
Mita menurut dan masuk ke dalam mobil. Pikirannya melayang membayangkan Willy dan Sofia berciuman. Mita terus terdiam dan lupa tujuannya menjumpai Willy. Melihat meja sofa tadi. Mita yakin, Sofia membawakan Willy makan siang. Gadis berseragam itu merasakan dadanya sesak, matanya memanas.
Mita memalingkan wajahnya ke luar. Air matanya sudah turun. Mita merasa, Willy hanya bermain main dengannya. Willy seakan tidak peka, dari tadi mencari kata yang tepat untuk menjelaskan keberadaan Sofia di ruangannya membuat Willy tidak menyadari keadaan Mita yang duduk di sampingnya.
Mita menghapus air mata, Mita semakin yakin bahwa Willy hanya mempermainkannya. Menangis saja tidak dibujuk, pikirnya dalam hati.
"Sudah makan siang?" tanya Willy. Matanya fokus ke depan dan kedua tangannya memegang setir.
"Belum Om," jawab Mita. Mendengar suara Mita yang serak membuat Willy menoleh ke Mita. Willy panik melihat wajah Mita yang masih basah dengan air mata. Willy menghentikan mobilnya di tepi jalan.
"Kenapa honey?" tanya Willy dan memegang wajah Mita dengan kedua tangannya. Merasa malu karena tertangkap basah menangis, Mita hanya menggelengkan kepala. Willy mengamati wajah kekasihnya.
"Jangan bilang kamu menangis karena cemburu," tebak Willy. Mita semakin menunduk. Willy mengangkat dagu Mita.
"Jujur sama om, kenapa menangis," tanya Willy lagi.
"Om jahat, om hanya mempermainkan aku." Mita tidak tahan lagi memendam kekesalannya. Mita mendorong badan Willy dan memalingkan wajahnya ke luar.
"Kata siapa om mempermainkan kamu," tanya Willy tersenyum. Willy tahu Mita cemburu. Jelas terlihat kalau Mita masih bersifat kekanakan.
"Om bilang tidak akan memanggil Tante Sofia. Itu tadi apa?" tanya Mita ketus. Wajahnya masih menghadap ke luar.
"Dia sendiri yang datang, bukan karena dipanggil." Mita menoleh ke Willy.
"Tetap saja, kalian berdua dan makan siang bersama," ketus Mita. Willy terkekeh.
"Tapi sekarang kan sudah bersamamu," kata Willy bermaksud menggoda Mita. Mita masih enggan menatap Willy.
"Dengarkan om, om tidak pernah berniat untuk mempermainkan kamu. Bahkan hari ini, om memilih bersama kamu dibanding Sofia." Willy berkata sambil menghadapkan tubuh Mita.
"Om bohong,"
"Om serius, harus bagaimana om menunjukkan keseriusanku," kata Willy menatap mata Mita. Mita yang ditatap menjadi grogi dan menunduk.
"Tadi aja aku menangis, om tidak membujuk." Willy terkekeh mendengar ocehan Mita. Willy meraih badan Mita dan memeluknya. Mengecup puncak kepala Mita agak lama.
"Maaf, tadi om tidak melihatnya."
"Aku gak suka om bersama Sofia,"
__ADS_1
"Iya honey, om janji. Om tidak akan memperbolehkan dia lagi bebas ke ruangan om," kata Willy masih memeluk Mita.
"Om, tadi sempat ga dimasukkan?" tanya Mita malu malu. Dia belum merasa lega sebelum mengetahui sejauh mana tadi Willy dan Sofia.
"Belum, kan kamu langsung datang." Willy kembali menggoda Mita.
"Jadi, kalau aku tidak datang. Itunya tadi dimasukkan ya!" tanya Mita sewot dan menjauhkan tubuh dari pelukan Willy.
"Tidak honey, tidak akan dimasukkan," jawab Willy kelabakan melihat Mita kembali cemberut.
" Janji ya om." Willy mengangguk pasti.
"Jadi kita mau kemana nih?" tanya Willy kemudian.
"Terserah om, yang penting jangan ke apartemen,"
"Baik honey," jawab Willy tersenyum. Willy lega Mita tidak marah lagi.
Willy kembali menjalankan mobilnya, melihat ada produk makanan cepat saji yang bisa dibeli lewat Drive thru, Willy membelokkan mobilnya.
"Om, kenapa banyak sekali," tanya Mita setelah Willy memberikan paketan ayam goreng.
"Aku juga udah lapar om," kata Mita dan mulai membuka bungkusan nasi. Mita membuka kaca mobil dan mencuci tangannya dengan air mineral. Mita makan dengan lahap dan menyuapkan ayam goreng ke Willy.
Mita bersorak kegirangan ketika Willy menghentikan mobilnya. Willy membawanya ke pantai. Willy menyuruh Mita untuk diam di mobil sedangkan Willy keluar dari mobil.
Beberapa menit kemudian Willy muncul dengan penampilan baru. Setelan jas dan sepatu pantofel nya berganti dengan kemeja dan celana pantai juga dengan sandal santai. Mita terpesona dengan penampilan kekasihnya. Berpakaian seperti ini Willy bukan seperti seorang ayah yang memiliki putri beranjak dewasa. Willy seperti anak kuliahan.
Willy menyerahkan satu paper bag kepada Mita sedangkan papar bag satunya yang berisi setelan jas dan sepatu pantofel diletakkannya di bangku penumpang.
"Pakai di sini saja!" perintah Willy ketika Mita mau membuka pintu mobil.
"Aku malu om, kalau di sini. Di sana saja ya!" kata Mita menunjuk sebuah kamar mandi umum.
"Di sini saja, kenapa harus malu. Ini dan ini sudah pernah ku sentuh kok," jawab Willy menunjuk bagian tubuh Mita yang pernah disentuhnya. Mita merona dan malu.
"Itu kan lain om,"
"Udah ganti aja, ngapain malu. Om kan kekasihmu," kata Willy yang melihat Mita masih ragu.
__ADS_1
"Om menghadap ke sana dan tutup mata. Jangan buka mata sebelum ku bilang buka." Akhirnya Mita mengalah dan membalikkan tubuh Willy menghadap ke luar. Willy hanya terkekeh.
Dengan mata yang mengawasi Willy, Mita membuka kemeja seragamnya. Kemudian memakai gaun pantai tanpa lengan. Setelah itu Mita membuka rok dan sepatunya.
"Buka mata om," perintah Mita. Willy langsung membalikkan badan dan tersenyum melihat Mita memakai gaun pantai yang dipilihnya.
"Ini juga dipakai," kata Willy memakaikan topi ke kepala Mita. Keduanya turun dari mobil. Pasangan itu terlihat sangat serasi dengan baju pantai yang hampir berwarna sama hanya corak yang berbeda. Gaun Mita bercorak bunga matahari sedangkan kemeja Willy bercorak pohon kelapa tapi didominasi warna kuning dan biru.
Mereka menyusuri pantai dengan bergandengan tangan. Willy sangat bahagia. Terkadang Willy menggendong kekasihnya setelah berkejaran di bibir pantai. Tawa lepas mewarnai liburan dadakan mereka.
"Turunkan om." Willy menurunkan Mita dari punggungnya. Willy menarik tangan Mita untuk duduk di bibir pantai yang berpasir. Mereka berdua sangat bahagia. Ini pertama bagi Mita ke pantai sejak bundanya meninggal.
"Kamu senang?" tangan Willy dan Mita mengangguk.
"Sangat senang om. Terima kasih ya!" kata Mita sambil menyandarkan kepalanya di lengan Willy.
"Kamu suka pantai?" tanya Willy lagi.
"Sangat om,"
"Kalau kita sudah menikah, kamu mau bulan madu kemana?" tanya Willy. Kini tangan kirinya sudah melingkar di pinggang Mita.
"Aku sih ingin ke Maldives om. Kata Alda pantainya di sana sangat bagus dan indah. Emang om, serius mau nikahin aku," tanya Mita balik.
"Kamu belum percaya om?." Mita menegakkan duduknya. Dia jadi teringat tujuannya menjumpai Willy. Muka bahagia itu berubah sendu. Mita bingung bagaimana caranya dia meminta bantuan ke Willy.
"Kenapa? kamu belum yakin kalau om mencintaimu?"
"Aku yakin om, aku jadi ingat tujuanku menjumpai om,"
"Apa itu?. Katakanlah. Om siap membantumu,"
"Om, tapi sebelumnya jangan menilaiku negatif ya!"
"Tidak akan honey. Katakanlah!"
"Sebenarnya aku butuh bantuan mu om, aku butuh uang dengan jumlah besar," kata Mita dengan menunduk.
"Berapa yang kamu butuhkan honey?"
__ADS_1
"Tiga ratus juta om,"