Mencintai Ayah Sahabatku

Mencintai Ayah Sahabatku
Pertemuan Tidak Terduga


__ADS_3

"Ayah," panggil Alda sambil mengetuk pintu kamar ayahnya. Willy muncul setelah membuka pintu dan terkejut dengan penampilan Alda. Alda tampil mempesona dengan penampilannya malam ini. Gadis manja itu terlihat sangat cantik dengan gaun yang bagian bawahnya kembang. Riasan wajahnya juga terlihat sempurna dengan rambut yang dijepit sedikit di atas kuping.


"Ada apa apa tuan putri,"


"Ayah mau dinner dengan rekan bisnis ayah kan?. Aku mau ikut," kata Alda sambil memasang wajah memohon. Willy seketika tertawa. Sementara Alda cemberut.


"Gak boleh, kemarin di ajak tidak mau. Ayah sudah mengajak seseorang untuk menemani ayah,"


"Siapa?" tanya Alda penasaran. Alda tidak berharap Willy menyebut nama Sofia.


"Ada deh,"


"Apa ayah mengajak Mita?" tanya Alda lagi membuat Willy terkejut. Sebenarnya Willy tidak mengajak siapapun untuk menemaninya malam ini. Willy hanya berniat menjahili Alda. Bahkan Willy senang ketika Alda berniat ikut makan malam dengan rekan bisnisnya. Hanya saja si balik permintaan Alda, Willy yakin ada sesuatu yang membuat Alda ingin ikut.


"Tidak, kenapa kamu bertanya seperti itu," tanya Willy sambil membetulkan letak jam tangan di pergelangannya. Pertanyaan Alda tadi membuat Willy sedikit tergagap dan Willy tidak mau Alda menyadarinya.


"Melihat ayah pernah mengantarnya ke sekolah. Aku pikir kalian membuat janji untuk bertemu kembali. Misalnya mengajaknya malam ini," jawab Alda santai.


"Tidak, tidak mengajaknya. Ayah hanya bercanda tadi. Ternyata kamu menanggapinya serius. Ayo!, kalau kamu mau ikut. Ayah bahkan senang kamu mau ikut. Dengan begitu kamu, bisa melihat dunia bisnis itu mulai dari sekarang," kata Willy. Seperti biasa Willy merangkul pundak Alda sambil menuruni tangga. Willy sedikit khawatir Alda mencurigai hubungannya dengan Mita. Apalagi Mita sudah bercerita tentang keinginan Alda yang menunggu bundanya.


"Aku sih tidak tertarik dengan dunia bisnis ayah,"


"Coba aja dulu, kamu lihat Nino. Di usianya yang masih muda sekarang dia sudah sangat tertarik dengan bisnis. Ayah menginginkan menantu seperti Nino. Mandiri dan pintar," kata Willy sambil memuji Nino. Alda tersenyum dan ikut merasa bangga karena Willy memuji kekasihnya. Dan bahkan menginginkan menantu seperti Nino.


"Iya ayah. Nino Ternyata hebat," puji Alda bangga. Willy tersenyum. Willy merasa keinginan Alda ikut bersamanya malam ini ada kaitannya dengan Nino.


"Benarkah, kamu sudah mengakuinya hebat, jangan jangan kamu jatuh cinta kepadanya," goda Willy membuat wajah Alda merona. Willy kembali tersenyum melihat Alda. Sepanjang perjalanan, Willy menggoda Alda dengan membicarakan tentang Nino.


"Ayah, kita makan malam disini?" tanya Alda ketika Willy memarkirkan mobilnya di sebuah halaman rumah yang luas. Alda sedikit heran. Alda mengira mereka akan makan malam di restoran yang mewah.


"Iya, ini rumah rekan bisnis ayah. Sepertinya Nino belum datang," kata Willy sambil mengamati mobil yang sudah terparkir. Ada sekitar lima mobil yang sudah terparkir di halaman rumah itu. Alda yang mendengar nama Nino seketika ikut mengamati mobil tersebut.

__ADS_1


"Mungkin itu ayah," tunjuk Alda ke luar mobil. Dari arah gerbang sebuah mobil berwarna merah memasuki halaman rumah tersebut.


"Macam betul saja. Nino pakai mobil warna merah. Sepertinya tidak deh," jawab Willy. Dia membuka pintu mobil tepat mobil warna merah tersebut terparkir di sebelah mobilnya. Alda ikut turun dan berjalan mendekat ke Willy.


"Willy," panggil seseorang yang turun dari mobil tersebut. Willy menghentikan langkahnya dan berbalik melihat ke belakang. Willy sangat terkejut dan gugup. Wanita itu berdiri di samping mobilnya dengan pintu mobil yang masih terbuka. Willy seketika melihat Alda yang di sampingnya. Alda yang biasa bersikap cuek tidak begitu memperhatikan wanita itu.


"Ayo masuk," ajak Willy ke Alda. Dia tidak menghiraukan panggilan wanita tersebut. Alda yang tidak tahu apa apa menurut. Sedangkan wanita itu setelah mengambil tas tangannya dari mobil mengejar Willy dan Alda.


"Willy aku mau berbicara," kata wanita itu setelah berada di belakang Willy.


"Masuklah, tunggu aku di dalam," kata Willy ke Alda dan mendorong badan Alda pelan supaya masuk ke dalam rumah. Alda melihat sekilas wanita tersebut dan masuk ke dalam rumah itu.


"Berbicaralah," kata Willy dingin. Dia bahkan tidak melihat wanita tersebut.


"Apa itu tadi Alda putri kita?" tanya wanita itu yang ternyata mantan istri Willy. Willy mendecih dan menatap wanita itu dengan tajam.


"Jangan sebut dia putrimu Keyla, dia hanya putri aku,"


"Lupakan. Kita bertemu hari ini disini. Aku harap kita tidak bertemu lagi di lain waktu. Dan kamu jangan berbicara apapun kepada putri ku," kata Willy lagi dengan tajam. Dia menyesal karena memperbolehkan Alda ikut bersamanya malam ini. Willy membalikkan badan dan melangkah masuk ke dalam rumah.


"Willy," panggil wanita itu dengan melemas. Dia bahkan tidak dapat melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah setelah mendengar apa yang dikatakan Willy tadi.


"Siapa wanita tadi ayah," tanya Alda setelah Willy duduk bersama di sofa di rumah itu. Setelah Willy masuk ke dalam rumah. Dia terlebih dahulu menjumpai sang tuan rumah dan berbincang sebentar.


"Tidak siapa siapa sayang, ayo kita pulang. Ayah ada sedikit urusan lagi,"


"Tapi ayah?, kita bahkan belum makan malam."


"Ayah sudah pamit ke tuan rumahnya. Kita akan makan malam di restoran saja. Tiba tiba rekan ayah yang lain menghubungi ayah untuk bertemu malam ini," kata Willy menjelaskan. Dia beranjak dari duduknya dan menarik tangan putrinya. Sedangkan Alda cemberut. Dia minta ikut untuk bertemu dengan kekasihnya Nino. Sebelum Nino datang, Willy sudah mengajaknya pulang.


"Ayah saja ke restoran. Aku disini saja mewakili ayah. Toh Nino sebentar lagi akan datang dan ada yang menemani aku disini,"

__ADS_1


"Tidak, kita harus pulang bersama. Ayo!" ajak Willy lagi. Alda menurut tapi bibirnya sudah maju beberapa centi. Willy sengaja mengajak Alda lebih cepat pulang. Supaya Alda tidak bertemu dengan Keyla.


"Alda," panggil Keyla setelah mereka sudah di keluar dari rumah. Sejak tadi Keyla masih berdiri ditempat yang sama ketika berbicara dengan Willy tadi. Alda mengerutkan keningnya. Alda heran. Dia tidak mengenal wanita itu tetapi mengetahui namanya. Alda memperhatikan Keyla dari kepala sampai ujung kaki. Dia wanita yang juga memanggil ayahnya tadi. Alda juga merasa pernah melihat wanita itu, tapi Alda lupa kapan dan dimana. Alda tidak menyadari bahwa dirinya dan wanita itu sangat mirip.


"Ayo," ajak Willy dan menarik tangan Alda dan berjalan lebih cepat. Alda semakin bingung dengan tingkah ayahnya.


"Willy, tunggu!" panggil Keyla lagi. Dia berlari ke arah Willy dan Alda.


"Kamu tidak bisa seperti ini Willy, walau pertemuan ini tidak disengaja. Alda harus tahu siapa ibu kandungnya sendiri," kata Keyla dengan berani. Dia tidak menghiraukan peringatan Willy tadi.


Deg.


Alda merasakan jantungnya berdetak kencang ketika wanita itu menyebut ibu kandungnya. Alda melepaskan tangan ayahnya dan berjalan maju beberapa langkah ke arah Keyla. Sementara Willy juga merasakan jantungnya berdebar. Dia tidak ingin Alda mengetahui siapa sebenarnya wanita ini.


"Apa kamu mengenal ibu kandung aku?" tanya Alda dengan sorot mata yang sedih. Keyla yang melihat sorot mata itu seketika menangis dan berlutut.


"Maafkan aku Alda. Aku adalah ibu kandung kamu," jawab Keyla dengan berlutut. Air matanya terus berjatuhan. Alda terdiam dan melihat wanita itu kemudian menoleh Willy yang berdiri di samping mobil dengan tangan di pinggang dan tangan kanannya menutup mulut. Dari cara Willy, Alda tahu bahwa apa yang dikatakan wanita itu adalah benar.


"Kamu benar ibu kandung aku?" tanya Alda lagi meyakinkan dirinya sendiri. Dengan menangis dan berlutut Keyla mengangguk berkali kali.


"Maafkan aku Alda, aku terpaksa harus meninggalkan kamu kala itu, aku terpaksa," kata Keyla membuat Alda tersentuh. Dia sudah lama merindukan ibunya sendiri. Dan malam ini, Ibu kandungnya ada dihadapannya.


"Ibu," panggil Alda pelan dengan suara yang hampir menangis. Keyla mendongak dan berdiri. Keyla memberanikan diri untuk memeluk Alda. Tidak disangka Alda membalas pelukan ibu kandungnya. Mereka berpelukan sambil menangis.


"Ibu, aku sudah lama merindukan mu," kata Alda sambil menangis. Bukan menjawab, Keyla semakin menangis mendengar perkataan putri kandung. Bagaimanapun sebagai seorang ibu, Keyla sangat merasa bersalah meninggalkan Alda sewaktu kecil. Bahkan umur Alda kala itu masih beberapa hari. Sementara Willy berdiri mematung melihat Alda yang memeluk Keyla sangat erat. Enam belas tahun membesarkan Alda sendirian, dia tidak menyangka bahwa Alda merindukan sosok ibu. Selama ini Alda tidak bertanya tentang ibu kandungnya. Dan Alda juga terlihat bahagia bila bersamanya.


"Aku juga sangat merindukan kamu sayang," jawab Keyla setelah tangisnya mereda. Dia memegang kedua pipi Alda dan menciumnya. Keyla juga merapikan rambut Alda yang sudah berantakan. Alda mendapatkan perlakuan seperti itu tentu saja sangat bahagia. Cukup lama dia menantikan hal seperti ini. Alda dapat merasakan ketulusan Keyla.


"Alda, ayo kita pergi," ajak Willy dingin. Dia sudah membuka pintu mobil untuk Alda.


"Pergilah sayang, aku akan menemui mu. Katakan di mana kalian tinggal sekarang?" bisik Keyla lembut. Alda juga berbisik memberi tahu alamatnya. Alda tersenyum bahagia, Alda melepaskan pelukannya dari Keyla dan berjalan menuju mobil ayahnya. Keyla terlihat melambaikan tangan ke Alda. Seperti Alda, Keyla juga sangat bahagia. Dia tidak menyangka Alda bisa menerimanya dengan mudah setelah ditinggal sejak kecil.

__ADS_1


__ADS_2