
Pagi hari setelah sarapan, Willy mengajak Alda Mita untuk bersantai di ruang tamu. Alda merasa heran dengan ajakannya ayahnya. Biasanya jam seperti tujuh seperti ini. Ayahnya sudah berangkat ke kantor. Apalagi setelah beberapa hari libur, seharusnya Willy harus ke kantor hari ini. Alda dan Mita mengangguk bersamaan. Mereka berdua tidak berani untuk bertanya. Karena wajah Willy terlihat serius.
Sama seperti Alda, Mita juga merasa heran dengan sikap Willy. Semenjak pulang tadi malam. Willy hanya menyapa Mita sekedar dan mencium keningnya. Berbanding terbalik dengan beberapa hari yang lalu yang selalu ingin lengket dengan dirinya. Tidak ada olahraga ranjang seperti malam sebelumnya. Padahal, Mita sudah mempersiapkan diri untuk hal itu. Bahkan tadi pagi, Willy juga hanya mengucapkan selamat pagi. Sebagai pengantin baru, Mita ingin Willy selalu bersikap romantis. Bahkan Mita menginginkan hal hal yang mereka lakukan semenjak sah menjadi suami istri.
Tidak ingin membantah, akhirnya Mita juga mengikuti langkah Willy menuju ruang tamu. Banyak tanya bersarang di kepalanya tentang sikap Willy pagi ini. Mita menghempaskan bokong ke sofa di sebelah Alda. Willy menepuk sofa di sebelahnya dan menyuruh Mita duduk di sampingnya. Mita menyenggol bahu Alda. Mita menggerakkan dagunya ke arah Willy. Dia mengerti bahwa Willy menyuruhnya untuk duduk di sampingnya. Tetapi karena terbiasa melihat Alda lengket dengan ayahnya. Mita tidak ingin merubah itu dan membuat Alda merasa tersisihkan karena keberadaannya.
"Kok aku sih ma, sana duduk di sebelah ayah," protes Alda sambil membantu Mita berdiri. Mita menoleh ke Willy. Pria itu tidak begitu memperhatikan Alda dan Mita yang berdebat. Willy sibuk dengan pikirannya ke kondisi Billy saat ini.
"Aku mau duduk di sini saja Alda," bisik Mita tepat di telinga Alda. Alda akhirnya duduk tenang.
"Ada apa ayah, sepertinya ayah banyak pikiran," kata Alda sambil memperhatikan wajah Willy. Willy hanya tersenyum mendengar perkataan putrinya. Alda memang bisa membaca raut wajah ayahnya dalam hal apapun.
"Belanja apa semalam?" tanya Willy basa basi. Alda mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan sang ayah. Tapi Alda mengerti, bukan itu tujuan Willy mengumpulkan mereka disini.
"Banyak ayah. Mita juga membeli beberapa barang untuk ayah," jawab Alda. Mita menunduk.
"Oya. Makasih baby. Aku jadi tidak sabar untuk melihat apa yang dibelikan istriku." Mita hanya tersenyum kikuk. Mita bisa menangkap apa yang dikatakan Willy bukanlah dari hatinya. Alda juga bisa melihat hal itu. Dua wanita bersahabat itu sama sama terdiam menunggu Willy berbicara dan mengetahui tujuan mereka duduk di sini.
Willy kemudian terdiam. Pikirannya melayang ke Billy. Willy berpikir untuk mencari kata kata yang tepat untuk memberitahukan informasi ini. Willy sadar, informasi ini pasti mengejutkan bagi Alda dan Mita. Terutama Mita. Selain itu, Willy juga ingin Mita tetap nyaman menjadi istrinya setelah mengetahui informasi ini.
"Alda, Mita. Ayah ada kabar mengejutkan bagi kalian. Ayah juga baru mengetahuinya," kata Willy hati hati setelah menarik nafas panjang. Willy memperhatikan wajah kedua wanita yang amat disayanginya itu. Alda dan Mita sama sama terlihat penasaran. Ingin mendengar kabar yang mengejutkan yang diucapkan Willy.
"Kabar apa itu ayah. Kalau kabar sesuatu yang baik. Tidak masalah. Jangan memberi kami kabar yang tidak baik. Jika kabar itu tidak baik sebaiknya jangan memberitahu kami," jawab Alda penasaran. Willy kembali menatap wajah Mita. Ada keraguan di hatinya untuk mengungkapkan berita ini. Willy menarik nafas panjang dan merasa yakin untuk bercerita tentang Billy. Billy adalah darah dagingnya. Dia akan mengakui itu dan akan memperkenalkannya ke semua orang bahkan ke seluruh dunia bila perlu.
"Ternyata kamu punya adik laki laki Alda. Namanya Billy," kata Willy pelan. Alda dan Mita sama sama terkejut. Mereka bersamaan menatap wajah Willy. Mencari kebenaran dan keseriusan di wajah itu. Willy benar benar serius.
Alda merasa ini seperti mimpi. Tetapi tidak bisa dipungkiri, mengetahui informasi ini. Alda merasa senang dan bahagia. Sedangkan Mita, bermacam pertanyaan memenuhi pikirannya. Mita menduga bahwa ada wanita lain yang melahirkan seorang putra untuk Willy dan menuntut pertanggungjawaban. Mita deg degan menunggu Willy berbicara. Mita terlihat kecewa. Dia berusaha tenang untuk mendengar penjelasan Willy berikutnya.
"Maksud ayah?" tanya Alda heran, bingung dan penasaran. Sama seperti Mita, Alda sudah berpikiran yang tidak tidak tenang Willy. Bayangan Sofia terlintas di pikirannya. Sebelum Mita, hanya Sofia yang dekat dengan Willy. Rasa senang dan bahagia tadi seketika hilang dari hatinya. Dia tidak ingin mempunyai seorang adik dari Sofia. Dia sudah mengetahui banyak tentang Sofia. Jika Willy menyebut Sofia adalah ibu dari adiknya. Maka Alda berencana tidak tinggal diam.
__ADS_1
"Bunda kamu ternyata mengandung ketika pergi dari ayah," kata Willy pelan nyaris tidak terdengar. Tetapi jarak yang dekat, Alda dan Mita bisa mendengar informasi itu dengan jelas. Alda kembali merasa senang dan bahagia. Alda menutup mulutnya tidak percaya. Tetapi hatinya menginginkan informasi ini benar benar nyata. Alda tersenyum dengan binar bahagia di sorot matanya. Sedangkan Mita masih mematung mendengar informasi barusan.
Mita terdiam dan mencerna perkataan Willy. Dia tidak salah mendengar informasi itu. Jelas Willy menyebut kata bunda. Itu artinya jika bunda dari Keyla lah ini kandung dari adik laki laki yang disebutkan Willy tadi.
"Mita, kamu mendengar apa yang kau katakan tadi?" tanya Willy lembut. Mita tergagap dan mengangguk. Willy akhirnya menjelaskan semuanya. Tentang kepergian Keyla dulu dan keadaan Billy saat ini. Alda terlihat sangat marah. Kemudian gadis manis itu menangis. Dia tidak menyangka kakeknya bisa berbuat sekejam itu pada dirinya dan bundanya. Rasa bersalah karena menilai Keyla ingin memanfaatkan harta ayahnya. Membuat Alda semakin terisak. Sedangkan Mita, dia masih berusaha mencerna cerita Willy. Karena rasa takut, otak pintar yang dimiliki Mita membuat wanita itu semakin takut.
Mita takut. Mendengar semua cerita dari Willy tenang kejahatan papa mertuanya.
Keyla meninggalkan Willy karena terpaksa dan ada Billy setelah kepergian itu. Mendengar semua cerita Willy. Mita yakin bahwa Keyla adalah orang baik. Mita semakin takut, Willy akan kembali ke Keyla karena merasa bersalah. Apalagi mantan istri suaminya itu masih cantik dan terlihat awet muda. Mita masih diam. Dia tidak tahu harus berkomentar tentang cerita yang sudah di dengarnya. Selain itu Mita juga takut, jika dia akan senasib dengan Keyla. Karena Mita sadar. Antara dirinya dan Willy jelas berbeda. Apalagi Keyla dapat merasakan jika kakek Jhon tidak menyukainya.
Mita menatap Willy cukup lama. Mita bisa melihat kesedihan suaminya itu. Dan sebagai istri, Mita juga sedih melihat sang suami mendapatkan kenyataan yang tidak pernah terbayangkan sama sekali.
"Ayah, aku mau ke rumah sakit," kata Alda sambil menangis. Alda ingin secepatnya bertemu dengan Keyla bundanya juga dengan Billy adik yang tidak pernah bertemu. Hatinya sangat sedih membayangkan kehidupan bunda dan adiknya. Alda ingin meminta maaf atas semua prasangka yang pernah bersarang di kepalanya tentang Keyla.
"Kita akan pergi sama sama. Kamu mau ikut baby?" tanya Willy membuat Mita kecewa. Harusnya Willy tidak bertanya. Mita ingin Willy mengajaknya. Bukan memberi pilihan ikut atau tidak. Mita jadi bingung. Jika ikut, Mita takut dirinya menjadi pengganggu bagi Willy dan anak anaknya. Jika tidak ikut, Mita takut Willy menilai dirinya tidak berusaha untuk mendekatkan diri ke Billy.
"Om dan Alda saja duluan, Aku nanti menyusul," jawab Alda setelah berpikir. Dia akan ke rumah sakit nanti. Tapi Mita ingin sendiri terlebih dahulu. Dia butuh waktu untuk bisa menerima ini.
"Aku saja duluan ayah. Ayah dan mama bisa menyusul nanti," kata Alda sambil berdiri. Dia memanggil si kakek sang supir. Willy mengangguk setuju. Alda juga bisa menyadari jika ini sangat sulit untuk sahabatnya. Alda juga kasihan melihat Mita. Sahabat yang menjadi istri kedua dari ayahnya dengan permasalahan dengan mantan yang amat rumit ini karena keegoisan sang kakek.
Alda menoleh ke Mita sebelum beranjak dari duduknya. Dia juga takut jika kakeknya berbuat hal sama kepada Mita seperti yang sudah dilakukan ke bundanya. Alda berjalan ke arah pintu utama bersamaan dengan Mita yang juga beranjak dari duduknya.
Mita menaiki tangga itu satu persatu. Ada perasaan yang tidak bisa diartikan hingga di hatinya. Entah mengapa setelah mengetahui Willy punya anak selain Alda, membuat Mita jadi takut. Bukan takut karena perhatian Willy yang akan terbagi. Tetapi Mita takut jika keberadaan Billy membuat Willy semakin terikat dengan sang mantan istri.
"Baby, kamu kurang enak badan?" tanya Willy setelah mereka di kamar. Mita hanya menggelengkan kepala. Bukan badannya yang kurang enak melainkan hatinya yang tidak enak. Tetapi untuk mengungkapkannya Mita ragu. Dia tidak ingin membuat beban pikiran Willy semakin bertambah.
"Kamu beli apa saja untuk aku?" tanya Willy lagi. Willy tersenyum.
"Hanya sedikit om," jawab Mita singkat.
__ADS_1
"Tapi om mau lihat," kata Willy manja. Dia sudah ikut duduk di ranjang dan berhadapan dengan Mita. Mita turun dari ranjang dan mengambil belanjaan untuk Willy dari laci meja rias. Mita meletakkan belanjaan itu di paha Willy.
Willy mengamati satu persatu belanjaan yang diberikan Mita. Mita hanya diam menunggu reaksi Willy untuk mengomentari hasil belanjaannya.
"Apa Alda mengetahui kamu membeli ini?" tanya Willy sambil menunjukkan benda itu. Karet pengaman untuk menunda kehamilan. Willy tidak ingin Alda melihat hal hal yang berbau kegiatan ranjang.
"Tidak om. Alda tidak melihatnya,"
"Syukurlah baby. Maaf, aku mengabaikan kamu tadi malam baby," kata Willy sambil meraih bahu Mita. Willy membawa Mita ke pelukannya. Melihat Mita membeli balon pengaman untuk dirinya, membuat Willy tersadar. Tidak seharusnya Willy mengabaikan istrinya. Memang bukan sengaja Willy berbuat seperti itu hanya saja semua informasi ini membuat dirinya terkejut.
"Aku mengerti kok om. Om juga pasti kaget kan mengetahui keberadaan dan keadaan Billy. Apalagi Tante Keyla juga pergi karena kakek. Aku tahu itu pasti ini berat untuk kamu om,"
"Makasih baby. Aku harap apapun yang terjadi kami tetap di sisiku," kata Willy sambil menatap mata Mita. Mita mengangguk tapi hatinya ragu. Disaat berdua seperti ini, Mita tahu bahwa pikiran Willy untuk Billy.
"Tapi aku takut om. Dulu om dan Tante Keyla saling mencintai. Aku takut cinta kalian bersemi kembali," kata Mita sambil menundukkan kepalanya. Willy hanya terdiam. Dia kembali memeluk Mita dan mengecup pucuk kepalanya.
"Jangan berpikiran yang tidak tidak baby. Kita sudah suami istri. Keyla adalah mantan. Tapi aku harap kamu bisa maklum jika perhatian aku akan terbagi tiga. Kamu, Alda dan Billy," jawab Willy untuk meyakinkan Mita. Hatinya pun sebenarnya ragu. Dia tidak bisa menjamin jika hatinya tidak mencintai Keyla lagi. Tapi Willy tidak tega membiarkan Mita takut dan ragu akan Billy dan Keyla.
Mita sedikit lega mendengar perkataan Willy. Mita melingkarkan tangannya ke pinggang Willy. Seperti permintaan Willy, Mita akan berusaha mengerti. Dan akan percaya akan semua yang akan diucapkan Willy. Dalam diam, Mita menyerahkan takdir kepada yang kuasa. Dia akan ikhlas menjalani apa yang akan menjadi takdirnya. Permintaannya hanya satu berbahagia dengan orang yang dicintai dan mencintainya. Saat ini Mita menggantungkan harapan itu kepada Willy. Mita tidak bisa membayangkan jika dirinya harus berpisah dari Willy. Cintanya teramat besar untuk ayah dari sahabatnya itu. Cinta yang besar itulah membuat Mita rela berkorban. Mengorbankan masa remaja yang indah. Dan bahkan bisa dikatakan, Mita juga mengorbankan persahabatan dengan Alda.
"Mau mencoba ini?" tanya Willy sambil menunjukkan karet pengaman itu. Willy Sudja tersenyum mesum. Mita juga tersipu malu. Willy sadar bahwa istrinya itu sudah ketagihan akan kegiatan ranjang. Willy pun akhirnya memulai apa yang tidak mereka lakukan tadi malam. Mencium Mita dengan ganas dan terburu buru. Pemanasannya hanya sebentar dan langsung ke permainan inti. Mita dapat merasakan perbedaan permainan mereka kali ini dibandingkan permainan sebelumnya. Mita berusaha memaklumi. Jika Willy terkesan terburu-buru untuk mengejar waktu ke rumah sakit.
"Om, rasanya berbeda pakai ini," kata Mita serak. Mungkin karena pemanasan yang terlalu cepat membuat Mita tidak menikmati permainan ini. Mita agak mendorong tubuh Willy untuk turun dari atasnya. Willy memegang tangan Mita dan terus sibuk bergoyang di atas tubuhnya. Meraih kenikmatan bersama pasangan halal yang sangat dicintainya.
"Kamu yang membeli karet sialan ini. Aku sebenarnya tidak suka ini. Tapi aku menghargai pemberian kamu," kata Willy serak. Dia menghentikan goyangannya hanya untuk berkata seperti itu. Kemudian melanjutkan goyangan itu dengan ganas. Tubuh Mita bergerak tidak beraturan karena menahan sakit dan menikmati kenikmatan secara bersamaan.
"Lepas aja om. Biarkan aku mengandung anakmu," kata Mita tepat di telinga Willy. Mita berharap Willy berhenti sebentar dan melepaskan karet itu. Mita menyesal karena membeli karet tersebut. Karet yang mengurangi rasa nikmat. Willy jelas mendengar perkataan Mita tapi tidak juga melepas karet itu. Dia terus bergoyang hingga akhirnya berhenti. Sesuatu yang harusnya keluar karena permainan itu sudah keluar. Willy turun dari tubuh Mita dan melepaskan karet itu kemudian membuangnya ke tempat sampah.
"Maaf reader ku tercinta. Baru muncul dan babnya sedikit.
__ADS_1