
Mita masih menunduk, rasa bersalahnya membuat Mita tidak berani menatap Alda. Mita semakin takut dan bingung, kalau Alda sampai mengetahui alasan sebenarnya dia tidak masuk sekolah.
"Apakah karena uang sekolah?" tanya Alda lagi. Masih dengan menunduk dan menggelengkan kepala. Karena terbiasa Mita menunggak uang sekolah membuat Alda menduga bahwa itulah alasan Mita tidak ke sekolah.
"Bukan karena itu Alda, aku tadi tiba tiba sakit jadi tidak sempat mengabari mu," jawab Mita berbohong.
"Sakit apa?" tanya Alda bingung. Melihat dari raut wajah Mita jelas tidak menunjukkan seperti orang sakit.
"Sakit karena menstruasi," jawab Mita lagi masih berbohong. Mita melirik jam dinding yang sudah menunjukkan angka dua. Sesuai dengan jadwal jam empat pernikahan akan digelar. Mita merasa cemas, walau dia tidak ingin menikah sekarang. Alda pasti curiga jika bertemu dengan Willy di rumah Mita.
Alda menarik nafas lega, kalau hanya sakit karena menstruasi bagi Alda itu hanya soal biasa. Ketidakhadiran Mita hari ini membuat Alda merasakan arti penting persahabatan dan kebersamaan mereka.
Mita merasakan jantungnya berdetak lebih kencang ketika mendengar suara mobil berhenti di halaman. Mita berharap semoga mobil itu bukan mobil Willy. Dan benar mobil bukan mobil Willy, tetapi mobil perias pengantin yang khusus disewa Willy untuk merias Mita. Mita semakin gugup, perias itu kini berjalan ke arah mereka.
"Siapa yang mau menikah Mita?" tanya Alda bingung. Di rumah itu hanya mereka bertiga perempuan. Nenek, Mita dan dirinya sendiri. Mita semakin gugup dan mengarahkan pandangannya ke luar jendela. Berharap ada seseorang yang membantunya menjawab pertanyaan Alda.
"Tetangga sebelah, mari ku antar," kata nenek tiba tiba datang dari luar. Nenek yang masih lemah itu menyenggol badan si perias dan mengarahkan kepalanya keluar. Perias tersebut berjalan ke luar rumah mengikuti nenek. Mita merasa lega, saat ini dia masih selamat dari Alda.
Nenek kembali masuk ke rumah. Melihat Alda yang masih duduk santai di ruang tamu membuatnya bingung. Nenek bingung bagaimana caranya menyuruh Mita ke rumah tetangga sebelah.
Tidak hanya perias yang membuat Mita gugup dan takut. Kini seorang perempuan juga sudah terlihat turun dari mobil. Kedua tangannya membawa kotak besar. Mita menduga itu adalah kebaya pengantin untuk dirinya.
"Permisi, dengan nona Mita?" tanya perempuan tersebut dari depan pintu. Mita menjawab dengan gugup. Wanita tersebutpun mendekat ke ruang tamu.
__ADS_1
"Ini kebaya pengantin yang khusus dipesan tuan untuk nona," kata wanita setelah dekat ke Mita. Alda yang asyik dengan ponselnya tiba tiba menatap Mita.
"Kebaya pengantin?, untukmu Mita?" tanya Alda tercengang. Mita hanya menggelengkan kepalanya dengan gugup.
"Aku disuruh tetangga untuk memesannya. Ini untuk tetanggaku," kata Mita masih tergagap.
"Bentar ya Alda, kebayanya aku antar dulu," kata Mita gugup.
"Iya, jangan lama lama ya!" kata Alda. Mita hanya mengangguk.
Beberapa menit kemudian, Mita kembali ke dalam rumah. Alda masih seperti tadi. Bersandar di sofa dan memainkan ponselnya. Mita menarik nafas, walau kehadiran Alda tidak diinginkan hari ini, tapi Mita tidak mau mengusirnya.
"Mita, masak mie instan yuk, mumpung disini say, kalau udah di rumahku jangan di harap, ayah pasti tidak memperbolehkan," ajak Alda senang. Dia menemukan ide itu ketika melihat media sosial temannya yang memposting mie instan
"A...ayo!" jawab Mita tergagap. Kini keduanya sudah di dapur memasak mie instan. Rudi dan nenek yang duduk di teras rumah saling berpandangan. Berharap Alda cepat pulang yang ada kini kedua sahabat itu di dapur memasak mie instan sambil bercanda.
Alda terkejut ketika melihat mobil ayahnya berhenti. Cepat cepat Alda menyembunyikan mie instannya ke bawah meja.
Dengan senyum merekah, Willy turun dari mobilnya. Melepas kaca hitam dan memegang pakai tangan kirinya kini menuju ke teras. Willy terlihat sangat tampan sekali. Dari cara berjalannya Willy nampak tidak sabaran menjumpai Mita sehingga tidak sadar bahwa di samping mobilnya terparkir juga mobi Alda putrinya.
Senyum itu meredup, ketika dia tiba di teras rumah. Menjulurkan kepalanya ke arah rumah, dan yang dilihatnya Alda tersenyum manis dan Mita yang menunduk.
"Ayah, kok tahu Alda di sini?" tanya Alda riang. Dia menyangka kedatangan Willy untuk menjemputnya. Sedangkan Willy menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Mita yang sedari tadi gugup tersenyum dan masih menunduk.
__ADS_1
"Tuan putriku," kata Willy mendekat dan memeluk Alda dengan sayang. Ekor matanya masih bisa menangkap wajah Mita yang tersenyum. Rudi dan nenek merasa gelisah melihat situasi itu.
"Kamu makan mie instan?" tanya Willy ketika melihat piring bekas Mita yang terletak di atas meja. Alda memasang senyum termanisnya.
"Peace ayah, kali ini aja ya!"
"Baiklah, jangan diulangi," kata Willy. Alda dengan cepat mengambil mie instan yang di bawah meja.
"Apa itu, jangan dimakan lagi," larang Willy. Alda langsung menyuapkan satu sendok mie instan ke mulut Willy. Alda dengan cepat menghabiskan mie instannya.
"Ayo pulang ayah, sudah habis," ajak Alda. Willy bingung. Pernikahannya sudah di depan mata, tapi Alda mengajaknya pulang. Willy tidak tahu mau berkata apa. Willy semakin gelisah ketika beberapa orang terlihat datang dan duduk di teras rumah Mita. Willy menduga salah satu dari mereka adalah penghulu yang akan menikahkannya dengan Mita.
"Ayo, makasih ya Mita," ajak Alda menarik tangan ayahnya. Willy hanya mengangguk. Dia nampak tidak berdaya menghadapi Alda. Nenek dan Rudi semakin gelisah. Wajah mereka terlihat bingung ketika Willy beranjak dari duduknya.
"Kamu duluan pulang tuan putri, ayah masih ada keperluan dengan ayahnya Mita," kata Willy. Berharap Alda duluan pulang dan sesudah Alda pulang pernikahannya tetap terlaksana.
"Aku pulangnya sama ayah, si kakek biar pulang sendiri." Demi apapun Willy sangat bingung. Ini yang pertama kebingungan yang parah sepanjang hidupnya. Rudi dan nenek memandangnya penuh harapan. Sedangkan Mita masih duduk di sofa dengan menunduk.
"Baiklah, kamu duluan pulang ke mobil," kata Willy akhirnya. Alda menurut. Alda menyuruh si kakek untuk pulang sendirian. Alda masuk ke dalam mobil ayahnya.
Willy terlihat berbicara dengan nenek dan Rudi. Kemudian menoleh ke arah Mita. Willy memandang Mita dengan sendu. Ingin rasanya dia mendekat dan memeluk Mita, tapi takut dilihat Alda.
Willy kembali berjalan ke arah mobilnya dengan lesu. Memandang kembali ke arah rumah Mita kemudian masuk ke dalam mobil. Di mobil Alda terlihat senang sekali. Dia mengambil kaca mata hitam ayahnya kemudian memakainya.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan, Alda terus berceloteh. Willy hanya tersenyum menanggapi. Padahal dia tidak mencerna sama sekali apa yang di ucapkan Alda. Pikirannya terus tertuju ke Mita.
Sementara di rumah Mita, tepatnya di kamar Mita. Mita merasa senang. Senang karena Alda sama sekali tidak curiga hubungannya dengan Willy dan merasa senang karena pernikahannya tidak jadi terlaksana.