Mencintai Ayah Sahabatku

Mencintai Ayah Sahabatku
Rencana Menikah


__ADS_3

Sejak kepulangan Willy dan Alda dari liburannya. Willy dan Mita belum pernah bertemu. Lebih tepatnya Mita yang tidak bertemu Willy. Willy mana tahan kalau harus menahan rindu. Tetapi karena tidak mau mengganggu Mita dan itu permintaan Mita, akhirnya Willy hanya bisa melihat Mita dari kejauhan. Itu lebih baik bagi Willy daripada sama sekali tidak bisa melihat Mita. Entah sebesar apa cinta Willy ke Mita. Yang pasti Willy sangat tergila gila dengan sahabat putrinya itu.


Hari demi hari berlalu. Ujian akhir nasional juga tinggal beberapa hari akan berlalu. Dan sepertinya seiring dengan berlalunya waktu persahabatan Alda dan Mita juga akan cepat berlalu. Walau Alda tidak melarang Willy untuk menikahi Mita, tetapi kedua sahabat itu masih canggung untuk berbicara kembali. Apalagi ruangan ujian mereka yang berbeda. Membuat tipisnya kesempatan untuk kedua sahabat itu bertegur sapa.


Hari terakhir ujian. Mita sudah bertekad dalam hatinya akan menyapa Alda seusai ujian bagaimanapun caranya. Setelah membaca ulang apa yang sudah dituliskan di lembar jawaban. Mita keluar dari ruangan. Dia yang pertama keluar dibandingkan teman temannya dari semua ruangan. Mita yang dasarnya pintar tidak sulit baginya menjawab soal soal itu.


Mita berdiri dekat pos Satpam. Dari tempat itu Mita bisa melihat Alda keluar dari ruangannya. Bahkan Alda akan melewati tempat itu ketika nanti pulang. Mita tidak ingin waktu ini terlewat tanpa berbicara dengan Alda.


Seperi kontak batin, Alda juga sudah keluar dari ruangannya. Sama seperti Mita, Alda juga tidak kesulitan menjawab soal soal itu. Tapi dibandingkan Mita, Alda lebih teliti. Dia bahkan berulang ulang membaca kembali dan mencocokkan ke soal apa yang sudah dituliskannya.


Mita sengaja bersembunyi ke dinding samping pos satpam itu. Alda sudah berjalan ke arahnya menuju parkiran. Mita tidak ingin Alda menghindar jika terlebih dahulu melihat Mita di tempat itu.


"Alda," panggil Mita sambil berlari. Tanpa menoleh Alda tahu itu Mita, dia terus berjalan. Tujuannya adalah mobil dan pulang. Mita menggigit bibirnya karena merasa canggung.


"Alda. Please!. Aku mau ngomong sebentar," pinta Mita. Mereka sudah berjalan beriringan.


"Mau ngomong apa Mita?" jawab Alda biasa. Dari nadanya, mereka seperti tidak ada masalah sama sekali. Mita heran dengan perubahan sikap Alda yang berbeda ketika dua hari terakhir mereka berbicara.


"Aku hanya minta maaf Alda. Enam tahun kita bersama. Dan ini ujian terakhir kita di sekolah ini. Mungkin aku banyak salah terhadap kamu. Aku minta maaf."


Alda menatap Mita cukup lama. Mereka sudah berdiri di samping mobil Alda. Alda menunggu Mita untuk berbicara lagi. Berbicara tentang hubungan ayahnya dengan Mita. Tetapi Mita kini sudah terdiam.


"Aku yang harus minta maaf kepada kamu Mita. Selama ini aku menyusahkan kamu dengan semua keluh kesah ku, semua suka duka aku. Sedangkan kamu bisa mandiri dan bisa menyimpan semua suka dan duka kamu. Dalam persahabatan kita. Aku yang banyak menyusahkan kamu. Aku minta maaf akan hal itu. Mungkin setelah ini, kamu tidak membutuhkan sahabat seperti aku yang selalu menyusahkan kamu. Atau bisa jadi kamu sudah punya sahabat atau seseorang yang bisa tempat kamu berbagi cerita suka dan duka bukan seperti aku yang selalu menyusahkan kamu."


Alda berbicara panjang lebar. Perkataan itu adalah sindiran bagi Mita. Tapi Mita yang belum tahu bahwa Alda sudah mengetahui hubungannya bersama Willy tidak merasa tersindir sama sekali. Bukan tersindir, Mita menyikapi perkataan Alda seperti perpisahan.


Alda masuk ke dalam mobil setelah mengucapkan kata kata itu. Alda kembali kecewa. Bukan seperti ini yang diharapkan tentang persahabatan mereka. Andaikan Mita terus terang tentang hubungan itu, Alda mungkin berlapang dada untuk memaafkan Mita. Tapi yang Alda lihat, Mita seperti tidak merasa bersalah sama sekali.


Alda sengaja berkata seperti itu daripada meluapkan kekesalannya. Alda menyadarinya. Ayahnya sangat mencintai Mita dan sebentar lagi akan menikah. Itu artinya Mita akan menjadi ibu tirinya. Walau berbeda usia satu tahun. Jika Mita akan menjadi ibu tirinya. Alda akan menghormati dan akan menghargainya.


Sedangkan Mita, dia terus memandangi mobil Alda yang semakin menjauh. Tekadnya untuk berbicara dengan Alda hari ini terkabul. Tapi

__ADS_1


entah mengapa, setelah Alda pergi. Mita merasakan hampa di hatinya. Kata kata Alda tadi seperti batu besar yang menimpa dadanya.


Mita menangis. Menangisi persahabatannya karena harus bertahan hanya enam tahun dan berakhir dengan saling menyakiti.


Mita melangkahkan kakinya masuk ke dalam gang rumahnya. Langkahnya seperti tidak ada beban tapi hatinya penuh beban. Berpisah dengan Alda adalah beban baginya.


Alda melangkahkan kakinya malas ke dalam rumah. Tiga orang sudah menunggu kepulangannya. Willy, Rudi dan nenek Ratmi tersenyum menyambut kedatangan Vina. Sama seperti Willy, Mita juga merindukan duda tampan itu. Mita langsung duduk dekat Willy dan tentu saja Willy senang. Andaikan hanya mereka berdua di ruangan itu, sudah pasti Willy memeluk dan mencium Mita. Willy hanya bisa mengusap kepala Mita mengobati rasa kangen akan pujaan hatinya itu.


Rudi berdehem melihat Willy seakan enggan berhenti mengusap kepala Mita. Mita dan Willy sama sama grogi. Mereka terlalu larut melepas rindu dengan saling menatap.


"Jadi persiapannya sudah berapa persen?" tanya Rudi serius. Dia memegang sebuah kartu undangan.


"Sudah mendekati sembilan puluh persen om. Gedung dan catering sudah fix. Undangan sudah jadi tinggal menyebarkan saja. Sedangkan untuk pakaian kami berdua juga tinggal fitting," jawab Willy mantap. Rudi dan nenek Ratmi hanya menganggukkan kepala.


"Rencananya, bulan madu kalian kemana?" tanya nenek Ratmi sambil memandang Mita. Mita tidak begitu menyimak pembicaraan tiga orang itu. Pikirannya masih saja ke Alda.


"Terserah Mita nek, kemana dia mau. Aku akan menurutinya selagi mampu," jawab Willy merendah. Dengan harta yang dimilikinya sekarang. Kemana saja Mita mau pasti dia bisa menyanggupinya.


"Ya ampun. Karena baru siap ujian. Cucu nenek jadi eror. Ya iyalah kamu masa nenek?.Jadi siapa lagi?. Yang mau menikah kan kamu sama Willy," jawab nenek sewot.


"Menikah. Secepat ini?" tanya Mita terkejut lagi dan bingung. Dia baru selesai ujian tapi sudah membicarakan pernikahan.


"Iya. Hari yang sama dengan hari ini. Minggu depan kalian akan menikah," jawab nenek Ratmi tegas. Mita membulatkan matanya mendengar pernikahan yang sudah hampir di depan mata. Ternyata Willy tidak main main untuk menikahinya setelah lulus ujian. Selama ini, Mita menganggap perkataan Willy sebagai gombalan biasa.


"Tapi kenapa kalian bertiga tidak memberi tahu aku sebelumnya. Jangan mendadak gini donk," jawab Mita kesal. Ini menyangkut pernikahan yang akan terjadi sekali seumur hidup. Tapi dia tidak diajak berdiskusi menyangkut pernikahannya sendiri. Selain itu, Mita masih merasa sangat muda untuk segera menikah.


"Mendadak kata kamu. Ini sudah jauh jauh hari kami persiapkan. Kamu kira sejak kamu gagal menikah waktu itu kami tidak berbuat apa apa?. Masyarakat disini bahkan mendesak untuk menikahkan kalian setelah kejadian gagal itu. Tapi karena Willy terlalu mencintai kamu. Dia memutuskan pernikahan itu terjadi setelah kamu selesai ujian sesuai permintaan kamu,"


"Tapi tidak begini juga nek,"


"Tidak begini gimana?. Mau menunda lagi?. Kamu mau menunda pernikahan tapi tidak menunda Willy mencium kamu. Kamu kira nenek tidak tahu. Ketika nenek saat itu sakit. Willy merayap ke kamar kamu. Ketika nenek pulang kampung, kamu dan Willy berciuman di sini. Tetangga melihat dan melaporkan ke nenek," kata nenek marah.

__ADS_1


Itulah alasan nenek berbalik menyetujui pernikahan Mita dan Willy. Mendengar cerita dari Rudi dan tetangga. Nenek memantapkan hati untuk menikahkan Mita dan Willy. Mita dan Willy sama sama merasa malu. Apa yang dikatakan nenek, itu memang benar benar pernah terjadi. Tapi nenek mengungkitnya di depan ayahnya sendiri membuat Mita semakin malu.


Selain itu, nenek juga menduga bahwa hubungan Willy dan Mita sudah terlalu jauh. Di rumah nenek bisa menjaga Mita, tapi tidak di luaran sana siapa yang tahu. Willy adalah pria dewasa yang butuh kebutuhan biologis. Nenek sangat yakin bahwa Mita sudah menyerahkan dirinya ke Willy. Nenek tidak tahu bahwa Mita menjaga harta berharga itu dengan baik.


Mita masih percaya dan tidak percaya. Dia membaca contoh kartu undangan yang dibawa Willy. Nama dan nama Willy juga tanggal dan tempat sudah tercantum di sana. Perasaan Mita campur aduk. Kalau tentang kuliah, Mita yakin Willy akan mengijinkan. Tapi menyangkut Alda. Entah mengapa nyali Mita menjadi menciut.


"Alda merestui kita berdua baby," kata Willy. Melihat Mita berpikir, Willy tahu bahwa Alda lah yang ada dipikiran Mita. Mita terkejut. Mita spontan meletakkan kartu undangan itu.


"Maksud om?"


"Alda sudah mengetahui tentang kita berdua baby. Aku sudah jujur kepadanya. Dia sudah memberi restu," jawab Willy lagi. Mita terbodoh mendengar jawaban Willy. Mita mengingat perkataan Alda tadi. Seketika Mita merasa bersalah. Perkataan Alda tadi ternyata sindiran baginya. Mita termenung dan terus memikirkan perkataan Alda tadi. Mita tersadar. Sikap Alda berubah itu karena dirinya. Dia tahu sikap Alda.


"Jadi kemana nih bulan madunya. Nenek juga mau ikut refreshing," kata nenek bercanda. Mita tersentak dari lamunannya. Mita kembali merasa malu mendengar candaan neneknya.


"Kemana baby?"


"Gak kemana mana," jawab Alda malu. Pikirkan tidak ada sama sekali menyangkut bulan madu. Pikirannya bagaimana persahabatan dirinya dan Alda bisa terjalin kembali.


"Kita akan bulan madu ke Maldives nek. Kalau nenek dan om mau. Kalian bisa ikut bersama kami. Alda juga kalau mau, akan ikut juga," jawab Willy mantap. Maldives adalah negara yang pernah disebut Mita ketika Willy bertanya tentang negara tujuan Mita jika berbulan madu. Willy ingin mewujudkan impian calon istri tercintanya itu.


"Om, tidak ikut Willy. Ibu juga ngapain ngikutin mereka bulan madu. Kalau ibu sakit di sana gimana?. Yang ada mereka bukan bulan madu tapi ngurusin ibu sakit," kata Rudi yang sedari tadi diam. Mertuanya itu memang suka menjahili dan bercanda seperti ini. Tapi jika ditawari dan dianggap serius oleh lawan bicaranya, nenek pasti tidak akan menolak.


"Baiklah. Nenek tadi ikut mereka. Mulai hari ini. Mita tidak bisa keluar. Kamu juga Willy, kalau tidak ada hal mendesak selain kerja. Tidak perlu keluar rumah terlebih dahulu. Willy mengangguk pasti sedangkan Mita kembali termenung.


"Iya nek, tapi kalau datang kemari, boleh kan?. Aku juga harus menjemput Mita untuk fitting baju nek,"


"Kalau tentang fitting baju boleh, tapi selepas itu jangan merayap kemana mana. Nanti sesudah menikah kamu bisa merayap sesuka hati kamu,"


Rudi terkekeh mendengar perkataan ini mertuanya. Sedangkan Mita hanya bisa menatap neneknya kesal.


"Baik nek," jawab Willy sopan.

__ADS_1


__ADS_2