Mencintai Ayah Sahabatku

Mencintai Ayah Sahabatku
Bayi tidak Bernama


__ADS_3

Empat tahun kemudian.


Setelah menjauhkan dirinya sendiri dari semua orang orang yang mengenalnya. Mita kini kembali menginjak kakinya di kota tempat dia dibesarkan. Ada hal yang berbeda saat ini dibandingkan dengan ketika dia meninggalkan kota ini. Dulu dia hanya pergi berdua dengan sang nenek. Sementara saat ini ada putri kecil yang bersamanya. Salsa Ramdani. Mita menamai putri kecilnya dengan nama indah itu. Nama belakang Willy tersemat di belakang nama sang putri. Dan memang begitu lah sepantasnya. Salsa adalah buah cinta dari Mita dan Willy. Salsa berhak mendapat nama itu di belakang namanya.


Empat tahun yang lalu, Azriel menawarkan dirinya untuk menjadi ayah dari Salsa. Mita menolak tawaran itu. Mita memilih melahirkan bayinya tanpa Willy atau siapapun kecuali sang nenek. Mita juga harus mengorbankan cita cita untuk melanjutkan pendidikan. Setelah mengetahui dirinya hamil. Mita memfokuskan hidupnya untuk melahirkan dan membesarkan bayinya. Untuk kebutuhan sehari hari Mita mengandalkan uang pemberian Willy dahulu dan membuka grosir sembako di kampung sang nenek.


Selama empat tahun. Mita berubah menjadi wanita yang lebih dewasa dan mandiri. Salsa adalah kebahagiaannya. Dia tidak pernah membiarkan putrinya bersedih atau kekurangan sesuatu. Dan tujuannya kembali ke kota ini. Itu juga demi putri tercinta. Salsa sudah berumur lebih dari tiga tahun. Salsa sering bertanya tentang ayahnya jika teman teman digendong ayah mereka. Salsa yang memang dasarnya anak bijak. Dia sering mengucapkan kata ayah. Mita tentu saja terkejut mendengar itu. Mita juga menyadari, bahwa putrinya tanpa disadari butuh kasih sayang seorang ayah juga.


Atas saran sang nenek. Mita memutuskan untuk mempertemukan Salsa dan Willy. Mita menyadari dirinya tidak boleh egois. Dia tidak ingin kejadian Billy terulang ke Salsa. Mungkin Salsa belum mengerti saat ini. Tapi Mita merasa tidak boleh mengabaikan arti seorang ayah bagi perkembangan seorang anak. Mita juga menyadari. Mungkin Willy bukan jodohnya. Tapi Salsa berhak mendapatkan kasih sayang dari seorang ayah. Dan kisah anak tetangga yang terlahir dari hubungan haram yang sering diolok olok karena tidak mempunyai ayah. Mita juga sering melihat anak tersebut menangis dan malas ke sekolah karena mendapat julukan anak haram. Mita tidak mau hal itu terjadi pada Salsa. Pengalaman tetangga dan atas saran sang nenek membuat Mita merasa sangat yakin mempertemukan Salsa dengan Willy.


Mita sudah pasrah. Jika karena hal ini Willy akan marah besar terhadapnya. Mita juga menyadari jika tindakan menjauhkan Salsa dari Willy adalah kesalahan besar.


Dan disinilah mereka sekarang. Tiga wanita berbeda generasi itu berada di rumah pemberian Willy dulu. Selama empat tahun. Hanya Rudi tinggal sendiri di rumah ini. Rudi tidak berniat untuk mencari pengganti istri keduanya yang kabur. Dia betah menyendiri walau Mita berkali kali menyarankan untuk mencari pengganti ibunya. Rudi trauma. Kebahagiannya hanya putri semata wajah dan cucu yang sering dikunjungi sekali sebulan ke kampung nenek Ratmi.


"Sini cucu kakek. Kakek yang memangku," kata Rudi kepada Salsa yang masih betah duduk di paha bundanya. Anak kecil itu menurut dan duduk di pangkuan sang kakek.


"Kek, Alsa mau bertemu ayah," kata Salsa setelah duduk di pangkuan kakeknya. Pengucapan sangat fasih, tidak ada cadel sedikitpun. Anak itu memang sudah fasih berbicara.


"Oya. Bagus donk kalau begitu," jawab Rudi sambil mencubit pelan hidung mancung cucunya. Setelah itu. Dia menatap Mita. Selama ini. Mita menutup telinga tidak ingin mendengar apapun tentang Willy. Tapi hari ini, lewat Salsa. Rudi mengetahui tujuan kedatangan Mita dan putrinya.


"Benar begitu Mita," tanya Rudi. Mita mengangguk. Rudi menarik nafas panjang. Banyak hal tentang Willy yang tidak pernah diberitahukan oleh Rudi kepada Mita. Mita memang tidak pernah bertanya apapun kepada ayahnya tentang Willy. Bahkan Mita memblokir semua media sosialnya dan bahkan tidak pernah membuka media sosial selama empat tahun ini. Sebesar itu keinginan melupakan Willy. Tapi Salsa membuat keinginan itu batal. Pada akhirnya Mita harus bertemu kembali oleh Willy walaupun dengan status mantan.


"Setelah aku pikir pikir. Aku tidak bisa menyembunyikan Salsa lebih lama lagi yah. Aku takut pertumbuhan Salsa terganggu karena bingung tidak ada sosok ayah di sampingnya seperti anak anak lainnya."


"Bagus kalau begitu. Salsa berhak mendapat kasih sayang ayahnya. Keputusan yang kamu ambil sudah tepat nak. Kapan kamu ingin mempertemukan mereka berdua?. tanya Rudi.


Mita menarik nafas panjang. Pertanyaan ayahnya menjadi beban pikiran baginya. Itulah yang dipikirkannya selama perjalanan menuju kota. Untuk membawa Salsa langsung bertemu dengan Willy jelas tidak mungkin. Mita takut reaksi Willy bertemu tiba tiba dengan Salsa akan mengakibatkan sesuatu yang buruk. Bagaimanapun Willy wajar marah. Itulah yang dihindari Mita untuk tidak langsung membawa Salsa ke rumah Willy. Dia ingin mempertemukan mereka secara perlahan lahan. Atau bisa lewat Alda terlebih dahulu. Tapi itupun Mita juga tidak yakin. Alda juga pasti kecewa karena ini.


"Aku juga bingung yah. Aku tidak tahu memulai dari mana."


"Kok bingung sih Mita. Langsung bawa sekaarang ke rumah Willy. Beres urusan," kata nenek Ratmi yang sedari tadi diam. Segampang itu nenek Ratmi berpikir.Wajahnya yang menampakkan kelelahan jelas terlihat. Nenek Ratmi memang tidak pernah mengeluh sekalipun untuk urusan Salsa. Dia sebenarnya sudah cukup tua untuk bepergian jauh tapi demi Salsa. Nenek Ratmi rela melakukan ini semua. Menemani Mita untuk mempertemukan Salsa dan Willy.

__ADS_1


"Tidak boleh sekarang ibu. Willy masih berduka," jawab Rudi. Dia juga tidak tahu harus menceritakan tentang kehidupan Willy dalam satu tahun terakhir ini. Melihat Salsa. Rudi juga merasa bersalah karena bersedia bungkam tentang kehamilan Mita. Hingga kini Salsa sudah berumur tiga tahun lebih. Rudi masih setia menyimpan rahasia tentang keberadaan Salsa. Itu adalah permintaan Mita. Rudi tidak bisa berbuat apa apa. Walau dia menilai masalah Willy dan Mita sebenarnya bisa diselesaikan dengan baik baik tanpa bercerai. Rudi menyerahkan sepenuhnya semu keputusan kepada Mita.


"Siapa yang meninggal ayah?" tanya Mita terkejut. Dugaannya adalah salah satu mertuanya.


"Keyla," jawab Rudi pelan. Mita semakin terkejut. Dia tidak menyangka Keyla secepat ini meninggal. Mita merasakan kesedihan yang sangat mendalam. Kebaikan dan kelembutan Keyla langsung terlintas di benaknya. Mita juga langsung mengingat Alda sahabatnya. Mita menduga bahwa Alda pasti sangat bersedih sekarang. Mita ingin bertemu secepat mungkin dengan Sahabatnya itu. Dia ingin menghibur Alda.


"Keyla meninggal karena melahirkan satu minggu yang lalu," sambung Rudi. Mita kembali terkejut. Pikirannya sudah menduga jika Willy dan Keyla akhirnya rujuk. Walau begitu dia tidak benci jika hal itu terjadi. Ini yang diinginkannya dan karena itulah dia bersikeras untuk meminta cerai dan menyembunyikan kehamilannya.


"Apa Tante Keyla dan om Willy sebelumnya sudah rujuk ayah?" tanya Mita untuk memastikan dugaannya. Setelah empat tahun baru kali ini dia bertanya tentang Willy.


"Mereka baru menikah beberapa bulan ini. Tapi takdir berkata lain. Keyla sudah meninggal dan meninggalkan bayi yang baru dilahirkan," kata Rudi sedih. Dia bisa merasakan kesedihan Willy ditinggal mati oleh istri. Rudi sudah pernah mengalaminya. Jadi Rudi tahu rasanya seperti apa.


"Aku berencana ke rumah om Willy sekarang juga ayah. Untuk sementara, Salsa tidak perlu bertemu dengan om Willy dulu. Kita lihat situasi. Aku takut kedatangan Salsa justru membuat om Willy semakin bersalah," kata Mita. Rudi dan nenek Ratmi setuju dengan apa yang dikatakan oleh Mita.


Setelah pembicaraan itu. Mita bersiap-siap menuju rumah Willy. Dengan taksi online, Mita kini sudah berdiri di gerbang rumah milik Willy. Sang satpam yang bertugas masih mengenali dirinya dan membuka pintu gerbang. Setelah mengutarakan niatnya. Satpam langsung mempersilahkan Mita untuk masuk ke dalam rumah.


Mita merasakan jantungnya berdetak kencang. Kembali ke rumah mantan suami untuk menyampaikan bela sungkawa yang mendalam. Sesampai di depan pintu. Mita terlebih dahulu menetralkan detak jantungnya. Mita sampai meletakkan tangannya di dada sendiri karena detak jantung yang kencang itu tidak bisa diajak kompromi. Hingga akhirnya dia mengucapkan salam dengan suara yang bergetar.


"Mita, kemari lah nak. Nenek merindukan kamu," panggil nenek Bunga. Mita memang sempat berhenti. Dia melangkah kakinya dengan gugup mendekat ke dua orang tua itu. Mita merasa lega. Ketika dia mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Baik nenek bunga atau kakek Jhon menyambut uluran tangan itu dengan hangat.


"Aku ikut berduka cita atas meninggalnya Tante Keyla nek. Aku baru tahu hari ini," kata Mita setelah duduk berhadapan dengan nenek. Tatapan kepada bayi berusia seminggu itu.


"Terimakasih nak," jawab nenek Bunga singkat. Kakek Jhon terlihat termenung.


"Laki laki atau perempuan nek?"


"Laki laki nak."


"Boleh aku gendong nek?" tanya Mita hati hati. Nenek Bunga mengangguk. Mita mengambil bayi itu dari tangan nenek. Dia semakin sedih melihat bayi itu. Hatinya terasa sesak membayangkan bayi itu tidak merasakan kasih sayang seorang ibu. Wajah bayi itu yang mirip dengan Keyla dan Willy semakin membuat Mita memikirkan Keyla. Keyla adalah wanita yang baik menurutnya. Air matanya tidak terasa menetes mengingat bagaimana perjuangan Keyla hidup sendiri terasing dari suami dan putrinya yang masih bayi kala itu. Kini dia kembali meninggalkan seorang bayi di usia masih bisa dihitung jari.


"Aku rasa dia mau minum susu nek," kata Mita setelah melihat bayi itu bangun. Nenek memanggil baby sitter dan meminta baby sitter tersebut membuat susu untuk bayi itu.

__ADS_1


"Siapa namanya nek?" tanya Mita.


"Belum ada namanya Mita. Willy masih larut dalam kesedihannya sehingga tidak memikirkan bayi untuk bayinya sendiri," kata nenek Bunga sedih. Mita tersentak dan merasakan kembali jantung berdetak kencang. Tadi setelah berbincang dengan nenek dan memangku bayi tak bernama itu. Detak jantung itu sudah normal. Tapi setelah mendengar nama Willy. Jantungnya kembali tidak bisa diajak kompromi.


"Itu susunya Mita," kata nenek ketika sang baby sitter sudah berdiri di sampingnya. Mita sibuk menetralkan detak jantungnya sehingga tidak menyadari jika baby sitter sudah dari tadi berdiri di situ. Mita dengan sedikit malu mengulurkan tangannya mengambil susu itu.


"Dari cara kamu memangku bayi itu dan memberinya susu. Kamu sepertinya sudah terbiasa merawat bayi," kata kakek Jhon tiba tiba. Mita kembali terkejut. Dia tidak menyadari gerak geriknya diperhatikan oleh mantan papa mertuanya. Padahal dari tadi kakek Jhon hanya terdiam saja. Mita hanya tersenyum menanggapi ucapan itu. Bisa saja sebenarnya dia memberitahukan tentang Salsa. Tapi menurut Mita. Willy yang berhak terlebih dahulu.


"Alda dimana nek?" tanya Mita. Niat hatinya untuk bertanya tentang mantan suami tapi mulutnya justru menyebut nama Alda.


"Alda dan Billy sedang pergi ke makam bundanya. Sedangkan Willy masih betah termenung di kamar," jawab nenek. Pertanyaannya tentang Alda terjawab juga dengan keinginan tahuannya tentang Willy. Mita hanya mengangguk. Entah mengapa dia ingin bertemu Willy setelah mendengar keadaan mantan suaminya itu. Tapi Mita menahan diri. Tidak mungkin dia masuk ke kamar mantan suaminya. Dia berharap Willy turun saat ini juga. Tetapi hingga Mita hampir satu jam duduk di ruang tamu itu. Wajah yang ingin dilihatnya tak kunjung muncul. Alda juga tak kunjung kembali. Sebagai tamu. Mita sudah merasa sudah terlalu lama berada di rumah sang mantan.


"Bagaimana keadaan Billy nek?.


Akhirnya Mita menemukan pertanyaan supaya ada alasan berlama lama di rumah itu. Ekor matanya selalu memantau situasi tangga. Dia berharap Willy turun segera dari sana.


"Billy sudah sembuh total nak. Tapi itu tadi. Billy kembali merasakan kesedihan yang mendalam padahal baru merasakan kasih sayang yang utuh dari kedua orangtuanya," jawab nenek lagi. Jawaban itu membuat hati Mita seperti teriris. Dia mengetahui sebab Keyla kembali ke kota ini. Itu semua demi Billy. Dan karena tidak ingin seperti Billy juga. Mita harus kembali ke kota ini untuk mempertemukan Salsa dengan Ayahnya.


Tapi harapan itu tidak semudah membalikkan tangan. Salsa harus tertunda dulu untuk bertemu dengan ayahnya. Kondisi sang mantan suami yang masih terpuruk ditinggalkan istri untuk selama lamanya menghambat Salsa merasakan kasih sayang ayahnya.


"Kamu sangat cocok menjadi seorang ibu nak," puji nenek Bunga ketika melihat Mita sangat telaten mengurus bayi tidak bernama itu. Mulai dari memberi susu dan baru saja mengganti diapers yang sudah penuh.


"Diapersnya tidak boleh terlalu penuh nek. Salsa pernah seperti itu. Salsa rewel ternyata karena kedua pahanya lecet dan berwarna kemerahan," kata Mita. Dia tidak sadar menceritakan pengalamannya tentang Salsa.


"Siapa Salsa?.


Mita terkejut mendengar pertanyaan nenek. Dia baru sadar jika dirinya sudah menyebut nama putrinya yang tak lain adalah cucu dari keduanya orang tua yang ada di hadapannya.


"Nek. Alda kok lama pulangnya?" tanya Mita untuk mengalihkan pertanyaan nenek. Dia tidak sanggup untuk berbohong tentang Salsa. Mita memilih bertanya hal lain daripada menjawab pertanyaan nenek.


"Kedatangan kamu selisih beberapa menit dengan kepergian mereka," jawab nenek. Mita merasa lega. Nenek tidak mendesak Mita untuk menjawab pertanyaan tentang Salsa.

__ADS_1


__ADS_2