
"Nenek sudah tidur," tanya Willy pelan ketika melihat Mita keluar dari kamar nenek. Mita mengangguk. Nenek memberi izin, Willy menginap di rumahnya karena takut rentenir datang. Willy berdiri dari duduknya dan mendekat ke Mita. Mendorong Mita pelan ke dinding dan menciumnya dengan rakus. Dari tadi hanya duduk berdua dan tidak melakukan apa apa, kini dengan ganasnya Willy mencium Mita.
Bukan hanya Willy, Mita juga menikmati ciuman Willy. Entah karena bisikan setan, Mita semakin lihai membangunkan hasrat Willy. Willy semakin bergairah dan tidak terkendali. Tangannya sudah menjelajahi tubuh Mita.
Willy bergeser tetapi tubuh Mita masih merapat ke dinding hingga mereka berdua sampai di depan pintu kamar Mita dengan bibir yang masih bertautan. Willy mendorong tubuh Mita hingga Mita mundur dan masuk ke dalam kamar. Willy dengan pelan merebahkan badan Mita di tempat tidur. Kini keduanya berbaring di tempat tidur dengan ciuman yang panas.
Gairah muda yang menggelora, itulah yang dirasakan Mita saat ini. Mengenal pria dewasa dan mengenalkan kenikmatan membuatnya ketagihan. Tangan keduanya kini saling meraba benda pusaka lawan main. Willy semakin tidak tahan untuk melepaskan hasratnya. Sprei yang tadinya rapi kini tidak berbentuk lagi.
Willy melepaskan baju Mita, keduanya hanya mengenakan pakaian dalam. Mita mulai mendesah, keduanya menginginkan hasratnya tersalur.
"Dad...."
"Hanya sebatas ini, tenanglah aku tidak akan melewati batas," bisik Willy yang sudah menindih tubuh Mita, Willy menggesekkan benda pusaka nya ke benda pusaka milik Mita,"
"Enak?" tanya Willy, Mita mengangguk dan menarik leher Willy kemudian menciumnya rakus.
Mita melepaskan ciumannya ketika mendengar suara mobil berhenti di halaman rumahnya. Hasrat yang sempat menggelora padam seketika dengan ketakutan Mita. Mita melompat dari tempat tidur dan cepat memakai pakaiannya. Mengambil baju Willy kemudian membantu memakaikannya. Keduanya berjalan keluar kamar dan pura pura duduk di sofa.
Keduanya menoleh ke pintu ketika, Rudi masuk ke dalam rumah. Mita terkejut sekaligus senang melihat ayahnya datang.
"Ayah...". Rudi mengernyitkan keningnya ketika melihat Willy. Willy berdiri dan mengulurkan tangannya ke Rudi. Rudy menyambut uluran tangan Willy.
"Willy om," kata Willy memperkenalkan diri, Rudi mengangguk dan Rudi duduk di sofa tepat di hadapan Willy.
"Kenapa bajunya terbalik?" tanya Rudi, Willy dan Mita gelagapan. Rudi bisa melihat keduanya yang gugup. Tidak ingin ayahnya curiga Mita berlalu dari ruang tamu. Willy tidak menanggapi pertanyaan calon mertuanya. Willy menyodorkan rokok ke Rudi.
"Aku tidak merokok," tolak Rudi. Willy kembali meletakkan rokoknya di atas meja. Rudi memanggil Mita. Setelah Mita duduk di ruang tamu, Rudi menceritakan semua yang diperbuatnya ke rentenir. Mita terharu dan matanya berkaca kaca. Mita menghambur ke pelukan ayahnya. Mita tidak menyangka, ayahnya bisa berbuat senekat itu hanya untuk melindungi dirinya.
"Terima kasih ayah, tapi tidak seharusnya ayah seperti itu. Bagaimana kalau ayah dijebloskan ke penjara," kata Mita sedih.
__ADS_1
"Itu tidak masalah nak, yang penting kamu tidak jadi menikah dengannya. Simpan ini!" jawab ayah, kemudian menyerahkan kertas yang sudah ditandatangani sang rentenir. Mita membaca sekilas apa yang tertulis di dalam kertas kemudian menyerahkan ke Willy.
Willy menghela nafas, menyadari bahwa surat itu bisa mendatangkan masalah baru. Melipat surat itu kembali dan menyerahkan ke Mita.
"Sebenarnya surat ini tidak kuat om, dan bisa mendatangkan masalah bagi diri om," kata Willy . Rudi mengangguk. Dia pun sebenarnya tahu bahwa surat itu tidak kuat, Rudi hanya berniat menggertak sang rentenir.
"Iya, aku tahu. Aku hanya berniat menggertak nya. Aku akan mencari Farida dan menyeretnya ke hadapan si rentenir, mudah mudahan dia tidak mengerti hukum" jawab Rudi.
"Sebenarnya, kalau ada calon yang cocok, aku ingin menikahkan Mita. Aku lebih tenang jika ada suami yang menjaga Mita ," kata Rudi lagi.
"Ah ayah, aku masih sekolah ayah. Aku gak mau," sahut Mita cepat, sedari tadi dia memperhatikan ayahnya dan Willy berbicara serius dan nyambung membuat Mita yakin akan Willy. Rudi memperhatikan Willy, Willy sedikit gugup dengan ucapan Rudi.
"Ayah kan cuma bilang kalau ada yang cocok. Emang sudah ada yang cocok?" tanya Rudi. Mita menunduk malu. Willy sebenarnya tahu arah pembicaraan Rudi. Willy secara tidak langsung menyuruhnya untuk berterus terang.
"Om, sebenarnya aku dan Mita itu saling mencintai," kata Willy akhirnya. Rudi menarik nafas panjang.
"Tiga puluh empat tahun om,"
"Selisih tujuh belas tahun dengan Mita. Apa kamu yakin nak?" tanya Rudi ke Mita. Mita melirik ke Willy. Melihat Willy yang mengangguk akhirnya Mita mengangguk.
"Aku ingin kalian segera menikah," kata Rudi lagi membuat Willy dan Mita terkejut. Keduanya saling berpandangan.
"Ayah, aku masih sekolah. Aku gak mau,"
"Tinggal beberapa bulan lagi, sebelum tamat pernikahan kalian bisa disembunyikan," jawab ayah enteng. Mita semakin gusar. Willy juga merasa gusar bukan karena disuruh menikah tapi karena disuruh menyembunyikan pernikahan. Dia tidak mau lagi pernikahan seperti itu. Dulu waktu menikahi bundanya Alda, pernikahan mereka disembunyikan. Kali ini, Willy ingin pernikahannya diketahui umum dengan pesta yang besar. Sebagai pemilik perusahaan, Willy ingin para relasinya mengetahui dan menghadiri pernikahannya.
"Sebenarnya, aku juga sudah memikirkan pernikahan om, tapi bukan sekarang melainkan setelah Mita lulus ujian nasional," ucap Willy. Matanya memandang ke arah Mita yang menunduk.
"Resepsinya bisa setelah selesai ujian nasional. Kalau kamu serius dengan putriku. Pertimbangkan sekarang, aku ingin jawabannya sekarang," kata Rudi tegas. Bukan tanpa alasan dia meminta hal itu, Rudi bisa melihat tanda kepemilikan Willy di leher Mita. Rudi paham, pria dewasa seperti Willy pasti butuh kebutuhan biologis.
__ADS_1
"Ayah..."
"Apa yang kalian lakukan sebelum ayah datang tadi, kalian berdua tidak bisa membohongi ayah, jika kalian saling mencintai maka menikahlah besok secara agama dan negara,"
"Siapa yang mau menikah?" tanya nenek pelan. Dia tertatih mendekat ke sofa.
"Mereka berdua ibu," jawab Rudi. Nenek memperhatikan Willy.
"Sudah kuduga, itu tujuanmu membantu Mita. Ternyata kamu sama saja dengan rentenir itu," kata nenek sinis. Mita menjelaskan apa yang terjadi mulai dari kedatangan ayah sampai ke pembicaraan terakhir yang nenek dengar. Nenek terlihat menyesal dan merasa bersalah.
"Maafkan nenek nak Willy." Willy hanya mengangguk dan tersenyum.
"Jadi bagaimana keputusanmu Willy?" tanya Rudi lagi membuat Willy tersentak.
"Oke om, aku bersedia. Besok kami akan menikah," jawab Willy mantap. Mita membulatkan matanya tidak percaya.
"Om..."
"Aku rasa itu lebih bagus honey, si rentenir tidak akan berani lagi mengganggu mu jika mengetahui kamu istriku," jawab Willy.
"Tapi bagaimana dengan Alda om?"
"Siapa Alda?" potong Rudi cepat.
"Putriku om, sahabatnya Mita," jawab Willy. Rudi menghela nafas, tidak menyangka Willy sudah mempunyai putri. Mendengar putrinya bertanya tentang alda, Rudi berpikir willy masih mempunyai istri sah dan Mita hanya selingkuhan. Willy menceritakan tentang Alda.
"Untuk sementara, biarlah Alda tidak tahu," kata Rudi.
Mita masih menunduk. Walau dia sangat mencintai Willy, tapi dia belum menginginkan pernikahan sekarang. Mita masih ingin bebas.
__ADS_1