Mencintai Ayah Sahabatku

Mencintai Ayah Sahabatku
Rencana Mita


__ADS_3

Sudah satu Minggu sejak Mita mendengar kejujuran Willy akan cintanya kepada Keyla. Dan selama itu juga Willy berusaha menyakinkan Keyla untuk rujuk dengan dirinya. Keyla yang sudah terlanjur sakit hati tidak menggubris bujukan Willy. Dia lebih fokus ke Billy dan memantau perkembangan bisnis lewat online yang jauh di daerah pegunungan sana.


Willy tidak menyerah, dia terus mendekati Keyla dengan sering masuk ke kamar Billy. Dia akan masuk ke kamarnya jika Keyla sudah pulang ke rumahnya dan masuk ke kamar Billy pagi hari sebelum Keyla muncul di kamar itu. Willy berhasil, bukan berhasil membujuk Keyla untuk rujuk tapi Willy berhasil membuat Billy bisa tersenyum kepadanya.


Willy menjadikan perkembangan kesehatan Billy semakin membujuk Keyla. Janda muda yang masih terlihat sangat cantik itu hanya diam dan tidak mengucapkan sepatah kata dari bujukan Willy. Dia benar-benar muak. Apalagi makin kesini dia bisa melihat kesedihan Mita walau yang pura pura bahagia.


Seperti malam ini, Willy masih setia mengajak Billy bercerita. Keyla senang melihatnya karena Billy terlihat mulai merespon apa yang dikatakan Willy. Tetapi yang membuat Keyla tidak senang, sebentar lagi setelah Billy tertidur. Willy akan kembali merayunya.


Keyla bisa melihat bayangan Mita yang melintas melewati kamar Billy. Setiap Willy masuk ke kamar Billy. Keyla akan membuka pintu kamar itu lebar lebar. Keyla mengerutkan keningnya. Dia sudah beberapa kali melihat Mita melintas di depan kamar itu. Sebagai wanita yang pernah menjadi istri. Keyla paham jika Mita pasti cemburu.


"Mita, sini sayang," panggil Keyla ketika melihat Mita kembali melintas di depan kamar itu. Mita akhirnya muncul di depan pintu dan tersenyum ke arah Keyla. Mita ikut duduk di sofa bersebelahan dengan Keyla. Willy yang serius bercerita ke Billy menoleh ke arah dua wanita yang dicintainya itu. Dia melemparkan senyum ke Mita. Mita membalasnya dengan tersenyum seperti tidak ada beban.


Hanya satu di pikiran Keyla sekarang. Billy cepat tertidur dan dia akan segera pergi dari kamar itu. Keyla akan memanfaatkan keberadaan Mita di kamar itu supaya Willy tidak merayunya lagi. Sebenarnya saking kesalnya. Ingin rasanya Keyla tidak menginjak kaki di rumah ini. Tapi demi Billy. Keyla harus memendam kekesalan itu.


Mita diam dan Keyla juga diam. Keyla juga tidak tahu mau berkata apa. Sama seperti Keyla. Mita juga berharap Billy ingin segera tidur. Banyak rencana yang sudah tersusun di otaknya. Dan malam ini harus berhasil.


Apa yang ada di pikiran dua wanita itu ternyata tidak cepat terwujud. Billy berkali kali menyentuh tangan Willy jika Willy diam. Dan tangan itu berhenti menggerakkan tangan Willy jika Willy kembali bercerita. Seakan lupa waktu dan dua wanita yang ada di ruangan itu. Willy terus bercerita.


Keyla dan Mita sama sama melihat dua laki laki itu dengan diam. Hingga Alda masuk ke ruangan itu sehingga ruangan itu bertambah ramai. Alda mendekat ke ranjang dan bergabung dengan Willy dan Billy. Ketika Alda duduk di samping Billy, Billy mengeluarkan suaranya tertawa. Alda senang dan memeluk adiknya itu. Willy mengacak rambut kedua anaknya itu bergantian.


"Bun, Mita. Kemari," panggil Alda senang. Sejak Mita masuk ke kamar Alda minggu lalu. Mita meminta Alda untuk memanggil namanya saja. Alda sebenarnya tidak mau. Tapi Mita mengancam akan memutuskan persahabatan mereka jika Alda memanggilnya mama.


Keyla menurut dan menarik tangan Mita. Mita mengangguk tapi melepaskan tangan Keyla. Keyla yang paham akan maksud itu akhirnya mendekat sendiri ke ranjang. Dia duduk di samping Alda. Alda terlihat bercerita tentang kampusnya kepada Billy. Billy terlihat senang mendengar tetapi tidak mengeluarkan suaranya. Willy seperti biasa. Memperlakukan Alda seperti tuan putri. Meraih kepala putrinya itu dan mengecup kepala Alda lumayan lama. Willy merasa bangga dengan keberhasilan putrinya.


Mita memperhatikan interaksi empat manusia itu sambil tersenyum. Bibirnya bisa menyunggingkan senyum tapi tidak dengan hatinya. Mita menjadi terasing sendiri. Melihat mereka duduk bersama dan berdekatan dan tertawa bersama. Mereka seperti keluarga yang sangat berbahagia. Tidak ingin mengusik momen itu. Mita tetap duduk di sofa itu. Yang membuat dia semakin yakin untuk tidak bergabung karena Willy tidak mengajak untuk duduk di sana.


Alda turun dari ranjang itu. Dia duduk di sofa di sebelah Mita. Dia menatap Mita sekilas. Sebagai sahabat yang sudah bertahun tahun bersama. Alda tahu bahwa Mita ada beban pikiran. Alda sengaja menyenggol bahu Mita menyadarkan wanita itu jika dirinya sudah duduk di sampingnya. Mita hanya menoleh dan tersenyum. Alda semakin paham. Jika sahabat nya itu benar benar ada masalah.


Alda menarik tangan Mita keluar. Dia menarik tangan Mita hingga ke belakang rumah. Dia mengajak Mita ke paviliun kosong yang ada di belakang rumah Willy. Paviliun itu hanya ditempati supir pribadi Willy jika terpaksa menginap. Sejak Mita meminta dirinya untuk kembali seperti dulu. Alda perlahan lahan semakin berusaha untuk memperbaiki persahabatan mereka.


"Ada masalah apa Mita," tanya Alda to the points. Mita hanya menggelengkan kepalanya. Mita memang sahabatnya berbagi suka dan duka sebelum dia masuk ke kehidupan Willy. Tapi Alda juga putri dari pria yang menyakiti hatinya. Jika dia bercerita semua tentang masalah rumah tangganya belum tentu Alda membelanya. Bagaimanapun darah lebih kental dari air. Mita berpikir jika Alda pasti mendukung Keyla dan Willy rujuk. Mita masih jelas mengingat bagaimana Mita bercerita tentang keinginannya itu.


"Kamu memang seperti ini Mita. Tidak menganggap aku sahabat kamu sejak ayahku mencintai kamu," kata Alda dingin dan kecewa. Dia sudah menerima Alda kembali menjadi sahabatnya setelah ketidakterbukaan Mita akan hubungannya dengan Willy sebelum menikah. Tetapi melihat Mita yang masih saja tertutup membuat Alda kembali kecewa. Padahal jelas Alda tahu bahwa Mita ada beban pikiran.


Mita menatap Alda. Sudah lama mereka tidak curhat curhatan. Mita juga merasa bersalah sebenarnya. Tapi Mita masih ragu untuk bercerita tentang sakit hatinya terhadap Willy. Andaikan sahabatnya bukan dari putri dari suaminya. Sudah dipastikan Mita bercerita.


"Bukan seperti itu Alda. Aku memang tidak ada masalah. Aku baik baik saja. Jangan khawatir," jawab Mita dengan suara bergetar. Dia ingin sebenarnya menangis dan membagi kesedihan itu dengan Alda. Berpura pura tidak mempunyai beban pikiran hanya bisa diucapkan tapi gestur tubuh dan mata tidak bisa berbohong.


"Kemari lah. Peluk aku Mita. Aku tahu kamu ingin menangis," kata Alda sambil meraih tubuh sahabatnya itu. Mita tidak kuasa menolak. Dia memeluk Alda dan menangis sesenggukan. Dan pelukan seperti inilah sebenarnya yang ingin dia dapatkan dari seorang sahabat.

__ADS_1


"Kamu memang ratu di rumah ayahku Mita. Tapi kamu lupa jika aku adalah tuan putri di rumah ini. Kenapa kamu sembunyikan semua dari aku. Aku menunggu kamu bercerita. Tapi kamu memendamnya sendirian," kata Alda masih memeluk Mita. Mita terkejut. Dia tahu maksud perkataan Alda. Mita melepaskan pelukannya dari Alda dan menatap wajah sahabatnya itu.


"Darimana kamu tahu. Apa Tante atau om cerita?" tanya Mita. Dia yakin bahwa Willy yang pasti memberitahu itu ke Alda.


"Kamu lupa Alda. Semua yang bekerja di rumah ini adalah orang orang baik. Mereka menceritakan semua apa yang kamu ucapkan ke bundaku. Bagaimana tanggapan bundaku. Apa dia bersedia?" tanya Alda. Dia memang mengetahui itu semua dari pekerja yang ada di rumah itu. Dia tidak bertanya ke Keyla dan Willy. Dia merasa tidak berhak untuk mencampuri urusan rumah tangga ayahnya dan Mita.


"Tante tidak bersedia Alda,"


"Ayahku bagaimana?" tanya Alda lagi.


"Om Willy sangat senang dan bersedia. Om Willy juga jujur kepadaku jika om Willy masih mencintai Tante Keyla," jawab Mita pelan.


"Sudah aku duga," desis Alda pelan. Dia juga bisa melihat ayahnya mencuri pandang ke Keyla.


"Jadi bagaimana dengan dirimu Mita. Apa kamu rela berbagi suami dengan bunda aku?" tanya Alda penuh selidik. Dia mengamati wajah Mita. Mita terdiam. Alda mengambil kesimpulan jika Mita sebenarnya tidak rela jika harus berbagi dengan bundanya. Dan itu wajar.


"Harusnya kamu tidak perlu sok pahlawan untuk hubungan bunda dan ayah Mita dengan menyakiti dirimu sendiri seperti ini. Bundaku adalah wanita yang kuat. Dia sudah bisa menerima takdir harus menjadi janda dengan cara yang sangat menyakitkan. Dengan meminta hal seperti yang kamu inginkan. Aku yakin bundaku sangat kecewa dan merasa terhina karena dikasihani oleh kamu. Cukup dia terhina dengan perbuatan kakekku. Tidak seharusnya kamu berlaku seperti itu Mita," kata Alda.


Dari nada bicaranya, Mita tahu bahwa


Alda kecewa dengan apa yang sudah dia bicarakan ke Keyla dan Willy. Benar kata Alda. Apa yang dilakukan untuk meminta Willy dan Keyla rujuk sangat menyakitkan baginya. Ini belum rujuk masih Willy yang mengejar Keyla. Tapi sakitnya sudah tidak tertahankan.


"Apa kamu bahagia setelah mengungkapkan rencana kamu itu. Kamu istrinya ayahku. istri sah Mita. Mau berapa nama wanita yang disebut ayahku dalam tidurnya. Harusnya kamu berusaha untuk menghilangkan nama itu dari hati ayahku dengan bersikap dewasa. Itu hak kamu. Bukan seperti ini. Yang ada kamu sakit hati kan?"


"Kejarlah kebahagiaan kamu Mita. Jika kamu masih yakin dengan cinta ayahku. Pertahankan. Jika tidak tinggalkanlah. Apapun keputusan kamu. Sebagai sahabat aku mendukungmu. Jangan karena kamu terlalu mencintai ayahku tetapi kamu menjadi korban perasaan dan sakit hati."


Mita kembali menangis. Alda sudah kembali menjadi sahabatnya. Dukungan Alda malam ini menguatkan Mita akan rencana yang sudah tersusun di otaknya selama beberapa hari ini.


"Terimakasih Alda. Kamu adalah sahabat aku," kata Mita sambil terisak dan semakin erat memeluk Alda. Alda melepaskan pelukan itu. Dia menatap wajah Mita yang sudah basah sekali air mata. Dengan ujung jarinya. Alda menyentuh air mata itu. Melihat ini, Alda sebenarnya ikut sedih.


"Mita, bundaku juga menyayangi kamu. Dia tidak akan sanggup menyakiti kamu dengan rujuk kembali dengan ayah aku. Andaikan kamu bercerita sedikit saja dengan aku mungkin kamu tidak sesakit ini," kata Alda. Alda mengerti sakit hati yang dirasakan oleh Mita saat ini. Wanita mana yang tidak sakit hati ketika mendengar suami sendiri mengaku jujur mencintai wanita lain. Meskipun itu dengan mantan istri.


"Aku juga bisa merasakan itu Alda," kata Mita setelah berhenti terisak. Jika dulu dia menyangka sifat baik Alda turun dari Willy tetapi setelah mengenakan Keyla, Mita sadar jika sifat baik Alda turun dari bundanya.


"Apa rencana kamu selanjutnya," tanya Alda.


"Maksud kamu?"


"Apa kamu masih ingin melihat ayahku rujuk dengan bunda?. Belum rujuk saja sudah begini sedihnya. Bagaimana kalau sudah rujuk. Bisa bisa rumah ini banjir dengan air mata," goda Alda sambil tertawa. Mita melotot.

__ADS_1


"Tetap di posisi seperti itu. Aku ingin memfotonya. Lucu banget. Muka sembab tapi mata melotot," kata Alda sambil mengeluarkan ponselnya dari tas yang tersangkut di pundaknya. Mita menahan tangan Alda sedangkan Alda tertawa.


"Jawab pertanyaan aku Mita," kata Alda sambil terkekeh.


"Aku serahkan semuanya ke om Willy Alda."


"Kamu yakin?. Mita mengangguk.


"Jika tetap ingin rujuk, bagaimana?"


"Berarti itu lah takdir yang harus aku jalani," kata Mita seakan pasrah akan yang akan dijalaninya ke kemungkinan hari.


"Apapun dan bagaimanapun rumah tangga kamu bersama ayahku. Aku tidak akan ikut campur tangan Mita. Aku hanya ingin yang terbaik untuk ayah dan kamu. Tentang bunda. Jangan terlalu kamu pikirkan. Bunda pernah berkata. Aku bisa menjaga diri dan berbakti kepada orang tua serta kesembuhan Billy adalah kebahagiaannya. Dan aku akan membahagiakan bunda aku."


Mita terharu mendengar perkataan Alda. Dari perkataan itu Mita tahu bahwa Alda masih menginginkan dirinya tetap menjadi istri Willy ayahnya.


"Aku akan pasrah apapun yang terjadi besok atau lusa Alda," kata Mita pelan.


"Jangan pasrah. Cinta harus diperjuangkan. Kalau kamu merasa ayahku mencintai kamu setengah hati. Kamu harus berusaha untuk membuat cinta itu utuh untuk kamu. Karena kamu adalah istri sah dan satu-satunya. Kamu tidak bersalah jika berusaha menghapus cinta ayah terhadap bundaku."


Mita tersenyum. Dia memeluk Alda. Saran dan nasehat dari Alda adalah hal yang membuat hatinya mantap untuk menjalankan rencananya. Mita juga menyadari jika Alda sudah benar benar kembali seperti sahabatnya seperti dulu.


"Bagaimana kamu dengan Nino," tanya Mita untuk mengalihkan pembicaraan. Dia tidak ingin Alda terus membicarakan hubungannya dengan Willy.


"Masih saling mencintai," jawab Alda singkat.


"Syukurlah Alda. Yang terbaik untuk kamu dan Nino."


"Bagaimana rasanya pacaran dengan seumuran Alda."


"Aku tidak akan memberitahu kamu. Nanti kamu jadi ingin pula karena mendengar cerita aku," jawab Alda sambil tertawa. Mita mencubit Alda.


"Awas ada yang lihat Mita. Nanti kamu dibully karena sudah mencubit anak tiri kamu sendiri," kata Alda lagi sambil tertawa. Mita melepaskan tangannya dari kulit Alda dan memandang sekeliling. Alda semakin tertawa terbahak-bahak.


"Takut juga kamu ternyata dicap ibu tiri kejam."


"Alda,"


"Iya ma."

__ADS_1


Alda kembali tertawa karena berhasil membuat Mita kesal. Alda berlari dari paviliun itu ketika Mita hendak mencubitnya kembali.


__ADS_2