Mencintai Ayah Sahabatku

Mencintai Ayah Sahabatku
Penjelasan


__ADS_3

Azriel menggerakkan kepalanya menyuruh Mita untuk bergabung duduk bersila di ruang tamu itu. Mita gugup. Pikirannya sudah kemana mana. Mita menetralkan detak jantungnya terlebih dahulu untuk bergabung dengan dua pria itu. Setelah merasa sudah agak normal. Mita memberanikan diri melangkah mendekat dan akhirnya ikut duduk bersila.


Mita duduk menunduk. Dia tidak berani beramah tamah dengan om Restu yang terlihat garang. Wajahnya yang penuh dengan pori pori terbuka dan rokok yang terselip di antara jari jarinya semakin menambah kesan garang di wajah pria setengah baya itu. Dan juga tatapan yang serasa mengintimidasi. Membuat Mita merinding.


"Siapa namamu." Suara om Restu menggelar bercampur dengan suara hujan. Mita menyebutkan namanya dengan gugup. Dari cara duduk Mita dan cara menatap om Restu. Mita seperti terdakwa sedangkan Azriel terlihat santai dengan menyandarkan punggungnya ke dinding kayu.


"Azriel, mengapa kamu membawa seorang wanita ke rumah ini. Apa kamu tidak tahu aturan di kampung ini?. tanya om Restu tajam. Dia menoleh kepada keponakannya. Azriel terlihat salah tingkah dengan menggaruk pelipisnya.


"Kami hanya singgah sebentar om. Rencananya tadi langsung balik ke kota tetapi karena hujan. Kami harus menundanya dan akan meminta bantuan salah satu kerabat kita untuk tidur di rumah ini bersama kami," jawab Azriel. Dia tidak menceritakan alasan apa mereka hingga sampai di rumah ini. Azriel sengaja menyembunyikannya dan status Mita. Dia tidak ingin om Restu murka karena dirinya membawa wanita dengan status masih istri orang.


"Kalian masih terlalu kecil untuk bepergian berdua seperti ini Azriel. Apalagi di kampung ini, aturan dan norma masyarakat disini masih kental."


"Maaf om. Aku tahu. Dan tidak ada niat sebelumnya untuk aku menginap di sini."


"Terlambat. Ada warga yang melihat kalian mandi hujan bersama dan berpelukan di halaman. Sebentar lagi mereka akan kemari untuk meminta penjelasan kalian. Jika ada bukti kalian berbuat di luar batas. Maka kalian harus dinikahkan hari ini juga."


Mita hampir melompat mendengar perkataan om Restu. Mereka memang mandi hujan bersama tetapi mereka tidak berbuat di luar batas. Walau demikian dia juga merasa was-was. Azriel sempat memeluknya tadi karena hampir terpeleset. Itu bukan unsur kesengajaan. Azriel murni hanya ingin membantunya supaya tidak terjerembab ke tanah. Mita tidak bisa membayangkan jika itu menjadi alasan untuk menikahkan mereka nantinya.


"Penjelasan apa om. Kami mandi hujan bersama di halaman. Jika mereka melihat dengan jelas. Kami tidak melakukan hal apapun yang melewati batas. Harusnya om, membantu dan membela kami. Bukan terkesan memojokkan kami seperti ini," kata Azriel kesal dan tidak terima jika warga harus meminta penjelasan karena mandi hujan bersama. Dia menjadi tidak enak hati kepada Mita. Niatnya untuk membantu sang sahabat menenangkan diri ternyata justru membuat Mita semakin banyak masalah.


"Om. Tidak akan membela yang salah jika kamu salah nak. Tapi om akan membela kamu jika kamu benar. Om justru setuju kalian menikah daripada harus berbuat dosa,"

__ADS_1


"Maksud om apa?. Kami murni bersahabat om. Bukan pacaran."


"Iya om. Kami tidak berbuat melewati batas. Lagipula aku adalah seorang ist...."


"Dengar sendiri kan om," kata Azriel cepat memotong perkataan Mita. Jangan sampai Mita memberitahu statusnya. Bisa bisa om Restu marah besar dan menggantungkannya di langit langit rumah itu.


"Ini milikmu?" tanya om Restu sinis sambil menunjukkan pil KB yang ditemukannya di dashboard mobil ke Mita. Mita terkejut dan gugup. Pil itu adalah miliknya yang dia beli tadi pagi. Dia menyesali keteledoran akan pil tersebut. Mita tidak berani untuk mengangguk atau menggelengkan kepalanya.


"Itu mungkin punya mama om. Tadi malam mama memakai mobil ini," kata Azriel beralasan.


"Mama kamu tidak mungkin memakan pil ini. Mama kamu sudah melakukan pengangkatan rahim lima tahun yang lalu," kata Om Restu dingin. Azriel menoleh ke Mita yang masih menunduk. Azriel merasa bersalah karena salah menjawab pertanyaan om Restu yang ditujukan untuk Mita.


"Itu memang milik aku om. Tapi apa yang om duga itu tidak benar. Kami tidak melakukan apapun di luar batas," jawab Mita pelan dan membela dirinya.


Mita beranjak dari duduknya. Awalnya dia senang karena Azriel bersedia membantunya. Tetapi setelah mendengar hukum adat dan kedatangan om Restu, Mita semakin menyadari jika Azriel membawanya ke tempat yang salah. Dia tahu bahwa Azriel tidak berniat sama sekali untuk menambah masalah untuk dirinya.


Mita melangkah ke dapur. Berlama-lama duduk dengan om Restu dan mendapatkan banyak pertanyaan membuat Mita malas. Biarlah Azriel yang akan menjawab setiap pertanyaan dari omnya.


"Apa dia pacar kamu."


"Bukan om. Dia Sahabatku,"

__ADS_1


"Tapi om tidak percaya."


"Terserah om. Jika hujan reda. Kami akan balik ke kota malam ini juga."


"Jangan jalanan licin dan berisiko."


"Asal om tidak memberatkan kami. Kami akan menginap malam ini."


"Baiklah om akan membantu kalian jika ada warga yang datang. Mereka tadi mengirim om sebuah pesan jika di rumah ini ada pasangan mesum."


"Enak saja mengatai kami sembarangan."


"Tapi aku bisa melihat jika kamu berbohong. Kamu suka sahabat kamu itu kan?"


"Om sejak kapan suka kepo seperti ini."


"Sejak aku melihat ini ada di mobil kamu."


Mita mendengar pembicaraan om dan keponakannya itu. Dia berharap sore ini cepat berlalu berganti malam dan selanjutnya berganti pagi. Dia tidak ingin bertemu warga dan memberi penjelasan apapun. Karena memang menurutnya tidak ada yang perlu dijelaskan.


Mita membalikkan badannya menuju ruang Tamu. Dia terkejut. Beberapa warga sudah duduk bersila seperti om Restu dan Azriel. Azriel juga terlihat gelisah. Menyadari kedatangan warga itu ke rumah ini karena dirinya untuk meminta penjelasan. Akhirnya Mita Kembai duduk bersila.

__ADS_1


__ADS_2