Mencintai Ayah Sahabatku

Mencintai Ayah Sahabatku
Penyesalan Mita


__ADS_3

Mita menatap punggung Willy yang semakin menjauh. Setelah mendengar perkataan Willy akan memikirkan rujuk dengan Keyla membuat dadanya sesak. Ternyata berbicara itu sangat gampang. Tapi efeknya sangat luar biasa. Seperti hari ini Mita yang terlalu gampang meminta kepada Keyla dan Willy untuk rujuk. Tetapi setelah mendengar jawaban Willy, Mita sudah merasa tersisihkan. Mita memegang dadanya yang semakin sesak. Air mata itu tidak bisa ditahan lagi. Mengingat Willy mengakui masih mencintai Keyla, membuat air mata itu semakin deras berhamburan keluar.


Mita mengusapnya kasar. Mita merasa bodoh seketika. Mita merasa apa yang dirasakan Willy kepadanya bukalah cinta melainkan obsesi. Mita baru sadar. Bahwa dirinya lah yang terlalu mencintaimu Willy. Sedangkan Willy hanya terpesona dengan kecantikannya dan bisa jadi hanya untuk mencicipi seorang gadis perawan.


Mita tiba tiba mengingat semua penolakan nenek Ratmi ketika pertama kali sang nenek mengetahui hubungannya. Mita dapat melihat bahwa apa yang dikatakan sang nenek sudah terbukti sekarang. Masih hitungan bulan berumah tangga. Willy sudah berani mengakui masih mencintai sang mantan istri. Dan bahkan berkata akan memikirkan akan kembali rujuk.


Mita turun dari ranjang. Berdiri di depan cermin dan melihat wajah sembabnya. Mita mengulurkan tangannya untuk mengambil sesuatu dari laci. Dia mengambil pil kontrasepsi dari laci tersebut dan meminumnya. Dia tidak ingin lagi untuk mengandung anak dari suami yang mencintainya setengah setengah. Mita berubah pikiran. Dia tidak akan membiarkan masa mudanya hanya untuk menjadi pemuas nafsu suaminya. Mita berencana akan melanjutkan studi di luar kota.


Mita berbalik ketika mendengar suara pintu kamar mandi terbuka. Mita berjalan menuju meja kecil di sudut kamar itu. Mita mengeluarkan bukunya dan pamit ke kamar Alda. Saat sedih seperti ini. Mita butuh untuk teman berbagi.


"Om, aku mau ke kamar Alda."


Willy hanya menjawab iya ketika Mita berpamitan hendak ke kamar Alda. Di depan pintu Mita memberanikan membalikkan tubuhnya. Dia melihat Willy menyemprotkan parfum ke tubuhnya. Dan dari cermin. Mita bisa melihat wajah binar sang suami. Mita melihat Willy sepertinya sangat bahagianya. Setelah ini, Mita tahu bahwa Willy pasti akan ke kamar Billy. Mita akhirnya melangkah menjauh dari kamar itu menuju kamar Alda.


Mita membuka kamar itu pelan, pemiliknya belum pulang. Mita merasa kamar ini tempat yang cocok untuk menyendiri. Mita yakin, Alda akan lama pulang. Bersama Nino, Alda akan lupa dengan waktu. Mita perlahan masuk. Mita melihat dinding yang penuh dengan foto Alda. Foto Alda dan dirinya ketika mereka sejak berseragam putih biru. Berbagai pose dengan senyum yang ceria. Mita tersenyum melihat foto foto itu. Persahabatannya dengan Alda adalah persahabatan yang sangat manis. Tetapi sejak dirinya menikah dengan Willy, persahabatan itu perlahan berjarak. Dan Mita sadar. Jarak itu ada karena dirinyalah yang membuat.


Mita pernah berpikir, setelah hubungan dengan Willy mendapatkan restu dari Alda. Persahabatan mereka akan kembali berjalan normal seperti biasanya. Mita ternyata salah. Alda kini menerima dirinya hanya sebatas ibu tiri. Walau tidak ada kebencian dan sifat ketus dari Alda untuk dirinya. Mita dapat merasakan Alda semakin jauh darinya. Dan setelah lebih satu bulan tinggal di rumah ini. Mereka hanya berbincang biasa tidak seperti dulu yang penuh canda tawa. Alda semakin sibuk dengan Keyla dan Billy juga sering keluar rumah dengan Nino. Sedangkan Mita sibuk menjadi istri Willy.


Mita menarik nafas panjang. Keputusan menikah dengan Willy ternyata tidak hanya mengubah persahabatan antara dirinya dan Alda. Mita juga semakin bisa melihat cinta Willy yang hanya setengah untuk dirinya. Sangat berbeda ketika mereka belum menikah. Kala itu, Mita dapat merasakan cinta Willy benar benar tulus. Apalagi Willy menjaga kehormatannya sampai Menikah. Membuat Mita sangat yakin jika cinta Willy sangat suci dan tulus.


Hingga di awal pernikahan, hari hari pertama pernikahannya. Willy memujanya seakan akan bahwa dirinyalah wanita satu satunya di hati sang suami. Tetapi sejak rahasia kepergian Keyla terkuak. Mita dapat merasakan cinta Willy terbagi. Walau tidak terang terangan Willy membaginya Mita dapat melihat dari cara Willy yang menatap dan memanggil nama Keyla.


Mita terduduk di ranjang milik Alda. Kalau dulu dia mengagungkan persahabatan dengan Alda kini Mita menyesali sikapnya yang tidak terbuka dan lebih mengutamakan cinta dibandingkan persahabatan mereka. Alda adalah teman suka dan duka baginya sejak berseragam putih abu abu. Tapi Mita sudah mengubahnya sejak berpacaran dari Willy. Mita memilih menyimpan asmaranya bersama sang ayah sahabat daripada bercerita kepada sahabat seperti yang dilakukan Alda kepadanya. Itulah awal kekecewaan bagi Alda yang membuat persahabatan mereka renggang.


Mita menyadari, seandainya sejak awal Mita terbuka kepada Alda. Alda akan banyak memberi masukan. Bagaimanapun dibandingkan dirinya, Alda lebih mengetahui sifat asli dari suaminya. Tetapi semuanya sudah terlambat. Mita sudah pernah mengecewakan Alda dan kini sudah menikah dengan Willy.


Mita tidak dapat lagi menahan air matanya. Menyadari sikap egoisnya dan terlalu mudah jatuh akan pesona Willy membuat Mita merasa semakin bodoh. Harusnya Mita berusaha menghindar atau bersikap jual mahal. Tapi pesona ayah sahabatnya itu bisa membuat Mita seakan terbius sehingga rela dicium pertama kali bertemu. Yang membuat Mita sedih, penyesalan itu datang setelah pernikahan dan setelah mengetahui cinta Willy tidak utuh untuknya. Dan penyesalan itu juga karena renggangnya persahabatan dirinya dengan Alda yang kini menjadi anak tirinya.


Mita mengusap air mata itu ketika menyadari pintu kamar dibuka. Mita tidak mengetahui siapa yang datang. Tapi siapa pun itu. Mita tidak ingin menunjukkan dirinya menangis di hadapan orang lain. Mita berpikir jika itu adalah Willy yang akan berpamitan hendak mengantar Keyla sepertinya sarannya tadi. Mita masih membelakangi pintu dan tidak berniat melihat.


"Mama, ngapain di kamar aku?"

__ADS_1


Mita menarik nafas lega setelah mendengar suara Mita. Dia berbalik dan tersenyum. Jelas sekali ada jarak diantara mereka. Alda langsung masuk ke kamar mandi tanpa mendengar jawaban darinya. Mita merasakan hatinya berdenyut nyeri. Alda mengabaikan dirinya lebih menyakitkan dibandingkan mendengar pengakuan Willy. Senyum yang sudah terukir sebelum kini memudar menjadi wajah yang menyedihkan. Mita ingin sekali menangis.


"Aku kebelet ma, Tumben masuk ke kamar aku. Ada apa ma?" tanya Alda lembut. Seperti biasa dia memanggil Mita dengan sebutan mama. Dan inilah membuat Mita merasa ada jarak diantara mereka. Padahal sebelumnya Alda sudah berkata akan memanggilnya nama saja jika mereka berduaan. Mendengar perkataan Alda karena kebelet, Mita merasa lega. Itu artinya Alda tidak bermaksud untuk mengabaikan dirinya.


"Bisa kita seperti dulu Alda. Aku rindu kamu menyebut namaku," kata Mita penuh harap. Dia menunduk dan tidak berani menatap wajah Alda yang sudah berdiri di dekat ranjang.


"Karena ini area pribadiku. Baiklah Mita. Apa yang membawa kamu masuk ke kamarku," jawab Alda tenang. Alda naik ke ranjang. Dia sudah telungkup di ranjang sambil memegang ponsel. Mita seketika tidak tahu harus menjawab apa. Dirinya masuk ke kamar Alda hanya untuk menyendiri karena mengira Alda akan pulang malam. Di luar dugaannya. Alda justru sudah pulang di sore hari ini.


"Mau nonton drakor. Aku punya serial terbaru," kata Alda lagi. Alda sudah membuka kunci ponselnya. Mita menggelengkan kepalanya. Dia tidak ingin menonton drama Korea saat ini. Selagi bisa berduaan seperti ini dengan Alda. Mita ingin memperbaiki persahabatan mereka.


"Aku ingin kita seperti dulu lagi Alda," jawab Mita pelan. Alda tertawa tanpa menoleh ke Mita. Tetapi Mita bisa mendengar jika suara tertawa itu seperti mengejek dirinya.


"Apa kamu merasa kita tidak seperti dulu lagi?" Alda balik bertanya. Mita tergagap. Pertanyaan Alda membuat Mita semakin menundukkan kepalanya. Mita menyesali kata kata itu meluncur dari mulutnya. Mita merasa salah memulai persahabatan ini.


Alda menatap Mita. Sahabat rasa saudara selama bertahun-tahun. Alda memang sudah menerima Mita sebagai mama tirinya. Alda sudah berusaha melupakan apa yang pernah membuat mereka pernah saling mendiamkan. Tapi tetap saja ada sedikit rasa canggung yang membuat Alda tidak bisa sedekat dulu lagi.


"Maksud aku. Kamu memanggil aku dengan sebutan mama. Aku merasa itu membuat jarak diantara kita Alda," kata Mita pelan.


"Apa maksudmu mengatakan aku mendominasi ayah kamu Alda?" tanya Mita heran. Dia tidak merasa berbuat seperti itu.


"Mita. Aku rasa kamu anak yang pintar untuk bisa mengartikan itu. Apa karena kamu terlalu bahagia. Sehingga kamu tidak bisa mengartikan kata mendominasi?" tanya Alda semakin tegas. Matanya memicing menatap Mita.


"Aku tidak merasa berbuat seperti itu Alda," jawab Mita pelan.


"Baiklah. Aku akan memberitahu kamu. Kamu menikahi duda bukan pria lajang. Itu artinya suamimu yang tidak lain adalah ayahku. Bukan milik kamu sendiri. Tapi juga milik anak anaknya. Kamu bahkan tega memaksakan kehendak kamu untuk berbulan madu ke Maldives disaat Billy butuh keberadaan ayahku. Apa hanya bercinta harus jauh jauh ke Maldives sana?" kata Alda tajam. Hampir sebulan ini Alda memendam kekecewaan terhadap ayahnya dan Mita. Dia maklum jika pasangan pengantin baru perlu bulan madu. Tetapi melihat keadaan Billy. Harusnya mereka bisa menunda bulan madu tersebut. Dan yang membuat Alda kecewa adalah Mita yang merajuk untuk bulan madu tersebut. Alda mengetahui itu semua.


Mita merasakan hatinya merasa bersalah. Apa yang diucapkan Alda memang benar. Tidak seharusnya dia membuat drama waktu itu untuk mengubah keputusan Willy untuk berbulan madu.


"Maaf Alda." Hanya itu yang keluar dari mulut Mita. Menyadari dirinya sangat egois membuat Mita menunduk dan tidak berani menatap wajah Alda.


"Kamu bahkan mendominasi ayahku setiap saat Alda. Billy butuh ayah. Tapi kamu hanya membiarkan ayahku hanya sekedar menyapa Billy. Jujur, aku sangat kecewa kepada kalian berdua," kata Alda lagi.

__ADS_1


"Maaf Alda."


"Sebagai sahabat. Aku hanya menyarankan kamu untuk pintar menempatkan diri sebagai mama tiri untuk ayahku dan anak anaknya. Kami juga butuh perhatian ayah," kata Alda lagi. Sejak kepulangan Willy dan Alda dari berbulan madu. Ayahnya itu sibuk mengurus bisnis dan Mita.


Mita seketika menyesal. Sifat kekanakan yang dimilikinya terkadang menuntut Willy untuk selalu perhatian kepadanya. Berbicara dengan Alda saat ini seakan menyadarkan Mita bahwa dirinya hanyalah istri dari pria yang mempunyai dua anak. Benar kata Alda. Tidak seharusnya dia terlalu mendominasi Willy. Mita seketika ingat. Sejak menikah, Willy hanya selalu bersamanya. Sarapan berdua, makan siang berdua dan makan malam berdua.


"Aku akan berubah Alda," kata Mita lagi. Setelah mendengar semua yang dikatakan Alda. Mita berjanji akan berubah tidak akan mendominasi Willy seperti yang dikatakan oleh Alda.


Alda menatap Mita cukup lama. Sahabatnya ini sudah banyak berubah setelah menjadi istri dari ayahnya. Mendengar Mita mengatakan akan berubah membuat Alda sebenarnya merasa bersalah atas semua yang terlontar dari mulutnya. Tidak seharusnya dia mengungkapkan kekecewaan itu kepada Mita. Karena kunci sebenarnya ada pada Willy. Jika Willy bisa mengatur waktunya dengan baik antara pekerjaan, Billy dan Alda juga dengan Mita. Alda tidak akan kecewa seperti ini. Tapi Alda tidak dapat menahan semua kekecewaan itu ketika Mita memintanya untuk seperti semula.


Jika disuruh jujur, Alda sebenarnya tidak bisa menjamin jika dirinya bisa kembali seperti dulu. Tetapi melihat wajah sendu Mita hari ini. Alda berusaha untuk memenuhi permintaan sahabatnya. Karena Alda juga menyadari tidak ada yang sempurna di dunia ini. Termasuk dirinya, Mita dan ayahnya.


"Jangan pernah berkata seperti itu Mita. Sebab aku tidak tahu berubah seperti apa yang kamu maksud. Aku hanya meminta kamu supaya pintar menempatkan diri sebagai istri dari ayahku yang mempunyai dua anak," kata Alda datar.


"Maaf Alda."


"Jangan terus meminta maaf Mita. Jika kamu menghendaki kita seperti dulu lagi. Aku akan berusaha walau sepertinya akan pasti ada jarak walaupun sedikit," kata Alda terus terang.


"Makasih Alda. Aku mau menonton drama Korea. Mana serial terbaru yang kamu bilang tadi," kata Mita. Dia ingin memulai dan memperbaiki persahabatan mereka. Alda tersenyum. Kejujurannya tidak membuat Mita mundur. Alda membuka ponselnya.


"Di laptop saja Alda," kata Mita sambil turun dari ranjang. Dia mengambil laptop dari lemari dan memberikan kepada Alda.


Mita tersenyum. Melihat wallpaper layar laptop adalah foto dirinya dan Alda. Mita merangkul. Ketika drama Korea itu sudah mulai tayang di layar laptop Mita kembali turun dari ranjang untuk mengambil tissue dan beberapa cemilan.


"Tahu saja ceritanya sedih," kata Alda setelah Mita duduk di sampingnya.


"Dari judulnya sudah bisa ditebak."


"Ma, cemilannya kok ini saja. Keripik pisang sepertinya masih ada," kata Alda ketika melihat cemilan hanya ada keripik kentang dan keripik ubi.


"Panggil Mita, Alda," kata Mita kesal. Alda tertawa terbahak-bahak melihat kekesalan di wajah Mita. Alda menyenggol bahu Mita kemudian merangkulnya. Mita senang. Dia menoleh ke wajah Alda yang sangat dekat dengan wajahnya. Sungguh Mita menyesal. Menyesal karena membuat hubungan persahabatan mereka merenggang.

__ADS_1


__ADS_2