Mencintai Ayah Sahabatku

Mencintai Ayah Sahabatku
Tentang Sofia


__ADS_3

Dunia bagai milik berdua. Itulah yang dirasakan Mita dan Willy saat ini. Terlebih Willy, pekerjaannya menumpuk di kantor tidak dipedulikan demi bersama Mita. Biarlah nanti malam Willy lembur yang penting siang ini dia bersama Mita.


Keduanya masih di ruang tamu apartemen Willy. Mita yang berbaring dengan paha Willy sebagai bantalnya, asyik memainkan ponselnya sementara Willy memeriksa beberapa email di laptopnya.


"Om, sudah jam empat, aku pulang ya," kata Mita, Willy hanya memandang Mita sekilas kemudian kembali fokus ke laptop.


"Om..."


"Bentar lagi honey, satu jam lagi," jawab Willy dan masih terus fokus ke laptop.


"Aku pulang aja ya om, di sini juga gak ngapain. Kalau di rumah kan bisa bantu nenek," kata Mita lagi. Willy langsung menutup laptopnya.


"Maunya ngapain?" jawab Willy berbisik dan membelai wajah Mita. Mita langsung duduk.


"Om, udah ah. Kalau membengkak lagi. Aku tidak tanggungjawab lagi ya!" kata Mita dan menggeser duduknya. Willy terkekeh.


"Mau pulang kan?" tanya Willy dan Mita mengangguk.


"Cium dulu," kata Willy lagi. Mita cemberut.


"Gak mau ah."


"Ya udah, gak usah pulang," sahut Willy sambil berpura pura membuka laptop. Mita mendekat ke Willy dan mencium pipi Willy.


"Ciumnya yang benar. Ciuman pipi itu dari anak ke ayahnya atau sebaliknya," kata Willy masih berpura pura membuka Willy.


"Kali ini, anggap aja aku anakmu om," jawab Mita tersenyum.


"Hanya Alda anakku dan yang akan kamu lahir kan kelak. Kamu itu calon istriku. Jadi cium lah yang mesra," perintah Willy. Mendengar perkataan Willy, Mita serasa terbang ke angkasa. Kata kata itu sangat menggetarkan hatinya. Akhirnya Mita mencium Willy tepat di bibirnya. Willy tidak melewatkan kesempatan. Langsung menyambut ciuman Mita dan ********** dengan rakus. Mita yang merasa kecolongan memukul dada Willy dan mendorongnya. Willy terkekeh dan mengelap bibirnya.


Mita meraih tasnya, dengan manja Mita juga menarik tangan Willy keluar dari apartemen. Di lift mereka jadi bahan perhatian. Willy yang menggandeng Mita mesra. Perbedaan umur mencolok, membuat orang yang melihat mereka tanda tanya. Ditambah lagi Mita pakai seragam. Membuat penilaian mereka akan Mita berbagai persepsi. Bahkan dengan terang terangan ada yang mencibir.


Mita sedikit malu dan risih dengan tatapan yang menilainya buruk. Mita dengan halus melepaskan tangan Willy dari pundaknya. Willy yang paham dengan pemikiran Mita semakin mengeratkan rangkulannya.

__ADS_1


"Biarkan seperti ini. Jangan pedulikan orang," kata Willy. Sengaja mengeraskan suaranya supaya yang lain mendengar. Mita semakin menunduk. Keluar dari lift membuat Mita lega.


"Om, aku naik taksi aja ya!, aku takut nenek marah,"


"Om lebih takut lagi kalau kamu berjumpa dengan pria berbaju hitam," sahut Willy membuat Mita bungkam. Tanpa berkata lagi Mita menurut ketika Willy mendorongnya masuk ke dalam mobil.


Willy menjalankan mobilnya dengan pelan. Ingin berlama lama bersama Mita. Pria dewasa itu bagaikan anak baru gede yang baru mengenal cinta.


"Mau lagi honey," kata Willy ketika emping jagung pedas habis di mulutnya. Mita kembali memasukkan emping tersebut ke mulut Willy.


"Enak kan om?, Ini salah satu favorit ku bersama Alda,"


"Enak, apalagi disuapin kamu, makin enak,"


"Gombal,"


"Om, boleh nanya tidak?"


"Nanya apa?"


"Kenapa dengan Sofia?" tanya Willy datar. Cukup malas baginya membahas Sofia apalagi yang membahasnya adalah Mita kekasihnya.


"Maaf om, kalau aku lancang. Sebenarnya om sama Tante Sofia itu pasangan kekasih atau bagaimana?" tanya Mita hati hati. Pertanyaan itu selalu mengganjal di hatinya dan baru kali ingat untuk bertanya langsung ke Willy.


Willy juga bingung mau menjelaskan tentang Sofia kepada Willy. Hubungan mereka bukan sekedar teman atau rekan kerja. Hubungan mereka tanpa status tapi intim di ranjang. Sofia yang lihai di ranjang membuat Willy selalu terpuaskan. Tapi tidak dengan hatinya. Hatinya tertutup dengan yang namanya wanita. Banyak wanita yang menggodanya. Bahkan menawarkan keperawanannya bagi Willy. Tapi semua itu tidak membuat Willy tertarik. Hingga dia bertemu Mita. Tembok yang sudah membentengi hatinya selama ini runtuh dengan pesona Mita.


"Om...." Willy tersentak.


"Mau cerita jujur atau cerita bohong?" tanya Willy balik. Mita memukul lengan Willy pelan.


"Ya ampun om, ya pastilah mau cerita jujur," jawab Mita penasaran. Dia sampai memiringkan tubuhnya hanya untuk mendengar cerita tentang Sofia.


"Kamu harus janji dulu, apapun yang kamu dengar nanti tidak merubah hubungan kita," jawab Willy dan menoleh ke Mita. Willy pun berniat menceritakan semuanya tentang Sofia. Lebih bagus Mita mendengar dari mulutnya daripada dari orang lain. Willy tidak mau kelak hubungan masa lalunya dengan Sofia menjadi sesuatu yang buruk bagi hubungannya dengan Mita.

__ADS_1


"Iya om. Aku janji." Mita mengangguk dan tersenyum. Senyuman Mita membuat Willy yakin bercerita.


"Aku dan Sofia bukan pasangan kekasih. Hubungan kami hanya hubungan yang saling menguntungkan," jawab Willy. Mita sedikit lega, setidaknya dia bukan pelakor. Mita juga bingung melihat Sofia yang menggandeng mesra Willy saat mereka pertama bertemu. Apalagi Sofia sempat menyebutnya akan menikah dengan Willy.


"Tapi aku dengar sendiri dia berkata akan menikah dengan om," sahut Mita sendu.


"Aku hanya akan menikah denganmu saja. Jadi jangan percaya,"


"Terus, hubungan saling menguntungkan itu, maksudnya apa om?" tanya Mita lagi membuat Willy bingung bagaimana menjelaskannya.


"Aku memberinya apa yang dia mau. Dan Sofia memberi apa yang ku mau."


"Om kan sudah punya segalanya. Jadi apa yang diberikannya sama om?" tanya Mita polos membuat Willy semakin bingung.


"Kami partner di ranjang," jawab Willy akhirnya.


"Maksudnya seperti yang kita lakukan itu om?" tanya Mita lagi. Willy menggeleng.


"Lebih dari situ." jawab Willy pelan hampir tidak terdengar. Mita yang polos masih saja bingung.


"Maksudnya gimana om?, aku belum mengerti." Willy frustasi untuk mengungkapkan secara langsung dia sedikit malu.


"Bercinta." Willy akhirnya mengucapkan kata itu, berharap Mita cepat mengerti.


"Ooo, jadi kalau itunya membengkak. Dimasukkan ya om?" tanya Mita masih polos. Willy sampai geli mendengarnya. Willy hanya mengangguk. Seketika Mita murung dan berpikir.


"Maaf honey, itu hanya masa lalu," kata Willy mengelus lembut punggung tangan Mita.


"Om, pasti kecewa ya. Karena Mita gak mau itunya dimasukkan," kata Mita pelan. Willy cepat menggelengkan kepala.


"Tidak honey, bahkan aku tidak mau melakukannya denganmu tanpa ikatan pernikahan. Aku mencintai mu. Aku akan menjaga kesucian cinta kita." Willy menarik tangan kanan Mita dan menciumnya.


"Terus kalau om ingin itunya dimasukkan, mau cari Sofia lagi?" tanya Mita lagi. Matanya menatap dalam wajah Willy. Willy menggeleng.

__ADS_1


"Aku tidak akan mencarinya lagi. Aku akan mencari mu. Kita lakukan seperti yang tadi di apartemen. Kamu paham kan maksudku?" jawab Willy. Mita mengangguk.


__ADS_2