
Satu bulan berlalu. Keyla mendatangi kantor Willy dengan wajah yang sembab. Keyla terlihat sangat hancur. Setelah beberapa menit duduk di sofa di ruangan Willy. Keyla hanya tertunduk dan diam. Willy sudah menduga jika kedatangan Keyla ke kantor ini berkaitan dengan kejadian satu bulan yang lalu.
Willy beranjak dari duduknya dan berpindah duduk ke sebelah Keyla. Willy memeluk mantan istrinya itu. Keyla kembali menangis. Keyla terisak di dada Willy.
"Tidak ada jalan lain. Kita harus kembali menikah. Apa yang kamu takutkan?" tanya Willy sambil menciumi puncak kepala Keyla. Satu hal yang ingin dilakukannya sejak kedatangan Keyla dan Billy di kota ini. Willy menyalurkan kasih sayangnya kepada Keyla dengan cara itu. Kemudian Willy merenggangkan pelukannya. Dia memegang kedua pipi Keyla dan mencium mata Keyla secara bergantian.
"Aku masih sangat mencintaimu Keyla. Tapi maaf. Bukan kamu satu satunya di hatiku," kata Willy jujur. Sampai detik ini dia masih merasakan cinta kepada Keyla tetapi juga merasakan cinta dengan Mita. Selama hampir tiga tahun kembali menjadi duda. Willy sudah berusaha untuk menghapus dua nama itu dari hatinya. Tapi dasar hati yang serakah. Hati itu tidak bisa dihapus yang ada setiap malam Willy hampir gila memikirkan dua nama itu.
"Terima kasih karena masih mencintai aku Willy. Tidak ada jalan lain seperti yang kamu bilang itu," jawab Keyla.
"Kamu tidak marah jika aku masih mencintai Mita?" tanya Willy dengan menatap mata Keyla lekat. Keyla menggelengkan kepalanya.
"Satu hati mencintai dua wanita atau lebih diperbolehkan. Dan bukan hanya kamu yang memiliki rasa cinta seperti ini. Banyak laki laki di muka bumi ini mencintai lebih dari satu wanita. Tapi aku dan Mita bukan salah satu dari wanita yang ikhlas menerima berpoligami," jawab Keyla. Willy membenarkan perkataan Keyla. Bahkan Mita pergi dari karena mengetahui kebenaran jika dirinya masih mencintai Keyla.
"Maaf key. Maafkan aku," kata Willy. Keyla mengangguk.
"Tidak perlu meminta maaf Willy, aku juga mengerti jika perasaan ini tidak mudah bagimu. Bahkan perasaan itu menghancurkan kebahagiaan kamu sendiri. Sampai kapanpun aku tidak akan meminta kamu untuk mencintai aku satu satunya. Aku hanya meminta. Setelah kita menikah. Jangan pernah mempermainkan pernikahan itu."
Willy kembali memeluk Keyla. Sikap dewasa Keyla membuat Willy semakin mengagumi mantan istrinya. Dari perkataan Keyla, Willy juga sadar jika Keyla bersedia menikah dengan dirinya karena terpaksa.
"Sudah periksa ke dokter?" tanya Willy. Keyla menggelengkan kepalanya. Tangan Willy sudah mengelus perut Keyla kemudian mendaratkan bibirnya di perut datar tersebut. Kehadiran janin itu memang karena kesalahannya yang terjebak dengan permainan kakek Jhon. Tapi kehadiran janin itu juga bisa membuat hati Willy sangat bahagia.
"Masih dengan testpack," kata Keyla sambil menunduk.
"Kita ke dokter sekarang," kata Willy.
"Nanti sore saja Willy. Aku takut jika Alda dan Billy malu jika mengetahui mereka akan punya adik bayi lagi."
"Jangan takut. Aku yang akan mengatasi mereka. Yang aku takutkan bagaimana caranya kita menutupi kehamilan ini. Cara kita akan rujuk jelas memberi contoh yang tidak bagus kepada mereka," kata Willy. Dia takut baik Alda dan Billy mencontoh perbuatan mereka yang kembali hamil di luar nikah.
Keyla terdiam. Walau dia hamil karena obat perangsang yang diberikan oleh kakek Jhon tetap saja Keyla merasa menjadi bunda yang buruk bagi anak anaknya. Keyla terdiam. Setelah mendengar perkataan Willy dia ingin menikah secepatnya sebelum perutnya membuncit.
"Kapan kita menikah." Pertanyaan itu lolos dari mulut Keyla.
"Secepatnya. Aku akan mempersiapkan pernikahan ini secepatnya mungkin,"
"Tidak perlu persiapan Willy. Kita menikah sederhana hanya diketahui keluarga saja dan orang orang terdekat saja."
"Aku ingin pesta yang besar dan menunjukkan jika kamu kembali menjadi istriku," kata Willy. Dia tidak ingin menutupi pernikahannya dari siapapun termasuk dari keluarga Mita.
__ADS_1
"Tidak perlu Willy."
"Baiklah. Tapi biarkan aku membawa kamu berbulan madu kemana aku suka," kata Willy penuh harap.
"Terserah kamu saja," jawab Keyla. Willy tersenyum. Di pernikahannya kali ini bersama Keyla. Willy akan bersikap adil sebagaimana dulu dia membawa Mita berbulan madu.
Tiga hari kemudian. Mereka menikah hanya dihadiri keluarga dengan orang orang terdekat. Termasuk Rudi ayahnya Mita. Setelah itu Willy juga membawa Keyla berbulan madu setelah ada surat keterangan dari dokter menyatakan Keyla dan kehamilannya aman untuk bepergian jauh. Willy benar benar menebus semua penderitaan yang pernah dirasakan Keyla karena kebodohannya. Alda dan Billy juga turut senang melihat kedua orang tua mereka berbahagia. Mereka bahkan lebih senang lagi ketika mengetahui jika mereka akan mempunyai adik lagi.
Willy merasa berbahagia. Mereka hidup sebagai suami istri sebagaimana mestinya. Keyla mendukung hal hal positif yang dilakukan oleh suaminya. Alda dan Billy juga turut senang karena mereka merasakan kasih sayang kedua orangtuanya di dalam atap yang sama. Keluarga berbahagia itu semakin berbahaya ketika hari kelahiran di jabang bayi semakin dekat.
"Keyla, aku mencintaimu. Terimakasih karena bersedia mengandung anak anakku," kata Willy suatu malam. Mereka duduk bersama di atas ranjang setelah melakukan ritual suami istri. Keyla hanya menatap bola mata Willy lekat. Genggaman tangan Willy di tangannya semakin erat. Keyla mendekatkan wajahnya ke wajah Willy dan mencium pipi suaminya cukup lama. Willy terkekeh mendapat ciuman pipi itu. Walau hanya dicium di pipi. Willy merasakan hatinya menghangat.
"Terima kasih karena mencintaiku mas Willy. Suamiku yang baik. Walau kamu tidak sempurna bagi orang lain. Tapi cara kamu mencintai aku. Aku merasa jika kamu adalah pria yang paling sempurna dalam hidupku. Walau aku tahu cintamu tidak utuh untukku. Tapi aku tahu. Kamu berusaha untuk yang terbaik untuk diriku."
"Kamu memanggil aku dengan sebutan mas, sayang. Teruslah memanggil aku seperti itu," kata Willy senang dan memeluk Keyla. Keyla kembali menatap bola mata Willy dengan lekat.
"Jangan memandang aku seperti itu sayang. Akhir akhir ini aku sering memperhatikan kamu melihatku seperti itu," kata Willy sambil memegang pipi istrinya dan mengarahkan wajah itu ke arah televisi yang menyala. Tapi lagi lagi Keyla melakukan hal yang sama. Willy merasa tidak enak dengan tatapan yang tidak biasa itu. Hingga malam malam selanjutnya menjelang lahiran. Willy selalu memperhatikan tatapan yang sama itu dari Keyla untuk dirinya. Tapi Willy tidak melarangnya lagi karena Willy takut Keyla tersinggung.
"Aku tidak sabar menunggu putraku lahir," kata Willy ketika mereka sarapan pagi dan hari ini direncanakan oleh dokter untuk melakukan Caesar kepada Keyla. Keyla tidak merespon. Dia hanya memandang sarapan itu kemudian melahapnya sampai habis.
"Pelan pelan sayang. Aku tahu sesudah ini kamu akan puasa," kata Willy ketika melihat Keyla dengan cepat memasukkan sarapan itu ke dalam mulutnya.
"Aku juga mencintai kamu sayang," jawab Willy sambil membawa tangan yang saling menggenggam itu ke bibirnya. Willy mencium punggung tangan Keyla dengan mesra. Alda Billy yang melihat keromantisan orang tua mereka tersenyum dan menjadi penonton. Mereka seperti menonton drama secara langsung.
"Aku bahagia karena bisa menjaga hati dan tubuh untuk kamu seorang. Aku bahagia karena hatiku memilih kamu untuk menjadikan Willy cinta pertama dan cinta terakhirku. Banyak cinta yang menghampiriku. Tapi hanya dirimu yang berhasil tetap berada di hati ini. Aku bahagia karena bisa memberikan kamu penerus," kata Keyla lagi. Willy beranjak dari duduknya. Dia berdiri di belakang bangku istrinya dan memeluk leher Keyla dari belakang. Willy mencium puncak kepala Keyla sebagai pertanda dalamnya rasa cinta yang dimilikinya.
"Terimakasih istriku. Aku semakin merasa berharga karena dicintai oleh wanita secantik kamu, setulus kamu dan wanita setia seperti kamu," jawab Willy. Dia benar benar terharu mendengar pernyataan cinta setelah rujuk. Kata kata cinta yang dulu selalu terdengar di satu tahun pernikahan pertama mereka. Keyla hanya tersenyum dan menggenggam tangan Willy yang berada menjuntai di dadanya.
"Duduk kembali mas." Willy menurut.
"Alda dan Billy. Kalian adalah hartaku yang paling berharga dan juga adik kalian yang akan lahir nanti. Aku harap rasa bahagia kalian saat ini akan tetap bahagia dan menyayangi adik kalian ini. Memberikan dia contoh yang baik," kata Keyla sambil melihat Alda dan Billy bergantian. Alda dan Billy tersenyum dan mengangguk.
"Tetap jaga diri dan harga diri kalian anak anakku. Bunda sangat bersyukur memiliki kalian."
"Baik bunda," jawab Alda dan Billy hampir bersamaan. Keyla tersenyum memamerkan gigi putihnya yang tersusun rapi di rongga mulut itu. Willy terkesima melihat senyum istrinya yang nampak berbeda hari ini.
Hingga tiba waktu yang ditentukan untuk berpuasa bagi Keyla dan harus berada di rumah sakit. Willy dengan setia menemani Keyla di ruangan itu. Mereka saling menggenggam tangan.
"Kenapa sayang?" tanya Willy ketika Keyla bolak balik menatap jam dinding di ruangan itu.
__ADS_1
"Aku merasa waktunya cepat berputar mas," jawab Keyla. Willy terkekeh dan mencium pipi istrinya.
"Itu karena kamu sangat antusias ingin melihat bayi kita secepat mungkin," jawab Willy. Keyla tidak menjawab. Keyla hanya menatap langit langit kamar itu. Pandangannya seperti hampa. Tapi Willy kembali memeluk Keyla yang terbaring dan menciumi wajah istrinya. Hal itu berhasil membawa Keyla kembali berbicara dengan Willy.
"Mas."
"Apa sayang?"
"Bagaimana kabar Mita sekarang ya. Aku merindukan anak itu mas," kata Keyla membuat Willy terdiam. Sama seperti Keyla. Willy juga merindukan wanita itu.
"Kamu ingin bertemu dengannya?" tanya Willy. Keyla mengangguk.
"Untuk apa?"
"Aku tidak berhasil memegang kata kata ku sendiri yang mengatakan tidak akan pernah rujuk dengan kamu. Entah bagaimana hatinya nanti kalau mengetahui kita rujuk."
"Fokus ke hari ini untuk melahirkan bayi kita. Dia pergi karena kemauan dia sendiri. Dan ini adalah keinginan dia untuk melihat kita rujuk."
"Dia mengorbankan kebahagiaannya," kata Keyla pelan kemudian memalingkan wajahnya ke arah dinding.
"Dan jangan sia siakan pengorbanannya itu sayang," jawab Willy. Keyla kembali terdiam.
"Mas."
"Apa sayang," jawab Willy. Keyla hanya menatap Willy tanpa berbicara.
"Hei, kamu mau mengatakan apa sayang," kata Willy sambil mencubit pelan hidung Keyla.
"Lupa mas." Hanya itu jawaban Keyla menjelang masuk ke kamar persalinan. Hingga seorang perawat menginformasikan jika Keyla akan segera masuk ruang operasi. Willy menyemangati Keyla dan mencium Keyla sebelum tempat tidur itu di dorong. Willy tidak menyangka jika Keyla meraih lehernya ketika selesai mencium pipinya. Keyla kembali menatap bola mata Willy lekat kemudian memeluk leher Willy dan mencium kedua pipinya.
Keyla melepaskan tangannya dari leher Willy. Tempat tidur itu sudah di dorong memasuki kamar operasi. Dan selama itu juga Willy melihat wajah Keyla yang selalu tersenyum.
Operasi berjalan lancar. Bayi laki laki itu sudah mengumumkan kehadirannya dengan menangis kencang. Willy sangat bahagia ketika bayi itu diperlihatkan kepadanya. Hingga tiga jam kemudian. Keyla tentu saja sudah keluar dari ruang operasi.Tetapi Keyla belum tersadar dari tidurnya. Itu hal biasa bagi pasien yang baru selesai di operasi. Hingga enam jam sejak operasi selesai. Keyla masih betah tidur dengan senyum yang sedikit menghias di bibirnya.
Willy sudah mulai panik. Menyadari yang tidak beres yang terjadi pada istrinya. Willy meminta penjelasan dari dokter yang menangani operasi Keyla. Tidak ada yang mencurigakan atau tindakan dokter yang salah. Willy berdoa dalam hati untuk Keyla supaya terbangun dari tidurnya. Dan upaya terbaik dari dokter sudah diusahakan. Tapi Keyla masih betah memejamkan matanya. Willy semakin panik dan gelisah. Kehadiran si bungsu terabaikan karena kondisi Keyla. Bukan hanya Willy. Alda dan Billy juga panik.
Hingga di hari ketiga. Willy merasakan dunianya runtuh. Hatinya hancur berkeping keping. Keyla yang diharapkan untuk segera bangun kembali memilih untuk tidur panjang. Willy tidak percaya. Dia mempertaruhkan semua hartanya untuk membangunkan Keyla. Tapi wanita yang baik itu tidak bersedia untuk bangun kembali. Wajah yang memucat dan masih dengan senyum yang menghiasi bibirnya menjadi kenangan terakhir yang bisa dilihat oleh orang orang yang mencintainya. Keyla pergi dengan damai. Dia sudah menyampaikan kata kata indah terakhir untuk orang orang yang dicintainya. Bahkan dia masih memikirkan perasaan mantan istri dari suaminya.
Kepergian Keyla adalah pukulan terberat di hidup Willy. Dia membenci hidup dan takdirnya. Dia juga membenci kedua orangtuanya yang seenaknya memisahkan dan mengatur jebakan untuk mereka berdua supaya kembali rujuk. Willy kecewa kepada kedua orangtuanya yang membuat Willy secara tidak langsung menjadi permainan takdir.
__ADS_1
Flashback off