
Mita menutup kamar mandi dengan kesal. Cukup lama dia berdiri di depan cermin. Memandangi wajah kesalnya tapi masih terlihat manis dan cantik. Mita juga berpikir, bagaimana caranya dia membatalkan rencana Willy. Bagaimanapun untuk menginap di apartemen Willy, Mita sangat takut dan malu.
Mita memandang sekitar kamar mandi. Cukup banyak perlengkapan mandi khusus untuk perempuan. Mita tidak berpikir itu untuk dirinya, melainkan dia berpikir itu untuk wanita lain. Apalagi tadi pagi, jelas dia lihat Sofia di apartemen ini. Mengingat Sofia, Mita semakin kesal. Bukan kesal kepada Sofia tetapi kesal kepada Willy yang tidak mengingat janjinya. Janji tidak akan memanggil Sofia lagi ke apartemen ini. Cukup lama Mita melamun di kamar mandi.
"Baby, cepetan donk mandinya!. Om juga mau mandi udah gerah," teriak Willy dari luar. Tanpa menyahut Mita akhirnya melepaskan benang di tubuhnya dan mandi kilat.
Mita keluar dari kamar mandi lengkap dengan pakaian yang diambilnya tadi. Tangannya memegang seragam kotornya. Willy yang duduk di sofa sudah berganti pakaian. Kaos oblong warna merah dan celana pendek berwarna coklat. Jangan ditanya brandnya. Harga bisa mencapai di atas jutaan. Willy terlihat sangat muda dengan pakaian santai itu.
Mita meneliti dirinya sendiri. Kaosnya juga warna merah dan celana coklat. Willy tersenyum sangat manis. Sedangkan Mita cemberut.
"Mandi sana om," kata Mita. Willy beranjak dari sofa dan mendekati Mita yang berjalan ke arah pintu kamar.
"Mau kemana?"
"Ambil tas, mau masukkan ini," jawab Mita sambil menunjukkan seragam kotornya.
"Letak sini dulu."
Willy mengambil seragam kotor Mita. Menuntun Mita ke meja rias. Willy mengeringkan rambut Mita dengan hair dryer kemudian menyisirnya lembut.
"Baby kamu sangat cantik," kata Willy setelah selesai menyisir rambut Mita. Mita hanya memonyongkan bibirnya.
"Antar aku pulang om,"
"Aku sudah meminta ijin ke nenek. Nenek mengijinkan kok,"
"Hah?. Tidak mungkin nenek menginginkan. Jangan bohong om," jawab Mita terkejut. Willy mengambil ponsel Mita dari atas meja sofa dan menunjukkan chat ke Mita. Mita kesal. Willy meminta ijin atas nama Mita ke nenek untuk menginap di rumah Alda.
"Aku mau menunjukkan sesuatu kepadamu," kata Willy, dia menarik tangan Mita untuk duduk di sofa.
"Ini lihat," tunjuk Willy ke Mita. Dia menunjukkan rekaman Cctv tadi pagi. Mulai kedatangan Sofia sampai Sofia pergi dari apartemen itu. Mita marah melihat Sofia mencoba merayu Willy. Kemarahan itu hanya disimpan Mita dalam hatinya. Dia tidak mau menunjukkan seberapa besar cintanya ke Willy. Mita takut Willy akan memanfaatkan dan mempermainkan dirinya jika mengetahui Mita sangat mencintainya.
"Video celup celup nya ada tidak," tanya Mita polos. Willy terkekeh.
"Tidak ada baby,"
__ADS_1
"Maksud aku om, video celup celup dengan Tante Sofia sebelum kita sepasang kekasih om," tanya Mita lagi. Dia bertopang dagu melihat layar laptop.
"Gak ada baby, kan Cctv nya di matikan kalau adegan itu. Gak mungkinlah direkam baby," jawab Willy santai.
"Berarti tadi pagi pas adegan celup celup. Om mematikan Cctv.
Willy mengusap wajahnya kasar. Pertanyaan Mita sungguh menjebak. Willy kemudian mengamati Mita yang masih bertopang dagu. Willy semakin mengagumi Mita. Tidak hanya cantik tapi otaknya juga encer.
"Benarkan dugaan aku?" tanya Mita. Hatinya berdenyut nyeri melihat Willy terdiam. Bagi Mita diamnya Willy adalah jawaban pertanyaannya.
"Maaf baby, dugaan mu salah," jawab Willy pelan. Tadi pagi memang Willy sempat tergoda dan melakukan pemanasan dengan Sofia tetapi teriakan Alda, menghentikan pemanasan mereka. Tetapi setelah Alda dan Mita keluar dari apartemen Willy tidak melanjutkan, malah dia memutuskan hubungan mutualisme dengan Sofia.
"Om jangan bohong deh, kalau om tidak bisa menahan hasrat. Mending om lanjutin aja hubungan om dengan Tante itu, Aku tidak apa apa kok. Kalau kita putus,"
"Jangan, jangan baby. Baiklah om akan jujur," kata Willy sambil memeluk Mita. Dia pun menceritakan yang sejujurnya kepada Mita. Mita masih tidak percaya.
"Lihat nih, gak ada tanda tanda kecupan kan?" kata Willy sambil membuka bajunya. Mita spontan melihat tubuh Willy yang duduk di sampingnya. Entah karena sangat cinta atau karena memang tidak ada bekas kecupan seperti yang dibilang Willy, akhirnya Mita percaya.
"Ini kenapa seperti ini om?" tanya Mita polos melihat bentuk perut Willy yang berkotak kotak.
"Kenapa om?"
"Karena tubuh seperti ini sangat hot di ranjang. Mau coba?" tanya Willy menampilkan senyum mesumnya. Mita cepat cepat menggelengkan kepalanya.
"Mesum amat sih si duda," jawab Mita sewot. Mendengar Mita berkata seperti itu Willy langsung memeluk Mita.
"Setelah ujian akhir nasional. Kita berlibur ke Paris ya!" tawar Willy.
"Tidak mau om,"
"Kenapa," tanya Willy heran. Biasanya setiap wanita ditawari liburan pasti senang. Mita malah menolak.
"Nanti kita ke sana bukannya liburan yang ada om nanti membobol perawan. Apalagi kalau di sana musim dingin. Di mobil aja main nyosor apalagi di sana," jawab Mita. Bibirnya yang bergerak dengan mimik yang lucu membuat Willy gemas. Willy terkekeh sambil mencubit pipi Mita pelan.
"Ya udah. Kita menikah secepatnya. Om sudah membayangkan malam pertama yang ada pernikahan kita gagal," gerutu Willy sebal. Mita jadi tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
"Kalau om cinta sama aku. Om harus tahan donk. Dan harus mau menunggu aku sampai lulus ujian akhir semester nasional,"
"Iya, aku akan menahannya. Aku sangat mencintai kamu baby. Aku tidak mau kehilangan kamu. Malam ini tidur disini ya. Anggap aja malam pertama kita yang tertunda," pinta Willy memohon.
"Kalau om janji tidak kelewat batas. Aku mau."
"Iya, om janji. Om tidak akan melewati batas," jawab Willy masih memeluk Mita. Mita mengangguk. Willy sangat senang. Wajahnya terukir senyum yang sangat manis. Membayangkan tidur bersama dan memeluk pujaan hatinya, membuatnya bahagia. Kalah bahagia memenangkan tender milyaran rupiah.
Willy sangat bahagia. Dia bahkan memanjakan Mita dengan menyuapinya makan. Setelah makan malam, Willy juga menuruti Mita bermain tik tok. Willy bagaikan remaja baru merasakan cinta.
"Kirim ke ponsel ku baby," kata Willy ketika melihat video mereka.
"Tidak usah dikirim, sekarang kita pakai ponsel om," jawab Mita. Dia mengambil ponsel Willy meletakkan di tripod dan mereka pun kembali berjoget. Mereka tertawa melihat aksi mereka sendiri.
"Om jangan sampai dilihat Alda," kata Mita. Willy mengangguk.
"Udahan dulu ya om. Aku sudah lelah," kata Mita lagi. Dia mengambil bantal dan guling dan memberikannya ke Willy.
"Untuk apa ini?" tanya Willy bingung.
"Kita tidur om, om tidur di sofa ya!, Atau aku yang di sofa?. Kalau kita tidur berdua di ranjang. Aku takut om khilaf."
Willy menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Membayangkan tidur sambil memeluk Mita pupus sudah harapannya.
"Om janji tidak akan khilaf," pinta Willy. Tatapannya memohon. Tapi Mita mengancam pulang kalau Willy ngotot tidur satu ranjang.
Dengan lesu Willy, menuju sofa. Meletakkan bantal dengan kesal kemudian berbaring.
"Ini namanya bukan tidur bersama tapi tidur di atap yang sama," gerutu Willy pelan, tapi masih bisa di dengar Mita.
"Aku dengar loh om. Setidaknya kan tidur di kamar yang sama. Jangan coba coba pindah kemari ya om. Aku cepat terjaga loh. Kalau om curang aku pasti tahu," ancam Mita membuat Willy tidak berkutik.
"Iya." kata Willy tapi dia berdiri kembali.
"Baby, ciuman dulu ya sebelum tidur," ajak Willy setelah mendekat ke ranjang.
__ADS_1
"Gak ada om. Tadi om sudah nyosor di mobil. Itu jatah untuk hari ini," jawab Mita sambil membungkus badan hingga kepalanya pakai selimut. Dengan lesu Willy kembali ke sofa dan berbaring.