
Mita melihat ke arah tangga. Willy dan Alda terlihat menuruni tangga. Salsa berada di dalam gendongan Willy dengan kedua tangannya yang terlihat melingkar di leher sang ayah. Sedangkan tangan Willy sebelah kanan merangkul bahu Alda. Mita dapat melihat jika Willy memperlakukan sama antara Alda dan Salsa. Mita senang, Salsa diterima dengan baik tanpa ada keraguan. Mengingat dirinya pernah menginap satu malam bersama Azriel di luar kota. Tapi dari penglihatan Mita, Willy tidak terlihat ragu tentang keberadaan Salsa.
Tiga manusia yang saling berkaitan darah itu semakin mendekat ke ruang tamu. Mita menunduk.
"Bun, keliling motor sama ayah," kata Salsa senang setelah mengetahui bundanya duduk di sofa itu. Mita menatap putrinya dan Mita hanya mengangguk. Melihat Willy menyayangi Salsa ada rasa bersalah yang tiba tiba hinggap di hatinya. Mita merasa keputusan memperkenalkan buah hatinya kepada Willy adalah keputusan yang tepat. Willy berjalan melewati Mita dan terus melangkah menuju pintu utama tanpa menyapa Mita. Sedangkan Alda duduk di sampingnya.
Willy sengaja melakukan itu. Willy ingin supaya Mita menyadari kesalahannya yang dengan sadar menjauhkannya dirinya dari Salsa. Willy bukan benci, tapi Willy benar benar kecewa dengan sikap Mita. Willy sungguh menyadari dirinya bersalah dan berusaha meminta maaf dan memperbaiki diri tapi Mita justru pergi darinya tanpa menunggu sidang perceraian.
Willy membawa Salsa masuk ke garasi. Dia ingin mewujudkan keinginan sederhana sang putri.
"Mau naik motor yang mana tuan putri?" tanya Willy sambil menunjuk beberapa motor koleksi Billy di garasi itu.
"Aku bukan tuan putri ayah," protes Salsa polos. Dia tidak akrab dengan panggilan itu. Willy terkekeh dan gemas dengan kata protes yang yang keluar dari mulut putrinya. Willy semakin mendekap erat putrinya dan menciumi pipi Salsa.
"Alsa tuan putrinya ayah. Bolehkah ayah memanggil seperti itu kan. Ayah juga memanggil kak Alda seperti itu," jawab Willy menjelaskan sesederhana mungkin supaya dimengerti oleh Salsa. Akhirnya Alsa mengangguk. Willy tersenyum dan kembali bertanya kepada Salsa tentang motor yang mereka pakai untuk keliling.
"Itu ayah," tunjuk Salsa ke motor matic yang besar. Dengan menggendong Salsa, Willy mendekat ke motor tersebut. Willy mendudukkan Salsa di depan dan Willy segera menaiki motor tersebut.
"Bunda tidak ikut?" tanya Salsa lagi. Willy merasakan hatinya berdenyut mendengar pertanyaan putrinya. Willy juga sebenarnya ingin ada Mita di motor itu. Tapi Willy merasa ragu ditolak. Willy juga ingin membentengi hatinya dari Mita. Cinta yang ada dihatinya terlalu kuat untuk Mita tapi Willy sadar. Mita Tidak ingin lagi kembali kepadanya.
"Nanti bunda ikut. Ayah dan Alsa dulu oke."
"Oke ayah."
Willy membawa Salsa berkeliling sekitar kompleks perumahan itu. Berkali kali Willy melakukan itu demi menyenangkan hati putrinya. Celoteh Alsa di motor kadang membuat Willy tertawa. Salsa mampu mengalihkan rasa sedih di hati Willy akan kesedihannya kehilangan Keyla. Setelah puas berkeliling, Willy membawa Salsa ke swalayan mini yang ada di kompleks perumahan mewah itu. Salsa semakin senang. Willy terharu melihat wajah ceria putrinya. Walau Willy merasa kecewa atas sikap Mita, terselip rasa terima kasih di hati Willy kepada Mita karena langsung membawa Salsa ke kota ini. Dia tidak bisa membayangkan jika kejadian Billy terulang kepada Salsa.
"Kita pulang? atau mau keliling?" tanya Willy. Salsa menggelengkan kepalanya. Sebagai anak kecil yang baru bertemu dengan orang baru walau itu dengan ayahnya sendiri. Alsa terlihat mulai resah karena sudah agak lama mereka berkeliling. Salsa hanya ingin bertemu bundanya sekarang.
"Mau sama bunda," jawab Salsa. Willy mengangkat tubuh putrinya ke atas motor setelah mencium pipinya. Dihitung sejak bertemu dari beberapa jam yang lalu. Tidak terhitung Willy sudah menciumi wajah putrinya.
Willy duduk di sofa setelah mereka sudah di ruang tamu tanpa melepaskan Salsa dari gendongannya. Alda dan Mita yang sempat tadi bercerita kini diam. Mita sudah merasakan hatinya berdenyut kencang. Dia mencari kata kata untuk menjawab pertanyaan Willy jika bertanya tentang Salsa. Tapi di luar dugaan Mita. Satu katapun tidak ada keluar dari mulut Willy. Pria itu asyik memasukkan jajanan ke mulut putrinya.
__ADS_1
"Mana Billy," tanya Willy.
"Di kamarnya yah."
"Bisa kamu panggilkan tuan putri. Tidak ada pelayan yang terlihat," kata Willy. Alda menurut. Willy kembali fokus ke Salsa tanpa memperdulikan Mita di tempat itu. Willy banyak bertanya kepada putrinya. Tentang teman teman dan makanan kesukaan sang putri. Salsa dengan polosnya menjawab semua pertanyaan ayahnya.
Mita semakin menunduk. Dia mengira Willy akan bertanya sesuatu kepada dirinya jika Alda tidak berada di ruang tamu itu. Tapi hingga Alda dan Billy sudah menuruni tangga. Sepatah katapun tidak ada keluar dari mulut Willy untuk dirinya.
Billy terlihat heran dengan adanya anak kecil di rumah itu. Sambil menatap bingung ayahnya. Billy mendudukkan dirinya di sofa.
"Siapa adik kecil ini yah?" tanya Billy. Matanya tidak lepas dari Salsa. Willy menarik nafas panjang. Billy tidak mengetahui sama sekali tentang masa lalunya bersama Mita. Willy juga takut jika Billy tidak bisa menerima Salsa. Willy menatap Alda putri sulungnya. Dia berharap Alda bisa menjelaskan sesederhana mungkin tentang Salsa kepada Billy. Alda mengangguk mengerti maksud dari ayahnya.
"Dek, ingat gak? aku pernah cerita jika ayah pernah menikahi sahabatku?" tanya Mita hati hati. Billy mengangguk dan menunjuk Salsa.
"Aku tahu. Adik kecil ini. Adik kita dari sahabat mbak itu kan?" tebak Billy. Willy menunduk. Dia takut reaksi yang tidak diinginkan dari Billy.
"Benar dek. Dia Salsa adik kita. Dan yang di samping mbak ini adalah sahabat yang mbak yang melahirkan adik kecil kita itu."
"Benar begitu ayah?" tanya Billy kurang percaya. Willy hanya mengangguk.
"Wah, kita makin rame mbak. Panggil baby sitter kak. Suruh bawa si bungsu kemari," kata Billy senang. Rasa takut yang ada di hati Willy kini sudah hilang. Billy sudah mengulurkan tangannya kepada Salsa. Gadis kecil itu menurut. Kini Salsa sudah berpindah ke tangan Billy.
"Darimana saja selama ini tuan putri?" tanya Billy. Willy tertawa dan merasa senang karena Salsa langsung mendapat tempat yang istimewa di hati anak anaknya. Apalagi Billy memanggil adiknya itu dengan tuan putri. Billy juga terkadang memanggil Alda dengan sebutan tuan putri.
"Kampung," jawab Salsa polos membuat Willy dan Billy sama sama tertawa.
"Tidak boleh pergi ke kampung lagi ya. Kita berkumpul disini," kata Billy lagi dan Salsa mengangguk. Sama seperti Willy dan Alda. Billy juga terlihat sangat menyayangi adik kecilnya itu. Billy sudah terlihat mendekap erat tubuh adiknya dan menciumi pipi Salsa.
"Pipimu sudah bau air liur tuan putri. Kita ke kamar mandi dulu cuci muka," kata Billy. Willy tertawa karena dia merasa air liur yang menempel di wajah Salsa adalah air liurnya.
Kini Willy dan Mita kembali hanya berdua di ruang tamu itu. Alda masih memanggil baby sitter untuk membawa si bungsu ke ruang tamu sedangkan Billy dan Salsa sedang di kamar mandi membasuh wajah Salsa.
__ADS_1
Mita memberanikan diri mendongak menatap wajah Willy. Posisi duduk mereka saling berhadapan. Mita kembali menunduk ketika dia mengangkat kepalanya Willy juga sedang menatapnya lembut. Mita menunggu sepatah kata keluar dari mulut Willy. Tapi Willy masih bungkam dan hanya menatapnya.
"Sudah wangi kan," kata Billy setelah mereka kembali dari kamar mandi.
"Kasih cium ayah dulu. Pasti sudah wangi," kata Billy lagi sambil mencondongkan tubuh adiknya yang sedang digendongnya ke arah Willy.
"Iya wangi. Bilang terima kasih sama kak Billy," kata Willy setelah mencium putrinya.
"Terimakasih kakak Billy," kata Salsa. Billy gemas mendengar suara Salsa.
"Jangan panggil kakak. Panggil Abang saja. Terima kasih bang. Begitu. Coba ulangi tuan putri," pinta Billy.
"Terima kasih bang. Coba ulangi," kata Salsa polos. Baik Willy dan Billy tertawa terbahak-bahak. Salsa mengikuti kata coba ulangi yang seharusnya tidak perlu diucapkan. Mita juga terdengar tertawa tetapi hanya sebentar. Mita senang. Salsa diterima dengan baik oleh Alda dan Salsa.
"Rame banget. Kirain tadi kakek nenek juga sudah bergabung di ruangan ini," kata Alda. Baby sitter dan si bungsu berjalan di belakang Alda. Alda kembali duduk di sebelah Mita.
"Letak Disni si bungsu mbak," perintah Alda sambil menepuk kedua pahanya.
"Disini saja bibi. Alda masih kaku. Ayah takut nanti jatuh," kata Willy sambil meminta si bungsu dari tangan sang baby sitter . Mita melihat Willy yang tidak canggung memegang si bungsu. Mita kembali merasa bersalah karena sikapnya yang menjauhkan Salsa dari Willy. Sehingga Salsa tidak merasakan kasih sayang ayahnya sejak bayi.
"Dekat sini tuan putri. Ini adik bungsu kita," kata Willy ke Salsa. Salsa turun dari pangkuan Billy dan mendekat ke ayahnya. Salsa terlihat bingung ketika melihat bayi merah yang sedang tertidur itu.
"Lihat, lucu kan adik bungsu kita," kata Willy lagi sambil menarik satu tangan Salsa dan meletakkan tangan itu di pipi si bungsu. Salsa tertawa. Ini hal yang baru baginya. Setelah tangannya terlepas. Salsa kembali mengulurkan tangannya untuk mengelus adik bungsu itu.
"Bun, adik bungsu," tunjuk Salsa kepada Mita. Salsa kini sudah ada di pangkuan Mita. Mita hanya tersenyum.
"Gendong Bun. Aku mau adik bungsu," kata Salsa lagi. Mita bingung dan menatap Willy yang sedang menunduk.
"Minta adik itu Bun. Minta pada ayah," kata Salsa lagi. Mita semakin bingung.
"Om, bisa aku gendong adik bungsu," tanya Mita gugup. Dia tahu watak putrinya. Sebelum keinginannya tercapai. Salsa pasti terus merengek. Tanpa menjawab, Willy berdiri dan menyodorkan si bungsu ke Mita. Mita juga mengulurkan tangannya menerima si bungsu. Ketika perpindahan si bungsu dari tangan Willy ke tangan Mita. Secara tidak sengaja tangan mantan suami istri itu bersentuhan. Mita merasakan detak jantungnya berdebar. Mita seketika gugup. Ini pertama kali mereka bersentuhan fisik setelah empat tahun berpisah. Mita menarik nafas lega. Beruntung si bungsu sudah di tangannya dengan posisi yang sempurna.
__ADS_1