Mencintai Ayah Sahabatku

Mencintai Ayah Sahabatku
Via


__ADS_3

"Nenek mau kemana, Tadi aku lihat nenek bawa tas yang lumayan besar," tanya Willy setelah Mita berhasil mendorong tubuhnya. Willy juga mengelap bibir Mita dengan ujung jarinya.


"Nenek mau pulang kampung om,"


"Berarti nginap donk?" tanya Willy dengan senang. Mita mengangguk.


"Om nginap disini atau kamu yang nginap di apartemen ku," tanya Willy sambil mengedipkan mata. Mita kembali cemberut. Dua pilihan yang satupun tidak akan dipilihnya.


"Gini nih, kalau mempunyai kekasih yang sudah matang. Pikirannya ciuman dan kenikmatan saja. Coba tadi aku punya pacar anak sekolahan. Pasti sudah pulang untuk mempersiapkan pelajaran," kata Mita sambil menyandarkan punggungnya ke sofa. Setiap berdekatan dengan, Willy selalu mencium dan menjelajahi tubuhnya. Willy duduk menyamping menghadap ke Mita dengan tangan kanan bertumpu ke kepalanya.


"Apa kamu menyesal?"


"Menyesal karena apa om?"


"Karena sudah menjadi kekasih aku,"


"Om, kalau menyesal sih tidak om. Om ganteng, dan tajir. Gak mungkinlah aku menyesal. Hanya saja..."


"Hanya saja apa?" tanya Willy tidak sabar mengetahui kelanjutan perkataan Mita.


"Hanya saja om sudah tua," jawab Mita sambil tertawa dan hendak melompat dari sofa. Willy yang melihat itu langsung menangkap tubuh Mita. Mereka tertawa bersama sama dengan posisi Mita di pangkuan Willy. Mita mencium Willy duluan ketika pria itu mau berbicara. Willy menyambutnya dengan senang hati. Ciuman maut itu pun kembali terjadi.


"Enak saja bilang om sudah tua. Om masih muda baby," kata Willy setelah Mita berhasil mendorong wajahnya.


"Iya, diiyakan sajalah biar Om senang," jawab Mita asal.


"Baby, kalau seandainya aku miskin. Kamu masih mau tidak sama om. Misalnya perusahaan om bangkrut tiba tiba," tanya Willy masih menatap intens wajah Mita. Mita balik menatap Willy.


"Om jika aku berjodoh dengan kamu, apa dan bagaimanapun keadaan kamu. Kaya atau miskin. Aku tidak bisa lari dari kamu om."


Willy memeluk Mita dengan sayang. Jawaban bijak dari Mita sungguh membuat Willy yakin untuk menjadikan Mita istrinya. Tidak perduli dengan usia yang terpaut empat belas tahun. Willy mengecup pucuk kepala Mita dan menyandarkan kepala Mita di dadanya. Dalam hati Willy mengakui Mita pintar dan sangat bijak.


"Kamu pintar dan bijak sayang. Jawaban kamu itu juga akan menjawab restu Alda kepada hakim hubungan kita. Setuju atau tidak setuju, jika kita berjodoh. Pasti akan ada cara lain untuk membuat kita bersatu," kata Willy sambil membelai rambut Mita.


"Om, sudah malam. Om pulang saja ya, aku juga harus belajar. Tugas sekolah aku banyak om,"


"Ngusir nih ceritanya, dari tadi duduk di sini segelas teh tidak ada hanya sekedar mampir di meja," kata Willy bercanda.

__ADS_1


"Gimana mau teh, kalau dari tadi om nyosor terus,"


"Yeah namanya rindu baby. Satu Minggu kamu menghindari aku. Kamu tahu?, tidak melihatmu langsung dan tidak bersentuhan dengan kamu membuat aku hampir gila. Lain kali jangan begini ya!. Kalau ada masalah atau tidak cocok di hati kami. Langsung bilang ke om ya," kata Willy sambil memandang lekat wajah Mita.


"Baik bos,"


"Aku bukan bos kamu. Gak enak didengar,"


"Baik sayang," kata Mita kemudian menutup mulutnya. Tanpa berpikir, dua kata itu meluncur dari mulut Mita.


"Selalu panggil aku dengan sebutan sayang baby, umur aku bertambah dengan kata sayang dari kamu," ucap Willy senang. Willy kembali memeluk Mita.


"Ayah datang," kata Mita pelan membuat Willy spontan melepaskan pelukannya dan bergeser.


Melihat gugupnya Willy ketika mendengar ayah Rudi datang, Mita tertawa terbahak-bahak. Willy melihat ke arah pintu. Hingga beberapa menit, Rudi belum juga muncul. Willy sadar, dia dikerjain oleh Mita. Willy mendekat. Melihat gelagat Willy, Mita berdiri dan berlari. Willy bagaikan anak remaja mengejar Mita sambil tertawa. Mereka berkejaran di sekitar sofa itu.


"Lepas sayang," kata Mita ketika dia sudah tertangkap. Willy tidak perduli, dia semakin erat memeluk Mita.


"Baby, Aku mencintai mu," kata Willy lagi. Mendengar kata sayang untuk kedua kalinya dari Mita, membuat Willy semakin senang dan berbunga bunga. Mita tidak membalas ucapan Willy. Mita hanya tersenyum dan membalas pelukan Willy.


Willy menemani Mita sampai Rudi pulang. Willy berharap Rudi menyuruhnya untuk menginap. Walau tidur di sofa Willy rela, tetapi Rudi tidak menawarinya. Akhirnya dengan berat hati Willy pamit pulang.


"Via, ngapain kamu disini?" tanya Willy heran.


"Aku menunggu Alda om, tapi ketika aku tadi nyampe, Alda keluar bersama Nino. Aku disuruh nunggu om," jawab Via sambil tersenyum. Kaki yang menyilang tidak juga diturunkan. Mendengar Alda keluar dengan Nino. Willy menghubungi Alda. Benar, bahwa Alda keluar dengan Nino. Bahkan Alda dan Nino sudah pamit kepadanya lewat pesan. Tapi karena asyik dengan Mita. Willy tidak mendengar notifikasi pesan di ponselnya.


"Om, tidak duduk dulu?" tanya Via berani. Willy yang sudah berniat naik ke lantai dua akhirnya berhenti. Dia merasa tidak suka dengan gaya Via bertamu. Atasan crop yang dan rok denim di atas lutut membuat area perutnya kelihatan. Sangat berbeda dengan penampilannya ketika bertemu dengan Willy di jalan raya. Belum lagi dengan cara duduknya. Willy merasa tidak suka. Tapi entah mengapa, Willy menurut dan duduk juga di sofa. Hal itu membuat Via tersenyum.


"Om, mau aku ambilkan minum?" tawar Via lagi. Membuat Willy semakin tidak senang.


"Ini rumah aku. Kenapa kamu menawari aku minum?" tanya Willy tajam.


"Bukan gitu om, tidak enak kalau aku minum sendiri," jawab Via santai. Willy meliriknya. Entah sejak kapan roknya semakin naik ke atas. Via kembali tersenyum. Via melihat Willy yang menatap paha mulusnya. Via beranjak dari duduknya dan duduk di sebelah Willy. Sungguh Willy kagum dengan keberanian Via. Willy tahu arah tindakan Via selanjutnya. Bukan sekali dua kali Willy mengalami hal seperti ini. Bahkan yang lebih agresif dari ini Willy pernah mengalami.


"Om," kata Mita Via sambil menempelkan tubuhnya ke Willy. ******* dan aroma tubuh Via membuat Willy masih berdiam di tempat duduknya. Willy tidak menjawab. Dia ingin melihat sejauh mana Via berani menggodanya. Di luar dugaan Willy, Via berani meraba Willy sampai ke pangkalnya. Via memang sangat berani. Dia langsung memegang intinya.


Willy memejamkan mata, sebagai laki laki normal. Willy menikmati sentuhan Via. Gadis seumuran putrinya itu terlihat sudah seperti berpengalaman. Via terus melancarkan aksinya. Selain sentuhan Via, aroma tubuh Via yang memabukkan membuat Willy tidak kuasa menolak.

__ADS_1


Hingga Via dengan rakus bermain di bibirnya. Willy terbuai. Dia membalas Via dengan rakus. Tangan keduanya sudah saling meraba. Willy semakin menikmati. Sering menahan hasrat, membuat Willy merasa puas dengan tangan Via yang selalu memainkan intinya.


"Bawa aku ke kamar om," bisik Via berupa *******. Willy tiba tiba mendorong tubuh Via. Via terkejut. Willy sudah menikmati dan membalas serangannya. Tapi Via bisa merasakan kuatnya dorongan Willy.


"Apa kamu pakai guna guna?, Baru kali ini aku tergoda dengan wanita murahan seperti kamu. Bahkan umur kamu masih belasan tapi sudah berani berbuat sejauh ini," kata Willy marah. Willy bersyukur karena cepat bisa menyadari bahwa lawannya bukan Mita. Dari tadi dia membalas serangan Via, karena di pikirannya bahwa Mita lah lawannya. Tapi begitu mendengar bisikan Via, Willy sadar bahwa Mita tidak murahan seperti itu. Via mundur dan duduk di sofa terpisah dari Willy. Wajah pucat tidak sebanding dengan keberaniannya tadi.


"Maaf om," kata Via menunduk. Mendapat penolakan dari Willy apalagi Willy sampai marah membuat nyalinya menciut.


"Asal kamu tahu, jika aku mau wanita lebih cantik dari kamu pun bisa melayani aku. Jangan sok percaya diri kamu menggoda aku. Kamu belum apa apa jika dibandingkan dengan wanita cantik di luaran sana," kata Willy lagi. Walau Willy marah. Willy berharap dengan kata katanya Via mau berubah. Dia sedikit kasihan dengan perilaku Via ini. Willy menduga bahwa Via salah pergaulan.


"Maaf om," kata Via lagi.


"Pergi Via, sebenarnya aku merasa kasihan dengan kamu. Berubah lah, jangan berbuat seperti itu kepada siapapun jika kamu tidak ingin hancur," kata Willy sambil memanggil art nya. Willy menyuruh art tersebut untuk mengantar Via sampai ke luar gerbang rumahnya.


Via berjalan lesu mengikuti langkah art Willy, Pertama kali bertemu dengan Willy tadi, dia tidak menyangka bahwa Willy ayah Alda masih muda dan sangat tampan. Apalagi perhatian Willy di warung tadi membuat Via merasa yakin untuk menggoda Willy. Ternyata Willy tidak semudah itu ditaklukkan. Padahal Via sudah berdandan sangat cantik dan ****.


Dasar tidak tahu malu, walau Willy sudah marah dan menasehati Via. Gadis itu tidak langsung menyerah. Dia bahkan semakin bertekad untuk menjadi memiliki Willy.


"Makasih bi, kalau Alda bertanya tentang aku. Tolong bibi bilang kalau aku langsung pulang setelah mereka pergi tadi ya," kata Via setelah keluar dari gerbang. Si bibi mengernyitkan keningnya mencerna ucapan Via.


"Maksudnya non?"


"Maksud aku, jangan katakan ke Alda kalau aku sampai lumayan lama di rumahnya," jawab Via mempertegas permintaannya tadi.


"O tidak bisa non. Aku akan jujur ke non Alda," jawab si bibi sambil menggelengkan kepala.


"Aku akan memberikan ini," kata Via menunjukkan uang seratusan. Via ingin menyogok si bibi. Bibi itu mengulurkan tangan menerima uang itu. Via tersenyum. Dia merasa berhasil menyogok bibi.


"Makasih ya bibi," ucap Via senang dan tersenyum.


"Ya. Tapi jangan harap aku mau berbohong demi kamu ke non Alda," jawab bibi dan langsung menutup gerbang. Via merasa kesal. Bibi itu berhasil menipunya. Via memukul gerbang itu dengan kencang. Tangannya sampai merasa sakit karena itu.


"Dia sudah keluar dari gerbang kan bibi?" tanya Willy melihat bibi sudah masuk ke rumah. Bibi menceritakan semua apa yang diminta Via tadi. Willy terkekeh mendengar cerita artnya.


"Bibi, aku minta tolong. Awasi pergaulan Alda ya!. Bibi tahu sendiri bahwa aku tidak mempunyai waktu yang banyak untuk Alda. Aku takut Alda salah pergaulan seperti Via tadi," kata Willy kepada artnya. Melihat kelakuan Via, entah mengapa kecemasan Willy akan Alda semakin menjadi jadi.


"Den Willy tidak perlu khawatir. Non Alda sepulang sekolah selalu bersama non Mita di sini. Mereka hanya belajar dan menonton di laptop. Apalagi non Mita itu baik den. Tidak mungkin memberi pengaruh yang buruk bagi non Alda," jawab bibi jujur. Dia berkata apa adanya yang dia lihat.

__ADS_1


Willy tersenyum mendengar nama kekasihnya disebut dan dipuji.


__ADS_2