
Hari yang ditunggu akhirnya tiba juga. Berbeda dengan pernikahan yang pertama yang hanya dihadiri oleh keluarga inti saat itu. Pernikahan kedua Willy bahkan mengundang banyak orang. Willy sengaja mengundang kerabat, para relasi bisnis dan para tetangganya. Sedangkan dari pihak Mita hanya mengundang para tetangga. Karena Mita mempunyai kerabat berdomisili di luar kota.
Wajah Willy tidak henti hentinya tersenyum. Membayangkan sebentar lagi statusnya akan berubah dan mempunyai istri sebaik dan secantik Mita, membuat duda keren nan tajir itu berkali kali melirik jam tangannya. Menunggu satu jam lagi serasa menunggu satu tahun.
Pandangannya Willy beralih ke Mita. Pujaan hatinya itu belum selesai dirias. Willy mendekat ke meja rias tersebut dan mengamati wajah Mita. Willy kembali melihat jam tangannya.
"Masih lama lagi," tanya Willy. Perias itu hanya menggelengkan kepala. Willy menoleh ke arah pintu. Putrinya Alda berdiri di sana dengan gaun yang indah. Alda tersenyum dan menghambur ke pelukan ayahnya.
"Ayah, selamat berbahagia," ucap Alda setelah melepaskan pelukannya.
"Ucapan selamat berbahagia nya nanti tuan putri. Saat ini belum sah,"
"Sekarang atau nanti sama saja ayah. Aku hanya ingin menjadi orang yang pertama untuk mengucapkan selamat ke ayah dan Mita," jawab Alda manja. Alda beralih menatap Mita dan membentangkan kedua tangannya. Melihat itu Mita berdiri dan memeluk Alda.
"Selamat ya Mita. Semoga berbahagia dengan ayah aku. Sebentar lagi, kamu akan menjadi ibuku," kata Alda tulus sambil tersenyum. Mita mengangguk kepala tetapi matanya sudah mulai berkaca kaca. Dia tidak menduga sebelumnya, jika Alda akan mengucapkan selamat untuknya. Mita mengambil tissue yang ada di meja rias itu dan menyeka air matanya sebelum keluar.
"Makasih Alda,"
"Calon pengantin jangan menangis. Nanti make up kamu luntur," kata Alda sambil mengelus lengan Mita.
"Alda, maaf. Aku ingin kita bersahabat untuk selamanya,"
"Ya, maaf diterima. Untung kekasih yang kamu sembunyikan itu ayah aku. Coba kalau yang lain. Sudah aku kutuk kamu jadi...,"
"Alda, jangan main kutuk kutuk donk. Kamu tidak ingat waktu kamu mau mengutuk untuk jadi pacar Nino. Kutukan itu berbalik ke kamu kan?" potong Mita cepat. Mita khawatir jika Alda mengutuk dirinya menjadi hal yang jelek dan berbalik ke Alda sendiri.
"Iya, iya. Cerewet," kata Alda ketus. Mita sangat senang mendengarnya suara Alda yang ketus. Itu artinya Alda sudah kembali menjadi sahabat nya. Mita tersenyum. Dia melirik ke Willy yang juga tersenyum ke arahnya.
__ADS_1
Alda keluar ruang rias setelah mendapat pesan dari Nino. Nino sudah tiba di gedung itu dan sedang mencarinya. Alda tidak ingin Nino kebingungan mencari dirinya.
Dua jam berlalu. Kini Mita dan Willy sudah sah menjadi sepasang suami istri. Sepasang pengantin itu sudah duduk di sofa mewah di pelaminan. Sedangkan para tamunya juga sudah terlihat menikmati hidangan mewah yang sudah tersaji.
"Selamat berbahagia untuk kita berdua sayang," bisik Willy mesra tepat di telinga Mita. Mita tersenyum malu dan mengangguk. Willy sudah mengganti panggilan menjadi sayang. Karena Willy berharap, Mita juga memanggilnya dengan sebutan sayang.
"Kamu suka dekorasinya?" tanya Willy lagi.
"Ya om, aku suka," jawab Mita.
"Suka mana. Aku atau dekorasinya,"
"Lebih suka ke om donk," jawab Mita sambil tersenyum. Dia melihat ke arah tangan yang sedari tadi digenggam Willy.
"Makasih sayang,"
"Om, ini masih di pelaminan. Seperti ada tempat lain saja" gerutu Mita sambil berbisik. Willy tadi dengan sengaja meletakkan tangan Mita di tempat area terlarangnya. Willy terkekeh. Mita merasa malu sendiri.
"Tidak om. Kenapa?"
"Aku tidak mau gagal malam pertama karena pengantin wanita menstruasi seperti cerita di novel,"
"Om suka baca novel,"
"Terkadang sayang. Bila ada waktu senggang. Berdiri sayang. Mereka mau mengucapkan salam kepada kita," kata Willy sambil membantu Mita berdiri. Beberapa para tamu sudah berjalan ke arah pelaminan.
Cukup lama Willy dan Mita berdiri untuk menerima ucapan selamat dari tamu undangan. Belum lagi yang minta foto bareng. Membuat antrian itu lama berkurang. Sama seperti Mita, Willy juga merasakan kakinya sangat pegal.
__ADS_1
Willy menarik nafas lega. Ucapan dari para tamu sudah tidak ada lagi. Willy mengajak Mita duduk. Willy memeluk Mita dengan penuh cinta. Mereka belum bisa meninggalkan pelaminan itu karena masih ada serangkaian beberapa acara lagi.
"Om, Lihat itu, wanita itu. Apa itu salah satu mantan kamu yang patah hati?" tunjuk Mita ke salah seorang wanita yang duduk menyendiri di pojok. Willy melayangkan pandangan ke arah wanita yang ditunjukkan oleh Mita.
Wanita itu adalah Keyla. Dia tidak diundang di pernikahan itu. Dan tidak juga ikut mengantri untuk mengucapkan selamat kepada Willy dan Mita. Apalagi untuk makan. Keyla tidak menyentuh makanan apapun. Keyla menyadari bahwa dirinya ditatap oleh sepasang pengantin baru itu. Keyla menunduk sambil mengusap air matanya.
"Itu Keyla sayang, bundanya Alda. Aku tidak mengundangnya. Tetapi kenapa dia ada di sini?" kata Willy bingung. Keyla sudah terlihat beranjak dari duduknya dan berjalan menuju pintu keluar.
"Om saja bingung. Apalagi aku," jawab Mita asal
****
Keyla berlari untuk ke luar dari gedung itu. Hatinya sangat sesak melihat Willy bersanding dengan wanita lain. Dia pernah di posisi seperti Mita saat ini. Tapi itu dulu karena terpaksa. Terpaksa menikah karena hamil. Air mata yang sudah berhamburan keluar dari matanya sedikit membuat pandangan kabur.
Keyla terus melangkah kakinya setengah berlari. Pandangannya yang semakin kabur membuat Keyla tidak bisa melihat dengan jelas ditambah lagi dengan suasana hatinya yang kacau balau.
"Perhatikan jalanmu," kata seseorang marah. Keyla tidak sengaja menabrak orang tersebut.
"Maaf om. Aku tidak sengaja," kata Keyla tulus. Dia mendongak menatap orang tersebut dan seketika dia terkejut.
"Kamu, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya kakek Jhon sinis. Walau sudah lama tidak bertemu kakek Jhon masih bisa mengenali mantan menantunya. Keyla masih memang terlihat cantik dan awet muda.
"Tenang saja tuan Jhon yang terhormat. Aku hanya ingin menyaksikan kebahagiaan putra tercinta mu itu," jawab Keyla juga sinis.
"Baiklah kalau begitu. Silahkan pergi," kata kakek Jhon ketus. Kakek itu bahkan menunjuk jalan keluar.
"Baiklah tuan Jhon, aku akan pergi. Tapi satu hal yang perlu kamu ingat. Aku akan datang kembali jika keadaan memaksa aku harus kembali ke putra kamu," jawab Keyla penuh teka teki. Kakek Jhon mengerutkan keningnya mendengar perkataan Keyla.
__ADS_1
"Apa maksudmu?"
"Aku berdoa semoga umur kamu panjang tuan Jhon. Aku ingin melihat kamu menangis darah menyesali perbuatan mu. Aku memang korban keangkuhan kamu. Tapi ada korban lain yang akan membuat kamu ingin cepat berlalu dari dunia ini," kata Keyla sengit. Keyla kemudian berlari meninggalkan kakek Jhon yang masih memikirkan kata kata Keyla.