Mencintai Ayah Sahabatku

Mencintai Ayah Sahabatku
Pria Berkacamata Hitam


__ADS_3

Willy menciut mendengar kemarahan nenek. Pria matang itu, harus menghadapi cobaan sedini ini. Masih terhitung hari menjadi kekasih Mita, Willy sudah terhalang restu oleh nenek. Willy, walau dia kaya dan mempunyai segalanya, tapi Willy selalu sopan dan menghargai orang yang lebih tua darinya. Apalagi Ratmi, nenek dari Mita pujaan hatinya. Itulah sebabnya Willy memilih diam mendengar nenek mengomel.


Masih dalam diam, Willy duduk di tempatnya. Berusaha menjelaskan pun, nenek tidak memberi kesempatan. Nenek tua itu terus mengomel. Willy memilih diam. Mita apalagi. Gadis cantik itu selain malu juga gugup di tempatnya. Keringatnya sudah bercucuran membasahi bajunya.


"Suruh dia pulang!, Bawa ini sekalian," kata nenek menunjuk kantong belanjaan dan berlalu masuk ke kamar.


Willy menegakkan kepalanya, setelah terdengar suara pintu kamar dibanting. Willy mengelus dadanya sementara Mita gelisah dan merasa tidak enak dengan Willy.


"Om, pulang saja ya, aku takut nenek makin marah," bisik Mita. Jarak mereka duduk lebih satu meter membuat Mita mencondongkan badannya ke Willy. Willy mengangguk dan berdiri.


"Om,.ini bagaimana?" tanya Mita lagi melihat Willy yang melewati kantong belanjaan. Willy berbalik badan ke arah Sinta dan menariknya ke luar rumah kemudian Willy menutup pintu rumah Mita.


"Bawa aja itu semua ke kamarmu, sembunyikan di situ. Kan gak iya kalau ku bawa pulang," kata Willy pelan takut nenek Ratmi mendengar. Mita mengangguk.


"Om, maaf. Aku jadi gak enak gara gara nenek marah ke om," kata Mita sedih. Willy gemas dengan gaya Mita berbicara. Bibirnya yang mengerucut dan mata yang sayu sungguh menggoda iman Willy. Willy tidak tahan untuk tidak menciumnya.


Cup


Willy mencium bibir Mita sekilas, Mita terkejut dan langsung melihat ke arah jendela. Gorden tidak bergoyang jadi aman, berarti nenek tidak mengintip. Mita memukul lengan Willy pelan.


"Kalau nenek melihat, bagaimana?" tanya Mita kesal karena Willy menciumnya di sembarang tempat. Belum lagi tetangga yang bergantian keluar masuk rumah.


Cup


Willy mencium Mita kembali, Mita semakin kesal dan mencubit pinggang Willy.

__ADS_1


"Biarin, om malah mau yang lebih, biar dikawinkan sekalian," jawab Willy santai.


"Sstt, jangan berisik, nenek dengar bisa mampus aku," kata Mita kesal dan ketakutan. Willy mengacak rambut Mita dengan gemas. Berat rasanya berpisah dari Mita. Pria dewasa itu memandangi wajah Mita dan mendekatkan wajahnya ke Mita, Mita gelagapan dan mendorong badan Willy. Willy mengangguk dan berjalan ke arah mobilnya.


Sebelum membuka pintu mobil, Willy melihat Mita dan tersenyum. Mita membalas senyuman itu. Senyuman yang sangat manis.


****


Mita melangkahkan kakinya ke dalam kelas. Suasana kelas yang kondusif membuat Mita heran. Biasanya sebelum masuk jam pelajaran, para siswa pasti heboh bercerita. Mita mengedarkan pandangannya ke sekeliling kelas. Hampir semua siswa mulutnyan komat kamit. Mita tersadar ternyata hari ini ada ulangan harian mata pelajaran Sejarah.


Mita membuka bukunya, dia pun sudah sama dengan siswa lain menghafal materi Sejarah.


Suara derap sepatu yang terdengar, hampir membuat semua siswa menoleh ke pintu. Yang tidak diharapkan masuk sudah berdiri di sana. Pak Agung guru sejarah sudah meletakkan bukunya di meja guru, kemudian menyuruh para siswa mengumpulkan buku beserta tas ke depan kelas. Dengan malas, siswa melaksanakan perintah pak Agung.


Seperti biasa, Mita dan Alda terlihat lengket. Keduanya selalu bersama. Setelah jam pelajaran usai, kedua sahabat itu menghampiri mobil Alda. Alda mengernyitkan keningnya ketika membaca pesan di ponselnya.


"Mita, sepertinya hari ini kamu tidak perlu ke rumahku. Nenekku menyuruhku ke rumahnya sekarang juga," kata Alda sambil menyimpan ponselnya ke tas.


"Ya udah ga apa apa Alda," jawab Mita sambil memandang Alda yang masuk ke dalam mobil. Alda dan Mita saling melambai, kemudian mobil itu menghilang dari pandangan Mita.


Tak berapa lama berselang sejak mobil Alda menghilang, seseorang menghampiri Mita. Mita yang tidak mengenal orang tersebut merasa takut dan mundur beberapa langkah. Mita melihat sekitar. Mita lega beberapa siswa masih ada di pekarangan sekolah.


Pria berkaca mata hitam itu semakin mendekat.


Dan Mita semakin takut.

__ADS_1


"Dengan non Mita?" tanya pria itu. Mita meneliti pria berpenampilan serba hitam itu. Mita semakin terlihat ragu. Mita menutup bed namanya dengan tangannya tetapi terlambat, pria itu sudah terlebih dahulu melihatnya.


"Jangan takut, aku tidak akan melukaimu, aku hanya di suruh ayahmu untuk menjemputmu," kata pria itu lagi. Mita tidak percaya. Ayahnya tidak memperdulikannya. Mita hanya diam saja.


"Mari ikut saya, itu mobilnya!" kata pria itu lagi dan menunjuk sebuah mobil hitam yang agak jauh dari tempat mereka berdiri. Mita memperhatikan plat mobil tersebut, itu bukan mobil ayahnya.


"Maaf, tidak perlu. Aku akan datang sendiri ke rumah ayah. Pergilah!. Nanti sore aku datang," jawab Mita sopan dan memundurkan dirinya.


"Ayahmu sedang sakit keras, mungkin kamu yang terakhir yang ditunggunya sebelum menghembuskan nafas," kata pria itu membuat Mita terkejut dan sedih. Seketika badan Mita gemetar, takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkannya.


"Mari, kita tidak ada waktu lagi," ajak pria itu semakin mendekati Mita. Pria itu mengulurkan tangan hendak menarik tangan Mita. Mita semakin mundur. Walau dia ketakutan Mita tidak langsung percaya dengan pria itu.


" Pergilah!. Aku akan datang sendiri. Di rumah sakit mana ayahku dirawat," tanya Mita lagi. Pria itu terlihat mengetik di ponselnya. Tak lama kemudian, mobil yang ditunjuk pria tadi datang mendekat. Dua orang pria dengan berpenampilan sama turun dari mobil. Mita semakin takut, dia yakin ayahnya tidak akan menyuruh orang orang seperti ini menjemputnya.


Mita semakin ketakutan dan gemetar. Dua pria semakin mendekat dan satu pria berdiri di pintu mobil yang terbuka. Mita sudah yakin bahwa mereka ini orang jahat. Mita mundur dan membuka tasnya. Meraba ponsel diantara buku bukunya. Mita berdoa, berharap ada yang menolongnya.


Mita semakin gemetar, lidah semakin kaku. Tangannya belum juga menemukan ponsel. Mita melihat sekeliling. Hatinya sedikit lega melihat masih ada siswa di pekarangan sekolah. Tinggal beberapa langkah lagi, dua pria tersebut ke arah Mita, seketika Mita berteriak minta tolong.


"Tolong..."


"Tolong..."


"Tolong..."


Mita berteriak sekuat tenaga, seketika itu juga dua pria tersebut berlari dan masuk ke dalam mobil. Siswa yang mendengar Mita berteriak juga berlari keluar gerbang menghampiri Mita. Mita shock dan terduduk. Rasa takut masih terlihat di wajahnya.

__ADS_1


__ADS_2