Mencintai Ayah Sahabatku

Mencintai Ayah Sahabatku
Hampir Ketahuan


__ADS_3

Setelah beberapa menit Keyla keluar dari ruangan Willy. Willy berusaha untuk kembali fokus bekerja. Dia menatap layar laptopnya dengan serius. Membaca kata per kata yang masuk ke email pribadinya. Willy menghela nafas lega. Dari sekian banyak email masuk tidak ada satupun yang meresahkan hatinya. Bisa dikatakan semua email masuk itu adalah berita baik baginya.


Willy menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Entah mengapa kedatangan Keyla sangat mengganggu pikirannya. Willy merasa was was. Kedatangan Keyla setelah hampir 17 tahun menghilang sangat menggangu pikirannya. Apalagi sikap Keyla bukan seperti dulu. Kalau dulu Keyla sangat agresif dan terkesan liar kali ini Keyla sangat menjaga sikapnya. Baik tutur kata maupun tindakannya.


Walau Keyla masih terlihat cantik dan awet muda. Willy sama sekali tidak tertarik lagi. Itulah yang membuat Willy tidak percaya dengan perkataan Keyla yang menyebutnya penyakit kanker. Wajahnya yang cantik dan bening juga kulitnya yang terlihat bersih dan halus. Tidak menandakan bahwa wanita itu punya penyakit serius.


Willy masih berpikir. Kalau Keyla sengaja mau berbohong dan membuat trik untuk merayu Willy kembali, mengapa wanita itu terkesan sopan. "Adakah sesuatu yang disembunyikan Keyla?" batin Willy dalam hati.


"Masuk," kata Willy ketika mendengar suara ketukan di pintu ruangannya. Dia menoleh ke arah pintu. Dia mengambil tissue bekasnya dan melemparkannya ke arah pintu. Yang di lempar terkekeh dan langsung masuk ke ruangan dan duduk di sofa di ruangan itu.


"Boleh duduk?" tanya Leo sambil tersenyum. Sebelum Willy menjawab dia sudah duduk santai di sofa itu. Leo adalah sahabat Willy sejak SMA. Bagaimana kisah cinta Willy dan Keyla. Leo mengetahui dan tahu banyak tentang Willy dan Keyla.


"Tidak boleh," jawab Willy ketus. Leo terkekeh dan Willy juga akhirnya ikut terkekeh. Willy beranjak dari kursi kebesarannya dan duduk di sofa di hadapan Leo.


"Tumben bro, mampir," kata Willy. Dia memainkan ponselnya dan kemudian meletakkan ponsel itu di meja.


"Kabar aku baik bro. Bagaimana kabar kamu?"


"Gak nyambung," jawab Willy ketus. Dia tidak menanyakan kabar Leo. Tapi penuh percaya diri pria itu mengatakan kabarnya baik baik saja. Leo kembali terkekeh.


"Aku lihat mantan istri kamu di kota ini. Apa kalian sudah bertemu?"


"Sudah. Baru saja keluar dari sini. Hanya berselang beberapa menit dengan kedatangan kamu ini," jawab Willy setelah menarik nafas panjang.


"Sepertinya kamu tidak senang dengan kehadirannya,"


"Sangat, dia mengajak berlibur bersama,"


"Wow keren, ada rencana rujuk?"


Willy menggelengkan kepala. Tidak ada niat sedikit pun untuk kembali rujuk dengan Keyla. Kalau bisa dia tidak ingin melihat wajah mantannya itu. Tapi demi Alda Willy harus mau berlibur bersama dengan Keyla.


"Aku sudah mempunyai kekasih Leo. Aku sangat mencintainya. Dan aku juga akan mengajaknya ikut berlibur bersama.Jika Alda tidak setuju. Maka aku juga tidak mau berlibur dengan Keyla,"


"Apa wanita itu Sofia?"


Willy kembali menggelengkan kepala. Sofia sudah dikenal oleh para teman dekat Willy. Walau Willy menegaskan Sofia hanya teman biasa. Melihat keintiman mereka berdua dulu, para teman Willy beranggapan bahwa Sofia adalah kekasih Willy.


"Bukan, dia bukan Sofia," jawab Willy singkat.


"Jadi siapa?"


"Kok kamu jadi kepo?" tanya Willy balik bertanya. Sahabatnya itu kembali terkekeh.


"Ya kepo donk. Aku penasaran siapa wanita yang berhasil meruntuhkan tembok hati kamu," jawab Leo santai. Dia menoleh ketika pintu ruangan Willy terbuka. Sekretaris Willy membukakan pintu untuk Office girl yang tangannya membawa baki. Pesanan Willy ketika Leo baru masuk ke ruangannya. Setelah meletakkan minuman dan makanan pesanan Willy sang office girl keluar dari ruangan itu.


"Leo, kamu pernah bertemu Keyla baru baru ini?" tanya Willy. Leo menganggukkan kepala. Willy menarik nafas panjang kemudian mengambil satu gelas jus jeruk campur wortel dari meja. Willy menyesap minuman itu hampir setengah gelas. Kemudian dia meletakkan kembali gelas itu. Sama seperti Willy. Leo juga mengambil gelas berisi jus itu dan meminumnya sampai habis.


"Bagaimana menurut kamu?, maksud aku dari penampilan Keyla, apakah menurut kamu dia sedang sakit saat ini?" tanya Willy lagi. Leo menatap Willy bingung. Dia bingung melihat Willy yang bertanya seperti itu. Seperti merasa khawatir akan kesehatan Keyla.

__ADS_1


"Ah kamu seperti bunglon. Baru saja kamu bilang tidak ingin bertemu Keyla. Tapi barusan kamu seperti sangat mengkuatirkan Keyla,"


"Bukan seperti itu dodol. Aku bertanya seperti itu karena tadi Keyla mengatakan dirinya sakit kanker. Dan kepalanya botak. Itu alasan dia supaya aku mau berlibur bersama dengan dia dan Keyla. Dia juga berkata umurnya tidak lama lagi," kata Willy cepat dan kesal. Pertanyaannya tadi untuk mendapat jawaban yang menjawab kecurigaannya akan Keyla malah ditanggapi Leo seperti mengkhawatirkan Keyla.


"Kamu tanya kanker apa yang dideritanya sekarang?"


"Tidak. Aku tidak mau tahu. Hanya saja aku tidak percaya bahwa dia sakit kanker. Aku rasa itu hanya trik dia saja untuk menarik perhatian aku,"


"Lain kali tanya donk. Walau sudah mantan. Hanya sebatas bertanya dan mengetahui kan tidak apa apa. Kanker itu banyak. Dan ada kanker yang paling berbahaya. Tubuh terlihat sehat dan bugar. Tapi sakitnya tidak tertahan. Saking sakitnya untuk minum saja tidak bisa karena tidak bisa untuk beli air mineral gelas. Kamu mau tahu kanker itu sangat mengerikan?" tanya Leo serius.


"Kanker apa?"


"Kantong kering alias bokek," jawab Leo sambil terbahak. Dia merasa berhasil mengerjai sahabatnya. Willy terdiam dan kemudian ikut tertawa.


"Jangan bilang kamu juga sekarang kantong kering,"


"Iya bro. Aku lagi bokek. Pilu donk,"


"Ah. Terus terusan kamu pilu. Kamu cari tambahan donk. Kerja yang benar. Biar rejeki tidak hanya sebatas perut. Yang kemarin saja, kamu belum bayar," jawab Willy kesal. Leo kalau datang menemuinya ujung ujungnya pasti pilu atau pinjaman lunak. Dan tak jarang Leo tidak membayarnya. Tapi Willy tidak mempermasalahkan uang yang dipinjam tidak dibayar Leo. Yang membuat Willy kesal. Sahabatnya itu terkesan pemalas.


"Ya nanti kalau aku ada rejeki tambahan. Aku akan membayar sekaligus dengan bunga. Bilang saja berapa persen bunga uang yang aku pinjam selama ini," jawab Leo pelan. Dia berusaha meyakinkan Willy supaya Willy mau memberikan uangnya untuknya.


"Entah sudah berapa kali aku mendengar perkataannya seperti itu,"


"Dan kamu selalu memberi aku uang kamu,"


"Kali ini tidak ada,"


Dia tidak tahu bahwa kebiasaan memberi uang seperti inilah yang membuat Leo semakin malas untuk mencari tambahan penghasilan di samping pekerjaan utamanya sebagai staf biasa di perusahaan otomotif. Sebenarnya gaji Leo kalau hanya untuk kebutuhannya sendiri gaji Leo cukup tapi karena Leo mempunyai orang tua yang masih hidup dan sakit sakitan membuat gaji itu tidak cukup dibagi. Itulah yang membuat Willy tidak tega untuk menolak pilu yang diajukan Leo.


"Aku akan memberi kamu lima juta. Tapi ada syaratnya," kata Willy tegas. Seketika mata Leo berbinar.


"Apa syaratnya?" tanya Leo cepat.


"Aku akan memberikan pekerjaan tambahan untuk kamu."


Leo semakin senang. Sudah lama dia menginginkan bekerja di perusahaan Willy. Tapi Willy lebih bagus memberinya uang daripada pekerjaan di perusahaannya. Alasannya cukup simpel. Willy tidak mau persahabatannya dengan Leo hancur karena ketegasan Willy dalam memimpikan perusahaannya. Walau Willy baik dan senang membantu tetapi dia tidak mentolerir sikap karyawan yang main main dan tidak mempergunakan waktu bekerja dengan baik. Willy tahu Leo seperti apa. Seperti saat ini. Leo bisa ke kantornya sebelum makan siang. Sudah bisa dipastikan bahwa Leo bolos bekerja. Dan Willy sangat tidak menyukai hal seperti ini.


"Terima kasih bro. Pekerjaan apa?. Aku akan mengerjakan dengan baik," jawab Leo senang. Dia sampai menggosok telapak tangannya saking senang.


"Kamu berjanji akan bekerja dengan baik?"


"Iya bos. Aku berjanji," jawab Leo mantap. Padahal dia tidak tahu pekerjaan apa yang dimaksudkan Willy. Willy tersenyum sangat manis. Leo yang melihat senyum Willy merasa yakin bahwa Willy akan memberikannya pekerjaan yang bagus.


"Baiklah. Pekerjaan tambahan untuk kamu adalah mengikuti Keyla dan menceritakan tentang dia apa yang kamu ketahui ," kata Willy membuat Leo melemas. Pekerjaan yang ada di pikirannya tidak sebanding dengan pekerjaan yang ditawarkan Willy barisan. Leo jadi tersenyum masam akhirnya.


"Kok mengikuti si mantan sih Willy,"


"Cari tahu tentang penyakitnya. Jika dia memang berbohong aku tidak akan membiarkannya lolos,"

__ADS_1


"Baiklah, lima jutanya mana?" kata Leo sambil menengadahkan tangannya. Willy mengambil ponselnya dan mengetikkan sesuatu.


"Lihat, aku sudah mengirimnya ke rekening kamu," jawab Willy sambil menunjukkan notifikasi pengiriman uang di ponselnya. Leo tersenyum. Sahabatnya ini memang sangat baik hati. Bahkan nomor rekeningnya sendiri masih saja disimpan oleh Willy.


"Makasih bro, kamu memang sahabat terbaikku dan tidak pelit. Semoga rejeki kamu selalu berlimpah. Dan asmaramu bersama kekasih mu itu berjalan lancar,"


"Sama sama Leo. Aku masih ada permintaan lagi. Kalau bisa. Buatlah Keyla jatuh cinta kepada kamu,"


"Gila kamu bro. Mana mungkin dia jatuh cinta kepada aku. Kamu saja pria terganteng di kota ini dan kaya. Ditinggalkan. Apalagi aku yang hanya Upik abu dan tidak punya apa apa."


"Leo aku serius. Jika kalian bisa saling mencintai. Aku akan memberikan modal kepada kamu," kata Willy serius. Dia rela mengeluarkan uangnya lebih banyak lagi asal Keyla tidak mengganggunya.


"Aku akan menjalankan tugas yang kamu berikan. Tapi tidak untuk mencintai dan membuat dia mencintaiku. Permisi," kata Leo sambil berdiri dari duduknya. Dia meninju lengan Willy pelan.


"Kamu boleh ikut berlibur dengan kami Leo. Aku harap ajakan ini kamu tidak menolaknya,"


"Entah apa yang ada dipikiran kamu bro, tapi aku akan ikut dengan kalian. Kabari aja kapan waktunya," jawab Leo pelan. Willy mengangguk senang. Makin banyak ikut berlibur dengannya makin kecil kesempatan Keyla untuk berbuat curang. Leo berjalan ke arah pintu ruangan. Selain tujuannya kemari untuk meminjam uang sudah tercapai. Leo sebenarnya senang diajak berlibur gratis oleh Willy.


Willy tidak lagi kembali duduk di kursi kebesarannya. Dia menyambar kunci mobilnya dari atas meja dan keluar dari ruangan itu. Dia sebentar berbicara dengan sekretarisnya dan masuk ke ruangan yang lebih kecil di samping ruangannya. Willy melimpahkan tugas tugasnya hari ini kepada asisten pribadinya.


Tidak lama kemudian, Willy sudah di jalan raya. Mengendarai sendiri mobilnya dan menuju sekolah Alda. Willy tiba di halaman sekolah Alda terlalu cepat. Jam sekolah akan pulang setengah jam lagi. Dengan sabar, duda ganteng itu menunggu. Hanya setengah jam. Lebih lama dari itu pun, Willy rela menunggu putrinya dan dan kekasih hatinya.


Sudut bibir Willy menyunggingkan senyum. Dari salah satu kelas. Dia melihat Alda dan Mita keluar. Keduanya terlihat berbincang dan saling tertawa. Willy merasakan hatinya damai melihat dua wanita yang sangat disayanginya itu saling tertawa. Willy keluar dari dalam mobilnya. Tanpa menutup pintu mobil, Willy berdiri di samping mobil itu. Dia melambai ke arah wanita cantik itu, Alda membalasnya. Sedangkan Mita merasa dadanya berdebar sangat kencang. Willy datang ke sekolahnya untuk menjemput Alda sudah pasti Mita akan ikut dengan mobil Willy. Tanpa di sadari Alda, sahabatnya itu gugup.


"Ayah,"


Bagaikan anak kecil Alda berlari ke arah Willy. Alda sangat senang melihat keberadaan Willy di sekolahnya. Sedangkan Mita dia berusaha berjalan melambat. Bukan keinginannya untuk menghindari Willy. Tapi bertemu Willy dan ada Alda. Mita takut, Willy dan dirinya keceplosan. Willy merentangkan tangannya. Alda semakin mendekat dan memeluk ayahnya.


"Ayah menjemput aku kan, tau gini si kakek tidak perlu menjemput," gerutu Alda manja.


"Si kakek sudah ayah kabari bahwa ayah yang akan menjemput kalian," kata Willy masih memeluk putrinya. Matanya tidak lepas dari Mita yang semakin mendekat. Ketika Mita menatapnya, Willy tersenyum sangat manis dan mengedipkan sebelah matanya Mita. Mita tentu saja kikuk. Dia sampai menghentikan langkahnya.


"Siang om," sapa Mita sopan. Dia sudah berdiri dihadapan Willy. Sedangkan Alda masih dengan manjanya memeluk ayahnya.


"Siang baby," jawab Willy keceplosan. Willy seketika menutup mulutnya dan berharap Alda tidak menyadarinya. Sedangkan Mita entah sudah berwarna apa wajahnya. Tetapi Mita berusaha tidak gugup supaya Alda tidak semakin curiga. Ketakutannya benar benar terjadi. Willy keceplosan memanggilnya baby.


"Maaf Mita, aku tadi menghayal tentang kekasih om," kata Willy cepat. Dia menyadari Alda mendengar ucapannya tadi. Sebelum Alda protes dan bertanya Willy meralat ucapannya. Mita hanya tersenyum dan mengangguk. Dia takut berbicara dan keceplosan seperti Willy tadi.


"Ya ampun ayah. Secantik apa sih kekasih ayah itu. Sampai bersama aku saja. Ayah menghayalkannya," kata Alda cemberut. Dia merasa cemburu akan ayahnya. Tidak pernah ayahnya seperti itu. Mencintai wanita sampai menghayal ketika bersama dirinya.


"Yang pasti sangat cantik tuan putri. Sama cantiknya seperti kamu," jawab Willy tenang dia membuka pintu mobil belakang dan mendorong Alda masuk ke dalam. Willy kembali memutari mobil itu, membuka pintu sebelahnya untuk Mita.


"Mita, masuklah...," kata Willy. Dalam hati dia menyambung ucapannya dengan baby. Mita menunduk dan berjalan ke arah pintu mobil yang sudah terbuka. Mita berusaha menjaga gerak tubuhnya supaya Alda tidak curiga.


"Maaf om,.om sampai repot membuka pintu mobil untuk aku," jawab Mita sopan. Seperti Alda. Willy juga mendorong tubuh Mita masuk ke dalam mobil. Willy tersenyum. Ketika mendorong badan Mita, Willy mengusap punggung Mita sebentar.


"Sekarang, ayah akan menjadi supir untuk dua wanita tercantik di dunia," kata Willy setelah duduk di belakang kemudinya. Alda tertawa riang sedangkan Mita berusaha untuk menutupi rona wajahnya.


"Ayah, kita jalan jalan ya!, jarang jarang ayah punya waktu seperti ini," kata Alda senang. Willy menganggukkan kepala.

__ADS_1


"Baik tuan putri. Aku akan membawa kalian berdua bersenang senang,"


__ADS_2