Mencintai Ayah Sahabatku

Mencintai Ayah Sahabatku
Alergi


__ADS_3

Hari ketiga menjadi istri dari seorang Willy. Mita merasakan kebahagiaan yang tidak terkira. Dan selama tiga hari itu juga mereka selalu bertarung. Bertarung untuk mengejar kenikmatan duniawi. Willy seakan akan tidak bosan dengan permainan yang sangat memabukkan itu. Begitu juga dengan Mita, gadis belia itu sungguh tidak pernah merasa lelah kalau soal permainan kenikmatan itu.


Bukan hanya di kamar, di kamar mandi bahkan di meja makan. Mereka bercinta dimana sja Willy mau. Willy merasa bersyukur, diawal pernikahannya ini. Alda justru menginap si rumah kakek dan neneknya ketika Willy bertanya sampai kapan Alda di sana. Dengan santai putrinya itu menjawab sampai bosan. Willy benar benar memanfaatkan situasi ini. Willy bahkan sudah berfantasi untuk bercinta di segala sudut rumahnya. Untuk melancarkan fantasinya itu. Siang ini, Willy sudah memperingatkan para pekerjanya untuk tidak masuk ke rumah jika tidak dipanggil.


"Di sini om?" tanya Mita heran. Mereka kini sudah duduk di sofa dengan Mita di pangkuannya. Willy sudah menonaktifkan semua Cctv yang ada di sudut rumahnya.


"Iya, kita mencobanya di sini,"


"Bagaimana, kalau tiba tiba Alda pulang,"


"Alda masih lama di sana. Satu bulan pun Alda tidak akan bosan kalau sudah di rumah kakek neneknya," jawab Willy serak. Matanya sudah berkabut gairah dan tangannya juga sudah menjalar kemana mana. Tenaga Willy untuk hal yang satu itu seperti tidak ada habisnya.


"Baiklah om, Kita bermain yang enak enak sekarang," jawab Mita mesum sambil membuka kaos oblong milik Willy. Sama seperti Willy, Mita juga merasa gairahnya meledak setiap bersentuhan dengan Willy. Bahkan hanya tiga hari Mita sudah pintar mengimbangi permainan Willy. Apalagi makin ke sini, Mita tidak merasakan sakit lagi. Membuat wanita itu semakin candu. Mita sudah aktif membalas pergerakan tangan Willy. Willy tersenyum dan merasa senang. Senyum itu hanya sebentar. Teriakan dari luar membuyarkan gairahnya.


"Alda pulang om," kata Mita sambil meraih kaos oblong yang sudah teronggok di lantai. Mita membantu memakaikan kaos itu kemudian merapikan pakaiannya. Untung pakaiannya masih utuh. Mita kemudian duduk di samping Willy. Bersikap wajar seakan akan tidak ada terjadi sesuatu sebelumnya.


"Ayah, mama. Aku pulang," teriak Alda masih di depan pintu. Willy tersenyum mendengar teriakan putrinya. Sedangkan Mita merasa malu karena Alda tetap memanggilnya mama.


"Katanya sampai bosan, ini masih hari ketiga sudah pulang, biasanya juga tahan sebulan" kata Willy sambil menggerakkan tangannya menyuruh Alda segera mendekat. Willy langsung meraih Alda memeluknya dan mengecup pucuk kepala Alda seperti biasa. Walau dia merasa bahagia dengan Mita selama tiga hari ini. Tetap saja Willy sangat merindukan putrinya itu.


"Aku juga maunya sampai seminggu di sana ayah. Tapi Nino mau mengajak aku jalan jalan tadi." Alda duduk diantara Willy dan Mita. Alda memeluk sahabatnya itu sekilas.


"Nino tidak ikut kemari?"


"Ikut, tuh dia datang," tunjuk Alda. Wajahnya kini sudah berubah cemberut. Dengan bibir yang maju beberapa centi. Awalnya Nino mengajak dan menjemput Alda untuk jalan jalan. Tetap karena sesuatu hal, Nino hanya bisa mengantar Alda ke rumahnya.


"Kenapa tuan putri?" tanya Willy sambil membelai rambut Alda. Satu kebiasaan yang tidak pernah lupa jika bersama putrinya.


"Jalan jalannya batal. Nino harus segera ke kantor ayahnya,"


"Maaf om," kata Nino yang sudah berdiri di hadapan Willy. Nino mengulurkan tangannya ke Willy. Willy menerima uluran itu dan menepuk lengan Nino dengan pelan.


"Tante," kata Nino sambil mengulurkan tangannya ke Mita. Alda spontan tertawa terbahak-bahak. Mita melengos setelah memukul tangan Nino pelan. Mita kesal dengan Nino. Setelah menyebut dirinya sebagai calon mertua, kini dia dipanggil dengan sebutan Tante. Kenyataannya itu benar. Tapi Mita merasa belum pantas untuk disebut seperti itu.


Nino menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Niatnya untuk menghargai istri dari ayah kekasihnya ternyata salah. Melihat kekesalan di wajah Mita. Nino menjadi merasa bersalah. Nino hanya berpikiran. Kalau dia memanggil Willy om, harusnya dia memanggil istrinya Tante.


"Panggil nama saja Nino, kalian masih seumuran," kata Willy yang melihat Mita kesal. Alda masih terkekeh. Bukan niatnya untuk mentertawakan Mita. Tapi kepolosan Nino dan wajah canggungnya ketika Mita memukul tangan Nino merasa lucu.


"Apa itu tidak salah om. Kami memang seumuran. Walau seumuran. Tetap saja dia calon mertua aku," jawab Nino polos. Kemudian Nino spontan menutup mulut karena Mita sudah melotot ke arahnya. Alda kembali tertawa terbahak-bahak. Willy juga terkekeh. Mita cemberut.


"Ada yang harus dibujuk nih. Pindah ah," kata Alda yang melihat Mita cemberut. Alda berpindah dari tempat duduknya yang tadi berada diantara Willy dan Mita. Alda duduk di samping Nino. Sedangkan Willy sudah menjangkau kepala Mita dan membelai rambut Mita. Kalau sudah seperti ini. Willy memang benar benar seperti mempunyai dua putri.


"Om, aku pamit dulu. Maaf ya Alda. Nanti kalau ada waktu. Kita pasti jalan jalan. Itupun kalau ada persetujuan si om,"


"Gak jalan jalan juga gak apa apa," jawab Alda ketus. Rasa kecewanya kembali muncul setelah Nino mengingatkan perihal jalan jalan yang batal. Tadi di rumah kakeknya lagi senang senang hampir bisa mengalahkan kakek bermain catur. Nino mengacaukan kesenangan itu dengan menghubungi Alda dan mengajaknya jalan-jalan. Karena terlampau senang. Alda lengah, hingga kakek menang dalam permainan catur itu.


Nino merasa berat melangkah melihat Alda seperti itu. Ingin menyenangkan Alda, tapi panggilannya ayahnya untuk ke kantor tidak bisa ditunda.

__ADS_1


"Baiklah. Begini saja. Kita ke kantor ayah aku sekarang. Sesudah itu kita jalan jalan," kata Nino akhirnya. Melihat Alda yang merajuk. Nino berpikir keras untuk membuat Alda senang kembali tanpa mengabaikan panggilan ayahnya. Melihat itu, Willy merasa senang akan Nino yang dengan sabar menghadapi Alda.


"Tidak perlu Nino. Pergilah ke kantor. Lain kali kalau mau mengajak aku pastikan kamu tidak mempunyai jadwal apapun," jawab Alda melunak. Alda memang seperti itu, walau sudah marah jika lawannya melunak. Dia juga ikut melunak.


"Kamu gak kesal lagi kan?" tanya Nino. Alda tersenyum. Inilah hal yang disukai Nino dari Alda. Selain cantik, Alda juga tidak berlama lama jika kesal kepada seseorang.


"Pergi Nino. Sebagai gantinya. Kami akan pergi jalan jalan hari ini. Gimana?. Mau tidak tuan putri," kata Willy. Melihat kecewanya Alda tadi. Willy akan mengajak putrinya itu jalan jalan. Nino pamit setelah mengusap kepala Alda.


"Tunggu di sini tuan putri. Kami mandi dulu," kata Willy. Willy menyentuh bahu Mita untuk berdiri.


"Jangan lama-lama ayah. Aku paling bosan menunggu,"


"Iya, paling lama satu jam,"


"Lama amat, tidak. Dua puluh menit ya,"


"Kan mandinya, harus ganti gantian tuan putri," jawab Willy sambil mendorong tubuh Mita untuk menaiki tangga. Satu jam yang dimaksudkan Willy sudah termasuk untuk menuntaskan sesuatu yang sempat tertunda tadi. Mita juga tahu akan hal itu. Dia bahkan mempercepat langkahnya untuk cepat sampai ke kamar.


Dasar pengantin baru mesum. Sampai di kamar bukan langsung mandi. Kedua manusia yang terbakar gairah itu kini berciuman panas. Saling bertarung bibir dan saling meraba tubuh lawan main. Tangan Mita dan Willy saling meraba bagian inti lawan. Tubuh Mita menempel di pintu. Willy mengunci pintu itu sambil berciuman kemudian menarik tubuh Mita ke ranjang.


Keduanya manusia pemburu kenikmatan itu sama sama membuka pakaiannya. Baik Willy dan Mita sudah tidak bisa menahan lagi.


"Membungkuk sayang," kata Willy pelan. Mita segera melakukan kemauan Willy. Wanita belia itu sudah membungkuk dan bersiap mendapat serangan. Sebelum memasukkan pisang Ambon nya, Willy membelai punggung Mita. Hingga dia mencengkeram miliknya dan menggesekkan sebentar di bagian belakang Mita.


"Om cepatlah. Nanti Alda Kelamaan menunggu,"


Mita merapikan sprei yang sudah berantakan. Setelah memastikan rapi. Mita membuka pintu.


"Ma, mama mandi di kamar mandi aku saja. Aku bosan kalau harus lama menunggu," kata Alda setelah Mita membuka pintu. Dia menjulurkan kepalanya masuk ke kamar. Mita merasa lega. Karena sudah merapikan sprei terlebih dahulu.


"Oke Alda. Aku ambil baju ganti dulu," jawab Mita, dia meninggalkan Alda yang masih berdiri di depan pintu itu. Di kamar mandi. Willy terkekeh. Putrinya itu sudah dua kali mengacaukan permainan enak enaknya. Tentu saja Alda tidak sengaja. Andaikan Alda tahu yang sebenarnya terjadi di kamar itu sebelumnya. Bisa dipastikan Alda mencari kegiatan lain untuk menunggu ayah dan Sahabatnya selesai mandi.


"Ayo," kata Alda sambil menggandeng tangan Mita menuju kamarnya. Bukan ini yang pertama bagi Mita masuk kamar itu. Jauh sebelum berpacaran dengan Willy. Mita sudah sering bahkan setiap hari selain hari Minggu menghabiskan waktu di kamar Alda.


"Alda, boleh aku minta sesuatu?" tanya Mita hati hati. Mereka sudah di kamar Alda.


"Minta apa?"


"Boleh tidak, kamu memanggil aku seperti biasa saja."


"Apa kamu malu, aku panggil dengan sebutan mama. Aku tidak bisa memanggil mu dengan sebutan bunda. Karena bagaimanapun bundaku masih hidup Mita,"


"Aku tahu Alda. Panggil aku Mita saja."


"Tidak bisa. Kakek dan nenek ku bisa murka jika aku memanggil nama mu," jawab Alda. Dalam hal tertentu, Alda memang takut kepada kakek neneknya. Walau Alda dimanjakan, tapi kakek dan neneknya juga keras terhadap Mita jika menyangkut sopan santun dan menghargai orang lain atau yang lebih tua.


"Alda,"

__ADS_1


"Mandilah mama, Kita akan jalan jalan. Kita habiskan uang ayah," jawab Alda sambil tersenyum. Entah mengapa setiap Alda memanggilnya mama. Mita bisa merasakan ada jarak diantara mereka.


Menunggu Mita selesai mandi. Alda berbaring di ranjangnya. Dia tidak memperdulikan ayahnya yang sudah masuk ke kamarnya.


"Mita masih mandi?"


"Iya. Baru berpisah beberapa menit sudah rindu." Willy terkekeh mendengar perkataan Alda.


"Ayah tunggu di bawah,"


"Iya," jawab Alda singkat.


Mita keluar dari kamar mandi. Duduk di meja rias Alda sambil mengeringkan rambutnya.


"Ada hairdryer di laci," kata Alda yang melihat Mita mengeringkan rambutnya dengan handuk. Mita membuka laci itu dan mengeringkan rambutnya.


"Alda, pelembab kamu mana?" tanya Mita setelah mengeringkan rambutnya.


"Ada di situ,"


"Gak ada Alda," jawab Mita setelah meneliti satu persatu kosmetik yang ada di depannya. Alda turun dari ranjang dan mendekat ke meja rias.


"Ini," tunjuk Alda. Mita menepuk keningnya. Pelembab itu sangat jelas terlihat. Tapi Mita bisa tidak melihatnya. Mungkin karena dua kali gagal bermain enak enak, membuat otaknya oleng sedikit.


"Ini apa?" tanya Alda setengah berteriak. Tanda merah perbuatan Willy di sekitar tengkuk Mita jelas terlihat.


"Mana?" tanya Mita juga bingung. Alda membantu mengarahkan tengkuk Mita ke arah cermin.


"Aku alergi Alda," jawab Mita gugup. Dia tahu itu perbuatan Willy. Bukan hanya di tengkuk. Di sekujur tubuh yang tidak terlihat bahkan lebih banyak dari itu.


"Gatal atau perih?" tanya Alda merasa kasihan melihat Mita. Mita hanya mengangguk supaya Alda yakin akan kebohongannya. Tidak mungkin Mita bercerita, kalau itu adalah karya Willy ayahnya.


"Cepat lah ma, ayah sudah menunggu kita di bawah," kata Alda. Dia bergidik ngeri melihat tanda merah itu.


Mita mempercepat riasannya mendengar Willy memanggil Alda dan namanya. Mita sengaja membiarkan rambutnya tergerai untuk menutupi tanda merah itu. Alda menggerutu mendengar teriakannya ayahnya. Alda dan Mita sama sama menuruni tangga sambil berpegangan. Melihat putri dan istrinya akur seperti itu, Willy tersenyum.


"Tunggu ayah," teriak Alda sambil berlari ke arah dapur. Willy dan Mita saling berpandangan yang masih berdiri. Mita ingin protes tentang tanda merah itu. Tapi melihat Alda yang sudah datang dari arah dapur Mita mengurungkan protes itu.


"Ayah, salep mana kira kira yang cocok untuk alergi?" tanya Alda sambil mengamati beberapa salep yang diambilnya dari kotak obat obat. Mita yang tahu untuk apa salep itu hanya bisa menunduk. Keganasan Willy mencumbunya, membuat sahabatnya repot seperti ini.


"Kamu alergi?" tanya Willy terkejut. Dia mengambil satu salep dan membaca tulisan yang ada tube itu. Menduga putrinya alergi membuat Willy panik.


"Bukan aku. Sepertinya ini," kata Alda sambil membuka tutup tube itu.


"Sini ma, aku oleskan salepnya," kata Alda sambil menarik tangan Mita untuk duduk di sofa. Mita tidak protes. Lebih bagus menurut daripada Alda banyak pertanyaan. Alda menyingkapkan rambut Mita. Dengan telaten Alda mengolesi tanda merah itu dengan salep.


"Hanya di sini?. Tempat lain ga ada. Biar sekalian aku oleskan," tanya Alda lagi. Mita menggelengkan kepalanya. Tidak mungkin dia menyingkapkan blouse nya dan menunjukkan tanda merah yang lain. Bisa dipastikan salep satu tube itu kurang. Melihat hal itu. Willy melewati kedua sahabat itu. Dia berjalan duluan keluar. Setelah di mobil, Willy tertawa terbahak-bahak. Tapi di satu sisi Willy juga senang. Melihat kepolosan putrinya. Willy percaya bahwa Alda tidak melewati batas normal dalam berpacaran.

__ADS_1


__ADS_2