
"Billy sudah tidur."
Keyla tersentak dengan suara Willy yang tiba tiba terdengar dari arah pintu. Pintu itu memang terbuka sehingga Keyla tidak menyadari kedatangan Willy. Keyla melanjutkan menyelimuti Billy yang sudah tertidur. Keyla tidak menjawab pertanyaan Willy, karena tanpa dijawab pun Willy sudah pasti bisa melihat dengan jelas jika Billy sudah tertidur.
Willy menutup pintu pelan dan mendekat ke ranjang Billy. Seperti memperlakukan Alda, Willy juga mengelus kepala Billy dengan sayang. Willy sangat berhati hati mengelus kepala putranya. Dia takut tindakannya membuat Billy terbangun.
"Menginap lah disini key, Kamu pasti lelah bolak balik seperti ini." Ini adalah hari kedua dimana Keyla bolak balik dari rumahnya ke rumah Willy. Tadi subuh, Keyla harus rela berangkat jam lima kurang supaya bisa tiba di rumah Willy jam setengah enam. Dan tadi pagi, ketika Keyla tiba di rumah ini. Billy masih tertidur. Dan malam ini sudah jam sepuluh Keyla harus kembali ke rumahnya.
Keyla tidak menjawab, dia ingin segera pergi dari rumah ini. Melihat Willy menutup pintu, Keyla sedikit risih. Apalagi sejak kemarin, Keyla dapat merasakan jika Willy selalu mencuri pandang kepadanya jika ada kesempatan.
"Key, aku ingin bicara," kata Willy sambil menangkap tangan Keyla. Sama seperti di pantai dulu Willy menghempaskan tangan Keyla. Keyla juga melakukan hal yang sama. Keyla menghempaskan tangan Willy. Willy tidak tinggal diam. Willy menarik tangan Keyla kembali dan memaksanya untuk duduk di sofa yang ada di kamar Billy. Sentuhan tangan itu sebenarnya membuat Willy menginginkan lebih. Dia ingin memeluk Keyla. Tapi itu tidak mungkin Sedangkan hanya menyentuh tangan saja. Keyla sudah terlihat sangat marah.
"Bagaimana aku menebus rasa bersalah aku Key, Aku minta maaf," kata Willy penuh penyesalan. Willy memberanikan diri untuk menatap wajah Keyla. Keyla memalingkan wajahnya. Jelas terlihat rasa kasihan di mata Willy untuk mantan istrinya itu.
"Billy kembali sembuh dan mendapatkan kasih sayang. Itu sudah cukup bagiku Willy. Berhentilah minta maaf. Menyesal dan meminta maaf tidak akan mengubah apa yang sudah terjadi. Aku sudah ikhlas menjalani takdirku. Aku dulu mengira bisa selamanya bersembunyi dari kamu. Tapi takdir berkata lain, Billy sakit seperti ini membuat aku tidak berdaya dan harus kembali ke kota ini. Andaikan Billy bisa kuat seperti aku, mungkin selamanya kami tidak kembali ke kota ini. Hanya satu keinginan aku Willy, tolong berikan pengobatan yang terbaik untuk Billy."
Willy menunduk mendengarkan apa yang dikatakan Keyla. Willy sungguh merasa sedih. Rasa bersalah itu terus menghantui langkahnya. Kadang Willy berandai andai di hatinya. Dia mengenal Keyla dengan sangat baik. Mereka menikah di waktu usia belia dan pernikahan mereka tergolong singkat. Tetapi Willy bisa merasakan cinta dan sayang yang tulus dari Keyla saat itu.
"Rasa bersalah itu akan terus menghantui langkah dan pikiran aku key, Jika kamu bersedia menerima apa yang sudah aku tawarkan sebelumnya. Mungkin hatiku sedikit lega," kata Willy pelan. Dia menawarkan materi sebagai pengganti rasa bersalahnya. Keyla tersenyum sinis.
"Jangan persulit dirimu Willy dengan memikirkan aku. Aku adalah mantan istri dan sudah terbebas dari tanggung jawab kamu. Dan aku rasa kamu harus memikirkan perasaan Mita, walau dia masih muda. Dia pasti juga kecewa jika kamu terlalu mengkhawatirkan aku. Aku tidak ingin menjadi duri dalam pernikahan kalian. Bagaimana pun aku punya putri. Aku tidak ingin Alda menerima karma dari perbuatan aku,"
Willy rasanya kehabisan kata kata untuk membujuk Keyla untuk menerima semua penawarannya. Willy mengacak rambutnya frustasi.
__ADS_1
"Baiklah, terserah kamu Keyla. Ternyata kamu keras kepala. Berbeda dengan Keyla yang aku kenal dulu," kata Willy kesal. Dia menatap Keyla dengan tajam. Willy merasa harga dirinya jatuh karena harus membujuk Keyla. Keyla hanya diam dan tidak perduli. Keyla bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu kamar.
"Keyla,"
"Belajar lah menjaga perasaan istri kamu Willy. Malam ini kamu menemui aku tanpa dirinya. Jika Mita mengetahui hal ini. Aku pastikan dia kecewa. Seharusnya kamu langsung memeluk istri kamu sehabis kerja, bukannya menjumpai mantan istri dan terus meminta maaf."
Keyla berlalu meninggalkan Willy yang masih duduk di sofa itu. Keyla menutup pintu kamar pelan. Sebenarnya Keyla ingin menunjukkan kekesalannya dengan membanting pintu, tapi Keyla takut, jika hal itu terjadi Billy terbangun dan dia tidak bisa pulang.
Tanpa sepengetahuan Keyla, Willy mengikuti langkahnya menuju garasi. Dari balik tembok Willy mengamati gerak gerik Keyla masuk ke dalam mobil hingga mobil itu keluar dari pekarangan rumahnya. Jauh di lubuk hatinya, Willy sangat kasihan dengan mantan istrinya itu.
Willy melangkahkan kakinya masuk kembali ke dalam rumah. Wajah lesunya berganti dengan wajah tersenyum ketika melihat Mita berdiri di tangga dasar. Willy menyalurkan rasa cinta dan sayangnya dengan memeluk sang istri. Mita terkekeh sambil bergelayut di ketiak Willy.
"Mau aku gendong?" tanya Willy, dia menghentikan langkahnya di urutan tangga ketiga. Mita menggelengkan kepalanya dan mendorong tubuh Willy untuk kembali melangkah menaiki tangga, sedangkan dirinya mengikuti Willy dari belakang dengan memegang ujung baju Willy.
Willy memegang kepalanya sambil bercermin. Cerita tentang kehidupan Keyla selama tinggal di pedesaan, membuat Willy kembali memikirkan sang mantan istri. Memprihatinkan dan penuh perjuangan. Dengan uang yang dia punya, Willy memang sudah mengetahui tentang kehidupan Keyla dan Billy di sana. Termasuk usaha kecil yang disebutkan Keyla tempo hari. Willy masih termenung. Dia merasa gagal menjadi seorang ayah dan suami. Yang lebih membuat Willy tidak habis berpikir adalah sikap Keyla yang dingin dan terkesan membencinya. Berbanding terbalik ketika pertama kali bertemu setelah perpisahan mereka. Keyla sangat menginginkan dirinya dan bahkan melakukan cara hina untuk menjebaknya.
Willy memijit pelipisnya. Dia tidak menyangka jika kehidupannya hari seperti ini. Willy menyesali sikapnya yang tidak bertindak cepat mencari kebenaran Keyla ketika pertama kali keluar dari rumah. Dia menelan mentah-mentah kebohongan papanya saat itu.
Mengingat kedua orangtuanya. Willy juga tidak habis pikir mengapa papanya bisa sampai egois seperti itu dan mengorbankan rumah tangga anaknya sendiri. Willy mengepalkan tangannya. Rasa benci terhadap kedua orangtuanya muncul kembali mengingat penderitaan Keyla terutama karena kesehatan mental sang anak.
"Om, kok lama?" tanya Mita dari luar. Sudah lebih setengah jam Willy di kamar mandi membuat Mita bosan menunggu. Willy terkejut. Dia belum melakukan apapun di kamar mandi itu selain menatap cermin dan mengingat semua penderitaan Keyla dan Billy. Juga mengingat perbuatan kedua orangtuanya. Willy tidak menyahut. Willy akhirnya membersihkan tubuhnya.
"Om, aku sudah mengepak baju baju kita untuk bulan madu nanti," kata Mita senang setelah melihat Willy keluar dari kamar mandi. Sesuai rencana Willy, lusa mereka akan terbang ke Maldives untuk berbulan madu.
__ADS_1
Willy memukul kepalanya sendiri. Bulan madu yang sudah terlupakan karena keberadaan dan kondisi Billy. Willy tersenyum dan duduk di sebelah Willy. Mita mengendus menikmati aroma sabun dari tubuh Willy. Aroma yang sudah menjadi candu bagi Mita. Willy tertawa dan gemas akan kelakuan Mita. Willy terkekeh dan mengapitkan kepala Mita di ketiaknya. Mita juga tertawa terbahak-bahak.
"Baby, maaf kan om sayang. Sepertinya untuk bulan madu, kita tunda dulu ya. Aku rasa, kesehatan Billy lebih utama dari bulan madu," jawab Willy pelan. Dia takut keputusannya ini mengecewakan Mita.
Mita menarik nafas panjang. Apa yang ditakutkan Willy ternyata benar. Rasa kecewa jelas terlihat di wajah Mita. Setelah menikah dan mengetahui rencana Willy untuk berbulan madu ke Maldives, Mita tidak sabaran untuk menunggu waktu itu tiba. Mita menarik kepalanya dari ketiak Willy dan berbaring di ranjang. Mita menarik selimut untuk menutupi dirinya sampai sebatas dada. Rasa kecewa itu hampir membuka Mita menangis. Matanya sudah berkaca-kaca.
Willy memijat hidungnya. Melihat Mita yang kecewa karena keputusannya membuat Willy merasa bersalah. Willy bingung Ke Maldives untuk berbulan madu atau mendampingi Billy yang akan dalam pengobatan mulai besok. Melihat Mita kecewa, sebenarnya Willy juga tidak tega. Tetapi lebih tidak tega lagi jika dirinya tidak mendampingi Billy yang jelas jelas butuh dirinya. Sedangkan bulan madu, sesuatu hal yang bisa ditunda tanpa merugikan apapun. Kerugian uang tidak masalah bagi Willy.
"Baby, aku harap kamu mengerti. Ini di luar rencana. Jika Billy sembuh. Aku berjanji akan membawa kamu berbulan madu. Bukan hanya ke Maldives. Kamu bisa meminta ke negara yang lain setelah dari Maldives," kata Willy sambil ikut berbaring. Dia menarik selimut yang sama dengan yang dipakai Mita untuk menutupi tubuhnya. Willy benar benar mengharapkan pengerjaan Mita kali ini.
"Bulan madu hanya seminggu om, Tante Keyla dan Alda kan bisa menjaga Billy," jawab Mita malas tanpa menoleh ke Willy. Padahal Willy tidur menyamping menghadap ke Mita. Sama seperti Mita, Willy juga kecewa dengan sikap Mita malam ini.
"Begini saja sayang. Kamu tetap pergi ke Maldives. Tetapi dengan Alda ya!. Kalian berlibur sepuasnya," kata Willy mencoba bernegosiasi dengan Mita. Dan Willy sangat berharap Mita bersedia dengan tawarannya. Keinginan untuk mendampingi Billy berobat jauh lebih mendominasi daripada berbulan madu ke Maldives.
"Tidak om. Aku hanya ingin pergi ke sana dengan suami aku sendiri bukan dengan sahabat. Om sudah janji. Tetapi seenaknya saja membatalkan janji. Seharusnya om tidak perlu berjanji, jika akhirnya seperti ini." Bukannya senang. Mita semakin kecewa mendapat tawaran itu. Dia tidak ingin pergi dengan Alda karena persahabatan mereka tidak seperti dulu lagi. Sekarang, walaupun komunikasi Mita dan Alda lancar. Mita dapat merasakan pembatas diantara dirinya dan Alda. Benar atau tidak. Mita merasa bahwa Alda seperti sengaja menciptakan pembatas itu diantara mereka berdua.
"Kamu kan tahu sayang, kedatangan Billy juga tiba tiba. Rencana itu ada sebelum kedatangan Billy. Aku harap kamu mengerti Mita," jawab Willy kecewa. Dia benar-benar bingung. Mita bersikeras untuk berbulan madu. Mita seakan akan tidak mengerti apa yang dirasakan Willy saat ini.
"Pokoknya aku tidak mau pergi dengan Alda," kata Mita tegas. Dia menarik selimut hingga kepalanya. Willy kembali mengacak rambutnya frustasi. Membujuk Mita ternyata tidak semudah membujuk Alda. Willy menarik nafas panjang karena merasakan kecewa yang sangat dalam atas keinginan Mita.
"Dan aku tetap akan mendampingi Billy untuk berobat," jawab Willy tidak kalah tegas. Dia tidak menyangka Mita seperti ini. Terkesan memaksakan keinginannya. Bahkan Alda tidak pernah bersikap seperti ini. Willy menilai sikap Mita ini terlalu kekanak-kanakan dan tidak mengerti akan situasinya.
Willy menyibakkan selimut itu dengan kasar. Selimut itu terbuka hingga kepala Mita sudah terlihat. Willy turun dari ranjang tanpa menoleh ke Mita yang menatap penuh kecewa. Kekecewaan Mita bukan hanya bulan madu yang dibatalkan juga karena kekasaran Willy menyingkapkan selimut tersebut. Willy berjalan ke balkon kamarnya. Dia butuh udara dingin yang alami untuk menenangkan pikirannya. Penolakan Keyla dan tuntutan Mita untuk berbulan madu membuat kepalanya serasa mau pecah. Ingin rasanya Willy membagi tubuhnya menjadi dua. Supaya bisa dibawa oleh Mita untuk berbulan madu dan setengahnya untuk menemani Billy berobat di kota ini.
__ADS_1
Di kamar, Mita mengintip dari balik selimutnya. Matanya mengikuti arah langkah Willy menuju balkon. Dia tidak berniat untuk langsung tidur. Mita berencana untuk membujuk Willy lagi. Bulan madu ke Maldives harus terlaksana.