
"Begini rupanya kalau menikah dengan ayah sahabat sendiri. Dipanggil mama dan bahkan Nino memanggilku dengan sebutan Tante. Calon mertua. Jika Alda cepat menikah dan punya anak. Aku bahkan menjadi nenek sebelum umur tiga puluh tahun," batin Alda sambil menunduk. Alda masih betah mengolesi tengkuknya dengan salep.
"Sudah Alda?"
"Sedikit lagi, ternyata di sini ada juga," jawab Alda sambil menyingkapkan sedikit baju bagian belakang Mita. Dengan telaten, Alda mengolesi tanda merah itu.
"Kerja sama yang baik. Ayahnya yang membuat, putrinya yang mengobati," batin Mita lagi. Dia merasa lega ketika Alda meletakkan tube itu kembali ke kotak obat.
"Makasih Alda," kata Mita tulus. Bukan hanya sekali ini saja Alda bersikap baik kepadanya. Hampir sepanjang enam tahun ini, Alda selalu berbuat baik kepadanya.
"Sama sama. Yuk. Biar bibi saja yang menyimpan ini," ajak Alda setelah meletakkan kotak obat itu di meja. Mita berdiri dan kedua sahabat itu bersama melangkah menuju mobil.
Di mobil Willy serta supir pribadi Willy sudah menunggu agak lama dua sahabat itu. Willy duduk di samping supir sedangkan Mita dan Alda duduk bangku belakang.
"Kita mau kemana," tanya Willy sambil menoleh ke belakang. Dia menatap Alda dan Mita bergantian. Mita hanya diam saja.
"Terserah ayah saja,"
"Kok terserah ayah. Yang mau jalan jalan siapa tadi?"
"Kita ke mall saja. Aku ingin menghabiskan uang ayah,"
"Baiklah. Mita mau kan kita ke mall,"
"Mau om," jawab Mita singkat. Sikap Mita jika berduaan dengan Willy berbanding terbalik jika ada Alda. Mita masih canggung jika menunjukkan sikap manjanya ke Willy.
__ADS_1
Mobil melaju dengan cepat menuju mall yang dimaksudkan Alda. Tidak ada yang berbicara sepatah katapun. Sama seperti Willy, Mita pun sudah mengantuk. Supir Willy yang paham mengapa sampai tuannya sampai mengantuk hanya bisa tersenyum sendiri. Sedangkan Alda, dia asyik sendiri dengan ponselnya.
"Ayah, ayah. Ponsel ayah berdering," kata Alda sambil menepuk pelan punggung ayahnya. Sedangkan Mita sudah bersandar cantik di lengan Alda. Melihat Mita yang tertidur, Alda merasa kasihan. Dia bahkan membetulkan letak kepala Mita supaya lebih nyaman tidur.
Willy melihat sekilas ponselnya. Willy kembali menyimpan ponsel itu setelah melihat siapa penelepon. Willy kembali memejamkan mata.
Setengah jam kemudian, mobil itu sudah berhenti di basement mall termewah di kota itu. Alda dan Mita cepat cepat keluar sedangkan Willy masih duduk dan memeriksa ponselnya.
"Cepat ke rumah sakit. Aku menunggu mu di sini. Tidak ada alasan masih pengantin baru jika kamu masih mengingat pengorbananku,"
Willy merasakan jantungnya berdetak kencang membaca pesan itu. Nyawanya seperti melayang tanpa sebab. Willy gugup seketika. Bahkan dia belum tahu apa maksud pesan Leo. Tapi perasaannya seperti tidak mau kehilangan sesuatu. Willy melupakan Alda dan Mita yang menunggunya keluar. Willy seperti orang linglung.
"Ayah, cepat keluar," teriak Alda sambil mengetuk kaca mobil. Itupun tidak langsung membuat Willy membuka mobil. Willy masih berusaha untuk menetralkan detak jantungnya.
"Aku akan menyuruh supir menjemput kalian. Ayah ada urusan mendadak," kata Willy setelah membuka pintu mobil. Alda dan Mita terlihat kecewa. Dua wanita bersahabat itu hanya bisa memandang mobil yang mundur untuk keluar tempat itu. Mita dan Alda saling berpandangan, kemudian mereka tertawa terbahak-bahak. Kedua sahabat itu bergandengan tangan menuju lift.
"Siapa yang sakit," tanya Willy penasaran. Leo terlihat baik baik saja. Willy masih saja merasakan jantungnya berdegup kencang.
"Billy bro. Sama seperti mu. Aku juga baru tahu. Masuk saja," jawab Leo pelan. Willy terlihat bingung. Leo berdiri dan mendorong Willy untuk masuk ke ruangan itu. Willy ingin mundur melihat orang yang berada di ruangan itu. Tetapi Leo menahan tubuhnya. Leo mendorong tubuh Willy semakin mendekat ke bed. Dia mengabaikan Keyla yang menangis terisak.
Willy bingung. Jantungnya semakin tidak bisa diajak kompromi. Kakinya ikut bergetar. Melihat mata sayu remaja yang bernama Billy itu menimbulkan tanda tanya di hatinya. Siapa gerangan dia dan mengapa Keyla berada di sini. Perawat dan dokter masih berusaha untuk memasukkan jarum infus lewat pergelangan tangannya.
"Leo, apa maksud dari semua ini?" tanya Willy. Matanya tidak lepas dari Billy. Keyla semakin terisak dan memegang kaki Billy.
"Dia putramu Willy, dia menderita depresi dan sekarang sedang sakit karena dehidrasi."
__ADS_1
Bagai ditimpa batu besar, Willy merasakan dadanya semakin sesak. Kenyataan yang mengejutkan ini sulit dicerna otaknya tetapi sanggup membuat tubuhnya melemah. Willy mendekat ke bed itu. Mengamati wajah Billy yang nampak cekung, dengan mata sayu tetapi tatapan kosong.
"Billy, itu ayah nak. Ayah kamu sudah datang," kata Keyla sambil menangis. Dia mengusap air matanya kasar. Sedangkan Willy masih terdiam dan hanya bisa menatap Billy dengan iba. Dia bisa merasakan perasaan sesuatu terhadap Billy.
"Ini foto Billy sebelum sakit," kata Keyla sambil menunjukkan ponselnya ke Willy. Willy hanya melirik ponsel tersebut.
"Billy, sembuh lah nak. Banyak yang akan kamu ceritakan ke ayah," kata Willy sambil membelai rambut Billy. Melihat foto tadi. Willy yakin bahwa Billy adalah putranya.
Mata sayu itu bergerak mengikuti suara Willy. Willy tersenyum sambil menggenggam tangan Billy. Willy meminta kepada dokter dan perawat untuk melakukan pelayanan yang terbaik untuk putranya.
Willy menarik nafas lega. Jarum infus itu sudah tertancap di pergelangan tangan Billy. Keyla juga tidak terlihat menangis lagi. Willy menoleh ke Keyla. Banyak pertanyaan yang sudah tersusun di otaknya yang akan ditanyakan ke Keyla.
Seakan tahu akan mendapat pertanyaan dari Willy, Keyla pamit ke Billy untuk keluar. Remaja itu tidak menjawab. Tatapannya masih kosong. Willy juga menitipkan Billy ke Leo. Dan keluar dari ruangan itu. Willy duduk di bangku panjang di depan ruangan UGD itu. Berjarak sekitar dua meter dari Keyla. Mereka seperti dua orang asing yang tidak saling mengenal. Mereka masih diam.
"Umurnya lima belas tahun. Aku mengetahui diriku hamil setelah sebulan keluar dari rumahmu," kata Keyla pelan. Willy duduk mematung. Dia tidak menoleh sama sekali ke Keyla.
"Kenapa kamu menyembunyikannya keberadaannya. Kamu bisa mengantarkan ke rumahku setelah kamu melahirkannya,"
"Sampai kapanpun aku tidak akan melakukan itu." Willy tertawa sinis.
"Kenapa?. Meninggalkan Alda berumur tiga bulan kamu sanggup," tanya Willy sinis.
"Itu bukan kemauan aku. Itu karena paksaan dari papamu," jawab Keyla marah. Bertahun tahun menderita hidup berdua dengan Billy bisa dia terima. Tapi kalau disalahkan karena meninggalkan Alda yang berumur tiga bulan Keyla tidak terima. Willy terkejut. Willy menoleh ke Keyla yang menatapnya tajam.
"Apa maksudmu?"
__ADS_1
"Tanya sendiri ke papa kamu. Kamu kira setelah bertahun tahun terbuang, aku rela kembali kepadamu. Bahkan kamu tidak ada niat untuk mencari aku waktu itu. Aku menitipkan surat ke bibi. Apa kamu membalasnya. Kamu sama kejamnya dengan papa kamu. Aku ingin menjebak kamu hanya karena Billy. Dia yang menginginkan kamu. Dia depresi karena teman temannya membully dirinya. Dia menginginkan ayahnya. Aku kira dengan menjebak kamu, kamu bersedia ikut dengan aku menemuinya. Tentang barang barang yang aku pilih dengan harga yang mahal, itu karena Billy menyukai barang yang mahal, karena kami sudah tercap orang miskin yang tidak mampu membeli barang mahal. Billy bangga jika mempunyai barang barang yang mahal."