Mencintai Ayah Sahabatku

Mencintai Ayah Sahabatku
Calon Mertua


__ADS_3

Mita memasuki ruangan kelasnya dengan lesu. Ujian tinggal menghitung hari. Itu artinya dia dan yang lainnya juga tinggal menghitung hari di ruangan ini. Mita melihat Alda yang sudah duduk di bangkunya sambil bermain ponsel. Seketika Mita mengingat kejadian semalam. Mita kembali merasakan hatinya berdenyut nyeri. Sakit hati itu masih ada di hatinya. Mita melewati meja tempatnya biasa. Dia menuju meja Nino.


"Nino, boleh minta tolong?" tanya Mita lembut.


"Ah pagi pagi sudah minta tolong, sesekali minta ciuman donk," jawab Azriel yang duduk di sebelah Nino. Nino memukul tangan Azriel pelan sedangkan Mita melotot. Hampir semua seisi kelas itu mendengar dan menoleh ke arah meja Nino termasuk Alda. Alda hanya menoleh kemudian kembali melihat layar ponselnya. Nino yang sudah tahu kedekatan Alda dan Mita merasa heran melihat keduanya yang tidak biasa seperti pagi ini.


"Minta tolong apa Mita?" tanya Nino lembut menirukan suara Mita yang memang lembut.


"Aku mau duduk di sini. Kamu duduk di tempat aku itu ya!" jawab Mita pelan. Dia tidak ingin Alda mendengar permintaannya ke Nino. Nino menatap Mita semakin heran. Benar dugaannya. Bahwa dua orang bersahabat itu sedang ada masalah sekarang.


"Please!!!" kata Mita lagi memohon. Nino mengangguk kepala dan beranjak dari duduknya. Mita langsung duduk tapi pandangannyab tidak lepas dari Alda. Mita bisa melihat Alda yang tersenyum ketika Nino duduk di sampingnya. Bahkan Alda tidak menoleh sedikit pun ke arahnya.


"Nino, nanti aku bareng kamu pulang ya!. Si Kakek tidak bisa menjemput aku," kata Alda dengan suara yang kencang. Nino mengangguk dan tersenyum senang. Seisi ruangan itu bisa mendengar perkataan Alda termasuk Mita. Mita merasa bahwa itu adalah kode baginya untuk tidak pulang bersama dengan dirinya. Mita mengeluarkan buku dari tas mengalihkan rasa sakit di hatinya.


"Alda kenapa kamu berubah?. Bagaimana kalau kamu tahu hubungan aku dengan om Willy?. Apakah kamu lebih marah dari ini?. Aku mencintai om Willy Alda. Tapi aku juga tidak mau kehilangan kamu sebagai sahabat aku," batin Mita sedih. Persahabatannya dengan Alda sudah hampir enam tahun. Selama ini juga Alda sangat baik kepadanya. Itulah yang membuat Mita sedih. Dia tidak ingin persahabatan hancur tetapi dia juga menginginkan hubungan dengan Willy serius sampai ke jenjang pernikahan.


Mita terus memikirkan nasib persahabatan dengan Alda. Pembahasan soal ujian semester akhir, satupun tidak masuk ke otaknya. Azriel yang duduk di sampingnya sampai merasa heran melihat Mita yang sering termenung.


"Memikirkan apa sayang?" bisik Azriel tepat di telinga Mita. Mita tersentak. Mita kesal dan memukul tangan Azriel pakai pulpen karena memanggil dirinya dengan sebutan sayang.


"Berani manggil aku dengan sebutan sayang. Pulpen ini akan mendarat di bibir kamu yang super tebal itu," kata Mita lembut. Dalam keadaan kesal pun, Mita masih bisa berkata lembut. Azriel tersenyum dan mengedipkan. sebelah matanya. Mita semakin kesal dan menyesal duduk di samping Azriel. Mita melotot pertanda marah tetapi Azriel tidak takut sama sekali.


"Jangan pulpen donk sayang. Kan lebih nikmat jika bibir kamu yang mendarat di bibir super tebal aku," bisik Azriel.


"Azriel," teriak Mita kesal. Ini yang pertama dia berteriak selama hampir satu tahun duduk di ruangan itu. Semua mata menoleh ke mereka berdua termasuk guru yang sedang mengajar di kelas itu membahas soal soal ujian akhir semester.


"Ada apa Mita, kenapa kamu berteriak?" tanya guru itu heran dan terkejut. Guru tersebut dan siswa yang lain fokus membahas soal tersentak dengan teriakan Mita. Pandangan Mita langsung ke Alda. Alda seakan tidak perduli tentang apapun yang terjadi barusan dengan Mita.


"Tidak apa apa ibu. Maaf ibu," kata Mita sopan dan gugup.


"Kenapa kamu duduk di situ. Kamu pindah ke depan di tempat duduk kamu semula. Kamu siswa tercantik di sekolah ini, Azriel tidak akan melewatkan kesempatan untuk menggangu kamu jika kamu masih duduk di situ. Pindah ke depan! dan kamu Nino kembali ke tempat duduk kamu," perintah guru itu tegas. Nino langsung berdiri, begitu juga Mita. Dia kembali duduk berdekatan dengan Alda. Kecanggungan itu jelas terlihat diantara Mita dan Alda. Hingga bel istirahat berbunyi. Mereka masih terlihat canggung dan pura pura sibuk mengerjakan soal-soal.

__ADS_1


"Alda," panggil Mita pelan ketika dilihatnya Alda menyusun bukunya ke dalam tas. Alda menoleh dan menarik resleting tasnya.


"Kenapa seperti ini Alda?" tanya Mita lagi. Akhirnya Mita mengalah untuk berbicara duluan ke Alda.


"Kenapa seperti apa maksudmu?" tanya Alda ketus. Beruntung tinggal mereka berdua di ruangan itu. Sehingga Mita tidak begitu terlalu malu karena sikap ketus Alda.


"Dari semalam, aku lihat kamu seperti membenci aku Alda. Apa aku berbuat kesalahan kepada kamu?" tanya Mita pelan. Suaranya bergetar karena gugup.


"Apa kamu merasa bersalah sehingga kamu harus pindah duduk seperti tadi?" tanya Alda membuat Mita terdiam. Berpindah duduk ternyata kesalahan besar baginya hari ini. Hingga Alda bertanya seperti itu. Jelas ada sesuatu yang membuat Mita menghindar. Selain sakit hati karena sikap Alda semalam juga karena Mita merasa bersalah karena mencintaimu ayah dari sahabatnya. Mita menyesali sifatnya yang kekanakan tadi. Andaikan dia tidak berpindah tempat duduk, mungkin kejadian semalam sudah terlupakan.


"Aku hanya merasa kamu tidak menyukai aku dari semalam. Makanya aku berinisiatif pindah duduk," jawab Mita pelan.


"Apa kamu merasa seperti itu?.Baguslah kalau kamu bisa merasakan. Asal kamu tahu, aku jelas mendengar ayah aku memanggil kamu dengan sebutan baby. Bisa kamu jelaskan hal itu?" tanya Alda lagi dengan nada sinis nya. Mita otomatis terkejut dan gugup. Apa yang ditakutkannya akhirnya terjadi juga. Keceplosan Willy memanggil baby semalam menjadi pemicu Alda membenci Mita.


"Apa yang harus aku jelaskan Alda, om sudah mengatakan yang sebenarnya kepada kamu,"


"Tapi sayangnya, aku tidak percaya apa yang diucapkan ayah aku adalah yang sebenarnya. Aku merasa yang sebenarnya bahwa kamu ada bermain dengan ayah aku," kata Alda sambil menunjuk Mita.


"Apa kamu tidak mau mengakui atau aku yang harus membuktikannya?" tanya Alda sengit.


"Apa hanya dengan sebutan itu kamu bisa menyimpulkan sesuatu?"


"Mita, kamu memang pintar. Tapi aku juga tidak bodoh bodoh amat. Jangan mengira karena kamu mengajari aku privat dan menganggap aku bodoh. Jika sampai aku bisa membuktikan bahwa kamu ada bermain dengan ayah aku. Maka tidak ada lagi Mita di hidup ku. Tidak ada lagi persahabatan. Yang ada kita akan menjadi musuh. Karena aku tidak mau ayahku bersama dengan wanita lain. Aku mau ayah dan bunda aku bersatu. Aku rasa kamu sudah mengetahuinya sejak lama. Tetapi jika kamu sudah terlanjur bermain dengan ayah aku. Mundurkan dengan teratur. Aku akan menghargai itu. Pikirkan Mita," kata Alda panjang lebar. Dengan angkuhnya, Alda meninggalkan Mita sendirian di dalam ruangan kelas. Mita masih terpaku memikirkan kata kata Mita.


Mita menyesal, Mita menyesali keputusannya menerima Willy sebagai kekasihnya. Taruhannya sekarang sudah di depan mata. Persahabatan yang manis bersama Alda terancam putus. Mita menangis. Mita menangisi nasib persahabatannya dan juga menangisi nasib percintaannya. Setelah ini, entah bagaimana lagi nasib cintanya. Mita tahu bahwa Willy sangat menyayangi Alda. Apapun permintaan Alda pasti dituruti. Mita seketika takut jika Alda meminta Willy memutuskannya.


"Ya ampun, percintaan macam apa ini. Ini pertama kali aku jatuh cinta dan mempunyai kekasih. Sayangnya aku mencintai duda dan itu ayah sahabat aku. Aku yang salah. Aku sudah mengetahui keinginan Alda sejak lama. Tapi aku berani mencintai ayahnya. Maafkan aku Alda. Om Willy, kenapa kamu mencintai aku. Biarkan saja hanya aku saja yang mencintai kamu. Jika cinta ku tidak berbalas. Persahabatan ku juga tidak hancur. Maaf, maaf Alda." batin Mita sambil memukul kepalanya.


"Kenapa kamu memukul kepala kamu?" tanya Nino yang sudah masuk ke ruangan itu. Mita menghentikan tangannya.


"Alda mana Nino?"

__ADS_1


"Di kantin."


"Apa kalian ada masalah. Tidak biasanya kalian seperti ini,"


"Kenapa kamu tidak menemaninya?" tanya Mita tanpa menghiraukan pertanyaan Nino.


"Karena aku ingin tahu apa yang terjadi dengan persahabatan kalian,"


"Kepo kamu. Kami baik baik saja. Kepala aku sedikit pusing. Aku tidak sanggup kalau harus ikut ke kantin menemaninya," jawab Mita beralasan. Nino tersenyum.


"Alasan. Aku mendengar pembicaraan kalian tadi. Apa yang di ucapkan Alda tadi benar?" tanya Nino, Mita kembali terkejut.


"Kamu juga mendengar apa yang aku katakan tadi kan. Jadi aku rasa kamu tahu apa jawabannya,"


"Berarti benar, kamu kekasihnya om Willy,"


"Aku tidak mengatakan seperti itu Nino,"


"Tapi yang aku dengar dan melihat sikap kamu. Benar, bahwa kamu adalah kekasih om Willy,"


"Nino,"


" Tenang Mita, jika Alda menentang hubungan kamu dengan om Willy aku malah mendukung. Dengan begitu kamu adalah calon mertua ku dan aku adalah calon menantu kamu. Mertuanya cantik jelita dan menantunya Tampan. Cocok kan?" kata Nino sambil tersenyum jahil. Mita dari tadi mengedarkan pandangannya ke arah luar. Mita takut Alda tiba tiba datang dan mendengar perkataan Nino.


"Nino, pergilah. Kepalaku semakin pusing jika kamu ada di sini," kata Mita kesal. Dia memijit pelipisnya.


"Mita, aku juga pernah loh melihat kamu berduaan bersama om Willy. So sweet memang. Tapi tenang saja. Aku belum memberitahu Alda tentang itu," kata Nino pelan. Dia juga menyadari ketakutan Mita jika ada yang mendengar perkataannya.


"Jangan mengarang cerita kamu, dimana?" tantang Mita berani. Dia merasa Nino hanya mengada ada.


"Di pantai," kata Nino cepat. Dia pun menceritakan apa saja yang dilakukan Mita dan Willy yang dilihatnya di pantai. Mita terkejut. Dia tidak menyangka liburan dadakannya bersama Willy dilihat oleh Nino. Mita merasa tertangkap basah. Mita memilih diam.

__ADS_1


"Tenang Bu mertua. Aku akan tetap mengunci mulut ini. Yang pasti aku mendukung kamu jadi ibu mertua aku. Berusahalah membuat Alda menerima kamu sebagai ibu tirinya," kata Nino lagi. Dia mengacak rambut Mita dan keluar dari ruangan ini. Mita masih bisa mendengar Nino terkekeh.


__ADS_2