Mencintai Ayah Sahabatku

Mencintai Ayah Sahabatku
Pisang Ambon


__ADS_3

Wajah Willy berseri. Malam pertama bersama dengan Mita sungguh adalah kebahagian bagi dirinya. Selain Willy bahagia karena dia yang pertama bagi Mita. Willy juga merasa terhibur dengan tingkah polos istrinya itu.


Mita menutup tubuhnya dengan selimut. Permainan kedua mereka ternyata lebih nikmat, sakitnya tetap ada. Tetapi rasa nikmat itu membuatnya Mita ingin dan ingin lagi. Dia tidak menyangka bahwa bercinta itu nikmatnya tiada Tara.


"Om, kita belum makan malam loh," kata Mita sambil menatap mata suaminya. Demi apapun, bersama Willy seperti ini, Mita juga merasakan kebahagiaan. Saat ini jam sudah menunjukkan angka sepuluh malam.


"Kamu lapar sayang?"


"Iya sayang," jawab Mita malu malu. Perutnya memang benar benar lapar apalagi tenaganya baru terkuras karena pembobolan gawang tadi. Willy merasa senang dengan panggilan itu. Willy mengecup kening Mita cukup lama.


Willy menyingkapkan selimut itu. Willy berdiri tanpa berpakaian. Melihat hal seperti itu membuat tubuh Mita kembali bereaksi. Tapi Mita tetap berbaring di ranjang itu. Perut laparnya adalah hal yang terutama saat ini.


Willy keluar dari ruang ganti. Dia hanya memakai celana karet dan kaos tanpa lengan.


"Tetap disini sayang. Aku akan mengambil makanan untuk kita,"


"Dengan seperti itu?" tanya Mita. Willy mengangguk.


"Sini deh om." Willy menurut. Dia berdiri di sisi ranjang. Sedangkan Mita bergeser ke arah pinggir ranjang dan memiringkan tubuhnya menghadap Willy.


"Kan benar dugaan aku. Om tidak memakai segitiga pengaman," kata Mita sambil menurunkan celana karet Willy. Willy terkekeh. Batang itu sedikit mengeras tapi tidak sekeras seperti membobol gawang Mita tadi. Dia sengaja tidak memakai segitiga itu, supaya ronde berikutnya tidak repot repot untuk membukanya.


"Biar saja begitu sayang. Nanti biar lebih mudah untuk enak enaknya,"


"Kita nanti main lagi?" tanya Mita dengan wajah berbinar. Setelah merasakan hal pertama tadi. Mita merasakan tubuhnya meminta dan meminta lagi.


"Ya sayang. Setelah kita makan malam,"

__ADS_1


"Tapi tetap saja. Om harus pakai segitiga pengaman. Ininya menonjol loh om. Aku tidak mau para pekerja di rumah ini. Ikut melihatnya."


Willy terkekeh. Willy menaikkan celananya dan kembali masuk ke ruang ganti. Diperhatikan sedetail itu oleh Mita, Willy semakin merasa berbahagia. Hampir enam belas tahun. Willy tidak pernah mendapat perhatian seperti itu. Bahkan dari Sofia pun. Partner ranjangnya sebelum berpacaran dengan Mita. Padahal kalau dilihat dari usia. Sofia jauh lebih matang dari Mita. Willy merasa tidak salah pilih menjadikan Mita gadis berusia belia itu menjadi istrinya.


"Masih menonjol?" tanya Willy setelah ke luar dari ruang ganti. Mita menggelengkan kepala. Mita tersenyum sambil memandang tubuh Willy yang sudah membuka pintu kamar.


Mita menutup wajahnya sambil menggelengkan kepala. Sendiri di kamar, mengingat dirinya pada adegan percintaannya dengan Willy. Mita merasa malu ketika mengingat, tangannya sendiri lah yang membantu milik Willy untuk merobek milik berharganya.


Mita menutup kepalanya dengan selimut ketika mendengar pintu kamar terbuka. Willy mengerutkan kening melihat kelakuan istri kecilnya. Willy meletakkan baki berisi makanan itu di atas meja sofa dan mendekat ke Mita.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Willy heran. Willy menarik selimut itu tetapi Mita juga semakin kuat menahan.


"Om jangan, aku malu,"


"Buka selimutnya. Kamu malu karena apa sayang?"


"Kamu hot, kamu nikmat sayang,"


"Om, tidak menilai aku murahan dan liar kan?"


"Kenapa kamu bisa bertanya hal itu sayang?" tanya Willy lembut.


"Aku takut om menilai aku seperti itu karena aku yang membantu pisang Ambon itu masuk ke milikku." Willy terkekeh dan merasa lega. Willy merasa geli karena Mita menyebut miliknya pisang Ambon. Selain itu Willy juga bangga. Mita menyebut miliknya dengan sebutan pisang Ambon itu artinya Mita mengakui ukuran milik Willy besar. Karena jelas Willy tahu pisang Ambon berukuran besar.


"Kita melakukannya setelah halal dan pisang Ambon ku yang pertama menerobos masuk ke dalam. Tidak mungkin aku menilai kamu seperti itu sayang. Yang ada aku senang dan terkesan karena kamu memberikan warna tersendiri di malam pertama kita. Bahkan bisa aku pastikan ini momen terindah dalam hidupku dan aku akan mengingatnya terus," jawab Willy sambil menatap mata Mita. Tangannya membelai rambut Mita yang masih berbaring.


"Baiklah om, kita makan. Aku sudah sangat lapar,"

__ADS_1


Tetap di sini," kata Willy sambil membantu Mita duduk dan membuat wanita itu duduk bersandar. Ketika bergerak mengangkat pinggulnya, Mita dapat merasakan perih di pangkal pahanya. Tetapi Mita tidak seperti wanita lainnya yang membesar besar rasa sakit itu. Mita hanya meringis saja.


Willy menarik kursi rias itu ke dekat ranjang. Kemudian Willy mengambil baki berisi makanan. Willy menyendok nasi dan menyuapkan ke mulut Mita. Mita tidak protes. Perutnya sungguh lapar dan harus segera di isi. Willy kemudian menyendok makanan itu untuk dirinya sendiri.


Hingga makanan itu habis tidak bersisa, Willy dengan sabar menyuapi Mita.


"Aku menyimpan ini ke bawah sebentar," kata Willy setelah makanan itu habis.


"Makasih om,"


"Sama sama sayang," jawab Willy sambil tersenyum. Dia berdiri dan keluar dari kamar.


"Om," panggil Mita setelah melihat Willy sudah masuk kembali ke kamar. Setelah menutup pintu. Willy membuka baju dan semua yang melekat dalam dirinya. Willy mendekat ke ranjang. Pisang Ambon itu terlihat menggantung dengan ukuran yang belum sempurna.


Willy balik ke ranjang. Seperti Mita yang bersandar ke kepala ranjang. Willy juga melakukan hal seperti itu. Willy menarik selimut yang sama yang menutupi tubuh Mita untuk menutupi tubuhnya juga. Willy menuntun tangan Mita untuk meraba tubuhnya. Dan tangan Willy juga sudah bergerak aktif di tubuh Mita.


Setelah merasa pisang Ambon itu siap bertempur dan merasakan Mita yang ingin lebih dari sekedar sentuhan. Willy mengangkat tubuh Mita untuk duduk di pahanya dan menghadap ke dirinya sendiri. Mita tidak menolak. Dia menurut apa saja yang diinginkannya Willy.


"Bergerak sayang," kata Willy setelah pisang Ambon itu sudah masuk. Dia mengajari Mita untuk menggerakkan pinggulnya. Mita mengikuti seperti apa yang diajarkan Willy. Awalnya gerakan itu lambat. Lama kelamaan gerakan itu semakin tidak terkendali. Apalagi Willy sudah memainkan gunung kembar milik Mita.


Mita terus bergerak tanpa lelah. Mulut keduanya sama sama mengeluarkan suara yang menandakan mereka merasakan kenikmatan. Hingga akhirnya Mita berhenti dan memeluk erat leher Willy. Sesuatu di dalam tubuhnya sudah meledak keluar.


"Kamu sangat hebat sayang," puji Willy. Dia benar benar merasa puas dengan aksi liar istrinya itu.


"Apakah setelah ini, aku akan hamil om?" tanya Mita. Seperti melupakan sesuatu, Willy turun dari ranjang. Dia membuka laci meja rias dan mengambil sesuatu dari sana.


"Minum ini sayang. Kita menundanya dulu," kata Willy sambil menyodorkan pil KB dan segelas air putih untuk Mita. Mengamati pil dan air putih itu Kemudian meminumnya. Willy kembali mengambil gelas itu. Untuk saat ini, Willy tidak ingin Mita hamil. Karena Willy tahu Mita ingin kuliah dan mewujudkan cita citanya. Willy tidak ingin, keinginan dan cita cita Mita terhambat hanya karena menikah dengannya. Selain itu Willy juga ingin melihat Mita tidak terbebani karena sudah menjadi istrinya.

__ADS_1


__ADS_2