
Willy memacu mobilnya cepat. Matanya mengawasi jalan mencari sesuatu. Apa yang dicarinya belum juga terlihat. Willy memacu mobilnya lebih cepat lagi. Menyalip beberapa mobil dan sepeda motor. Beberapa pengendara sepada motor dan mobil mengumpat karena Willy menyalip mereka seakan tidak ada perhitungan.
Willy membunyikan klakson mobilnya ketika jalanan macet. Hal itu mengundang perhatian seseorang yang duduk di boncengan. Orang itu adalah Mita. Sepeda motor Azriel berada di balik mobil si sebelah mobil Willy. Mita berdiri di boncengan melihat ke tengah jalan. Dia mengenali mobil Willy. Mita tersenyum. Ketika sepeda motor Azriel jalan, Mita memegang baju Azriel dari belakang. Sekilas Mita seperti memeluk Azriel.
Willy mengamati sepeda motor yang berjalan mendahului mobil itu. Tidak sabaran ingin mengikuti, Willy kembali membunyikan klakson mobilnya.
"Dari atas saja bung, Atas kosong," teriak salah satu pengendara motor. Pengendara yang lain terlihat tertawa. Willy tidak perduli.
Sementara itu, Mita menepuk punggung Azriel dari belakang.
"Azriel, tolong jangan kencang kencang. Aku takut," kata Mita. Dia menoleh ke belakang. Azriel memelankan sepeda motornya.
Mita terkejut dengan suara klakson mobil yang di belakangnya. Refleks Mita menoleh ke belakang. Dari dalam mobil, Willy untuk menyuruh turun. Mita tidak perduli. Dengan santai Mita meletakkan tangannya di pinggang Azriel, tetapi dadanya masih berjarak dengan punggung Azriel.
Willy yang melihat itu semakin marah. Kini wajahnya memerah. Dengan cepat Willy menyalip sepeda motor Azriel. Willy berhenti tepat di depan sepeda motor Azriel. Azriel mengerem tiba tiba. Beruntung sepeda motor Azriel bisa berhenti dengan sempurna.
"Turun!. Dan suruh Azriel pergi. Jangan sampai aku berbuat yang lebih gila dari ini" kata Willy lewat telepon ke Mita. Mita mematikan ponselnya sepihak dan dengan kesal memasukkan ponsel itu kembali ke tasnya.
"Azriel, kamu pergi saja ya!, dari sini sudah banyak angkutan umum ke arah rumahku," kata Mita sambil menarik tangan Azriel. Azriel hendak berjalan ke arah mobil Willy. Azriel sangat marah karena ditikung dan berhenti tiba tiba di depan motornya. Seandainya dia yang baru belajar bawa motor. Sudah bisa dipastikan dia dan Sinta terjatuh di jalanan. Azriel menurut dan kembali naik ke motornya.
"Tidak apa apa, kalau kamu naik angkutan umum," tanya Azriel. Mita hanya menggelengkan kepala.
"Makasih Azriel, hati hati ya!, Jangan ngebut," kata Mita, Azriel mengangguk.
Willy turun dari mobilnya setelah Azriel melewati mobilnya. Dia mendekat ke Mita, menariknya lembut. Kemudian Willy membuka pintu mobilnya dan mendorong tubuh Mita pelan masuk ke dalam mobil. Willy memutari mobilnya kemudian masuk ke dalam mobil.
Baru saja Willy masuk ke dalam mobil, Willy langsung duduk menyamping menghadap Mita. Tanpa aba aba, Willy membalikkan tubuh Mita untuk menghadapnya. Dengan sedikit memaksa Willy, mencium bibir Mita dengan kasar. Mita meronta dan memukul badan Willy. Willy tidak perduli. Akhirnya Mita pasrah dicium Willy tapi tidak berniat membalasnya.
__ADS_1
"Kenapa tidak dibalas?" tanya Willy masih memegang kedua pipi Mita. Suaranya sudah serak menahan gairah.
"Mesum,"
Willy terkekeh. Dia kembali mencium Mita. Tangannya sudah mulai aktif meraba. Mita dengan kesal memukul tangan Willy.
"Gak bosan apa?, baru saja tadi lagi celup celup. Sekarang sudah udah mau pegang pegang lagi," kata Mita kesal. Tangannya menahan tangan Willy supaya tidak meraba dadanya lagi.
"Celup bagaimana maksud kamu baby?" tanya Willy serak. Mita terdiam, dia malas untuk membahas apa yang dilihatnya tadi lagi di apartemen Willy.
"Pikir saja sendiri," jawab Mita sewot.
"Aku tidak suka, kamu dibonceng atau berdekatan dengan laki laki selain aku." Willy menatap wajahnya kekasihnya dari jarak yang sangat dekat. Mita dapat merasakan hembusan nafas Willy ketika berbicara. Mita memalingkan wajahnya keluar mobil. Dia sungguh kesal dengan pria duda yang di sampingnya ini.
"Masih berboncengan, jadi bagaimana dengan pasangan mesum tadi pagi yang aku lihat ya?, Si wanita hanya pakai hotpants dan tank top sedangkan si pria hanya pakai boxer dan keluar dari kamar yang sama, berkeringat pula itu," sindir Mita dan masih memalingkan mukanya keluar mobil.
Mita masih memandang keluar. Hatinya sungguh kesal. Willy meraih wajah Mita dan mendekatkan ke wajahnya.
"Hei, kalau mau pacaran jangan di jalan donk, ini tempat umum," teriak orang dari luar bersamaan dengan bunyi klakson yang saling bersahutan. Willy memundurkan wajahnya dan menghidupkan mesin mobilnya.
"Kita mau kemana om, aku mau pulang," kata Mita kesal. Dia tahu Willy akan membawanya ke apartemen. Willy hanya diam saja dan fokus menyetir. Terkadang dia meluapkan kekesalannya dengan membunyikan klakson mobil jika ada kendaraan yang akan dilewatinya.
"Om," panggil Mita lagi. Willy hanya menoleh ke samping kirinya tanpa berbicara.
"Aku mau pulang, aku tidak mau ke apartemen."
Willy masih diam. Dia tidak menghiraukan perkataan Mita sama sekali. Mita semakin kesal.
__ADS_1
"Turun atau aku gendong," kata Willy setelah membuka pintu mobil. Mereka kini sudah di lantai paling dasar apartemen Willy. Mita masih diam dan tidak ada niat beranjak dari mobil itu. Willy segera membungkuk dan menggendong Mita. Dengan kakinya, Willy menutup pintu mobil.
"Turunkan om," kata Mita sambil meronta melepaskan dirinya.
"Diam lah, jangan sampai karena teriakan kamu, orang mengira aku menculik kekasih sendiri. Benamkan kepalamu di dadaku. Orang akan melihat kita terlihat mesra," jawab Willy pelan di tepat telinga Mita. Mereka kini memasuki lift. Menyadari bukan hanya mereka berdua di lift tersebut. Mita menurut membenamkan kepalanya di dada Willy.
Mita mendengus kesal setelah Willy menurunkannya di ruang tamu apartemen. Dengan malas, Mita akhirnya duduk dengan bibir yang cemberut.
"Mandi dulu, biar segar," kata Willy membuat Mita melihat ke arah Willy yang berjalan menuju kamar.
"Hah, mandi?. Aku mandi kalau sudah di rumah. Cepatlah antar aku om,"
"Kita tidur di sini malam ini,"
"Aku tidak mau, aku mau pulang. Nenek pasti marah kalau aku tidur bersamamu. Belum halal juga," gerutu Mita sebal. Willy tersenyum dan kembali berbalik ke arah Mita. Dia kemudian menggendong Mita dan membawanya ke kamar.
"Mandilah, baju gantimu tersedia di sana," kata Willy setelah menurunkan Mita di kamar mandi. Dia menunjuk ruangan yang hanya di batasi kaca dari kamar Willy.
"Atau perlu om mandikan?" tanya Willy lagi. Mita mendorong Willy keluar dari kamar mandi.
"Mana baju gantinya?" tanya Mita. Willy menarik Mita ke ruangan yang ditunjuknya tadi. Mita terkesima melihat pakaian dalam jumlah yang lumayan banyak untuk ukuran tubuhnya, tersusun rapi berjejer dengan pakaian Willy.
"Ini baju Alda?"
"Bukan, ini untukmu semua. Jadi kalau kamu menginap di sini. Baju ganti sudah tersedia."
"Seharusnya, tidak perlu seperti ini," kata Mita sambil mengambil celana pendek dan kaos oblong dari lipatan yang paling teratas. Kedua pakaian itu masih lengkap dengan tag.
__ADS_1
"Untuk bagian dalam tidak ikut?" tanya Willy menyentuh lembut lengan Mita. Mita merasa malu ketika Willy menunjuk beberapa pakaian dalam yang berwarna terang. Mita meraihnya dan kemudian berjalan mendahului Willy masuk ke kamar mandi. Willy tersenyum mengekor di belakang Mita.