Mencintai Ayah Sahabatku

Mencintai Ayah Sahabatku
I Love You


__ADS_3

Willy memandang punggung Mita dan Alda yang semakin menjauh. Willy mengusap wajahnya kasar. Dengan lesu Willy kembali masuk ke dalam apartemen nya.


"Pulang lah Sofia, sebentar lagi juga aku mau ke kantor," kata Willy. Sofia masih dengan santainya duduk di sofa. Willy masuk ke dalam kamar dan secepat kilat Sofia mengejarnya.


"Mas, tunggu dulu. Kok, langsung ke kantor sih, kita kan belum bermain," kata Sofia manja. Jari telunjuknya dimasukkan kedalam mulutnya sendiri. Berusaha untuk membuat Willy berubah pikiran.


"Aku tidak ingin bermain, pulanglah," usir Willy masih pelan. Sofia cemberut dan masuk ke kamar mendahului Willy yang masih berdiri dekat pintu kamar.


"Apa kamu sudah menemukan mainan baru mas?, sehingga kamu tidak menginginkan tubuhku lagi," kata Sofia. Sofia sudah berbaring di ranjang dengan pose yang menggoda. Willy tidak menghiraukannya. Willy memilih masuk ke dalam kamar mandi.


Sofia memandang langit langit kamar. Pikirannya menerawang pertama kali bertemu dengan Willy dan menjadikan dirinya partner ranjang tanpa ikatan. Tanpa cinta mereka melakukan hubungan itu, hubungan yang saling menguntungkan. Sofia nyaman dengan kemewahan yang diberikan Willy. Willy puas dengan tubuh Sofia yang khusus untuk dirinya.


Willy keluar dari kamar mandi lengkap dengan setelan kerja. Entah kapan laki laki itu membawa baju kerjanya ke kamar mandi.


"Kita sudahi hubungan mutualisme kita sampai di sini Sofia," kata Willy pelan dan menyerahkan secarik kertas ke Sofia. Sofia mengambil kertas tersebut.


"Tanpa bermain pun, kamu membayar ku mas," kata Sofia sedih. Sofia bangkit dari tempat tidur dan mengambil tasnya dari atas meja rias. Dia memasukkan kertas tersebut ke dalam tasnya. Nominal yang tertera di kertas tersebut membuat mulutnya tidak protes.


"Aku bisa membantumu kapan saja, tapi untuk di partner di ranjang kita tidak perlu melakukannya lagi," kata Willy sambil memakai dasi. Sofia mengangguk. Sofia kemudian mengambil jaketnya yang terletak di sofa kamar itu.


"Terima kasih mas, aku pamit," kata Sofia. Bagaimanapun Sofia harus berterimakasih kasih kepada Willy. Dia bisa memiliki semua kemewahan, itu berasal dari Willy.


"Satu lagi Sofia, kapan dan di mana pun kita atau kamu bertemu dengan putriku, tolong menjaga sikap dan perkataan mu di hadapannya," kata Willy tegas. Sofia mengangguk dan pamit ke Willy untuk pulang.


Willy menghela nafas lega. Urusan Sofia sudah beres. Saatnya menjelaskan ke Mita tentang kesalahan pahaman pagi ini.


Sementara itu, Mita masih terus terdiam. Sepanjang perjalanan menuju sekolah pikirannya tertuju ke Willy. Membayangkan Willy dan Sofia bercumbu membuat dadanya serasa sesak karena cemburu. Alda yang terus berceloteh di samping, tidak sedikit pun masuk ke telinganya.


"Turun, bengong aja dari tadi," kata Alda ketika mereka sudah sampai di parkiran sekolah. Mita tergagap dan akhirnya turun dari mobil.

__ADS_1


"Mita..."


Mita menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Nino turun dari motor setelah meletakkan helm di stang motor. Nino setengah berlari mendekat ke Mita dan Alda. Alda langsung jalan sedangkan Mita menunggu Nino yang memanggilnya.


"Darimana semalam?" tanya Nino setelah mendekat. Meraka berjalan sambil mengobrol


"O o itu, Tetangga aku ada yang menikah. Jadi aku ikut bantu bantu," jawab Mita. Dia harus menyesuaikan alasan dengan apa yang diketahui Alda semalam.


"Kamu sudah punya kelompok?. Kelompokku butuh dua orang lagi. Kalau kamu mau. Kamu bisa gabung dengan kelompokku,"


"Belum. Kalau kelompok tidak berdasarkan abjad nama, sudah pasti aku sama Alda,"


"Kelompok tidak berdasarkan abjad nama. Kita bisa menentukan anggota kelompok sendiri, minimal lima orang,"


"Kalau gitu, aku pasti sama Alda. Alda..." panggil Mita ke Alda yang berjalan di depannya.


"Kelompok kita, bagaimana?, Sudah beres kan?" tanya Mita.


"Belum,"


"O o kalau begitu, kita ikut kelompok Nino saja, kelompoknya masih kurang," kata Mita santai. Alda memandang Nino tidak senang.


"Tidak mau gabung sama kelompok playboy cap Kampak itu. Kita masuk saja kelompok yang lain," kata Alda lagi ketus. Nino hanya tersenyum melihat Alda. Nino sama sekali tidak sakit hati ketika Alda menyebutnya play boy cap Kampak.


"Iya sudah, kalau kamu tidak mau. Tidak apa apa. Nanti di kelas kita tanya yang lain," kata Mita lembut. Mita selalu mengalah terhadap Alda. Sifat Alda yang ketus bisa diimbangi Mita dengan sifat lembutnya. Mereka bertiga masuk ke dalam kelas. Ketika Nino mau ke bangkunya, Nino sengaja menyenggol bahu Alda pelan, Alda yang memang tidak suka dengan Nino, membuka sepatunya dan melemparkan ke arah Nino.


Plok


Sepatu itu tepat mengenai kepala Nino bagian belakang. Nino berbalik dan membungkuk. Nino mengambil sepatu tersebut. Siswa lain merasa tegang menunggu amarah Nino meledak. Nino berjalan ke arah Alda yang masih memandangnya sinis. Dari raut wajahnya tidak ada rasa takut sedikitpun.

__ADS_1


Nino semakin dekat, tepat di hadapan Alda. Nino kembali membungkuk dan mengangkat kaki Alda. Alda berusaha melepaskan kakinya dari tangan Nino. Nino mendongak menatap wajah Alda bersamaan dengan Alda melihat ke bawah. Ketika Alda lengah, Nino memakaikan sepatu itu ke kaki Alda. Siapapun wanita yang diperlakukan seperti itu pasti meleleh, tetapi Alda bukan wanita yang seperti itu. Wajahnya masih menampakan rasa kesal. Nino berdiri dan mencondongkan badannya ke Alda.


"I love you." Nino berbisik tepat di telinga Alda. Bisikan itu bisa didengar seisi ruangan itu. Alda terkejut, tidak menyangka Nino senekat itu menyatakan cinta kepadanya. Dan Alda menganggap itu sebagai gombalan receh. Siswa lain bersorak dan bertepuk tangan menyuarakan supaya Alda menerima Nino. Sementara yang lain bersiul bersahut sahutan.


"Terima..."


"Terima..."


"So sweet,"


Kata kata itu bergema di ruangan itu. Para wanita mengharapkan Alda menerima cinta Nino. Mita juga tidak kalah deg degan menunggu jawaban Alda. Walau Mita berteman baik dengan Nino. Tapi Mita tidak setuju kalau sampai Nino dan Alda jadian.


Sedangkan Nino, setelah membisikkan kata cinta itu, dia mundur sedikit dan menatap lekat mata Alda. Kemudian berbalik dan berjalan menuju bangkunya.


"I hate you," balas Alda. Sorak Sorai yang mendukung Alda untuk menerima Nino spontan berhenti. Mereka tidak menyangka Alda akan menolak Nino. Nino yang diidolakan di sekolah mereka dan banyak wanita yang menginginkannya. Tapi itu tidak berlaku untuk Alda. Dia menolak Nino mentah mentah.


Bukannya marah, Nino mencium tangannya sendiri dan menghembuskannya ke arah Alda. Alda semakin kesal. Alda mengambil pulpen Mita yang sudah terletak di meja. Alda kemudian melemparkan pulpen itu ke arah Nino. Nino menghindar dan jadilah pulpen itu mendarat sebentar di kening Azriel kemudian jatuh di meja. Azriel yang duduk bersebelahan dengan Nino, memungut pulpen tersebut.


"Pulpen ini merupakan saksi bisu dari cinta Nino yang ditolak," kata Nino sambil mengacungkan pulpen itu ke atas. Para siswa tertawa terbahak-bahak.


"Dan kamu Azriel korban dari penolakan itu," jawab yang lainnya membuat seisi ruangan itu kembali tertawa.


Mita pun sebenarnya ingin tertawa seperti temannya yang lain. Melihat Alda yang memasang wajah jutek. Mita hanya tersenyum sambil menunduk.


"Kalau mau tertawa, tertawa aja. Tidak usah ditahan," kata Alda ketus.


"Ternyata Nino cinta mati sama kamu," bisik Mita. Alda cepat mendorong wajah Mita dari telinganya dan mencubit pinggang Mita.


"Teman teman, aku juga korban penolakan cinta hari ini," teriak Mita sambil meringis. Seisi ruangan itu kembali gaduh. Melihat Alda yang melotot ke arahnya. Mita duduk dan mengeluarkan bukunya dari dalam tas.

__ADS_1


__ADS_2