
Flashback on
Satu Minggu yang lalu.
"Kemana aku harus mengantarmu?" tanya Azriel. Mereka sudah tiba di kota setelah menempuh perjalanan beberapa jam. Sore ini mereka sudah keluar dari jalur tol.
Mita masih berpikir. Untuk pulang ke rumah Willy. Mita Ragu. Seisi rumah sudah mengetahui dirinya kabur. Mita merasa malu jika kembali ke rumah itu. Untuk ke rumah nenek Ratmi juga Mita merasa ragu. Kedatangannya nanti di rumah neneknya. Pasti menimbulkan gosip di sekitar para tetangga.
"Aku mendengar semua pembicaraanmu dengan om Willy, Mita. Saran aku. Sebaiknya kamu menuruti persyaratan yang diberikan om Willy. Satu bulan ini kamu bisa berpikir dan melihat perubahan dalam diri om Willy. Perceraian adalah keputusan besar yang harus kamu pikirkan matang matang. Dan keputusan itu kamu putuskan bukan karena marah. Jangan gegabah mengambil keputusan. Kamu sudah pernah mengambil keputusan untuk menikah muda tanpa berpikir panjang. Jangan mengulang kesalahan yang sama. Status janda bukanlah status yang enak untuk didengar."
Mita menyimak perkataan Azriel. Kata kata itu sungguh mengena di hatinya. Melihat perjalanan menuju ke kota dengan jalanan licin dan situasi jalan yang rusak. Sebenarnya membuat hati Mita tersentuh melihat perjuangan Willy untuk menjemputnya. Sepanjang perjalanan, Mita memikirkan apa yang dikatakan Willy tadi. Sikap plin plan yang dia milikilah membuat masalah di rumah tangga mereka. Andaikan dia lebih berjuang untuk menghapus nama Keyla dari hati Willy mungkin Willy tidak akan terang terangan untuk mengejar cinta Keyla.
Mita sadar. Dia yang memberi peluang itu untuk Willy. Harusnya dia tidak menyarankan Willy dan Keyla untuk rujuk. Harusnya dirinya pura pura tidak mengetahui akan perasaan Willy terhadap Keyla. Harusnya Mita berjuang untuk mendapatkan cinta Willy utuh untuknya. Harusnya, harusnya dan harusnya. Itulah yang ada di pikiran Mita.
"Antar aku ke apartemen om Willy, Riel," kata Mita akhirnya. Sesuai dengan saran Azriel. Mita ingin menurut dengan persyaratan yang diberikan oleh Willy. Jika Willy bisa berubah mencintainya sepenuh hati. Mita akan kembali memperjuangkan cintanya. Mita akan melihat perjuangan Willy untuk menghapus nama Keyla dari hatinya.
Mita memasuki supermarket yang ada di gedung yang sama dengan apartemen milik Willy. Mita berencana untuk memasak makan malam di apartemen itu. Willy mengatakan akan menunggu Mita nanti malam. Dan karena saat ini masih sore. Maka Mita yang akan menunggu Willy di apartemen tersebut. Membuatkan makan malam sebagai permintaan maaf atas sikap kekanakannya.
Mita menyusuri rak rak itu mencari bahan makanan yang bisa diolah menjadi makanan enak. Tangannya terhenti karena seseorang memanggil namanya.
"Mita, akhirnya bertemu juga dengan kamu. Apa kabar?"
__ADS_1
Mita mengulurkan tangannya menyambut tangan Sofia. Mita masih ingat dengan wanita ini. Wanita yang menjadi partner suaminya di ranjang sebelum dirinya menjadi kekasih Willy. Mita tersenyum membalas senyuman wanita itu.
"Kabar baik Tante."
"Jangan panggil Tante. Panggil mbak saja."
Mita tersenyum dan melanjutkan memilih bahan makanan itu. Dalam hati, Mita penasaran akan keberadaan Sofia di supermarket ini.
"Mita. Kamu suka memasak?" tanya Sofia yang sudah ikut melihat rak. Mita hanya mengangguk.
"Kamu mau memasak untuk mas Willy?"
"Iya Tante.
"Maksud Tante apa?"
"Ah kamu payah Mita. Masa itu saja kamu tidak mengerti. Kamu memang status istri untuk mas Willy. Tapi yang membuat dirinya puas di ranjang tetap saja aku."
"Aku tahu itu Tante. Itu sebelum om Willy belum menikah denganmu," jawab Mita dingin. Dia tidak ingin terpancing dengan perkataan Sofia. Sofia tertawa terbahak-bahak. Beberapa pengunjung lain menoleh ke arah Mita dan Sofia. Sofia tidak perduli.
"Dasar bodoh. Semalam suamimu. Bermain sangat ganas seperti tidak mendapat jatah sebulan. Batangnya berkali kali on," bisik Sofia lagi. Mita mematung dan menggelengkan kepalanya. Niatnya untuk berpisah dari Willy tapi mendengar pengakuan Sofia. Mita masih merasakan dadanya sesak. Mita masih merasakan cemburu membayangkan Willy bercumbu dengan wanita lain.
__ADS_1
"Kamu tidak percaya?. Ayo ikut aku," kata Sofia sambil menarik tangan Mita keluar dari supermarket itu.
"Buka pintunya," kata Sofia. Mita mengulurkan tangannya memencet password pintu apartemen itu. Hingga dua kali Mita menekan nomor nomor yang diingatnya sebagai sandi. Pintu itu tetap tertutup.
"Awas," kata Sofia menyingkirkan tangan Mita. Sofia menekan angka angka. Pintu apartemen itu terbuka. Mita percaya. Bahwa Sofia kembali partner ranjang untuk Willy. Mita semakin merasakan hatinya berdenyut nyeri. Sofia kembali dipercaya untuk mengetahui sandi pintu apartemen Willy. Bahkan Willy mengubah sandi tersebut.
Mita masuk ke apartemen itu. Mengikuti langkah Sofia yang berlagak seperti pemilik apartemen. Sofia membawa Mita ke kamar Willy. Mita tersenyum sinis. Sofia bahkan bebas memasuki ruangan pribadi suaminya.
"Ini buktinya," kata Sofia setelah keluar dari kamar mandi dengan beberapa karet pengaman bekas pakai. Mita merasa jijik. Mita memalingkan wajahnya dan keluar dari kamar itu. Dia tidak menyangka hanya satu hari saja kabur, Willy sudah kembali bersama Sofia. Apalagi melihat karet pengaman itu lebih dari satu. Mita benar benar muak.
Mita melangkah lesu menuju ruang tamu. Benar kata Sofia. Jika dirinya dan Sofia sama sama mempunyai fungsi yang sama untuk Willy. Hanya pemuas kebutuhan biologis. Mita hanya beruntung sedikit mempunyai status jelas sedangkan Sofia mempunyai harta yang banyak atas hasil kerja kerasnya di ranjang melayani Willy.
"Mas, Willy hanya mencintai mantan istrinya. Sama seperti kamu. Aku juga masih suci ketika pertama kali disentuh oleh mas Willy. Tapi kamu beruntung. Kamu dinikahi secara resmi sedangkan aku hanya pelampiasan kemarahannya. Tapi aku yakin, suatu saat nanti. Mas Willy pasti menyadari ketulusan cintaku," kata Sofia sedih.
"Tujuanmu mengatakan ini. Supaya aku menyerah" tanya Mita dingin. Sofia menggelengkan kepalanya.
"Tidak sama sekali. Tanpa kamu menyerahpun. Aku yakin mas Willy pasti merindukan belaian aku. Tapi kalau kamu menyerah pun. Aku rasa. Itu lebih baik. Aku bisa menjadi wanita satu satunya yang melayaninya di ranjang."
"Mimpi kamu Tante. Kamu bilang, om Willy hanya mencintai mantan istrinya. Itu artinya jika aku menyerah. Masih ada wanita lain di hatinya."
Mita merasakan dadanya seperti diremas ketika mengatakan itu. Mengingat suaminya masih mencintai mantan istrinya dan membagi tubuhnya dengan wanita lain membuat Mita merasa sangat yakin untuk menuntut cerai tanpa menurut dengan persyaratan yang diajukan oleh Willy. Mita keluar dari apartemen meninggal Sofia di sana. Tekadnya hanya satu. Bercerai dari Willy.
__ADS_1
Flashback off.