Mencintai Ayah Sahabatku

Mencintai Ayah Sahabatku
Ketulusan Mita


__ADS_3

Willy tertegun berdiri di depan pintu ruangan Billy, tiga wanita yang ada di ruangan Billy itu saling bercanda dan tertawa. Willy tidak menyangka, bahwa istri dan mantan istrinya bisa sedekat itu. Mereka seperti sudah lama mengenal. Baik Mita dan Keyla memang mempunyai persamaan sifat. Mudah bergaul dan selalu positif thinking.


Alda bercerita, Mita dan Keyla mendengarkan. Sedangkan Billy tiduran dengan paha Keyla sebagai bantalnya. Keyla mengelus kepala Billy sambil mendengarkan cerita Alda.


"Alda, begitu Tante. Suka mengutuk. Dan lihat sekarang, dia cinta mati sama Nino," kata Mita sambil cemberut. Dia jelas mengingat bagaimana Alda mengutuknya menjadi kekasih Nino. Alda dan Keyla terkekeh.


"Benarkah?. Kalau kisah Alda dibuat jadi novel. Judulnya kira kira apa ya?" tanya Keyla sambil tersenyum menggoda ke Alda.


"Cinta berawal dari kutukan," seru Mita cepat. Keyla mengangguk setuju. Kini Alda gantian yang cemberut. Sedangkan Mita dan Keyla tertawa terbahak-bahak.


"Dengar kata kutukan ternyata seram juga ya," kata Alda sambil menggerakkan bahunya.


"Ya iya. Makanya jangan suka mengutuk Alda," kata Mita sambil mencubit pelan kedua pipi sahabatnya. Keyla tersenyum melihat interaksi dua wanita muda itu.


"Kalau kisah cinta mama Mita, dibuat novel. Judulnya yang cocok apa ya," kata Alda sambil mengetukkan jari telunjuknya ke kening.


"Ooo aku tahu. Dicintai oleh papa Sahabatku," seru Alda cepat. Keyla dan Mita kembali terkekeh.


"Kalau kisah cinta Tante. Bagaimana?" tanya Mita. Alda menoleh ke bundanya. Keyla hanya tersenyum kemudian menunduk.


"Kisah Tante tidak menarik jika dijadikan novel Mita," jawab Keyla sambil tersenyum. Alda dan Mita tidak dapat melihat luka yang dalam di matanya. Tetapi tidak dengan Willy yang masih berdiri di depan pintu itu. Willy bahkan bisa merasakan luka bahkan hanya mendengar suara Keyla. Cinta mereka yang terhalang restu orang tua. Cinta yang sudah merubah diri mereka sendiri menjadi manusia asing. Willy sudah pernah terlanjur membenci Keyla.


Willy berdehem. Tiga wanita itu langsung menoleh ke Willy. Willy melangkah masuk pura pura tidak mendengar perkataan mereka tadi. Willy meletakkan bungkusan makanan di atas nakas. Kemudian Willy memberikan keripik kentang untuk Alda dan Mita. Sedangkan untuk Billy, Willy membeli minuman isotonik dan makanan ringan lainnya.


"Key, ini sarapannya," kata Willy sambil menunjuk ke nakas. Kemudian Willy berpindah dan duduk dekat Mita. Keyla meletakkan kepala Billy ke bantal. Kemudian Keyla meraih bungkus makanan itu.


Keyla makan dalam diam. Hanya hitungan menit, makanan itu sudah berpindah ke perutnya. Selain sudah sangat lapar, makanan itu adalah makanan favorit Keyla. Willy masih mengingatnya. Melihat makanan itu cepat habis, Willy tersenyum. Willy tidak menyadari bahwa Mita melihat Willy yang tersenyum sambil mencuri pandang ke Keyla.


Mita masih bersikap biasa dan pura pura tidak mengetahui. Walau hatinya kesal Mita masih bisa berpikir positif. Sedangkan Willy sudah fokus mengajak Billy berbicara. Seperti anak kecil. Billy masih merasa asing kepada Willy, Alda dan Mita. Setelah selesai makan. Keyla naik ke bed Billy dan anak itu kembali bergelayut manja ke Keyla.


"Mau?" tawar Willy sambil menunjukkan minuman isotonik dan keripik kentang ke Billy. Billy tanpa menjawab meraih apa yang disodorkan Willy. Kemudian Billy meletakkan minuman dan keripik itu di pahanya.


"Diminum donk," kata Willy lagi. Billy semakin menyembunyikan wajahnya di ketiak Keyla.


"Bunda buka ya. Mau tidak?. Ini ayah beli khusus untuk Billy dan harganya mahal," kata Keyla merayu Billy. Terbiasa dibully orang miskin, membuat anak itu merasa bangga jika memiliki sesuatu yang mahal. Billy mengamati minuman isotonik itu dan mengangguk.


"Ada kemajuan," kata Keyla ketika melihat Billy sudah selesai meminum minuman isotonik. Willy dan Alda terlihat senang.

__ADS_1


"Biasanya bagaimana bunda?" tanya Alda penasaran.


"Beberapa hari ini, Billy hanya melamun dan tidak mau makan," kata Keyla.


"Billy, lihat ayah. Ini ayah. Ini mbak Alda. Dan mama Mita. Istrinya ayah. Besok, Billy mau kan pulang ke rumah bersama ayah," kata Willy sambil menunjuk mereka satu persatu. Billy hanya diam tidak mengerti. Dia menatap bundanya.


"Jangan terlalu dipaksakan Willy, perlahan saja," larang Keyla pelan. Dia tidak ingin Billy dipaksa untuk secepatnya mengenal mereka.


"Baiklah Keyla. Kami pulang dulu. Aku harus ke kantor sebentar. Alda kalau masih disini. Silahkan sayang," kata Willy. Willy kembali mengacak rambut Billy dan mengecup pucuk kepalanya.


"Iya ayah. Aku masih ingin disini. Aku boleh kan menemani bunda untuk menjaga Billy malam ini?" pinta Alda penuh harap. Di luar dugaannya, Willy mengangguk mengijinkan Alda bersama Keyla dan Billy.


"Kami pamit dulu Tante, Alda. Billy," kata Mita ketika Willy sudah menarik tangannya hendak keluar. Keyla dan Alda sama sama mengangguk.


Sepanjang koridor rumah sakit, Willy memeluk pinggang Mita mesra. Mita sangat bahagia dan menepis semua rasa kesal yang sempat singgah di hatinya. Mita membalas pelukan itu dengan melingkarkan tangannya di pinggang Willy.


"Om,"


"Ya baby,"


"Apa kamu memang serius ingin hamil?. Kamu tidak ingin kuliah?. Om tidak ingin kamu terbebani dengan perut yang membuncit sementara teman teman seusia kamu masih menikmati masa muda. Kalau mengurus baby. Kita bisa memakai jasa baby sitter. Tapi kalau hamil kan harus kamu sendiri yang mengandung," jawab Willy mengutarakan apa yang menjadi alasannya menunda kehamilan Mita.


"Hamil hanya sembilan bulan om. Lagi pula, sebagai wanita yang sudah menikah. Aku sadar harus menikmati waktu dengan suami bukan dengan teman teman," kata Mita. Willy sungguh merasa kagum dengan jawaban istri kecilnya itu. Mita ingin secepatnya mempunyai anak dari Willy. Mita akan membuktikan baktinya sebagai istri yang layak untuk Willy.


"Baiklah jika itu yang kamu inginkan baby. Kamu tidak perlu lagi makan pil KB itu. Buang semua karet sialan yang kamu beli itu," kata Willy. Mita mengangguk senang. Mita semakin bahagia ketika Willy membukakan pintu mobil untuknya.


"Terima kasih om," kata Mita sambil menundukkan kepalanya untuk duduk di bangku mobil. Willy tersenyum sambil berjalan memutari mobil dari depan. Seperti biasa, jika bersama Mita. Willy lebih senang membawa mobil sendiri.


"Kita ke kantor om?" tanya Mita.


"Awalnya rencana seperti itu. Tapi berhubung kamu ingin cepat hamil. Kita ke apartemen dulu untuk membuat anak," jawab Willy mesum. Mita terkekeh sambil meninju lengan Willy. Tangan Willy membantu kepala Mita untuk bersandar di lengannya.


"Dasar mesum. Mainnya jangan seperti tadi pagi ya om. Aku tidak suka," kata Mita sambil cemberut.


"Iya sayang. Tadi pagi, pikiranku hanya tertuju ke Billy. Tapi melihat perkembangannya hari ini. Aku merasa lega," jawab Willy senang. Dia pun sebenarnya menyadari jika permainannya tadi pagi tidak seperti biasanya. Dan itu diluar kendalinya.


"Om, Tante Keyla ternyata orangnya baik ya,"

__ADS_1


"Kenapa kamu langsung bisa mengambil kesimpulan kalau Keyla itu baik,"


"Aku bisa menilainya om. Aku bisa merasakan ketulusan hatinya ketika berbicara,"


"Terserah kamu baby. Menilai dia seperti apa. Tapi kalau boleh meminta. Om ingin kalian akur sebagai istri dan mantan istri aku. Aku juga minta kalau kamu tidak keberatan. Aku juga ingin memberikan kompensasi perceraian kepada Keyla, Mita," kata Willy hati hati. Willy takut, Mita salah mengartikan niatnya itu. Dalam hati, Willy juga membenarkan jika Keyla adalah orang baik. Dia tidak mengungkapkan itu karena Willy takut Mita berpikir yang macam macam.


"Silahkan om. Aku tidak keberatan kok," jawab Mita tulus. Sebenarnya tanpa diberitahu pun, dia tidak keberatan jika Willy memberikan kompensasi ke Keyla. Mita merasa berharga ketika Willy berkata jujur seperti ini. Menurut Mita, Keyla berhak menikmati apa yang dimiliki oleh Willy. Karena Keyla sudah memberikan dua buah hati untuk Willy. Sedangkan dirinya. Mita hanya mempunyai cinta yang sudah diberikannya sepenuh hati untuk Willy.


"Terima kasih sayang. Melihat ketulusan dan kedewasaan mu. Om semakin mencintai mu," kata Willy sambil mencium kepala Mita berkali kali. Mita semakin merasa disayang dan dicintai. Mita tersenyum dan bahagia. Dia kembali duduk seperti biasa dan kemudian mendaratkan kecupan manis di pipi suaminya.


Willy terkekeh mendapat kejutan manis itu. Dia tidak sabaran lagi untuk segera tiba di apartemen. Willy menghentikan mobilnya di tempat yang sepi.


"Om. Kok berhenti. Apa bannya kempes?" tanya Mita khawatir. Dari dalam mobil Mita dapat melihat jalanan sepi dan area ini adalah jalan pintas untuk lebih cepat ke apartemen Willy.


"Kamu memancing ku untuk melahap dirimu di mobil ini baby," jawab Willy serak. Hanya mendapat kecupan di pipinya. Willy langsung bergairah dan tidak bisa menahannya. Willy lupa akan beban masalahnya tentang Billy untuk sementara.


"Om, tapi ini di jalan om. Nanti ada yang memergoki kita dan mengira kita pasangan tidak halal," jawab Mita. Dia tidak ingin melakukan hal hal intim di tempat terbuka seperti ini walaupun di dalam mobil. Mita berusaha mendorong wajah Willy yang semakin mendekati wajahnya.


"Tidak akan. Jalan ini sepi. Kita harus merasakan sensasi yang berbeda bermain di mobil," jawab Willy serak. Sejak menikah dengan Mita, Willy sudah membayangkan bercinta dengan Mita selain di kamar. Termasuk di dalam mobil. Ketika Mita mengecup pipinya tadi. Willy mengingat khayalannya. Alam mendukung dengan jalanan sepi seperti ini.


"Aku tidak mau om. Kalau jalan ini angker bagaimana?. Kita lengket tidak bisa lepas?"


Mita berusaha untuk menakuti Willy. Tapi bukan Willy namanya jika keinginan tidak terwujud. Mita adalah istri sahnya. Jikapun ketahuan dan ketangkap basah warga itu tidak masalah bagi Willy. Hanya menunjukkan buku nikah urusan nya akan beres. Willy juga tidak mempercayai angker yang dikatakan Mita. Dia hanya ingin fantasi bercintanya terwujud di mobil ini dan sekarang juga.


"Tidak ada lengket lengket. Itu untuk pasangan tidak halal. Kita halal secara agama dan negara,"


"Tapi om. Aku takut," kata Mita sambil melihat jalanan yang sepi. Sebagai wanita muda dan masih belum berpengalaman. Dia hanya membayangkan bercinta itu hanya di kamar.


"Jangan takut baby. Tidak masalah. Bukan hanya kita yang melakukan hal itu di mobil. Pernah dengar istilah mobil bergoyang?" tanya Willy. Mita menggelengkan kepalanya karena memang tidak pernah mendengarnya istilah itu. Dunia bercinta masih baru dialaminya. Dia hanya paham untuk membuka paha dan mengeluarkan suara suara aneh ketika Willy menjajah tubuhnya.


"Aku akan menunjukkan dan mempraktikkannya hari ini. Mobil bergoyang," kata Willy tersenyum mesum. Mita masih ragu untuk melakukannya di mobil. Dia melihat sekeliling mobil dan membayangkan cara apa yang mereka lakukan di mobil ini. Mita menggelengkan kepalanya tapi Willy dengan cepat melancarkan serangannya.


Willy tersenyum puas. Mempunyai istri yang muda dan penurut seperti Mita. Fantasinya bercinta di mobil sudah terwujud. Sensasi luar biasa yang tidak pernah didapatkan dari mantan istri dan simpanannya dulu.


"Om, ini yang pertama dan terakhir di mobil," kata Mita kesal. Dia memakai pakaian dengan susah karena tidak leluasa bergerak di mobil itu.


"Tidak janji baby. Rasanya lebih nikmat di mobil daripada di ranjang," jawab Willy santai sambil terkekeh. Mita melotot dan membuat Willy semakin terkekeh.

__ADS_1


__ADS_2