghilangkan beban pikirannya," cicit Azriel pelan. Dia tidak mengetahui jika perkataan Azriel. Membuat Willy berusaha keras untuk tidak menamparnya. Perkataan Azriel seperti minyak yang semakin membakar amarah.
"Jawab Azriel. Apa maksud dan tujuan mu. Apa kamu mencintai istriku?"
Azriel semakin gugup. Jika orang lain yang menanyakan pertanyaan itu sudah pasti Azriel menjawab iya. Sayangnya, yang bertanya adalah suami dari wanita yang dicintainya. Dan tidak mungkin baginya untuk menjawab yang sebenarnya. Azriel menyadari dirinya seorang pengecut. Mencintai seorang wanita hanya dengan diam dan sering bercanda mengutarakan cintanya. Hingga dia kalah dari seorang duda yang kini menjadi suami dari sahabat sekaligus wanita yang sangat dicintainya.
Azriel masih bisa berpikir jernih. Dia tidak akan menjawab pertanyaan itu dengan jujur jika ingin keluar utuh dari ruangan ini.
"Tujuanku hanya membantu om."
"Apa kamu mencintai istriku."
"Apa aku terlihat seperti mencintai Mita om. Kami bersahabat dan sebagai sahabat. Aku rasa tidak salah jika saling membantu."
"Kamu bohong. Aku bisa melihat sorot matamu yang mencintai istriku."
"Terserah om mau menafsirkan sorot mataku. Tapi yang pasti kami bersahabat."
"Azriel. Sebenarnya aku ingin menampar kamu karena dengan lancang, sangat berani bersikap tidak sopan kepada istriku. Sekarang katakan. Kemana kamu mengantar istriku semalam?"
__ADS_1
Azriel terkejut mendengar perkataan Willy. Jika Willy bertanya kemana dia mengantar Mita semalam. Itu artinya Mita tidak jadi memberi kesempatan satu bulan untuk Willy. Azriel juga bertanya tanya dalam hatinya. Mengapa Mita tidak di apartemen Willy. Azriel masih jelas mengingat permintaan Mita untuk mengantar Mita ke apartemen Willy.
Dalam hati, Azriel senang mengetahui kenyataan bahwa Mita tidak memberi kesempatan kepada Willy. Itu artinya kesempatan untuk memiliki Mita terbentang untuk dirinya. Azriel menunduk menyembunyikan rasa senang dihatinya. Bibirnya menyunggingkan senyum dan Azriel tidak ingin Willy melihatnya.
"Aku mengantar Mita ke apartemen om Willy semalam. Hanya sampai parkiran. Dia masuk atau tidak aku tidak mengetahui pasti," jawab Azriel jujur. Tapi kejujurannya dibalas dengan tatapan tajam oleh Willy.
"Kamu berbohong Azriel. Kamu bahkan mempengaruhi Mita untuk tidak memberi aku kesempatan kan?. Kamu melakukan itu pasti karena ingin merasakan pelukan istriku lagi," tanya Willy. Dia mengetahui tentang mandi hujan bersama antara Mita dan Azriel di desa itu dari warga setempat. Bahkan Willy mengetahui mereka yang hampir dinikahkan. Willy juga mengetahui sebab mereka tidak dipaksa untuk dinikahkan. Sebenarnya Willy senang mendengar informasi itu tentang Mita yang menunjukkan foto pernikahan mereka dan mengaku sebagai istri. Tapi rasa kecewa itu tetap ada terutama kepada Azriel. Andaikan Azriel seumuran dengan dirinya. Willy pasti membuat perhitungan dengan sikap Azriel ini. Tapi Willy menganggap Azriel sebagai remaja labil hingga dia terpaksa menahan semua amarahnya.
"Terserah om mau berkata apa. Tapi perlu satu hal yang harus om ingat. Mita seperti ini. Itu karena sikap om. Menurutku om memang tidak pantas menjadi suami dari Mita yang seharusnya om anggap sebagai anak sendiri. Karena jelas om tahu. Bahwa Mita dan Alda bersahabat. Tapi om memanfaatkan kepolosan Mita untuk mengikatnya di dalam pernikahan. Sementara om tidak mencintainya sepenuh hati. Hal itu yang membuat Mita pergi dari om. Bukan karena pengaruh dari aku atau yang lainnya," jawab Azriel marah. Dia tidak terima ketika Willy berkata bahwa dirinya yang mempengaruhi Mita tidak memberi Willy kesempatan. Walau dirinya masih sangat muda. Dia tidak akan melakukan hal itu untuk memiliki Mita.
"Kurang ajar kamu Azriel. Beraninya kamu menasehati aku?.
"Bukan menasehati om. Tapi itulah kenyataannya."
"Asal kamu tahu. Aku bisa melaporkan kamu ke polisi karena membawa istriku kabur," kata Willy membuat Azriel semakin takut. Bagaimanapun dirinya bersalah walau niatnya tulus. Dia tidak ingin hal ini diketahui oleh kedua orangtuanya.
"Aku tidak membawa Mita kabur. Aku tekankan ya om. Aku hanya berniat membantu. Tidak lebih dari itu," kata Azriel membela dirinya sendiri. Willy mengambil amplop coklat dan mengambil foto foto dari amplop tersebut.
"Ada warga yang mengabadikan momen kalian. Aku bisa menjadikan ini sebagai bukti kalian selingkuh dibelakang aku."
Azriel menatap foto itu satu persatu. Ada foto dimana Azriel memeluk Mita. Dia ingat momen itu. Dia tidak sengaja memeluk Mita karena menolong wanita itu yang hampir tergelincir. Azriel terdiam. Bukan karena takut tapi karena merasa dirinya pasti kalah jika Willy melaporkan dirinya ke polisi.
"Ini tidak seperti yang om lihat. Mita hampir tergelincir dan aku menolongnya. Maaf om jika karena melihat ini om harus menahan marah terhadap aku," kata Azriel.
"Aku tahu. Istriku tidak serendah itu. Aku hanya minta tolong sebagai penebus kesalahan kamu. Tapi jika kamu tidak bersedia membantu aku. Aku terpaksa melaporkan kamu."
"Membantu apa om?"
"Aku tahu Mita akan menggugat cerai. Dan aku tidak menginginkan itu. Aku meminta pertolongan kamu untuk membujuk Mita untuk periksa ke dokter kandungan bulan depan. Kamu tunggu aku meminta kamu untuk membujuknya," kata Willy. Azriel hanya mengangguk. Dia tidak berani mengatakan jika Mita sudah meminum pil KB. Azriel takut, Willy semakin mencurigai mereka.
"Kenapa harus bulan depan om?" tanya Azriel polos. Willy hanya tersenyum samar. Dia tidak memberitahukan jika mereka bercinta yang terakhir dua malam yang lalu. Hingga hari ini tiba. Willy menagih janji Azriel untuk membujuk Mita ke dokter kandungan.
"Flashback off
Mita hanya memandang datar Azriel yang duduk di hadapannya. Dia tidak menyangka jika Willy mengintrogasi Azriel karena kejadian kabar itu.
"Maaf Mita. Aku terpaksa melakukan ini."
"Tidak apa-apa Azriel. Habiskan makanan kamu. Aku akan pulang," kata Mita. Makanannya sendiri sudah habis. Mita makan sambil mendorong Azriel bercerita.
"Mita, jika kamu masih bersikeras untuk bercerai. Aku siap menjadi ayah dari bayi yang kamu kandung," kata Azriel sambil menatap mata Mita. Azriel tidak perduli jika dia dianggap bodoh oleh Mita. Kalah cepat dari Willy untuk mendapatkan Mita membuat Azriel tidak ingin membuang kesempatan kali ini.
__ADS_1
"Kita bisa pindah ke luar kota. Aku mempunyai tabungan sedikit untuk membuka usaha kecil untuk menyambung hidup," kata Azriel lagi. Mita balas menatap bola mata milik sahabatnya. Mita dapat melihat ketulusan di sana.