Mencintai Ayah Sahabatku

Mencintai Ayah Sahabatku
Tugas Kelompok


__ADS_3

Para siswa berhenti bersorak. Ibu Rosa guru bahasa Indonesia sudah masuk ke ruangan kelas. Seperti biasa, ibu Rosa menyapa siswanya dan sapaan itu dibalas para siswa dengan serentak.


Ibu Rosa meminta para siswa untuk mengumpulkan nama nama kelompok. Alda dan Mita kelabakan, karena mereka belum sempat bertanya kelompok yang mana yang masih kurang. Insiden pernyataan cinta Nino ke Alda membuat mereka lupa akan tugas kelompok.


Setelah membaca nama nama kelompok dan menyesuaikan ke daftar absensi, akhirnya ibu Rosa memutuskan Alda dan Mita masuk ke kelompok Nino. Karena memang dari semua kelompok hanya kelompok Nino yang paling sedikit.


Nino bagaikan mendapat durian runtuh. Alda masuk ke kelompoknya suatu anugerah baginya. Berbeda dengan Alda. Masuk ke kelompok Nino, merupakan musibah baginya.


Setelah pelajaran bahasa indonesia selesai, Alda berusaha menegosiasi temannya untuk bertukar kelompok. Tapi semua orang yang diajaknya bertukar kelompok, tak satu pun yang mau. Sebab Nino sudah memberi kode teman temannya untuk menolak.


Bel pulang sekolah sudah berbunyi, para siswa sudah bersiap untuk pulang dan mengerjakan kelompok. Tapi tidak dengan kelompok Nino. Mereka belum mendapat kesepakatan tentang dimana mereka mengerjakan tugas kelompok.


"Kita di mana mengerjai tugas kelompok?" tanya Mita kepada teman teman kelompoknya.


"Terserah," jawab Alda ketus.


"Di rumah Alda saja," kata Azriel. Alda spontan melotot ke Azriel. Azriel hanya tersenyum.


"Di rumah melati saja," kata Alda masih ketus.


"Maaf, bukan aku menolak. Aku sih mau aja, kalau kita mengerjai tugas kelompok di rumah aku. Hanya saja kalian pasti tidak betah nanti, mamaku sangat cerewet," jawab Melati. Yang lain saling berpandangan.


"Kita di rumah Nino saja," jawab Azriel. Nino mengacungkan kedua jempol nya tanda setuju.


"Jangan, jangan. Daripada di rumah dia, lebih baik di rumah aku. Bentar!" aku minta ijin ayahku dulu," kata Alda cepat. Dia mengambil ponselnya dan menghubungi sang ayah. Semua merasa lega karena ayahnya Alda mengijinkan mereka untuk mengerjakan tugas kelompok di rumahnya.


Kini mereka sudah di rumah Alda. Kelompok beranggotakan tujuh orang itu sedang duduk di ruang tamu. Nino sebagai ketua kelompok sudah membagi tugas ke anggotanya. Mereka harus membuat satu makalah tentang permasalah lingkungan hidup. Dampak dan penanganan untuk mengatasi permasalahan tersebut. Makalah tersebut harus dipresentasikan Minggu depan.Membuat kelompok tersebut tidak boleh bermain main.

__ADS_1


Semua terlihat serius untuk mencari bahan membuat makalah. Ada yang mencari di majalah, buku bahkan media sosial. Hampir tiga jam mereka berdiskusi tapi hasilnya belum memuaskan. Karena sudah sore, mereka harus melanjutkannya besok.


"Alda, di rumahmu tidak ada kran air?, aku haus," kata Azriel. Tiga jam mereka di rumah Alda, setetes air pun tidak ada disuguhkan.


"Ada, itu di luar," jawab Alda cuek. Yang lain hanya tersenyum geli. Mereka mengeluarkan botol minum dari tas masing masing dan meminumnya.


"Parah tuan rumah ini," kata Doni sambil menggeleng kan kepala. Alda cuek saja.


"Kami pamit ya!" kata Melati.


" Tunggu!, jangan pulang dulu. Kita makan dulu baru kalian pulang," ucap Alda. Dia mengajak teman temannya ke meja makan. Ternyata di meja makan sudah terhidang berbagai menu makanan yang lezat. Teman temannya tidak menyangka Alda menyuruh pembantunya untuk masak makanan spesial buat mereka. Tanpa sengaja Mita melihat bayang Willy di tangga. Mita memastikan penglihatannya. Benar Willy di tangga teratas sedang berdiri dan tersenyum ke Mita. Mita tidak perduli. Dia terus makan dan menjawab setiap candaan para temannya.


Merasa diabaikan Mita, Willy turun dan bergabung bersama Alda dan temannya.


"Om Willy?" panggil Nino ketika Willy sudah duduk di bangku.


"Nino, jadi kamu satu sekolah sama putriku?" tanya Willy. Willy mengenal Nino karena Nino adalah anak dari relasi bisnisnya. Relasinya itu sering membawa Nino jika ada acara acara penting perusahaan. Dan memperkenalkan Nino sebagai penerus perusahaannya.


"Iya Nino, bahkan Minggu depan kita juga sepertinya akan ada acara. Perusahaan Xxxx mengundang om. Aku rasa papamu juga diundang," kata Willy. Kini mereka yang mendominasi pembicaraan di meja makan itu.


"Kalau begitu, ajak saja Alda om daripada sendiri," saran Nino. Alda langsung melotot ke Nino.


"Akan aku pikirkan, itupun kalau putriku bersedia," jawab Willy santai. Dia melirik ke Alda.


"Aku tidak mau," jawab Alda ketus. Willy hanya tersenyum melihat putrinya.


"Dengar sendiri kan Nino," kata Willy lagi. Nino hanya mengangguk. Alda dan temannya kini fokus makan sedangkan Willy hanya duduk sambil melipat tangannya di dada memandang satu persatu teman temannya putrinya.

__ADS_1


Ketika tatapannya ke Mita. Dia memandang Mita agak lama. Merasa dipandangi Mita juga melihat ke arah Willy. Willy mengedipkan sebelah matanya. Mita memasang wajah masam.


"Alda, om makasih ya!, makanannya sangat enak," kata Azriel


"Sama sama," jawab Alda singkat.


Nino dan yang lainnya sudah berdiri dan keluar dari ruang makan. Mereka harus segera pulang karena hari sudah sore.


"Kami pamit ya om," kata Nino. Mereka sudah mengambil tas masing masing dari sofa dan berjalan keluar dari rumah.


"Iya, hati hati bawa motornya," jawab Willy. Dia bersama Alda ikut sampai ke halaman untuk mengantar Nino dan yang lainnya.


"Mita, kamu bareng aku saja pulangnya," kata Azriel. Mita berpikir sejenak dan akhirnya mengangguk.


"Alda, aku pamit ya," kata Mita yang hanya pamit ke Alda. Rasa kesalnya tadi pagi melihat Willy dan Sofia membuatnya enggan untuk berbicara dengan Willy. Alda mengangguk. Mita berjalan dan naik ke motor Azriel.


"Peluk pinggang Abang dek, Abang takut kamu jatuh," kata Azriel ketika Mita sudah duduk di boncengannya. Spontan teman temannya tertawa. Sedangkan Mita memukul punggung Azriel dari belakang.


"Hei,, kapan jadiannya?" keren ya Abang adik, Panggilan yang sangat romantis," kata Doni. Azriel terkekeh.


"Belum jadian tapi akan jadian," jawab Azriel lagi membuat yang lainnya tertawa.


"Aku dukung Mita," kata Alda sambil mengacungkan jempolnya. Mita cemberut.


"Apaan sih Alda, gak iya banget deh!. Azriel masih banyak ngomong atau aku turun," kata Mita sewot. Azriel hanya terkekeh dan menjalankan motornya. Mereka tidak menyadari bahwa sedari tadi Willy mengepalkan tangan dan giginya rapat menahan cemburu.


"Ayah juga mau keluar tuan putri," kata Willy ketika teman teman Alda sudah menghilang di balik gerbang.

__ADS_1


"Ayah mau kemana lagi?, Ini kan sudah sore,"


"Masih sore belum tengah malam," kata Willy sambil mengecup pucuk kepala Alda. Willy berjalan ke garasi. Willy melambaikan tangannya ke Alda ketika keluar dari garasi. Alda membalas lambaian tangan ayahnya.


__ADS_2