
Mita membiarkan dirinya tidur telentang tanpa pakaian. Mita berpikir bahwa kegiatan ini tidak cukup hanya satu ronde. Jujur saja, Mita bahkan kurang mejikmati permainan ini. Tetapi pemikirannya salah. Setelah melepaskan karet sialan itu, Willy langsung masuk ke kamar mandi tanpa menoleh ke Mita yang masih berbaring.
Mita kecewa. Bahkan untuk mandi bersama pun. Willy tidak mengajaknya. Akhirnya Mita menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, suhu ruangan yang sangat rendah sudah terasa menusuk pori pori kulitnya. Mita Sebenarnya merasa malu kepada dirinya sendiri saat ini. Setelah Willy menyudahi permainannya. Willy bahkan tidak berbicara lagi kepada Mita. Entah mengapa Mita merasa dirinya hanya pelampiasan saja.
Mita masuk ke kamar mandi setelah Willy terlebih dahulu membersihkan diri. Mita dapat merasakan perbedaan sikap Willy, Mita berusaha memaklumi. Mita sadar. Kenyataan tentang Keyla dan Billy tidak segampang membalikkan telapak tangan untuk menerima itu semua. Mita berusaha untuk mengerti dan menerima status Willy yang mempunyai dua anak.
Tapi Mita bingung dan kecewa, Mita sudah jelas jelas berkata siap mengandung benih Willy. Willy tidak menggubris permintaannya. Mita sangat yakin bahwa Willy mendengarnya. Mita jadi berpikir dan meragukan cinta Willy kepadanya. Apalagi setelah permainan pagi ini.
Mita memandangi sekujur tubuhnya di cermin di kamar mandi itu. Tanda merah hasil perbuatan Willy sudah memudar. Kegiatan panas mereka hari ini tanpa kissmark. Mita sedikit kecewa, pagi ini Willy menyentuh dirinya sangat ganas dan terburu buru bukan seperti hari hari kemarin. Mita lebih suka jika Willy berlaku sedikit ganas daripada kegiatan yang mereka lakukan pagi ini. Mita merasa, pagi ini Willy menyentuhnya seperti terpaksa.
"Mita, baby. Buruan," teriak Willy dari luar. Mita tersentak dari lamunannya dan segera mandi. Mita keluar dari kamar mandi dan melihat Willy sudah berpakaian rapi. Akhirnya Mita pun terburu juga untuk mengambil pakaian dan memakainya. Mita takut Willy bosan menunggu dirinya.
Mita sudah berpakaian rapi, dia ingin merias wajahnya. Melihat Willy yang sudah berdiri dekat pintu, Mita tahu bahwa suaminya itu tidak sabaran lagi untuk ke rumah sakit. Padahal Mita sudah berusaha secepat mungkin untuk bersiap. Tapi dari cara Willy yang sering melirik jam tangannya, Mita masih kurang cepat untuk bersiap.
"Kalau kamu lelah. Kamu boleh tinggal di rumah. Ke rumah sakit, besok besok pun bisa," kata Willy. Dia kembali melirik jam tangannya. Mita merasa tersinggung dengan ucapan itu. Mita mengartikan ucapan Willy sebagai penolakan dirinya untuk bertemu dengan Billy. Apalagi tadi di ruang tamu, Willy hanya bertanya bukan mengajaknya ke rumah sakit.
"Ya sudah, kalau om tidak suka aku ikut ke rumah sakit. Aku akan tetap di kamar ini," jawab Mita pelan. Dia tidak jadi untuk merias wajahnya. Mita duduk di tepi ranjang bermain ponsel. Terlanjur kecewa sehingga Mita tidak bisa lagi menutupi kekecewaan itu. Terserah Willy menilai dirinya bersikap kekanak-kanakan. Mita tidak perduli. Dia hanya ingin Willy bisa menghargai usahanya untuk secepat mungkin bersiap.
"Bukan seperti itu baby. Aku senang kamu ikut ke rumah sakit. Aku mengira kamu lelah. Om hanya ingin kamu beristirahat," jawab Willy sambil mendekat. Willy dapat menangkap sesuatu yang tidak beres di perkataan Mita tadi.
"Pergilah om, Biarkan aku di rumah. Aku memang sangat lelah," jawab Mita datar. Dia tidak bersemangat lagi untuk pergi. Willy meraih bahu Mita dan memeluknya. Dia mengetahui jika Mita berbohong. Karena kegiatan mereka tadi hanya dia yang banyak bergerak.
"Maaf baby. Adakah kata kata aku yang menyakiti hati kamu," tanya Willy lembut. Mita mendongak dan menatap wajah Willy.
"Aku tahu om, pasti tidak mudah menerima semua ini. Tapi jangan mengabaikan aku seperti ini om, Aku tahu pikiran om hanya tertuju kepada Billy. Aku memperhatikan, om sepertinya menyesal menikahi aku setelah mengetahui kebenaran tentang Tante Keyla," jawab Mita berterus terang apa yang mengganjal di hatinya. Mita sadar tidak sepantasnya Mita menambah beban pikiran Willy. Tapi Mita juga tidak ingin sakit hati sendiri hanya karena dugaannya. Mita hanya ingin Willy bisa menjaga perasaannya.
"Tidak seperti itu sayang, om sangat mencintai kamu. Hanya saja, aku masih terus memikirkan Billy dan kesembuhannya. Jangan pernah berpikiran seperti itu," kata Willy sambil memegang kedua pipi Mita. Perkataannya sedikit meyakinkan Mita.
__ADS_1
"Ayo, kita ke rumah sakit sekarang," ajak Willy lagi. Mita mengangguk dan mengambil dompet berisi kosmetiknya. Dia akan merias wajahnya di mobil saja. Dia tidak ingin Willy lebih lama menunggunya lagi.
Sampai di rumah sakit, Willy menggenggam tangan Mita menuju ruangan Billy. Melihat perlakuan Willy, Mita menepis semua dugaan yang terlanjur hinggap di kepalanya. Willy masih seperti Willy yang terlihat sangat mencintainya.
Memperlakukannya dengan mesra dan hangat. Ketakutan itu sedikit terkikis di hatinya. Mita kembali berharap, bahwa dirinya adalah istri sat satunya untuk Willy. Walau nyatanya seperti itu sekarang. Tetapi keberadaan Keyla dan Billy membuat Mita sedikit terusik.
Willy mendorong pelan tubuh Mita masuk ke ruangan Billy. Setelah tubuhnya benar-benar sudah di ruangan Billy. Mita tertegun melihat pemandangan yang ada di ruangan itu. Alda dan Keyla sama sama menangis sedangkan Billy terlihat diam. Tatapannya kosong dan menatap lurus ke depan.
Mita berdiri dekat ranjang. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Berada di sekitar keluarga Willy membuat Mita seperti orang lain yang seharusnya tidak berada di ruangan itu. Melihat Keyla dan Alda sama sama menangis, membuat Mita iba. Sedangkan Willy sudah bergabung dengan Keyla dan Alda. Willy mengacak rambut Billy dan memeluknya. Billy masih terlihat seperti tadi. Menatap kosong tanpa menggubris pelukan dari Billy.
"Ini ayah nak, Maafkan ayah," kata Willy masih memeluk Billy. Wajah sedih dan putus asa jelas terlihat di wajah Willy. Willy belum bisa menguasai emosinya melihat keadaan Billy yang masih memprihatinkan. Raga bagaikan tanpa jiwa. Billy memang sudah terlihat sehat pagi ini tetapi tidak dengan kejiwaannya.
"Ayah, aku mohon. Tolong lakukan sesuatu untuk membuat Billy sembuh," kata Alda sambil menangis. Sama seperti Willy, Alda juga tidak sanggup melihat keadaan adiknya itu. Alda merasa dirinya seperti bukan kakak yang baik. Ini bukan salahnya. Dan saat ini Alda ingin memberikan semua hal yang terbaik untuk Billy. Baik Alda dan Keyla tidak menyadari bahwa Mita berdiri di belakang mereka. Alda dan Keyla duduk di bed Billy dan membelakangi pintu masuk.
"Pasti tuan putri. Ayah akan melakukan apapun demi kesembuhan Billy. Ayah akan menebus semua kesalahan ayah," jawab Willy pasti. Dia tidak menyadari perkataannya barusan membuat Mita kembali menafsirkan perkataan itu dengan versinya sendiri. Mita bertanya tanya dalam hatinya. Penebusan seperti apa yang dimaksud oleh Willy. Hatinya kembali menduga jika Willy akan kembali bersama Keyla demi memberikan keluarga yang utuh buat Billy.
"Lupakan Willy, aku hanya ingin kesembuhan Billy," jawab Keyla sambil mengusap pipinya. Air matanya tidak turun lagi. Mendengar jawaban Keyla, entah mengapa Mita sedikit lega. Keyla sepertinya tidak menuntut apa-apa. Hanya kesembuhan Billy.
"Bunda, aku juga minta maaf ya," kata Alda tulus. Keyla mengangguk dan memeluk putrinya. Alda sungguh merasa bersalah. Mencurigai bundanya sendiri yang kembali ke ayahnya demi harta dan menilai bundanya matre. Yang membuat Mita semakin bersalah karena Alda meninggalkan bundanya di pantai tanpa pamit ketika berlibur dulu. Alda dapat bisa membayangkan kekecewaan bundanya saat itu.
"Mita, sini sayang," panggil Willy lembut sambil melambaikan tangannya. Alda dan Keyla spontan berbalik dan melihat Mita yang berdiri hanya berjarak satu meter di belakang mereka. Mita tersenyum kikuk dan mendekat. Mita mengulurkan tangannya ke Keyla. Keyla menerima uluran tangan tersebut sambil tersenyum. Keyla tidak mengenal Mita sebelumnya. Karena setelah Alda bertemu dengan Keyla. Alda tidak pernah mengenalkan Mita kepada Keyla. Keyla hanya tahu nama Mita dari mulut Willy ketika kejadian di pantai waktu berlibur.
"Mita Tante," kata Mita pelan.
"Terima kasih Mita, karena sudah bersedia datang kemari melihat Billy," kata Keyla tulus. Mita hanya tersenyum. Mita mengulurkan tangan ke Billy. Tentu saja Billy tidak menerima uluran itu. Tapi Willy memegang tangan Billy membantu Billy untuk bersalaman dengan Mita. Tangan mereka hanya bersentuhan. Mita merasa sangat kasihan dengan keadaan Billy saat ini. Raga tanpa jiwa itu masih menatap lurus ke depan.
"Ayah, kata dokter besok Billy sudah boleh pulang," kata Alda.
__ADS_1
"Benarkah, itu artinya jagoan ayah sudah sembuh," jawab Willy senang.
"Ayah, sebaiknya Billy di rumah kita saja selama penyembuhan. Itupun jika mama tidak keberatan," kata Alda pelan. Dia takut perkataan ini membuat Mita tersinggung. Bagaimanapun Mita adalah istri ayahnya. Membawa Billy pulang ke rumah harus juga ada persetujuan Mita.
Willy menatap Mita. Dia menunggu reaksi Mita atas permintaan Alda. Sama seperti pemikiran Alda, Willy juga harus mempertimbangkan pendapat Mita dalam soal ini. Jika Billy tinggal bersama mereka, itu artinya Keyla juga harus sering berkunjung ke sana. Selain itu Willy juga tidak rela jika membiarkan Billy jauh lagi darinya.
"Tidak perlu Alda, Willy. Biarkan kami pulang ke rumah kami sendiri. Kalian bertiga bisa berkunjung ke sana," kata Keyla menolak usulan Alda. Keyla juga menyadari. Jika Billy tinggal di rumah Willy dia akan sering berkunjung ke sana. Keyla merasa tidak punya muka Sebenarnya jika sering bertemu dengan Willy. Tapi situasi yang dialami Billy membuat keduanya harus bertemu saat ini dan mungkin untuk hari hari selanjutnya. Dan ini adalah keterpaksaan bagi Keyla. Setelah mengetahui Willy kembali menikah. Keyla tidak menaruh harapan apapun untuk hubungannya dengan Willy. Dia tidak berniat sama sekali untuk menjadi pelakor.
"Tidak Tante. Aku tidak keberatan. Billy sudah lama terpisah dari om Willy dan Alda. Aku rasa lebih baik jika Billy tinggal di rumah saja," kata Alda sambil tersenyum. Willy menarik nafas lega mendengar jawaban Mita. Keputusan Mita semakin membuat Willy kagum. Sedangkan Mita mengucapkan kata kata itu karena dirinya merasa jika Billy lebih berhak tinggal di rumah Willy. Billy dan Willy terikat darah yang tidak akan pernah bisa dipisahkan. Sedangkan dirinya hanyalah istri yang bila suatu saat nanti Willy tidak mencintainya lagi bisa berubah status menjadi mantan istri.
"Terima kasih Mita. Tapi keputusan Tante tetap seperti tadi. Billy akan pulang bersama Tante saja," kata Keyla. Willy dan Alda terkejut. Masih hitungan jam bertemu dengan Billy, ayah dan putri itu tidak ingin lagi berpisah dengan Billy.
"Bunda, jangan seperti itu. Aku dan mama Mita akan membantu Billy sembuh. Jangan menolak ya. Demi Billy Bun," kata Alda memohon. Keyla terlihat berpikir sebentar kemudian mengangguk. Willy tersenyum. Dia berjanji akan berusaha mencari orang orang terbaik untuk menyembuhkan putranya. Keyla berpikir, jika apa yang dikatakan Alda ada benarnya juga. Dibandingkan mereka hanya tinggal berdua akan lebih bagus jika Billy semakin dekat dengan Alda.
Mita menatap wajah Keyla yang masih terlihat sedih. Ini pertama kalinya dia melihat Keyla dengan jarak yang dekat. Mita bisa menilai bahwa Keyla adalah orang yang baik. Mita tersenyum kikuk ketika Mita ketahuan menatap wajah Keyla. Mita buru buru memalingkan wajahnya. Mita mengagumi kecantikan Keyla yang masih terlihat sangat muda.
"Tante sudah sarapan?" tanya Mita akhirnya. Dia merasa malu karena ketahuan mengagumi kecantikan mantan istri suaminya. Kecantikan dengan wajah wanita dewasa yang sangat menawan.
"Belum Mita," jawab Keyla jujur. Keyla memang belum sarapan padahal sudah jam sepuluh. Perutnya juga sudah meronta untuk diisi. Willy dan Alda spontan menatap ke arah Keyla. Entah apa yang ada di pikiran Willy ketika mendengar mantan istrinya belum sarapan. Mita dapat melihat sorot mata khawatir di wajah Willy.
"Aku akan keluar sebentar. Aku akan mencari sarapan untuk Tante," kata Mita tulus. Awalnya Mita hanya basa basi menanyakan hal itu. Mita merasa kasihan, Mita menduga Keyla mengabaikan sarapannya karena larut menjaga Billy. Selain itu, Mita ingin memberi waktu dan ruang untuk mereka. Di sisi lain Mita ingin menghindari Willy yang terlihat mengkhawatirkan sang mantan istri.
"Tidak perlu Mita, Kamu di sini saja. Aku kan keluar sebentar untuk sarapan," jawab Keyla. Keyla mengambil dompet dari tas yang terletak di atas nakas. Keyla hendak keluar dari ruangan itu, tapi gerakan Billy seperti mengisyaratkan melarang Keyla untuk pergi.
"Hanya sebentar nak, ada ayah, mbak dan mama Mita di sini," kata Keyla sambil mengelus kepala putranya. Billy memegang tangan Keyla tanda tidak setuju jika bundanya keluar dari ruangan itu. Inilah alasan Keyla belum sarapan sampai sekarang. Billy tidak membiarkannya keluar.
"Tetap di sini Key, aku akan keluar sebentar. Sekalian aku akan bawakan sarapan untuk kamu," kata Willy. Mendengar Keyla belum sarapan, Willy merasa kasihan. Apalagi Billy tidak membiarkan Keyla untuk keluar.
__ADS_1
"Tidak perlu Willy, aku tidak terlalu lapar kok," jawab Keyla bohong. Dia berusaha menjaga perasaan Mita. Tetapi Willy tidak menggubris perkataan Willy. Willy justru permisi ke Mita untuk keluar sebentar. Mita mengangguk.