
"Belum pulang?" tanya Willy terkejut ketika melihat Mita masih di kamar Salsa padahal sudah jam 10 malam. Mita yang saat itu masih bermain ponsel sambil berbaring sontak terkejut karena suara pintu yang tiba-tiba ditutup.
"Belum Om. Aku bermaksud menidurkan Salsa dulu. Setelah itu baru pulang," jawab Mita langsung duduk dan turun dari ranjang. Dia menyingkir supaya Willy leluasa meletakkan Salsa di ranjang. Salsa sudah terlihat mengantuk tapi tidak mau melepaskan tangannya dari leher Willy. Willy akhirnya ikut berbaring sambil membelai rambut putrinya. Tapi hampir setengah jam seperti itu Salsa juga belum tidur.
"Biar aku saja yang menidurkan Salsa om. Om naik saja ke atas," kata Mita. Willy melepaskan tangan Salsa dan anak itu juga tidak menahan Willy untuk terus berbaring.
"Selamat malam tuan putriku. Semoga mimpi indah," kata Willy kemudian mencium kepala putrinya. Kemudian turun dari ranjang. Dia menatap Mita sebentar kemudian berlalu dari kamar tersebut.
Malam berlalu. Pagi menjelang. Willy menuruni tangga. Dia terlebih dahulu masuk ke kamar si bungsu. Setelah melihat si bungsu. Willy menuju kamar Salsa.
"Ayah," sambut anak itu riang sambil membentangkan tangannya. Willy mendekati ranjang dan menggendong putrinya itu. Ini pertama bagi mereka bertemu di pagi hari dan tidur di atap yang sama.
"Mimpi apa tadi malam?" tanya Willy.
"Tidak ada mimpi," jawab Salsa membuat Willy terkekeh.
"Takut tidur sendiri?" tanya Willy lagi. Salsa menggelengkan kepalanya.
"Pintar putri ayah. Kita sarapan sekarang. Tuan putri mau sarapan apa?.
"Susu."
Willy menggendong Salsa keluar dari kamar menuju meja makan. Willy terkejut. Dia melihat Mita sedang membuat susu untuk Salsa. Dan yang membuat Willy semakin terkejut. Pakaian yang dikenakan Mita lagi ini adalah pakaian tadi malam. Itu artinya Mita menginap di rumah ini. Tapi Willy tidak langsung senang. Karena dia tahu. Jikapun Mita menginap di rumah ini. Itu karena permintaan Salsa.
"Pagi om," sapa Mita sambil tersenyum.
"Pagi Mita," balas Willy sedikit gugup dan mendudukkan Salsa di bangku.
"Alda dan Billy sudah pergi om. Tadi buru buru," kata Mita sambil meletakkan satu gelas di depan Salsa.
"Kenapa cepat sekali. Tidak biasanya mereka pergi sepagi ini. Apakah mereka sarapan terlebih dahulu tadi?" tanya Willy. Dia menerapkan hidup sehat di dalam keluarganya. Tidak boleh keluar rumah pagi hari sebelum sarapan.
__ADS_1
"Tidak tahu om. Alda dijemput Nino. Sedangkan Billy juga ikut sepasang kekasih itu. Om mau sarapan apa. Biar aku buatkan."
"Susu dan roti saja Mita. Terimakasih sebelumnya," kata Willy. Mita hanya tersenyum dan membuat sarapan untuk Willy. Willy memperhatikan gerak gerik mantan istrinya itu. Sarapan pagi ini seperti sarapan keluarga utuh pada umumnya. Willy menunduk tersenyum membayangkan hari hari selanjutnya seperti lagi ini.
"Ini om," kata Mita sambil meletakkan sarapan itu di hadapan Willy. Willy sengaja menyentuh tangan Mita ketika hendak menarik susu itu semakin dekat ke dirinya.
"Mita. Kamu menginap disini tadi malam?" tanya Willy sambil memegang roti dengan kedua tangannya.
"Iya om. Apa om keberatan?"
"Tentu saja tidak. Menginap setiap malam juga. Om tidak keberatan. Yang ada om senang."
"Kalau begitu. Sesuai keinginan kamu om. Aku bersedia menginap di sini untuk selamanya," jawab Mita tenang. Roti yang sudah hampir masuk ke dalam mulut Willy kini kembali terletak di piring. Willy mencerna perkataan Mita sambil menatap wanita itu. Mita terlihat santai dan menikmati sarapannya.
"Mita. Tadi kamu bilang apa?" tanya Willy untuk memastikan pendengarannya.
"Sering bersihkan kuping om. Biar jangan tuli."
"Cepat habiskan sarapannya om."
Willy menatap Mita yang terlihat sangat tenang menikmati sarapannya. Pendengarannya tidak salah hanya saja. Dia ingin mendengar Mita mengucapkan perkataan itu sekali lagi.
"Tadi aku dengar dan aku tidak salah dengar. Kamu berkata sesuai keinginanku. Kamu bersedia menginap disini untuk selamanya," kata Willy.
"Apa aku berkata seperti itu tadi?. kata Mita dan Willy mengangguk.
"Kalau begitu. Pendengaran kamu tidak salah om."
Willy beranjak dari duduknya. Jawaban Mita membuat Willy yakin akan kesimpulan dari perkataan Mita itu.
"Kalau begitu. Aku akan menghalalkan kamu terlebih dahulu baby," kata Willy. Dia sudah berdiri di samping bangku Mita. Mita menghentikan memasukkan makanan itu ke dalam mulutnya. Mita bergeser dan duduk menyamping supaya bisa berhadapan dengan Willy.
__ADS_1
"Aku berjanji tidak ada nama wanita lain di hatiku. Keyla adalah masa lalu yang harus ku kenang seumur hidupku. Tapi Mita adalah masa depan yang harus aku perjuangkan dan aku bahagiakan. kata Willy sambil memegang tangan Mita. Willy merasa sangat yakin bahwa Mita bersedia kembali kepadanya. Mita tidak menolak genggaman tangan Willy di tangannya.
"Om yakin bisa membahagiakan aku?" tanya Mita sambil mendongak menatap wajah Willy. Willy mengangguk pasti.
"Aku manusia biasa baby. Penuh keterbatasan untuk menyelami isi hatimu. Tapi satu hal yang harus kamu tahu. Setiap waktu aku selalu memikirkan kamu. Aku bahkan hampir menyerah. Tetapi semakin aku menyerah. Semakin aku khawatir kamu akan semakin menjauh dariku."
"Aku memberi kamu kesempatan kedua om. Tapi tidak ada kesempatan ketiga jika kamu berkhianat."
"Terima kasih baby," kata Willy sambil meraih tubuh Mita dan memeluknya. Mita tidak membalas pelukan itu tapi bagi Willy tidak masalah.
"Habiskan sarapannya baby," kata Willy lagi. Dia tersenyum dan berjalan menuju kursinya. Mita menurut. Willy juga terlihat bersemangat menghabiskan sarapannya.
"Jangan panggil baby om. Ganti dengan panggilan yang lain. Panggilan itu aku rasa tidak cocok untuk aku," kata Mita setelah sarapannya habis.
"Aku harus memanggil kamu dengan apa. Aki sudah nyaman dengan panggilan itu," jawab Willy.
"Terserah. Yang penting jangan dengan sebutan baby. Aku tidak suka."
"Baiklah. Aku akan memanggil kamu dengan kata sayang saja."
"Tidak. Panggil dengan sebutan Mita saja. Aku lebih senang dengan sebutan itu."
"Jangan gitu donk sayang. Kalau dengan nama. Kurang romantis. Nanti aku pikirkan panggilan yang lain yang lebih romantis," jawab Willy tersenyum. Dari tadi senyuman itu seakan enggan hilang dari bibirnya. Hari ini merupakan hari yang baik baginya. Dia sudah kehilangan harapan dan lelah untuk bersama Mita. Tapi disaat harapan sudah hilang Mita justru bersedia rujuk dengan dirinya.
"Cepatlah om. Om harus ke kantor sekarang," kata Mita yang melihat Willy seakan enggan beranjak dari duduknya. Bahkan kini Salsa sudah duduk manis di pangkuan pria itu.
"Om tidak ke kantor hari ini. Aku akan membawa kalian jalan jalan kemana kalian suka."
"Eh jangan gitu donk om. Pasti modus ini. Pasti ada maksud lain kan?"
"Ya ampun. Jangan berpikiran buruk sayang. Salsa ada. Tidak mungkin aku berbuat yang tidak tidak."
__ADS_1
End