
Willy menjalankan mobilnya dengan kencang. Menatap jalanan dengan fokus tapi pikirannya bercabang. Ke Alda dan ke Mita. Willy berpikir apa maksud dan tujuan Alda menyuruh seseorang untuk menguntitnya. Selama ini, Willy menjadi orang tua tunggal bagi Alda. Willy berusaha melimpahkan kasih sayangnya.
Bahkan Willy berkali kali menolak saran orang tuanya untuk menikah kembali. Selain karena masih sakit hatinya belum sembuh, Willy juga takut mendapat istri baru yang tidak menyayangi Alda. Hingga umur Alda sudah enam belas tahun, Willy tetap melajang. Itu semua supaya kasih sayangnya kepada Alda tetap utuh.
Walau Willy menjalin asmara dengan Mita, kasih sayang Willy juga tidak berubah untuk Alda. Alda masih tetap prioritas pertama dalam hidupnya. Tapi putrinya itu, sejak satu Minggu bertemu dengan Keyla bundanya. Alda seakan lupa sakit hati ayahnya. Padahal sejak pertama bertemu dengan Keyla, Willy sudah menceritakan semuanya ke Alda. Tapi kerinduan Alda akan kasih sayang bundanya menutup hatinya akan sakit hati Willy.
Willy tersentak dari lamunannya, ketika ponselnya ada notifikasi pesan singkat. Willy mengabaikannya, dia berpikir itu dari provider atau pesan tidak penting lainnya. Ponsel itu kembali berdering. Dengan tangan kirinya Willy mengambil ponsel itu dari saku celananya. Nomor yang tidak dikenal. Tanpa menjawab Willy meletakkan ponsel itu di bangku sebelah. Willy merasa malas menjawab panggilan jika nomornya tidak dikenal.
Ponsel itu kembali berdering, Willy jadi penasaran dan menjawab panggilan tersebut.
"Om, ini aku Via. Ini nomor aku ya," jawab Via dari seberang setelah Willy mengucapkan halo. Gadis itu tidak ada tanda tanda gugup ketika berbicara malah terkesan ceria. Sangat berbeda ketika di warung tadi. Tanpa menjawab, Willy memutus panggilan tersebut dan melemparkan ponsel itu pelan ke bangku tadi. Willy kecewa karena yang menelepon itu adalah penguntit. Dia berharap yang menelepon itu adalah sang kekasih
Willy menjalankan mobilnya pelan, ketika mau berbelok. Willy terlihat mengamati seseorang. Setelah yakin dengan penglihatannya, Willy tersenyum dan memutar setirnya berbelok masuk ke gang. Dengan pelan, Willy menutup pintu mobil. Ya, saat ini dia sedang di halaman rumah Mita.
Willy berjalan pelan masuk ke dalam rumah. Rumah yang tidak di kunci memudahkan Willy masuk. Willy mengintip ke kamar Mita. Kamar itu kosong. Di atas tempat tidur, buku buku pelajaran Mita berserakan. Willy duduk di sofa setelah mendengar suara orang mandi dari arah dapur. Willy yakin, bahwa yang mandi itu adalah Mita. Karena di persimpangan gang, dia melihat nenek Ratmi hendak bepergian dengan tas yang lumayan besar.
Dengan santai dan senyum, di wajahnya Willy duduk di sofa. Membayangkan Mita keluar dari kamar mandi dengan hanya handuk yang dililit sebatas dada, membuat tubuhnya berkedut.
"Willy, sejak kapan kamu di sini."
Willy terkejut dengan suara yang menyapa. Cukup lama menunggu membuat Willy tadi bosan dan akhirnya bermain ponsel. Wajahnya yang menunduk, kini memandang ke arah suara yang memanggilnya. Willy terkejut. Orang yang dikiranya mandi di kamar mandi ternyata bukan Mita melainkan Rudi calon mertuanya. Perkiraan Willy salah seratus persen. Calon mertuanya yang sudah berpakaian rapi dari kamar mandi akhirnya ikut duduk di sofa.
"Masih baru beberapa menit om, pintu terbuka. Aku langsung masuk saja," jawab Willy setelah rasa terkejutnya hilang. Dia ingin bertanya kepada Rudi tentang Mita. Willy merasa segan dan akhirnya menanyakan hal lain ke Rudi. Mereka berbincang cukup akrab.
"Mita kemana om?" tanya Willy akhirnya. Tujuan datang ke rumah nenek Ratmi untuk bertemu Mita. Tetapi sedari tadi kekasih hatinya itu tidak terlihat.
"Tadi di sini belajar, apa dia tidak ada di kamarnya. Aku kira, Mita sudah mengetahui kedatangan kamu."
Willy seketika merasa cemas mendengar jawaban Rudi. Kalau Mita tadi belajar di sini, itu artinya buku yang berserakan di atas tempat tidur diletakkan asal. Willy menduga Mita mengetahui kedatangannya dan Mita sengaja menghindar.
"Mita," panggil Rudi dan berdiri dari tempat duduknya. Rudi membuka pintu kamar Mita.
"Nak, itu Willy datang," kata Rudi yang melihat Mita membaca buku di atas tempat tidur. Willy yang mendengar Rudi berbicara merasa yakin Mita memang benar benar menghindar darinya. Willy yakin, ketika pertama masuk ke rumah dan melihat kamar Mita, jelas jelas Mita tidak di kamar. Ruang tamu yang langsung berhadapan dengan kamar Mita, jelas Willy bisa melihat siapa saja masuk atau keluar dari rumah atau masuk ke kamar Mita. Hingga Rudi sudah duduk kembali di sofa. Mita tidak kunjung keluar.
"Harap maklum Willy, begitulah kalau menjalin hubungan dengan wanita muda bahkan wanita belasan tahun. Harus ekstra sabar. Belum lagi kalau kekanak kanaknya kambuh. Kamu harus lebih ekstra sabar lagi,"
"Iya om,.aku mengerti. Aku juga mempunyai putri seusia Mita,"
"Mita," panggil Rudi lagi. Mita dengan muka cemberut tapi terlihat cantik keluar dari kamar. Dia tidak menatap Willy sama sekali. Willy hanya tersenyum memandang kekasihnya itu.
__ADS_1
"Ayah mau keluar dulu, ayah akan cepat pulang," kata Rudi pengertian. Sebenarnya tidak ada niat keluar sore ini. Tapi menyadari ada sesuatu yang tidak beres antara Willy dan Mita, Rudi memberi ruang dan waktu untuk sepasang kekasih beda usia itu.
"Baby, aku kangen," kata Willy lembut dan menoleh ke luar rumah. Rudi tidak terlihat lagi, Willy pindah duduk ke samping Mita. Mita tidak menjawab Willy. Dia bahkan memalingkan muka dan bergeser ketika Willy mendekat ke dirinya. Benar kata Rudi. Willy harus sabar menghadapi Mita yang sifat kekanakannya kambuh.
"Sembunyi di mana tadi?"
"Di kolong tempat tidur," jawab Mita cepat. Tapi wajahnya masih memandang ke arah luar rumah. Willy tertawa mendengar jawaban polos Mita.
"Kenapa menghindar?" tanya Willy lagi. Mita kembali diam.
"Jangan bilang karena mau ujian nasional," kata Willy lagi.
"Emang benar kok, gara gara itu," jawab Mita tapi pandangan masih tetap ke luar rumah.
"Jangan bohong baby, jawab aja dengan jujur. Kenapa menghindari om?" kata Willy serius.
"Kita putus aja om," kata Mita sedih. Mita menundukkan kepalanya. Sedangkan Willy hanya menatap Mita dan masih diam.
"Kenapa?" tanya Willy setelah ada beberapa menit mereka hanya diam saja.
"Alda ingin om kembali dengan bundanya. Apalagi bundanya Alda sekarang sudah kembali. Aku tidak mau Alda bersedih jika om tidak mau kembali ke bundanya Alda om,"
"Terus salah aku dimana?" tanya Willy masih terus menatap Alda.
"Tidak ada alasan kita putus. Aku tidak punya kesalahan kenapa harus aku yang sakit hati?. Berhenti mengatakan putus sampai kapanpun aku tidak akan balik dengan bundanya Alda. Lagipula Alda tidak tahu tentang hubungan kita. Dan kita juga tidak tahu reaksi Alda jika dia mengetahui hubungan kita. Bisa saja dia menyetujui. Kamu adalah sahabat sejatinya,"
"Tapi om?"
"Berani kamu bilang tapi dan ngotot minta putus. Malam ini juga aku akan menyentuhmu. Aku tidak perduli tetangga atau om Rudi mengetahui. Bagi aku itu lebih bagus. Kita bisa dinikahkan secepatnya," jawab Willy serius. Mita bergidik ngeri jika dia harus kehilangan kehormatan malam ini. Apalagi sampai tetangga menggerebek atau ayahnya tiba tiba datang. Mita sampai menggeleng kepala membayangkan itu terjadi.
"Masih berani?" tanya Willy menantang Mita.
"Tapi om?"
Willy berdiri dari duduknya mendengar kata tapi dari mulut Mita. Willy membuka bajunya dan ikat pinggang. Seketika Mita takut. Mita menyadari bahwa Willy tidak main main dengan ucapannya.
"Om, sudah om. Kenakan lagi. Aku takut tetangga ada yang lewat dan melihat om seperti itu," kata Mita ketakutan. Pandangan beralih keluar rumah. Pintu utama yang terbuka, bisa langsung melihat keluar begitu juga sebaliknya. Mita berharap tidak ada tetangga yang lewat dari depan rumahnya.
"Masih berani bilang putus?" tanya Willy lagi. Mita masih diam dan kesal dengan Willy yang nekat membuka bajunya. Melihat Mita diam, Willy kembali melakukan aksinya. Willy sudah membuka ikat pinggangnya.
__ADS_1
"Jangan om. Iya. Kau tidak minta putus lagi," jawab Mita ketika Willy hendak membuka pengait celananya. Willy menghentikan aksinya. Dia mengambil ikat pinggang dan mengenakannya kembali. Begitu juga dengan baju, Willy kembali memakai baju tersebut. Kini Willy sudah seperti sebelumnya. Berpakaian rapi.
"Gitu baru anak pintar," puji Willy sambil mengacak rambut Mita. Mita cemberut dan menepis tangan Willy pelan.
"Tapi bagaimana kalau Alda tidak suka dengan hubungan ini om?"
"Kita akan berusaha supaya dia menyukai,"
"Kalau tidak berhasil,"
"Jangan pesimis, pasti berhasil. Optimis donk," kata Willy. Willy mencubit kedua pipi Mita dengan pelan.
"Aku hanya takut kecewa om,"
"Kamu tidak akan kecewa. Percaya kepada om," kata Willy serius dan menatap bola mata Mita. Mita yang ditatap kembali menunduk. Bertemu mata dengan Willy, Mita tidak akan tahan.
"Kamu kenal Via teman satu SMP kalian," tanya Willy. Mita mengangguk.
"Alda menyuruh Via untuk menguntit aku. Tapi kamu tidak perlu khawatir. Via belum pernah melihat kita bersama,"
"Aku tidak heran om. Mita sudah cerita akan hal itu," jawab Mita datar. Willy terkejut. Tidak menyangka bahwa Mita juga mengetahui bahwa Alda menyuruh seseorang untuk menguntitnya.
"Yeah, ternyata putriku bersekongkol bersama kekasih aku untuk menguntit aku," kata Willy akhirnya. Tidak raut kemarahan di wajahnya ketika mengetahui bahwa Mita juga mengetahui tentang Via.
"Maaf om, bukan aku berniat untuk menyembunyikan itu. Alda hanya ingin menjaga om dari Tante Sofia atau tante lainnya yang gila harta. Bukankah itu juga menguntungkan aku?. Jadi untuk apa aku memberitahu Om," jawab Mita dengan senyum tipis di wajahnya. Willy tertawa dan merangkul bahu Mita.
"Iya. Iya. Kekasihku dan putriku memang sama sama pintar. Kalian pasti akan sahabat selamanya,"
"Amin om. Aku juga berharap aku dan Alda akan tetap sahabat sampai selamanya," kata Mita penuh harap. Willy juga mengangguk mengaminkan ucapan Mita.
"Ke kamar yuk," ajak Willy kepada Mita. Mita mendongak menatap wajah Willy.
"Mau ngapain om, kalau mau ke kamar mandi. Kamar aku tidak ada kamar mandinya. Om ke sana saja kalau kebelet," jawab Mita sambil menunjuk kamar mandi dekat dapur. Willy menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Om bukan kebelet mau pipis. Om mau kebelet mau cium kamu,"
"Kenapa mesti ke kamar om. Aku takut ayah pulang atau tetangga merasa curiga. Mobil om yang terparkir, tetangga pasti tahu kalau aku ada tamu," jawab Mita dengan senyum jahil di wajahnya. Willy kembali menggaruk kepalanya.
"Jadi gimana donk?"
__ADS_1
"Tahan, tahanlah om. Di sini juga tidak memungkinkan untuk berciuman. Tuh lihat!. Ruang tamu ini juga langsung bisa dilihat dari luar..."
"Mita tidak melanjutkan ucapannya. Willy langsung menyambar bibir ranum itu. Mita memukul punggung Willy dengan pelan. Willy tidak perduli. Dia tetap melanjutkan ciumannya itu. Duduknya yang menghadap keluar juga mengawasi keadaan diluar.