
Mita menatap wajah Willy yang hanya berjarak beberapa centi meter dari wajahnya. Hembusan nafas Willy terasa menerpa wajahnya. Dia tidak menyangka bahwa Willy akan melakukan itu. Sebelumnya Willy berjanji akan bersabar menunggu sampai mereka menikah. Tapi saat ini karena dikuasai amarah Willy berkata akan membuka segelnya. Selain takut Seketika Mita merasa malas dengan Willy. Belum hilang rasa kesal karena Alda. Kini Willy membuatnya semakin kesal.
Mita merapatkan giginya. Rasa kesal itu sudah berubah menjadi rasa marah karena Willy semakin menghimpit tubuhnya sangat rapat. Mita berusaha menjauhkan wajahnya supaya Willy tidak bisa menciumnya. Bagi Mita. Keperawanannya hanya untuk dipersembahkan bagi suaminya kelak. Walau Willy sekarang kekasihnya. Bagi Mita jodoh itu masih misteri. Belum tentu Willy jodohnya. Itulah yang membuat Mita menjaga keperawanan dengan baik. Bila Willy jodohnya, maka Willy yang akan membuka segelnya. Tapi tidak untuk saat ini. Mita tidak akan rela melepas harta berharga itu sebelum menikah.
Lain Mita lain juga Willy. Karena rasa cintanya yang dalam dia begitu marah karena Mita ingin pergi darinya. Dia juga menyesalkan tindakan Alda. Tapi dia tidak terima Mita yang terkesan langsung mengalah tanpa memperjuangkan cinta mereka. Dengan penuh amarah Willy semakin menghimpit tubuh Mita. Tangannya terulur meraih wajah Mita. Tentu saja berhasil karena tenaga Willy jauh lebih besar dari tenaga Mita. Willy langsung mencium bibir Mita dengan lembut. Walau lembut tapi Mita tidak menyukainya. Mita terdiam seperti patung tanpa membalas ciuman Willy.
Willy semakin menggerayangi tubuh Mita. Tangan, paha dan juga perut tidak luput dari belaiannya. Tetapi karena rasa marah dan kesal. Mita bisa menahan rasa geli karena belaian Willy. Hingga tangan Willy mendarat di bagian inti tubuh Mita. Mita langsung merapatkan pahanya. Tidak memberi celah bagi Willy untuk bermain main di sana walau hanya menggunakan tangan.
Tak menyerah, Willy menyusupkan tangannya ke dalam kemeja Mita. Bibirnya terus memaksa supaya Mita membuka mulutnya. Mita tetap seperti patung. Bibir dan pahanya masih tertutup rapat. Mita benar benar mati rasa. Gerakan Willy semakin memaksa Mita membuka mulut. Akhirnya Mita membuka mulutnya dan Willy merasa senang. Tetapi kemudian dia merintih kesakitan karena Mita menggigit bibir Willy tanpa ampun. Rasa marah dan kesal Mita, Mita lampiaskan dengan menggigit bibir Willy. Tidak main main, bibir Willy sampai bengkak karena gigitan Mita.
Willy menjauhkan tubuhnya dari Mita sambil memegang bibir yang terasa sakit. Mita tidak menoleh sedikit pun. Willy mengambil ponselnya dan mengaktifkan kamera. Dari kamera ponsel itu, Willy bisa melihat bibir yang membengkak.
Willy menatap Mita yang duduk tegak menatap lurus ke depan. Willy tersadar. Tindakan itu sangat menyakiti Mita. Willy kembali duduk dekat Mita. Willy meraih tangan Mita hendak meminta maaf, Mita menghempaskan tangan Willy dengan kasar. Posisi duduk Mita masih seperti semula. Dia tidak ingin melihat wajah Willy.
"Baby, aku minta maaf," kata Willy penuh penyesalan. Dia memegang bibirnya yang terasa sakit. Bukannya menjawab. Mita malah berdiri. Dia melangkah menuju pintu tetapi secepat kilat Willy memeluknya dari belakang.
Mita meronta, Willy semakin erat memeluk tubuh Mita. Willy mundur sambil menarik tubuh Mita yang ada dipeluknya. Willy duduk kembali di sofa. Posisi Mita yang dipeluk dari belakang, ketika Willy duduk, Mita terduduk juga di pangkuannya.
"Aku khilaf baby. Tapi kamu lihat aku masih bisa mengontrol diriku," kata Willy lagi. Dagunya diletakan di leher Mita. Seperti tadi Mita masih diam dan tidak merasakannya apa apa.
"Aku minta maaf, aku akan mengingat janji aku. Tapi aku mohon, jangan pergi dariku," pinta Willy lagi.
"Kamu tidak bisa mengontrol diri om. Andaikan aku tidak menggigit bibir mu. Kamu pasti melanjutkan aksi kamu itu. Kamu memperlakukan aku seperti wanita murahan atau wanita lainnya yang mengejar harta mu," jawab Mita sambil meronta dari dekapan Willy.Tidak ingin Mita semakin marah. Willy melepaskan dekapannya.
__ADS_1
"Tidak seperti itu baby. Aku benar benar menghargai kamu. Kamu wanita terhormat bukan wanita murahan. Lihat!, bibir aku bengkak baby," kata Willy sambil menunjukkan bibirnya. Mita tidak mau melihat. Willy menatap Mita yang masih menatap lurus ke depan. Willy benar benar menyesal. Rasa cintanya yang dalam membuat Willy tidak ingin berpisah dari Mita. Hingga rencana tadi terlintas di pikirannya supaya Mita tidak bisa lepas darinya. Dia tidak berpikir panjang sebelumnya. Bahwa tindakannya barusan bukan hanya membuat Mita kesal dan marah. Mita juga sangat kecewa.
"Tapi aku merasa seperti itu om,"
"Baby, dengarkan aku sayang. Itu tiba tiba terlintas di pikiran aku. Karena aku takut kamu akan pergi dari aku. Apalagi kamu tadi mengatakan akan pindah ke dunia lain. Aku mengartikan itu kamu mau berpindah ke lain hati. Tapi kamu lihat. Apa aku bertindak kasar. Itu karena aku mencintaimu dan menghargai kamu baby. Tolong jangan berpikiran yang macam macam," kata Willy memohon. Dia berdiri dan mendekat ke Mita yang sudah berdiri. Mita memundurkan langkahnya. Willy yang menyadari kemarahan Mita. Dia pun menghentikan langkahnya.
"Aku mau pulang om," kata Mita sambil meraih tasnya dari sofa.
"Aku akan mengantar kamu,"
"Tidak perlu om. Aku akan pulang sendiri. Saat ini juga aku ingin sendiri,"
"Mita, tolonglah!. Maafkan om."
Mita hanya mengangguk mendengar permintaan maaf dari Willy. Dia meraih handle pintu tetapi pintu ruangan terkunci.
"Baiklah baby. Tapi om mengantar kamu ya!"
"Om tolonglah om. Aku benar benar ingin sendiri. Terima kasih atas hari ini om."
Willy akhirnya membuka pintu ruangan itu. Dengan berat hati, dia melepas Mita pulang sendirian. Willy hanya bisa memandang punggung Mita yang semakin menjauh. Willy bahkan tidak perduli dengan sang sekretarisnya yang menatap Willy bingung. Dia masih berdiri di depan pintu ruangannya dan terus menatap Mita yang semakin menghilang dari pandangannya.
Kata terima kasih dari Mita merupakan sindiran dan pukulan baginya. Willy menyesal dan penyesalannya seakan tidak berarti bagi dirinya sendiri karena Mita tidak mau diantar pulang. Mita terkesan seperti menghindari Willy.
__ADS_1
Willy melampiaskan penyesalannya dengan memukul dinding itu dengan keras. Punggung tangannya lebam. Tapi Willy seakan tidak merasakan rasa sakit itu. Yang ada dihatinya hanya penyesalan yang menyebabkan Mita kecewa.
Willy terduduk di sofa dengan menunduk. Bahkan dering ponselnya yang sudah berulangkali berbunyi tidak dihiraukannya. Hinga kesekian kali ponsel itu berbunyi. Willy baru menjawab.
"Ada apa Alda?" tanya Willy tanpa basa basi. Di pantai Alda mengernyitkan keningnya karena mendengar ayahnya langsung bertanya tanpa basa basi. Tidak biasanya seperti itu. Dalam hatinya, Alda kembali menyalahkan Mita.
"Ayah, kita jadi berlibur kan. Aku juga bersedia jika Mita ikut. Tapi Nino juga ikut ya," jawab Alda sambil bergelayut manja di lengan Nino. Mereka duduk di tepi pantai.
"Boleh. Ayah akan menuruti semua permintaan kamu tuan putri. Tentang Mita aku tidak yakin dia mau ikut setelah sikap kamu semalam. Jika kamu mau, kamu saja yang mengajaknya," jawab Willy sambil menggoyangkan punggung tangannya. Dari tadi dia tidak merasa sakit tetapi setelah berbicara dengan Alda sakit di punggung tangannya terasa.
"Ayah saja yang mengajak,"
"Kamu saja tuan putri,"
"Baiklah ayah. Yang pasti ayah mau kan berlibur nya?"
"Iya tuan putri."
"Kalau begitu. Mita tidak ikut juga tidak apa apa. Karena rencana awal juga seperti itu. Gak apa apa kan ayah?" tanya Alda senang. Dia bahkan memeluk Nino dengan tangan kanannya saking senangnya.
"Oke tuan putri. Semua terserah kamu. Yang penting kamu bahagia," jawab Willy langsung menutup panggilan tersebut. Willy bersandar dan memejamkan matanya. Willy meletakkan ponsel itu asal. Kali ini Willy setuju dengan rencana Alda. Willy berharap dengan menuruti kemauan putrinya. Alda juga bersedia memberi restunya untuk menikahi Mita kelak. Walau sejujurnya, Willy juga kecewa dengan sikap Alda putrinya.
Di pantai Alda bersorak kegirangan. Rencananya berlibur bersama dengan ayah dan bundanya akan segera terwujud beberapa hari lagi. Alda bahkan melompat lompat atas pasir itu. Nino ikut tersenyum melihat kegembiraan kekasihnya itu.
__ADS_1
"Nino, aku senang. Akhirnya tanpa Mita ayah mau berlibur dengan aku dan bunda tapi maaf Nino. Seperti rencana awal. Aku hanya menginginkan liburan bertiga saja bersama ayah dan bunda. Kamu tidak apa apa kan kalau tidak ikut liburan kali ini," tanya Alda pelan dan takut. Dia juga takut Nino tersinggung dengan sikapnya yang tidak tetap pada pendirian.
"Terserah kamu Alda. Asal kamu bahagia. Aku tidak apa apa kalau tidak ikut," jawab Nino juga pelan. Nino memalingkan wajahnya menatap lautan. Nino kecewa dengan sikap Alda yang awalnya mengajak dia berlibur tapi dengan seenaknya membatalkan dirinya ikut berlibur. Alda memeluknya tapi Nino tidak membalas pelukan itu.