Mencintai Ayah Sahabatku

Mencintai Ayah Sahabatku
Perdebatan


__ADS_3

"Alda, apa bunda kamu berkata sesuatu tentang liburan yang kamu minta itu?" tanya Willy sambil menyetir. Alda yang sedang makan keripik menghentikan tangannya mengambil keripik dari kemasan.


"Iya ayah. Kata bunda, Mita dan Nino harus ikut. Padahal aku ingin kita berlibur bertiga tanpa orang lain," kata Alda cemberut. Suasana hatinya berubah setelah Willy membahas tentang liburan mereka. Mita menunduk, dia tahu bahwa dirinya hanyalah sahabat bagi Alda. Tapi perkataan Alda barusan seakan mempertegas bahwa dirinya hanyalah orang lain bagi Alda. Sebelum bundanya Alda kembali. Alda selalu menyebut Mita sebagai sahabat sekaligus saudaranya. Tapi hari ini Alda menyebutnya sebagai orang lain. Dan Mita berusaha memaklumi itu.


"Leo juga akan ikut," kata Willy lagi. Alda semakin kesal dan tidak senang. Walau Alda tahu bahwa Leo adalah sahabat ayahnya. Tetap saja Alda menginginkan liburan tanpa orang lain selain mereka bertiga.


"Aku tidak mau ayah. Liburannya hanya kita bertiga. Titik," jawab Alda marah. Bibirnya mengerucut dan dengan kasar Alda menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi mobil. Mita yang melihatnya merasa tidak enak hati. Mita juga merasa kesal akan Willy, tanpa meminta pendapatnya Willy langsung mengatakan bahwa dia ikut berlibur.


"Om, aku tidak bisa ikut berlibur dengan kalian. Nenek aku pasti tidak akan mengijinkan," kata Mita akhirnya. Dia tahu penyebab Alda marah. Mita mengambil keputusan itu padahal baik Alda atau Willy belum mengajaknya secara langsung untuk ikut berlibur.


"Dengar sendiri kan ayah, Mita tidak bisa. Jadi kita berlibur hanya bertiga saja," kata Alda senang. Matanya berbinar ketika Mita mengatakan tidak bisa ikut berlibur bersama mereka. Keinginan hanya mereka bertiga. Tidak boleh ada orang lain termasuk Nino kekasihnya.


"Kalau begitu liburannya batal,"


"Oke ayah. Tidak apa apa. Ternyata ayah lebih mementingkan Mita daripada aku. Mita tidak bisa ikut ayah langsung membatalkan liburannya. Mulai besok juga aku tidak akan sekolah," kata Alda tegas dan marah.Dia mengancam ayahnya dengan alasan itu. Alda yakin Willy akan mengabulkan permintaan kali ini.


"Baiklah kita akan berlibur. Aku akan meminta ijin nenek kamu Mita,"


Rona wajah Alda kembali meredup. Ayahnya tetap ngotot untuk membawa Mita berlibur. Willy tidak menyadari perkataannya membuat Alda merasa muak akan Mita.


"Jangan om, aku juga mau fokus ujian," tolak Mita lebih halus lagi. Willy tahu bahwa Mita hanya mencari alasan saja.


"Aku heran deh sama ayah, Mita dari tadi tidak ingin ikut. Kenapa ayah terkesan memaksanya?. Apakah ada sesuatu di antara kalian?" Lagi pula kalau Mita ikut, itu hanya menambah biaya saja," kata Alda sinis. Mita merasa sedih dan tersinggung dengan ucapan Alda. Apalagi tekstur tubuh Alda ketika mengatakan itu. Mita bisa tahu bahwa keberadaan saat ini di antara ayah dan putri itu tidak diinginkan Alda. Mita menunduk dan memeluk erat ranselnya. Dia ingin turun saja dari mobil Willy saat ini juga. Tapi Mita masih berpikir panjang.


Willy merasa tidak enak hati ketika mendengar perkataan Alda. Masalah biaya tidak masalah bagi dia. Perkataan Alda yang sinis, Willy tahu bahwa Alda tidak menyukai Mita saat ini. Willy merasa bersalah akan Mita. Seharusnya dia tidak menyangkut pautkan ketidaksukaannya akan liburan yang diminta Alda. Mau minta maaf saat ini juga kepada Mita, Willy takut akan memperburuk suasana hati Alda.


"Alda, jangan berkata seperti itu nak, tentang biaya tidak masalah bagi aku..."


"Iya. Iya aku tahu ayah banyak uang. Bahkan untuk mengajak puluhan orang berliburpun ayah sanggup. Kenapa tidak sekalian saja satu kelas Alda diajak berlibur?. Kenapa hanya Mita dan Nino?" potong Alda cepat. Dia tidak memberi kesempatan kepada ayahnya untuk meneruskan ucapannya.


"Alda. Aku mengajak Mita karena dia juga sahabat kamu dan Nino kekasihmu. Aku kira kamu semakin senang jika aku mengajak mereka berdua. Ternyata dugaan aku salah." jawab Willy juga kesal. Dia mengajak Mita, Nino dan Leo hanya untuk berjaga jaga tapi Alda tidak mengijinkan.


"Dari awal sudah aku bilang ayah, bahwa aku hanya berlibur dengan ayah dan bunda saja. Tidak mau yang lain ikut. Ayah yang sok pintar mengajak mereka berdua. Lagipula Mita tidak mau tapi ayah terkesan memaksa."

__ADS_1


Willy menarik nafas panjang. Walau matanya fokus ke depan dan tangannya memegang setir tapi pikirannya ke Mita. Dia tahu Mita merasa canggung dan ingin keluar dari mobil itu. Sikap dan perkataan Alda jelas jelas mempertegas bahwa Alda memang tidak menginginkan Mita ikut liburan itu. Dalam hati Willy mengumpat Keyla. Entah apa yang dikatakannya ke Alda. Hingga Alda keras kepala seperti saat ini. Sebelumnya Alda tidak pernah bersikap seperti ini.


"Alda, aku kira selama ini kamu mengerti ayah. Ternyata kamu larut dalam kebahagiaan setelah bertemu dengan bunda kamu tanpa memikirkan perasaan ayah sedikitpun. Kamu tahu betapa sakit hatinya ayah karena...,"


"Karena bunda tega meninggalkan aku ketika berumur tiga bulan. Itu maksud ayah kan?. Ayah!. Bunda melakukan itu pasti ada alasannya. Lagipula setiap manusia yang bersalah berhak mendapatkan kesempatan kedua."


Lagi lagi Alda memotong perkataan Willy. Tanpa rasa takut sedikitpun Alda terus menjawab perkataan ayahnya. Willy merasa kesal.


"Kalau niat kamu untuk mendekatkan ayah dan bunda kamu kembali, sampai kapan pun tidak bisa Alda. Liburan juga tidak akan pernah ada. Pergilah berlibur berdua dengan bunda mu. Aku akan memberi uang yang banyak untuk liburan kalian berdua," kata Willy semakin kesal. Dia semakin tidak mengerti akan sikap Alda.


"Ayah, kenapa ayah terus memendam sakit hati itu kepada bunda. Bukankah kalian dulu saling mencintai sehingga aku lahir ke dunia ini. Bertahun tahun kita menunggu bunda pulang. Tetapi setelah bunda pulang, ayah malah tidak mau berbaikan dengannya. Apakah karena kekasih ayah itu yang membuat ayah berubah?" tanya Alda sedih. Keinginannya untuk mendekatkan kembali kedua orangtuanya terancam gagal.


"Kamu sudah dewasa Alda. Tidak ada kaitannya antara kekasih ayah dengan keinginan aku yang tidak mau berbaikan dengan bunda kamu. Kesalahan Keyla terlalu fatal dan sulit untuk ayah maafkan,"


"Sulit bukan berarti tidak bisa ayah. Ayah saja yang tidak berniat memaafkan. Dulu ayah pernah berkata bahwa kita menunggu bunda pulang. Hingga ayah tidak bisa mencintai siapa pun termasuk Tante Sofia. Tetapi sejak ayah bercerita punya kekasih yang masih muda. Ayah melupakan apa yang pernah ayah ucapkan. Aku jadi penasaran ingin mengenal kekasih muda ayah itu," kata Alda dengan suara yang semakin meninggi. Pikirannya melayang ketika Willy berkata akan menunggu bundanya pulang. Dan mereka akan pergi berlibur bersama. Dan itulah yang dituntut Alda sekarang. Berlibur bersama dengan kedua orangtuanya.


Sama seperti Alda, Willy juga mengingat dengan jelas perkataannya tentang akan menunggu Keyla. Sewaktu Alda masih duduk sekolah dasar Alda sering menanyakan tentang bundanya. Hampir setiap malam, Alda bertanya tentang keberadaan Keyla. Demi menyenangkan Keyla kala itu, Willy berkata akan menunggu Keyla pulang. Kata kata itu lah yang berhasil menenangkan Alda dan selalu bersabar menunggu bundanya.


Willy tidak menyadari bahwa kata kata itu menjadi bumerang baginya sekarang. Alda mengira bahwa Willy masih mencintai bundanya. Apalagi sikap Willy yang menjaga jarak dengan wanita. Hanya Sofia yang Alda tahu, dekat dengan ayahnya. Dan Alda tahu bahwa Willy juga tidak serius dengan Sofia.


"Ayah yang tidak mengerti keadaan aku," jawab Alda cepat. Willy mengusap wajahnya frustasi. Alda benar benar keras kepala dan sulit diberi pengertian. Mita yang melihat perdebatan antara Willy dan Alda hanya bisa terdiam. Untuk menoleh ke Alda saja, Mita tidak berani. Apalagi Alda menyinggung tentang kekasih muda ayahnya. Sudah pasti itu dirinya. Mita juga tidak menyangka bahwa Alda sudah tahu tentang kekasih ayahnya. Mita masih merasa lega karena Alda belum mengetahui bahwa dirinyalah kekasih muda Willy.


"Ayah pembohong. Ayah melupakan janji yang pernah ayah ucapkan, aku hanya meminta berlibur bersama tetapi ayah menolak."


Alda kini menangis. Dia merasa tersisihkan oleh kekasih muda ayahnya. Selama ini apa yang dimintanya kepada Willy, hitungan menit pasti terkabul. Tetapi hanya untuk berlibur bersama saja, Alda harus menunggu berhari hari keputusan Willy. Alda sangat kecewa, ketika Willy setuju akan berlibur bersama tetapi Mita dan Nino harus ikut membuat Alda marah.


Mita mengambil tissue dan memberikan kepada Alda. Jangankan menerima, menoleh saja Alda enggan. Sejak Alda tahu dari bundanya bahwa Mita harus ikut dengan mereka berlibur bersama, entah mengapa Alda merasa muak akan Mita.


"Alda," panggil Mita sambil menyodorkan tissue. Alda menepis tangan Mita dengan kasar. Mita terkejut, baru kali ini dia mendapat perlakuan seperti itu dari Alda. Mita menarik tangannya sendiri dan kembali memeluk ranselnya. Hatinya berdenyut nyeri karena sikap Alda. Bukan hanya itu, matanya juga ikut memanas. Jika berkedip sekali saja sudah bisa dipastikan bahwa air mata itu akan mengalir.


Willy bisa melihat apa yang terjadi di bangku belakang dari kaca spion. Willy juga menyesalkan sikap Alda yang menepis tangan Mita. Willy merasa kasihan akan Mita tetapi Willy berpura pura tidak mengetahui apa yang terjadi antara Alda dan Mita barusan.


"Aku mau pulang ke rumah saja," kata Alda marah. Willy seketika menghentikan mobilnya di tepi jalan.

__ADS_1


"Loh, jalan jalannya gimana?" tanya Willy. Willy membalikkan badannya untuk melihat Alda. Ekor matanya bisa melihat Mita yang menunduk.


"Tidak jadi. Ayah saja yang pergi bersamanya," jawab Alda ketus. Kepalanya bergerak mengarah ke Mita. Mita yang tahu bahwa dirinya maksud Alda semakin menunduk dan merasa tidak enak hati. Melihat sikap Alda hari ini, seperti bukan Alda yang biasanya Mita kenal.


"Alda, kamu kok jadi begini. Kalau kamu tidak ingin Mita ikut dengan kita berlibur, sikap kamu tidak perlu berlebihan seperti ini. Ayah yang salah. Tetapi kamu seperti melimpahkan kesalahan ayah ke Mita," kata Willy menahan marah. Dia tidak sabar lagi melihat sikap Alda terhadap Mita.


"Ya udah, begini saja Mita. Kamu turun di sini. Dan ini untuk naik taksi pulang ke rumah kamu," kata Alda masih marah. Dia mengambil selembar uang ratusan ribu dari dompetnya dan meletakkannya di atas ransel Mita. Melihat itu Willy semakin kesal.


"Baik Alda, terima kasih," kata Mita. Suaranya serak menahan tangis. Dia mengambil uang itu dan kembali meletakkan uang tersebut di pangkuan Alda. Mita membuka pintu mobil dan pintu itu masih terkunci.


"Tolong buka pintunya om," pinta Mita pelan. Dia menatap wajah Willy yang masih menghadap ke mereka. Tatapannya memohon. Willy seketika dilema. Tidak mungkin dia membiarkan Mita turun sekarang. Dan untuk menahan Mita tetap bersama mereka, hal itu akan memperburuk suasana hati Alda.


"Baiklah tuan putri. Kita antar Mita terlebih dahulu. Kemudian sesuka hati kamu mau kemana. Ayah akan menemani kamu," kata Willy akhirnya. Dia berusaha lembut berharap Alda tidak marah lagi. Alda mengangguk senang.


"Om, aku turun disini saja, aku juga ada keperluan dekat sini," kata Mita beralasan. Sungguh dia tidak ingin berlama lama lagi di mobil ini. Willy menatap Mita sekilas. Dia tahu itu hanya alasan Mita saja. Willy sangat kasihan kepada Mita tetapi tidak bisa berbuat apa apa untuk menyenangkan hati kekasihnya itu.


"Buka saja pintunya ayah. Dari sini banyak kok angkutan umum menuju rumah Mita. Ya kan Mita?"


Mita mengangguk. Hatinya kembali sedih dengan sikap Alda ini.


"Ya om, tolong buka pintunya," kata Mita lagi. Mau tidak mau, Willy menekan tombol untuk membuka pintu di sebelah. Ini akan lebih baik daripada harus menahan Mita bersama mereka. Willy tidak mau Mita semakin tersakiti dengan sikap Alda. Tanpa berpikir panjang Mita membuka mobil tersebut dan keluar dari mobil.


Willy memandangi tubuh Mita yang setengah berlari hendak menyeberang. Dari gerakan tangannya, Willy tahu bahwa Mita sedang menghapus air matanya. Hatinya sedih. Dia tahu Mita terluka karena sikap Alda hari ini. Willy menoleh ke belakang. Putrinya itu sedang tersenyum sambil memainkan ponsel. Willy bahkan bisa melihat tidak ada penyesalan dalam diri Alda setelah bersikap seperti itu kepada Mita.


"Kita mau kemana Alda?" tanya Willy. Dia menyuruh Alda untuk duduk di depan. Dengan senang hati Alda berpindah ke samping Willy.


"Kita mall ayah. Aku mau berbelanja," jawab Alda senang. Moodnya kembali membaik. Willy mengangguk tapi pikirannya berkelana ke Mita.


Seperti biasa, Willy merangkul Alda. Alda tertawa senang sambil memasuki mall. Alda melepaskan tangan Willy dari pundaknya dan berlarian seperti anak kecil.


"Ayah, aku mau ini, ini dan ini," kata Alda setelah masuk ke salah satu butik di mall itu. Dia mengambil rok, blouse dan apa saja yang diinginkannya.


"Ambil sesuka hati kamu tuan putri," jawab Willy lembut. Willy duduk di bangku panjang empuk di dalam butik itu. Jari jarinya menari indah di atas ponsel mengetikkan pesan permohonan maaf atas sikap Alda tadi ke Mita. Setelah mengetikan pesan itu, Willy melihat Alda. Putrinya itu sangat antusias sekali memilih beberapa pakaian. Andaikan bisa, Willy juga ingin membeli sesuatu untuk Mita. Tapi untuk kesempatan kali ini, hal itu tidak memungkinkan.

__ADS_1


Lain Alda, lain pula Mita. Setelah duduk di angkutan umum. Air matanya tidak bisa berhenti. Kata kata Alda yang menyinggung perasaannya masih jelas terngiang di telinganya. Orang yang bersamanya di angkutan itu sampai merasa heran.


__ADS_2