Mencintai Ayah Sahabatku

Mencintai Ayah Sahabatku
Orang Suruhan Alda


__ADS_3

Willy mengerang frustasi. Sudah ada satu Minggu dia tidak berjumpa dengan Mita. Mita seakan akan menghindari dengan alasan sibuk belajar untuk mempersiapkan ujian nasional. Sudah satu Minggu juga Willy cepat pulang dari kantor, dia berharap Mita masih di rumahnya mengajari Alda.


Tetapi nihil. Wanita cantik itu juga selama seminggu ini tidak ke rumah Alda. Tentu saja Alda tidak kesepian. Karena Keyla sang ibunda yang baru muncul selalu datang ke rumah Alda.


"Ayah, mau kemana?" tanya Alda ketika melihat ayah yang baru pulang tetapi mau pergi lagi. Keyla yang duduk di samping Alda hanya diam.


"Ayah mau keluar, mungkin ayah tidak pulang malam ini," jawab Willy tanpa menoleh ke Alda.


"Ayah, bolehkan bunda menginap di sini malam ini?" tanya Alda membuat Willy menghentikan langkah. Bukan niatnya untuk membatasi Alda dan Keyla. Melihat Alda bahagia bersama Keyla. Willy tidak rela untuk melarang Alda bertemu dengan Keyla. Tapi untuk membiarkan Keyla bermalam di rumahnya, Willy tidak rela. Bagaimanapun Keyla sudah orang lain baginya. Dan lagi, bila membiarkannya Keyla menginap malam ini. Willy takut Keyla jadi keseringan menginap di rumahnya.


"Tidak boleh tuan putri, bagaimana pun, dia sudah orang lain bagi ayah. Kalian boleh bertemu kapanpun asal jangan sampai menginap. Ayah tidak mau ada fitnah," jawab Willy pelan. Selama seminggu ini Willy bertemu dengan Keyla, tetapi tidak ada niatnya untuk menyapa wanita itu.


"Tapi ayah,"


"Ayah tidak suka dibantah Alda," potong Willy cepat.


"Apa aku harus membuat aturan bertamu di rumah ini?" tanya Willy tegas membuat Alda terdiam. Baru kali ini ayahnya berkata cukup keras kepadanya. Itu artinya Willy sudah marah.


"Baik ayah," jawab Alda takut.


"Suruh dia pulang!" kata Willy lagi. Tanpa disuruh Alda, Keyla bangkit dari duduknya setelah memeluk dan mencium pipi Alda. Dia keluar dari rumah dan hanya pamit kepada Alda. Melihat Keyla sudah keluar Willy menghampiri Alda dan memeluknya dengan sayang.


"Ayah yang membesarkan kamu sendiri, patuh lah kepada ayah. Ayah tahu kamu senang berjumpa dengan dia, tapi kamu juga harus memikirkan perasaan ayah,"


"Maaf ayah, tapi kalau boleh jujur. Aku mau ayah kembali dengan bunda," jawab Alda sedih. Willy masih membelai rambut Alda. Dia juga merasa sedih mendengar jawaban Alda. Willy tahu bahwa Alda merindukan kasih sayang dari ayah dan bundanya. Itulah sebabnya Willy tidak melarang Alda bertemu dengan Keyla. Walau hatinya menolak keras. Tapi demi Alda. Willy rela menahan sakit hati yang tidak kunjung sembuh karena ulah Keyla.


"Itu tidak akan terjadi nak, ayah tidak akan melarang kalian saling menyayangi. Tapi untuk kembali ke bunda kamu. Jelas ayah tidak bisa,"


"Kenapa ayah?, apa karena ayah sudah mempunyai kekasih?" tanya Alda sambil mendongak menatap wajah ayahnya. Willy mengangguk.


"Siapa ayah?. Aku ingin mengenalnya,"


"Kalau sudah tepat waktunya. Ayah akan mengenalkannya kepadamu?" jawab Willy. Willy melepaskan pelukan. Dia bersyukur. Alda tidak terlalu bersedih karena sudah dibentak olehnya.


"Yang jelas bukan Tante Sofia kan?"

__ADS_1


"Ya tidak lah. Kan ayah punya gebetan baru. Yang cantik, baik dan tentunya masih muda," jawab Willy cepat. Alda pun ingat bahwa ayahnya pernah bercerita tentang gebetan barunya.


"Jadi penasaran mau kenal," kata Alda membuat Willy terdiam. Jelas Alda sudah mengenalnya tapi untuk memberitahu Alda tentang hubungannya dengan Mita, Willy ragu. Apalagi Alda menginginkan Willy kembali ke bundanya, jelas Alda pasti tidak akan setuju hubungan Willy dengan Mita.


"Ayah pergi dulu tuan putri," kata Willy akhirnya. Dia hendak melangkah tetapi suara Alda kembali menghentikannya.


"Mau jumpa dengan gebetan baru ayah?"


"Tidak, baru tadi malam ketemu. Keseringan bertemu nanti jadi bosan dia. Kalau ayah sih, bertemu tiap detik juga tidak keberatan," jawab Willy sambil terkekeh. Dia terpaksa berbohong. Willy baru tahu, ternyata Alda terkadang menyuruh seseorang untuk memantaunya. Dan Willy tidak mau kecolongan, pertemuannya dengan Mita diketahui Alda.


"Jadi ayah mau kemana?"


"Putri ayah kepo deh, ayah mau ke kantor lagi,"


"Tapi ini sudah jam empat ayah,"


"Tengah malam pun, kalau aku mau. Ayah bisa ke kantor. Tidak ada yang melarang," jawab Willy sedikit kesal dengan segala pertanyaan putrinya. Alda diam. Tetapi di hatinya Alda semakin curiga kepada ayahnya.


"Baiklah ayah, hati hati di jalan," kata Alda akhirnya. Willy mengangguk dan berjalan ke luar rumah.


Willy menghentikan mobilnya setelah dari komplek rumahnya. Willy mengambil ponselnya dan membuka ponsel tersebut. Willy menghembuskan nafas. Benar dugaannya bahwa Alda kembali menyuruh seseorang untuk menguntitnya. Tiga hari yang lalu, Willy memasang Cctv tersembunyi di ruang tamu dan teras rumahnya. Dan setelah memeriksa ponselnya barusan, Willy dapat melihat Alda berbicara dengan seseorang di telepon.


"Semoga, kamu yang ditugaskan putriku untuk mengikuti aku," kata Willy lagi. Willy kemudian menjalankan mobilnya pelan, dan melihat ke belakang lewat spion. Beberapa motor yang berhenti juga terlihat berjalan. Willy membelokkan mobilnya ke kiri, lagi lagi beberapa motor tersebut juga berbelok mengikutinya. Willy jadi bingung, tetapi Willy menjalankan mobilnya asal. Hingga benar dugaan Willy bahwa pengendara berjaket kuning itulah yang mengikutinya. Willy menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Kemudian keluar dan menghampiri pengendara berjaket kuning yang juga menghentikan motornya.


"Turun dari motormu atau aku menghabisi kamu sekarang juga," kata Willy marah. Pengendara itu merasa gugup dan ketakutan. Benar benar mata mata amatiran. Dengan gugup dan takut pengendara itu turun dari motornya. Willy menarik tangan pengendara itu kasar dan membawanya ke sebuah warung dekat situ.


"Buka helm mu," perintah Willy, pengendara itu membuka helmnya. Willy terkejut setelah melihat pengendara itu membuka helmnya. Seorang gadis cantik dengan rambut panjang. Dengan takut gadis mengikuti Willy duduk di bangku kayu yang ada di warung itu.


"Berapa Alda membayar kamu untuk mengikuti aku," tanya Willy tajam tanpa basa basi. Gadis itu kembali gugup. Pertanyaan Willy yang to the point membuat dia tidak bisa mengelak.


"Dua ratus ribu untuk sekali mengikuti om," jawabnya gugup dan takut. Gadis itu terus menundukkan kepala.


"Apa saja kamu lihat dan kamu laporkan setelah mengikuti aku?" tanya Willy lagi. Willy memastikan apakah gadis ini pernah mengikuti dia ketika bersama Mita. Gadis itu menceritakan apa yang sudah dilihat dan dilaporkan kepada Alda. Willy menghela nafas lega. Dari cerita gadis itu, dia tidak pernah melihat Willy bersama Mita.


"Apa kamu yakin, hanya itu yang kamu lihat dan laporkan kepada putriku?" tanya Willy lagi dengan tajam. Gadis itu kembali mengangguk.

__ADS_1


"Siapa nama mu?"


"Via om,"


"Dimana kamu mengenal putri aku?"


"Kami satu SMP dulu om," jawab Via masih dengan menunduk. Willy terkejut. Bila mereka satu SMP, berarti Via juga mengenal Mita.


"Aku akan membayar kamu lebih besar dari yang dikasih Alda. Asal kamu juga bekerja sama dengan aku," kata Willy membuat Via mendongak.


"Tapi om,"


"Tidak ada tapi tapi, berani kamu menolak. Aku akan menjebloskan kamu ke penjara. Mau?" kata Willy dengan suara yang keras. Willy sengaja mengeraskan suaranya supaya Via takut dan bersedia bekerja sama dengannya.


"Aku tidak berani mengkhianatinya om. Alda sangat baik kepadaku,"


"Kamu tidak akan mengkhianatinya. Kamu mengatakan aku menemui rekan kerja jika Alda menyuruh kamu mengikuti aku,"


"Alda tidak sebodoh itu om. Alda akan meminta foto jika dia menyuruh aku mengikuti om," jawab Via membuat Willy tercengang. Lagi lagi dia mengakui kepintaran Alda dalam hatinya.


"Itu gampang diatur. Mana ponsel kamu. Simpan nomor aku. Jika Alda menyuruh kamu, segera hubungi aku. Mengerti kan maksud aku?"


"Ya om. Aku mengerti," jawab Via pelan. Via terpaksa menuruti ajakan Willy walau dalam hati dia tidak mau mengkhianati Alda. Willy mengeluarkan dompet dari kantong celananya. Mengeluarkan beberapa ratusan ribu dan memberikannya ke Via.


"Aku membayar kamu di muka, jika Alda menyuruh kamu lagi. Kamu tidak perlu melakukannya. Cukup kamu memberi tahukan kepada aku," kata Willy sambil menyodorkan uang ke Via.


"Ambillah," kata Willy lagi melihat Via belum mengulurkan tangan mengambil uang tersebut. Akhirnya Willy menarik tangan Via dan meletakkan uang itu ke telapak tangan Willy.


"Aku tunggu kerja sama kamu. Jika kamu ingkar, aku pastikan masa depan kamu hancur," kata Willy membuat gadis itu semakin ketakutan. Dalam hati Willy tertawa melihat mata mata amatiran yang disewa putrinya untuk menguntitnya.


"Om," panggil gadis itu membuat Willy kembali menatap Via.


"Ada apa lagi?"


"Om tidak perlu membayar aku, Aku akan menuruti perkataan om. Tapi om tidak perlu membayar aku," kata Via pelan. Gadis itu merasa bersalah kepada Alda yang tidak bisa menyangkal bahwa dirinya adalah suruhan Alda.

__ADS_1


"Ambillah, aku tahu kamu melakukan itu karena kamu butuh uang. Om juga ikhlas kok," jawab Willy melunak. Via sampai menatap wajah Willy.


"Kalau kamu butuh bantuan keuangan. Jangan segan segan untuk meminta bantuan ke om. Om punya uang yang banyak. Om malah bersyukur kalau bisa membantu orang. Jangan berkecil hati karena perkataan om ya!. Om pamit dulu. Ingat apa yang aku katakan tadi," kata Willy sambil berdiri dari duduknya. Willy mengacak rambut gadis itu kemudian keluar dari warung. Via masih tertegun dengan perlakuan Willy. Via sampai memandang punggung Willy yang semakin menjauh. setelah Willy masuk mobil baru kemudian Via keluar dari warung itu.


__ADS_2