Mencintai Ayah Sahabatku

Mencintai Ayah Sahabatku
Hukuman Untuk Willy


__ADS_3

Mita menaiki tangga itu dengan lesu menuju kamarnya bersama Willy. Dia yakin Willy sedang membujuk Keyla untuk diantar pulang. Dan sepertinya dugaannya benar. Willy belum ada di kamar itu. Tidak ingin larut dalam kesedihannya. Mita mengeluarkan berkas berkas syarat untuk masuk ke perguruan tinggi. Mita akhirnya berencana akan kuliah tahun ini. Dia tidak tertarik lagi untuk mengandung anak Willy. Mita bertekad akan fokus ke pendidikan.


Mita mengamati berkas berkas itu satu persatu. Kemudian memasukkan ke dalam amplop coklat. Untuk memastikan dugaannya. Mita melangkah keluar dari kamar. Mita menuju kamar Billy dan membuka pintu itu pelan. Billy sudah tidur dan Willy juga Keyla tidak berada lagi di kamar itu. Mita kembali menutup pintu itu dengan pelan.


Mita berdiri dan bersembunyi dibalik tembok besar di teras rumah. Dari tempat itu. Mita bisa melihat Willy merayu Keyla dan Keyla yang terlihat cuek. Mita semakin merasakan hatinya berdenyut nyeri. Cinta suaminya teramat besar untuk sang mantan hingga rela berlutut untuk meyakinkan Keyla. Dia tidak menyangka Willy bisa berbuat seperti itu untuk meraih hati Keyla kembali.


"Key, aku mohon."


"Aku juga memohonkan kepada kamu Willy. Stop berbuat gila seperti ini. Tolong pikirkan Mita. Jangan hanya memikirkan keinginan kamu. Cara kamu seperti ini membuat aku semakin tidak nyaman melihat kamu Willy."


"Ini aku lakukan karena aku sangat mencintaimu Key."


"Stop berkata cinta Willy. Dimana hati nurani kamu. Kamu berkata cinta kepada Aku sementara di kamar istrimu menunggu kamu."


Mita tidak ingin lagi mendengar pembicaraan Willy yang semakin membuat luka di hatinya. Mita akhirnya kembali baik ke atas dan masuk ke kamar. Mita kemudian bermain ponsel menunggu Willy. Menunggu suami yang sedang mengejar cinta mantan istri. Mita tersenyum kecut Membayangkan Willy merayu Keyla yang baru saja terlihat olehnya. Willy bagaikan remaja belasan tahun hanya untuk menyakinkan Keyla. Dan Mita semakin menyadari. Jika cinta Willy untuk Keyla amatlah besar. Jika sebelumnya Mita menduga Willy mencintainya dengan setengah hati. Melihat apa yang barusan dilakukan Willy. Mita merasa cinta Willy hanya seperempat untuknya.


Menunggu adalah hal yang paling membosankan. Begitu juga dengan Mita. Berpikir berhari hari membuat otaknya lelah dan ingin tidur saja. Tetapi dia membunuh rasa kantuk dan rasa bosan itu sambil bernyanyi dan berjoged. Dan dia merekam aksinya itu. Hingga aksi Mita terhenti karena pintu kamar terbuka dan Willy dengan wajah kusutnya masuk ke kamar. Tetapi melihat Mita yang masih berdiri membuat Willy tersenyum. Wajah kusut itu tidak terlihat lagi hanya dengan melihat Mita. Mita membalas senyum itu dengan sangat manis tetapi tidak berusaha untuk mendekat. Dia terus berjoged.


"Tante Keyla sudah pulang om," tanya Mita sambil melanjutkan gerakan yang sempat terhenti. Tanpa menoleh ke Willy.


"Sudah," jawab Willy singkat.


"Masih belum bersedia rujuk dengan om?.


Willy mengangguk. Penolakan Keyla semakin membuat Willy tertantang untuk mendapatkannya kembali. Bukannya menyadari sakit hati Mita, Willy justru semakin bersemangat untuk menaklukkan sang pujaan hati. Dia lupa bahwa dia juga memiliki pujaan hati yang lain yang tengah mati matian menahan sakit hati. Mita menatap Willy kemudian memalingkan wajahnya dan tersenyum. Senyum bukan karena senang atau bahagia tetapi senyum yang menutupi luka hatinya. Karena hanya Mita yang tahu hatinya merasakan sakit yang sulit terobati.

__ADS_1


"Hentikan gerakan itu baby. Aku semakin tidak sabar untuk melahap kamu."


Willy mendekat ke Mita yang masih berjoged menggerakkan pinggulnya. Gerakan itu membuat Willy ingin membawa Mita ke ranjang. Mita tidak perduli. Bahkan dia membuat gerakan yang semakin menggoda. Willy tertawa melihat kelakuan istri kecilnya itu. Dia berdiri di hadapan dan meniru Mita melaksanakan gerakan yang sama. Mereka tertawa bersama ketika Willy kesulitan meniru gaya berjoged Mita. Ketika musiknya berhenti. Willy mematikan ponsel itu dan mendekap Mita. Dia membawa Mita dalam gendongan menuju ke ranjang yang hanya berjarak kurang lebih empat meter.


Mita tertawa meronta. Willy tidak membiarkan Mita untuk bergerak. Willy mengungkung tubuh Mita dan menciumi seluruh wajah mita. Mita hanya diam menerima semua serangan Willy si sekujur tubuhnya. Serangan itu memaksa Mita untuk membalas. Mita juga melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Willy kepadanya. Hingga Willy semakin menggila dan tidak sabar untuk menuntaskan pergulatan itu. Hampir satu minggu ini sibuk mengejar dan merayu Keyla hingga dia lupa bahwa ada istri kecilnya yang rindu akan belaian dari dirinya.


"Om, aku mau melanjutkan kuliah. Boleh?" kata Mita ketika bibir Willy berpindah ke puncak dadanya yang sudah terbuka. Bajunya sudah entah sudah dimana sekarang. Willy sangat buas menghisap puncak dada itu.


"Boleh," jawab Willy singkat kemudian bibirnya semakin turun ke perut. Tangannya juga semakin aku aktif menjelajah. Mita tersenyum kecut mendengar jawaban itu. Kemudian Mita duduk, meraih tengkuk Willy dan langsung mencium bibir Willy dengan rakus. Willy senang. Dia mengira bahwa ciuman ini adalah tanda terima kasih karena sudah mengijinkan Mita untuk kuliah. Tetapi ciuman itu hanya beberapa detik. Kemudian Mita melepaskannya.


"Terima kasih om. Aku sangat mencintaimu," bisik Mita kemudian menggigit pelan telinga milik Willy. Willy tertawa karena kegelian. Bersama Mita. Willy seperti kembali muda. Mita kemudian bangkit dari duduknya dengan bertelanjang dada. Mita mengambil amplop coklat dan pulpen.


"Om, sudah wali aku sekarang. Tolong tanda tangani om," kata Mita sambil menarik kertas dari amplop itu. Mita hanya mengeluarkan kertas itu setengah. Mita membelai wajah Willy dan meletakkan pulpen di tangannya.


"Kenapa harus ada tanda tangan. Alda tidak ada meminta tanda tangan dari aku untuk urusan kuliahnya," jawab Willy serak. Dia meraba bagian tubuhnya yang sudah membengkak. Keinginan untuk menyentuh Mita sudah sangat mendesak. Tapi dihentikan Mita hanya untuk meminta tanda tangan. Mita mengagumi tingkat ketelitian Willy dalam keadaan seperti ini. Pria itu masih bisa berpikir dengan baik di tengah keinginan untuk menuntaskan sesuatu yang mendesak itu.


Setelah mendengar perkataan Mita. Willy menatap Mita dan tersenyum. Dia membelai rambut Mita kemudian membubuhkan tanda tangan di atas kertas itu. Willy percaya karena dia juga pernah mendengar kampus favorit itu dan segala persyaratannya untuk menjadi mahasiswa di sana. Mita bertepuk tangan sambil tertawa setelah Willy sudah membubuhkan tanda tangan. Mita cepat cepat memasukkan kembali kertas itu dan menyimpannya ke laci meja.


"Sekali lagi. Terimakasih kasih om," kata Mita sambil menatap wajah suaminya. Willy mengangguk dan menggerakkan tangannya menyuruh Mita naik ke ranjang.


Mita kembali naik ke atas ranjang. Bagian atas tubuhnya tanpa penutup membuat Willy memancarkan serangannya. Mita kembali membiarkan Willy untuk menjelajahi tubuhnya. Ketika Willy hendak menarik celana tidur milik Mita. Mita menangkap tangan Willy dan meletakkan di area terlarangnya yang masih terbungkus sempurna. Willy menatap sang istri dengan tatapan penuh g*irah.


Willy mengerang frustasi. Keinginan itu sangat mendesak dan menuntut untuk dituntaskan. Tapi setelah meraba tempat favorit itu. Willy tahu bahwa Mita sedang menstruasi.


"Maaf om," cicit Mita pelan dan menarik selimut itu untuk menutupi tubuhnya yang semakin dingin.

__ADS_1


"Tidak apa apa baby. Berapa lama baru bersih," tanya Willy masih serak.


"Baru tadi pagi mulai om. Satu minggu lagi baru bersih," jawab Mita pelan. Willy mengulurkan tangannya mengacak rambut Mita dan turun dari ranjang. Dia harus menuntaskan keinginan itu di kamar mandi.


"Om, boleh aku menginap di rumah nenek selama seminggu ini?" tanya Mita ketika Willy hampir mencapai pintu kamar mandi.


"Boleh. Tapi jangan sampai lewat satu minggu," jawab Willy sambil terus berjalan hingga menutup kamar mandi. Mita kembali tersenyum kecut. Willy mengijinkan dirinya menginap di rumah neneknya karena tidak bisa untuk diajak bercinta selama seminggu ini. Itulah menurut pemikiran Mita.


Mita mengambil pakaiannya dan mengenakan. Mita beranjak menuju laci tempat menyimpan amplop coklat tadi. Mita menarik kertas bagian atas dan melipatnya menjadi kecil. Kemudian Mita memasukkan kertas itu ke saku celana jeans yang akan dia pakai besok ke rumah neneknya.


Willy keluar dari kamar mandi. Wajahnya sudah seperti biasa. Mita masih duduk di meja rias dan mengamati Willy lewat cermin. Willy memanggil Mita untuk tidur di ranjang. Mita menurut dan mendekat.


"Om, boleh aku tidur di kamar Alda?" tanya Mita yang sudah masuk ke dalam selimut yang sama dengan yang dipakai Willy.


"Kenapa harus tidur di sana baby," tanya Willy sambil memeluk Mita erat. Mita membalas pelukan itu juga dengan erat.


"Mau cerita tentang kampus om," jawab Mita sambil mencium dada Willy. Willy terkekeh. Mita dengan berani membangkitkan keinginan Willy yang tidak bisa dia layani malam ini. Willy lupa akan hal itu. Dia juga membalas serangan Mita. Mita dapat merasakan tonjolan yang mengeras itu.


"Om. Sudah cukup. Om lupa?. Aku tidak bisa melayani om satu minggu ini,"


"Baiklah baby. Om ke kamar mandi lagi," jawab Willy sambil menyingkapkan selimut itu. Mita tersenyum ketika Willy membelakanginya.


"Ini hukuman untuk kamu om. Karena sudah serakah untuk mempunyai dua istri," batin Mita. Dia melangkah keluar kamar menuju kamar Alda.


Mita masuk ke kamar itu karena pintu tidak dikunci. Tadi di paviliun. Mita sudah mengutarakan niatnya untuk tidur di kamar Alda. Mita melangkah masuk dan melihat Alda sudah tertidur. Mita masuk ke kamar mandi. Di kamar mandi, Mita melepaskan pembalut dari ****** ********. Mita membuang pembalut itu ke tempat sampah. Hari ini sebenarnya menstruasinya sudah bersih. Tapi dia tidak ingin lagi melayani Willy seperti di awal pernikahannya.

__ADS_1


Di kamar sebelah Willy, tidak bisa memejamkan matanya. Setelah Mita keluar dari kamar itu, Willy kembali mengingat Keyla. Penolakan Keyla selama seminggu ini tidak berarti bagi Willy. Malah Willy menganggap itu hal biasa. Mengingat semua kesalahannya dan perbuatan sang papa Willy memaklumi sikap Keyla yang masih tidak ingin rusuk dengannya.


Willy meraba ranjang. Suaru hari nanti dia yakin jika Keyla akan tidur juga bersamanya. Keberadaan Mita di kamar Alda membuat Willy bebas berkhayal tentang mantan istri pujaan hatinya. Andaikan dia punya nomor ponsel Mita. Willy ingin menghubungi sang mantan. Baru beberapa menit tidak melihat wajah Keyla. Willy sudah merasakan rindu yang mendalam untuk sang mantan. Willy tersenyum sendiri. Kelakuan saat ini persis seperti dulu sewaktu berpacaran dengan Keyla.


__ADS_2