
"Untuk apa uang sebanyak itu honey?" tanya Willy mengerutkan keningnya. Mita menceritakan semua yang terjadi mulai dari kejadian di sekolah dan di rumah. Willy mengepalkan tangannya mendengar cerita Mita.
"Aku akan dijadikan istri oleh rentenir itu om, kalau lusa uangnya belum ada," jawab Mita sedih.
"Aku akan bersedia melakukan apapun yang diminta om, asalkan om mau membantuku," kata Mita lagi. Melihat Willy hanya diam, Mita jadi takut jika Willy tidak membantunya.
"Apa pun?. Mita mengangguk.
"Baiklah, aku akan membantumu, saat ini aku hanya menginginkan cinta dan kesetiaan mu honey tapi tidak tahu besok besok bisa saja om meminta lebih dari situ," ucap Willy menggenggam tangan Mita. Mita terharu dan kembali memeluk Willy.
"Terima kasih Daddy, aku akan memberikan apapun yang om mau. Selagi itu bisa ku penuhi" jawab Mita senang masih di pelukan Willy.
"Kamu panggil apa tadi?" tanya Willy melonggarkan pelukan Mita.
"Daddy," jawab Mita singkat
"Daddy sugar maksudmu?" tanya Willy lagi. Mita mengangguk.
"Iya dad, apalagi namanya kalau tidak Daddy sugar. Kamu membantuku dengan jumlah uang yang sangat banyak. Aku mau jika kamu meminta aku jadi baby sugar mu,"
"Jangan berkata seperti itu honey, menjadi baby sugar itu tanpa komitmen dan hanya saling membutuhkan. Kamu beda dari itu. Kamu kekasihku, calon istriku. Aku tidak akan merusak kesucian cinta kita. Wajar jika aku membantumu. Selain Alda, kamu prioritas hidupku sekarang." Willy berkata sambil mengelus kepala Mita. Mita terharu dan kembali memeluk Willy. Willy selalu menekankan bahwa Alda segalanya bagi Willy.
"Makasih om, aku juga sangat mencintaimu om," jawab Mita terharu. Mita serasa terbang ke angkasa mendengar pernyataan cinta Willy.
"Terserah mu mau memanggil om apa, selagi itu enak didengar dan menyenangkan mu," kata Willy lagi.
"Panggil Daddy, boleh?" tanya Mita dengan wajah yang lucu. Willy mencubit kedua pipi.
"Boleh honey, dengan senang hati. Tapi ingat jangan sampai keceplosan jika ada Alda," jawab Willy tersenyum. Mita bangkit dan berlari di tepi pantai. Mita merasakan bahagia. Dicintai, dihargai dan dilimpahi materi. Wanita mana yang tidak bahagia.
Willy berkacak pinggang melihat Mita yang berlari, rambutnya beterbangan diterpa angin. Willy juga merasakan bahagia, bibirnya tidak berhenti tersenyum. Hidupnya yang selama ini hanya untuk bekerja dan Alda, kini berseri dengan kehadiran Mita di hatinya.
__ADS_1
"Daddy, ayo kejar aku," teriak Mita yang semakin menjauh dari Willy. Willy berlari dan mengejar Mita.
****
Sore itu di kediaman Willy. Alda sangat kesepian. Biasanya sore begini, dia dan Mita bersama. Setelah belajar bersama mereka akan mengobrol atau menonton Drakor. Kali ini Alda hanya sendiri. Bolak balik mau tidur siang, matanya tidak terpejam. Akhirnya Alda duduk di balkon atas sambil memainkan ponselnya.
Alda berlari menuruni tangga, ketika melihat mobil ayahnya memasuki gerbang rumah. Menyambut ayahnya sampai ke halaman rumah merupakan kebiasaan Alda jika ayahnya pulang cepat. Itu sudah terjadi sejak dia kecil. Jarang jarang ayahnya pulang cepat, dalam satu tahun bisa dihitung dengan jari.
Willy menghentikan mobilnya tepat di depan Alda. Alda kemudian berjalan menuju pintu mobil. Alda heran melihat penampilan ayahnya ketika turun dari mobil.
"Keren ayah, darimana?, dari pantai ya?" tanya Alda sambil mengacungkan kedua jempol nya. Willy tersenyum, memeluk Alda dan mencium pucuk kepalanya.
"Ayah sama siapa dari pantai?, sama Tante Sofia?" tanya Alda lagi.
"Bukan Sofia tapi gebetan baru," jawab Willy santai dan hendak menutup pintu mobil. Alda mencegahnya dan masuk ke dalam mobil. Alda mengambil sesuatu dari dashboard mobil kemudian mengamatinya. Pelembab bibir itu persis seperti punya dia.
"Ayah, ini punya siapa?" tanya Alda menunjukkan pelembab bibir tersebut. Willy mengusap tengkuknya. Pelembab bibir itu punya Mita.
"Itu punya teman ayah tadi," jawab Willy gelagapan.
"Yang punya seperti itu kan banyak tuan putri, bukan hanya kalian berdua. Taruh lagi di situ, besok besok mau ayah kembalikan sama yang punya," kata Willy dan menarik Alda dari mobil. Alda kembali meletakkan pelembab bibir tersebut ke dashboard. Willy bersyukur tidak keceplosan mengatakan itu milik Mita.
"Ayah, kenalin donk gebetan baru ayah ke Alda," kata Alda manja. Mereka kini berjalan ke rumah. Willy merangkul pundak putrinya. Kasih sayangnya tidak berkurang walau Mita sudah menjadi kekasihnya.
"Gak boleh, kamu aja belum mengenalkan pacarmu ke ayah," jawab Willy santai.
"Aku belum punya pacar ayah,"
"Pilih pacar itu jangan hanya dari tampang, lihat sikap dan perilakunya," nasehat Willy, Alda mengangguk.
"Gebetan ayah masih muda ya!"
__ADS_1
"Kok tahu?"
"Biasanya yang muda muda pake pelembab bibir. Kalau yang dewasa seperti Tante Sofia pasti pakai lipstik super tebal," kata Alda membuat Willy terkekeh.
"Sok pintar kamu,"
"Benar loh yah, Ayah..." panggil Alda setelah mereka duduk di sofa.
"Apa tuan putri?"
"Nanti kalau ke pantai sama gebetan baru ayah, ajak Alda ya!. Willy menggelengkan kepala.
"Tidak boleh, tunggu resmi dulu baru kita jalan bertiga."
"Ayah ga gaul, senang senang gak ngajak putrinya," kata Alda merajuk. Bibirnya sudah mengerucut dan membelakangi Willy yang duduk di sampingnya.
"Emang, kalau ayah ngajak kamu, kamu mau jadi tukang fotonya," tanya Willy tersenyum. Willy bercanda tetapi Alda masih merajuk dan membelakanginya.
"Gak mau," jawab Alda ketus.
"Ayah malas di rumah, enaknya kemana ya?" tanya Willy hanya bermaksud memancing Alda supaya tidak merajuk lagi. Benar, Alda tersenyum dan bergelayut manja di lengan Willy.
"Ayah, kita mall yuk!" main time Zone sepuasnya,"
"Ayo, siapa takut," ajak Willy. Alda tersenyum dan setengah berlari menaiki tangga.
"Ayah, ganti pakaiannya. Alda tidak mau ayah berpakaian seperti itu bersama Alda. Harus lebih keren," kata Alda berhenti sebelum menaiki tangga.
"Baik tuan putri," jawab Willy beranjak dari duduknya. Willy sebenarnya sangat lelah tapi demi menyenangkan putrinya, Willy rela tidak beristirahat. Willy merasa tidak adil membawa Mita senang senang sedangkan Alda di rumah kesepian.
"Ayah, bangun." Alda membangunkan ayahnya yang tertidur ketika sampai di depan mall terbesar di kota itu. Supir yang membawa mereka sampai menoleh ke belakang. Willy mengucek matanya, kemudian tersenyum. Mereka turun dari mobil.
__ADS_1
Seperti biasa, Willy merangkul pundak putrinya ketika memasuki mall. Orang yang melihatnya menduga mereka kakak adik karena wajah mereka yang mirip. Apalagi penampilan Willy yang fresh dan terlihat masih muda, membuat orang tidak percaya bahwa Alda adalah putrinya.
Di time Zone, keduanya bermain sambil bercanda. Alda tertawa bahagia begitu juga dengan Willy. Lebih dari tiga jam mereka bermain di sana. Willy dengan sabar menuruti semua keinginan putrinya. Benar benar ayah idaman.