Mencintai Ayah Sahabatku

Mencintai Ayah Sahabatku
Tanda tangan


__ADS_3

Satu Minggu berlalu dari kaburnya Mita. Mita tidak bersedia untuk menuruti persyaratan yang diajukan oleh Willy. Bagi Mita. Cerai adalah jalan terakhir untuk pernikahan mereka. Mita memilih pulang ke rumah nenek Ratmi daripada harus kembali ke rumah Willy atau apartemennya.


Satu Minggu bersama nenek Ratmi. Mita sudah memikirkan matang matang keputusannya. Mita semakin yakin, nenek Ratmi dan papanya Rudi mendukung apapun keputusan Mita.


"Sudah siap?" tanya nenek Ratmi melihat Mita keluar dari dalam kamar. Hari ini rencananya mereka akan ke rumah Willy untuk meminta tanda tangan Willy.


"Sudah nek. Kita berangkat sekarang."


"Duduk dulu Mita," suruh Rudi yang juga duduk di sofa bersama nenek Ratmi. Mita menurut. Dia duduk di hadapan Rudi di sebelah nenek Ratmi.


"Keputusan kamu sudah bulat kan?" tanya Rudi. Sama seperti nenek Ratmi. Rudi juga sedih melihat nasib pernikahan putrinya yang hanya sebentar. Jika hari pernikahan Mita bersamaan ditanam jagung. Jagung itu belum layak dipanen sedangkan pernikahan Mita sudah berakhir. Usia pernikahan Mita tidak layak disebut seumur jagung.


"Sudah Yah," jawab Mita.


"Pikirkan beberapa menit lagi sebelum melangkah keluar dari rumah. Ayah tidak ingin kamu mengatakan sudah siap bercerai dari rumah ini tapi setelah di rumah Willy kamu berubah pikiran. Kamu harus bersikap tegas. Jangan lagi bersikap plin plan. Jika Willy sudah menandatangani surat gugatan itu. Itu artinya jalan untuk bersama Willy tidak ada lagi," kata Rudi. Mita terdiam sebentar.


Seperti saran ayahnya. Mita kembali memikirkan keputusannya. Mita mengenang awal pertemuan dengan Willy, mengingat kenangan indah hingga hari pernikahannya. Mita memejamkan matanya ketika mengingat pengakuan Willy akan cintanya kepada Keyla. Hingga setetes air mata turun di pipinya. Mita mengangguk pertanda keputusan masih sama seperti sebelumnya. Bercerai.


"Baiklah. Aku sudah bisa menyimpulkan keputusan kamu nak. Pergilah. Selesaikan masalah kamu dengan Willy," kata Rudi.


"Belum. Sebentar lagi. Mita, perbaiki riasan wajah mu dan ganti pakaian kamu dengan pakaian yang lebih bagus dari itu," kata nenek Ratmi. Dia tidak ingin pergi ke rumah Willy dengan riasan Mita yang sudah luntur. Penampilan Mita yang terlihat biasa juga membuat nenek Ratmi turun tangan memilih pakaian untuk dipakai oleh Mita.


Mita kembali duduk di ruang tamu setelah menuruti perkataan neneknya.


"Bu, nanti kita kembali ke rumah lama. Rumah ini harus kita kembalikan ke Willy setelah surat itu ditandatangani," kata Rudi lagi. Rumah yang mereka tempati sekarang adalah rumah pemberian Willy yang jauh lebih bagus dari rumah nenek Ratmi sebelumnya. Rumah ini dengan rumah nenek Ratmi sebelumnya hanya berjarak puluhan meter saja.


"Tidak bisa. Rumah ini sudah atas nama Mita. Enak sekali dia. Setelah menghancurkan Mita. Dan pemberiannya kembali ke dia. Dibandingkan harga diri cucuku, pemberian nya tidak seberapa," tolak nenek Ratmi tegas. Dia tidak akan membiarkan Willy hanya menikmati tubuh cucunya tanpa ada pengorbanan sedikit pun termasuk rumah mewah ini.


"Jangan begitu Bu. Nanti dia berpikir yang tidak tidak terhadap keluarga kita."


"Tidak. Apa yang sudah diberikan oleh Willy kepada Mita itu tetap milik Mita."


"Tidak nenek. Apa yang dikatakan ayah. Itu benar. Aku tidak ingin om Willy menilai aku menikah karena harta. Sebaiknya kita sekalian saja membawa sertifikat rumah ini."


"Kamu dan ayah kamu. Sama sama bodoh. Kalau kamu hamil. Anak kamu mau makan apa?" tanya nenek sengit. Dia tidak setuju dengan pemikiran Rudi dan Mita. Menurut nenek Ratmi. Willy keenakan jika pemberiannya semua dikembalikan.


"Aku tidak akan hamil nek," jawab Mita pelan. Dia ingin menceritakan jika sudah meminum obat kontrasepsi setelah berhubungan badan dengan Willy. Tapi karena ada Rudi diantara mereka. Mita merasa malu untuk mengungkapkan itu.


"Kita bisa mengetahui kamu hamil atau tidak beberapa minggu lagi. Tapi apapun hasilnya. Aku lebih suka perceraian ini tetap terjadi. Jika kamu hamil kita bisa merawat anak itu tanpa Willy. Laki laki seperti Willy tidak pantas menjadi suami untuk kamu."


Mita hanya mengangguk. Dia merasa sangat yakin tidak hamil. Dan jika pun pil kontrasepsi yang sudah dimakannya tidak bereaksi dengan baik dan dirinya hamil, Mita tidak ingin bersama Willy lagi.


Taksi yang membawa Mita dan nenek Ratmi susah berhenti di luar gerbang rumah Willy. Mita menatap gerbang rumah yang tinggi itu. Mita mengambil ponsel dan mengirim pesan ke Willy jika dirinya ada di luar gerbang.


Belum juga Mita menyimpan ponselnya ke dalam tas. Gerbang itu sudah terbuka. Seorang satpam menunduk hormat kepada Mita dan mempersilahkan Mita dan nenek Ratmi masuk ke dalam rumah. Mita menarik tangan neneknya dan menggandengnya masuk ke dalam halaman rumah Willy.


Mita dan nenek Ratmi duduk di sofa. Mita memperlakukan dirinya sendiri seperti orang asing yang datang bertamu. Ketika seorang pelayan datang dan menyuruhnya langsung ke kamar atas. Mita dengan sopan meminta sang pelayan untuk memberitahukan kepada tuannya bahwa dirinya sudah menunggu di ruang tamu.

__ADS_1


"Tapi tuan Willy sendiri yang meminta anda langsung ke kamar atas nyonya," kata pelayan itu sambil menunduk.


"Bilang sama tuan kamu. Mita datang ke rumah ini bersama neneknya. Mita datang bukan untuk membelai tubuh Willy," kata nenek Ratmi marah. Dia tidak suka dengan sikap Willy yang seperti ini.


"Mita."


Nenek Ratmi dan Mita sama sama menoleh ke arah suara yang memanggil nama Mita. Keyla semakin mendekat dan memeluk Mita dengan erat.


"Kemana saja kamu Mita?" tanya Keyla setelah melepaskan pelukannya. Mita hanya tersenyum. Mendapat perlakuan tulus dari Keyla. Entah mengapa Mita merasa senang dan bahagia.


"Aku di rumah nenek Tante."


"Tapi kata Willy kamu tidak ada di sana. Ini nenek kamu?" tanya Keyla sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan nenek Ratmi. Sama seperti Mita. Nenek Ratmi juga langsung senang berkenalan dengan Keyla.


"Keyla nek."


"Aku tahu. Kamu mantan istri pria serakah itu kan?" tanya nenek Ratmi. Keyla hanya mengangguk.


"Kemana dia. Apa tangganya sampai ke langit hingga pelayan itu belum menyampaikan pesan kamu Mita?" tanya nenek Ratmi lagi yang semakin kesal.


"Pesan apa nek. Mita kenapa kamu tidak langsung naik aja ke kamar kamu. Naiklah. Willy aku rasa sudah menunggumu."


"Tidak Keyla. Kedatangan kami ke sini untuk meminta tanda tangan Willy. Mereka harus bercerai secepatnya."


Keyla menutup mulutnya tidak percaya mendengar perkataan nenek Ratmi. Dia menatap Mita yang menunduk.


"Jangan sakiti hati kamu sendiri. Dari awal aku sudah katakan jika aku tidak akan rujuk dengan Willy. Willy sangat mencintai kamu. Bertahanlah di sisinya Mita. Cepat atau lambat. Willy akan melupakan aku," kata Keyla lembut. Dia berharap perkataannya dapat mempengaruhi Mita untuk tidak bercerai dari Willy. Mita hanya menggelengkan kepalanya.


"Keyla. Kamu adalah wanita yang baik nak. Apa kamu sudah mempunyai seseorang sehingga kamu tidak bersedia rujuk dengan Willy," tanya nenek Ratmi. Melihat Keyla yang begitu lembut entah mengapa Nenek Ratmi juga merasa senang bertemu dengan wanita itu.


"Bukan karena itu nek."


"Jika kamu belum mempunyai seseorang dan tidak bersedia rujuk dengan Willy. Maukah kamu? aku kenal kepada seseorang?" tanya nenek Ratmi membuat Mita mengerutkan keningnya.


"Nenek mau mengenalkan Tante Keyla kepada siapa nek?" tanya Mita.


"Kepada ayah kamu Rudi Mita. Aku melihat bunda kamu di setiap tutur kata dan kelembutannya."


"Nenek jangan sembarangan. Tante Keyla harus rujuk dengan om Willy. Ada Billy yang harus menerima kasih sayang dari mereka."


Willy berdehem setelah tiba di ruang tamu. Dia menatap Mita yang sangat tampil lebih cantik hari ini. Berbeda dengan hari hari sebelumnya. Mita memakai jumpsuit tanpa lengan warna hijau tosca. Kulitnya yang putih semakin bersinar dengan warna jumpsuit itu. Riasannya juga sedikit mencolok tetapi membuat wanita itu semakin cantik. Rambutnya dibiarkan tergerai.


Willy duduk di sofa tunggal setelah bersalaman dengan nenek Ratmi. Melihat Mita datang dengan nenek Ratmi Willy sudah menduga jika kedatangan Mita berkaitan dengan perceraian mereka.


"Om, Aku dan nenek datang untuk ini," kata Mita sambil menyodorkan sebuah map. Willy menerima dan membuka map tersebut. Kemudian meletakkan map itu di atas meja.


Willy menarik nafas panjang. Dia kembali menatap tiga orang yang duduk di hadapannya. Menatap Mita, Keyla kemudian nenek Ratmi. Dia sudah mendengar semua apa yang dibicarakan oleh tiga orang ini sebelum dirinya tiba dan sofa ini. Tentu saja Willy tidak senang dengan apa yang mereka bicarakan. Apalagi perkataan nenek yang ingin mengenalkan Keyla kepada Rudi.

__ADS_1


"Ikut aku Mita. Jika kamu ingin tanda tangan aku."


Willy beranjak dari duduknya. Dia tidak menuju tangga seperti pemikiran Mita. Willy melangkah menuju ruang kerja. Dia membuka ruang kerja itu dan masuk ke dalam tanpa menutup pintu. Mita menatap neneknya bingung.


"Temui Willy Mita, kalian sebaiknya berbicara terlebih dahulu sebelum memutuskan bercerai," kata Keyla lembut sambil menyentuh tangan Mita. Mita bingung. Dia butuh persetujuan sang nenek untuk menemui Willy.


"Tidak perlu Mita. Jangan temui dia. Sampai kapan dia tempat itu maka kita juga menunggunya di ruang tamu ini," jawab nenek kesal. Dia juga bisa melihat cinta Willy yang begitu besar terhadap Keyla.


"Nek, tidak boleh seperti itu. Mereka masih sah suami istri. Kita hanya pihak ketiga di hubungan mereka." kata Keyla. Sama seperti perkataan Keyla. Mita juga ingin berbicara empat mata dengan Willy. Berbicara berdua untuk terakhir kalinya sebagai suami istri. Mita meminta ijin kepada nenek untuk membiarkannya menemui Willy.


"Sekalian bawa ini. Jangan keluar dari ruangan itu kalau tidak ada tanda tangan Willy di kertas ini," kata nenek masih kesal. Nenek sungguh tidak rela Mita berduaan dengan Willy apalagi sampai bercinta di ruangan itu.


"Jangan lama," kata nenek lagi setelah Mita mengambil map dan berdiri. Mita hanya mengangguk dan melangkah menuju ruang kerja Willy.


Willy menutup pintu setelah Mita berada di ruangan itu. Dia tidak peduli dengan suara nenek Ratmi yang protes dari luar. Willy langsung mendekap tubuh Mita. Satu minggu tanpa tubuh itu menemani tidurnya selama seminggu ini. Mita membiarkan tubuhnya dipeluk oleh Willy. Karena Mita berpikir bahwa ini yang terakhir kalinya mereka berpelukan sebagai suami istri.


"Baby. Aku merindukan kamu," bisik Willy. Dia seakan lupa tujuan Mita datang ke rumah ini.


"Om boleh memandangi aku sampai puas hari ini. Karena ini mungkin yang terakhir kalinya om bisa melihat dan memeluk aku," kata Mita sambil tersenyum. Willy yang sudah melepaskan dekapannya dan mengamati penampilan Mita. Dia tidak senang dengan penampilan Mita yang menunjukkan semua lekuk tubuhnya.


"Maafkan aku Mita. Tolong jangan mengucapkan itu. Aku tidak ingin bercerai. Jika karena kejujuran aku tentang Keyla kamu sakit hati. Aku akan perlahan lahan menghapus nama Keyla dari hati ini. Aku akan berhenti mengejarnya demi rumah tangga kita," kata Willy memohon. Mita hanya menatap Willy sinis.


"Keputusan aku tetap om. Bercerai."


"Mita. Kenapa sampai seperti ini. Kamu masih istri aku satu satunya. Dan rumah tangga kita juga tidak terlambat untuk diperbaiki. Tolong mengertilah Mita. Jangan keras Kepala. Apa kamu tidak dapat merasakan bagaimana aku sangat mencintaimu?" tanya Willy sudah mulai tidak sabar dengan sikap Mita.


"Aku dapat merasakan itu om. Terima kasi untuk itu. Tapi aku tetap ingin bercerai," kata Mita tegas tak terbantahkan. Dia mengeluarkan suara dari map dan meletakkan di meja kerja Willy.


"Bagaimana kalau kamu hamil. Aku tidak ingin anakku mengalami seperti yang dialami oleh Billy," kata Willy berharap Mita mengubah keputusannya.


"Aku tidak akan hamil. Aku sudah memakan obat kontrasepsi pagi itu setelah keluar dari rumah ini. Kalau pun hamil. Aku tidak akan seperti Tante Keyla. Aku akan mencari ayah pengganti untuk anak aku kelak."


Willy merapatkan giginya mendengar perkataan Mita. Dia teringat akan Mita kabur dengan bantuan Azriel.


"Apa si bocah itu yang akan jadi ayah dari anakku jika kamu hamil. Jangan jangan kamu bersikeras meminta cerai karena ada hubungan dengan bocah itu," kata Willy marah dengan wajah yang mengeras. Mita hanya tersenyum sinis.


"Aku hanya berandai. Kenapa langsung marah seperti ini. Cepat om. Tanda tangani. Om harus ke kantor kan?. Jangan membuang waktu hanya untuk ini."


Mita kembali menyodorkan surat itu. Willy merampasnya kasar dan meletakkan kembali surat itu. Dia menarik tubuh Mita dan langsung mencium bibirnya. Mita yang tidak ada persiapan mendapat serangan tiba tiba. Hanya bisa meronta dan memukuli dada Willy.


"Om. Jangan seperti ini," bentak Mita setelah berhasil lepas dari Willy. Nafasnya tidak beraturan karena lelah meronta.


"Mita, aku tidak menyangka kamu seperti ini Mita. Kamu ternyata hanya berpura pura mencintai aku. Kamu meminta aku rujuk dengan Keyla hanya untuk mencari celah kesalahan aku," kata Willy marah. Dia merasa dipermainkan oleh Mita karena mendengar akan mencari pengganti ayah jika dia hamil. Perkataan itu membuat Willy menduga dan merasa yakin jika Mita dan Azriel ada hubungan. Dia tidak tahu jika Mita berusaha mati matian untuk setia ketika warga menyuruh mereka untuk menikah.


Mita merasakan hatinya berdenyut nyeri mendengar apa yang sudah keluar dari mulut Willy. Hatinya semakin yakin untuk bercerai apapun yang terjadi.


"Tanda tangani om," kata Mita sambil menyodorkan kembali surat itu. Willy yang sudah sangat kecewa akhirnya mengambil pulpen dan menandatangani surat gugatan itu.

__ADS_1


"Selamat bersenang-senang kembali dengan Sofia om. Masih hitungan jam aku keluar dari rumah. Om sudah bermain dengannya di apartemen. Setelah ini. Aku juga tidak setuju jika Tante Keyla kembali kepadamu. Sofia adalah tempatmu. Bukan aku atau Tante Keyla. Tentang tuduhan om barusan. Itu tidak benar. Aku sangat mencintaimu sampai satu menit yang lalu. Tetapi setelah tanda tangan ini. Aku akan perlahan lahan menghilangkan cinta itu. Dan tuduhan om barusan sangat membantu aku untuk menghapus cinta itu," kata Mita sambil tersenyum sinis.


__ADS_2