Mencintai Ayah Sahabatku

Mencintai Ayah Sahabatku
Bertemu Sofia


__ADS_3

Willy turun dari mobilnya dan langsung masuk ke rumah. Tanpa duduk di sofa ruang tamu seperti biasa setiap dia pulang, Willy langsung menaiki tangga dan masuk ke kamarnya. Pikirannya masih tertuju ke pernikahannya yang gagal. Malam pertama yang sudah di depan mata gagal karena kehadiran Alda di rumah Mita. Memang tidak sengaja, tapi kehadiran Alda lah rencana itu gagal.


Willy mengusap wajahnya kasar. Ketidakberdayaannya untuk melihat Alda bersedih atau marah mengorbankan perasaannya sendiri. Willy takut putrinya merasa sedih atau marah jika dia menikahi sahabat putrinya. Willy, seorang ayah yang mengutamakan kebahagiaan putrinya dia tas kebahagiannya sendiri.


Sementara itu, Alda mengerutkan keningnya ketika melihat Willy meninggalkannya di dalam mobil. Biasanya Willy membukakan pintu untuk Alda. Dengan malas akhirnya Alda turun dari mobil. Merasa lelah, Alda berbaring di sofa panjang di ruang tamu.


Alda masih baru memejamkan matanya ketika dia mendengar ayahnya berbicara di telepon sambil menuruni tangga. Samar samar, Alda dapat menangkap pembicaraan ayahnya.


"Ayah, mau kemana lagi?" tanya Alda ketika Willy melewatinya di ruang tamu. Willy berbalik ke arah Alda. Wily memeluk Alda yang kini sudah duduk.


"Ayah ada urusan penting, malam ini mungkin ayah tidak pulang. Jaga dirimu baik baik ya, dan jangan lupa makan malam," jawab Willy tanpa mematikan panggilan telepon.


"Iya, ayah. Hati hati!. Ayah juga jangan lupa makan malam,"


"Iya tuan putriku, jangan lupa ganti seragam sekolahmu!" kata Willy terkekeh dan berjalan ke arah pintu. Alda mengekor di belakangnya. Kebiasaan Alda setiap ayahnya berangkat dari rumah, mengantar Willy sampai masuk ke dalam mobil.


Alda masih berdiri di depan rumahnya ketika mobil Willy sudah menghilang dari pandangannya. Alda kembali masuk ke rumah dan mengambil ponsel dari tasnya yang masih terletak di ruang tamu.


"Ikuti ayahku, jangan sampai kamu kehilangan jejak," kata Alda berbicara di telepon. Alda tersenyum. Mengambil tasnya dari sofa dan masuk ke kamarnya.


Sementara itu di rumah Mita. Nenek tidak henti hentinya menggerutu. Nenek kesal dengan sikap Willy yang tidak berusaha menjelaskan ke Alda. Mita yang malas mendengar nenek menggerutu memilih berbaring di kamarnya sambil memainkan ponsel.


"Mita, sini!" teriak nenek memanggil Mita. Rudi sampai menggelengkan kepala melihat nenek. Dengan malas Mita keluar dari kamarnya.


"Apa sih nek?" tanya Mita malas. Mita masih berdiri di depan kamarnya.

__ADS_1


"Sini, duduk di sini!" kata nenek memanggil Mita untuk duduk di sofa.


"Laki laki seperti Willy itu tidak pantas diperjuangkan. Harusnya dia bertanggungjawab dengan apa yang sudah diputuskannya tadi malam. Ini, hanya gara gara putrinya itu. Dia membatalkan pernikahan yang seharusnya terjadi hari ini. Itu namanya pria tidak punya pendirian. Aku menarik restuku," kata nenek panjang lebar. Mita terkejut. Dia tidak menyangka nenek akan menarik restunya. Padahal Mita pun menghendaki pernikahan ini batal hanya saja dia tidak berani jujur.


"Ibu tidak boleh bilang seperti itu, Willy hanya menunda," kata Rudi pelan. Dia pun sebenarnya kecewa dengan keputusan Willy. Tetapi sebagai seorang ayah yang memiliki putri yang menginjak dewasa, Willy memaklumi keputusan Willy. Apalagi Mita dan Alda bersahabat. Menurut Rudi. Restu dari Alda sangat penting untuk pernikahan Mita dan Willy.


"Menunda katamu?, apa kamu tidak merasa malu dengan tetangga?. Mereka sudah mengetahui Mita akan menikah hari ini. Tapi ternyata gagal," jawab nenek marah. Mita hanya menghela nafas panjang. Benar, mereka malu tapi menurut Mita itu lebih baik daripada Alda membencinya. Toh, selama ini dia susah, bukan tetangga yang membantunya. Hanya Alda yang ada di saat dia suka maupun duka.


"Nenek tidak perlu memikirkan tetangga. Setelah mendapat restu dari Alda. Om Willy akan menikahi ku. Dan satu lagi nenek, kalian yang memaksa om Willy untuk menikahi ku. Aku juga mau menikah setelah lulus SMA atau bisa lebih lama dari situ," jawab Mita tenang. Rudi hanya diam. Benar apa kata Mita, bahwa dialah yang memaksa Willy untuk menikah. Mita tidak mau berdebat lagi. Mita masuk ke kamar dan mengunci pintu kamar dari dalam.


Besok paginya, tidak seperti biasanya Mita kedatangan tamu. Lebih tepatnya kedatang Alda. Alda sengaja menjemput Mita untuk berangkat ke sekolah bareng.


"Mita, buruan!. Nanti kita terlambat," teriak Alda dari ruang tamu. Sementara Mita di kamar masih berkemas.


"Iya cerewet, masih banyak waktu. Kamu yang terlalu pagi datang," sahut Mita dari dalam kamar. Alda tersenyum karena merasa berhasil membuat sahabatnya jengkel.


"Dah... dah... nenek," kata Alda girang. Dia tidak perduli dengan wajah nenek yang kesal. Sambil bercanda kedua sahabat itu memasuki mobil.


"Loh, kok belok Alda?" tanya Mita ketika menyadari mobil bukan menuju ke sekolah.


"Kita ke apartemen ayah sebentar, aku harus minta izin. Sepulang sekolah kita ada tugas kelompok," jawab Alda santai. Mita senang mendengar jawaban Mita. Dia pun sebenarnya ingin berjumpa dengan kekasih hatinya.


"Tunggu di sini ya Mita, aku ke atas sebentar," kata Alda ketika mereka sudah sampai di basement.


"Boleh aku ikut Alda?" tanya Mita. Alda mengangguk. Keduanya keluar dari mobil dan masuk ke lift.

__ADS_1


Alda menekan password pintu apartemen Willy. Mita dan Alda masuk ke dalam.


"Ayah, ayah...! aku datang!" teriak Alda kencang. Willy keluar dari kamar hanya dengan menggunakan celana pendek karet dan bertelanjang dada. Willy terkejut, bukan hanya Alda yang dilihatnya di ruang tamu.


"Sayang...siapa yang datang?" sahut seseorang dari dalam kamar. Mita seketika gemetar. Dadanya bergemuruh menahan cemburu. Ingin rasanya dia berlari dari ruangan itu. Kalau tidak ada Alda sudah dipastikan Mita akan berlari dari ruangan itu. Sekuat tenaga Mita berusaha biasa saja. Untung dia berdiri di belakang alda. Jadi Alda tidak menyadarinya.


Alda memandang wanita yang bersama ayahnya dengan sinis. Sofia keluar dengan hanya menggunakan tank top dan celana hotpants yang sangat pendek.


"Selamat pagi tuan putri," sapa Willy menutupi kegugupannya. Ekor matanya masih bisa melihat Mita yang memandang ke luar apartemen.


"Pagi ayah, Aku hanya minta ijin bawa teman ke rumah nanti sepulang sekolah. Kami tugas kelompok," kata Alda sambil duduk di sofa.


"Asal kegiatan yang bernilai positif, ayah tidak keberatan," jawab Willy dan duduk di hadapan Alda. Sofia mengekor duduk di sebelah Willy.


"Pasti ayah, Mita kemari!, kita duduk sebentar," ajak Alda yang melihat Mita masih berdiri dan pandangannya ke luar.


"Kita harus ke sekolah Alda, nanti kita terlambat,"


"Masih ada waktu dua puluh menit lagi," dari sini ke sekolah hanya lima menit kalau lewat jalan pintas. Lagian terlambat sepuluh menit kan tidak apa apa," jawab Alda santai. Tangannya menjangkau tangan Mita dan menariknya untuk duduk.


Mita menunduk. Tidak Sudi melihat pasangan mesum yang di hadapannya. Perasaan marah, cemburu dan kesal campur aduk sudah di hatinya. Sofia yang semakin menempel dan terkadang mengelus paha Willy membuat Mita dan Alda merasa jijik.


"Sofia, jaga sikapmu. Aku tidak mau Alda dan Mita salah paham dengan keberadaan mu di apartemenku," kata Willy marah. Dia menghempaskan tangan Sofia kasar. Sofia cemberut sedangkan Alda tersenyum sinis. Mita masih seperti tadi.


"Ayah, kami pamit ya," kata Alda. Willy memeluk Alda dan mencium pucuk kepalanya. Willy mengantar Alda sampai ke pintu. Mita yang berjalan di belakang Willy dan Alda hanya bisa menunduk.

__ADS_1


" Kami pamit om," kata Mita sopan. Mita melewati Willy yang masih berdiri. Ketika Alda sudah berbalik membelakangi Willy, Willy meraih bahu Mita, Mita menghempaskan tangan Willy dan berjalan semakin cepat untuk mengejar Alda yang sudah agak jauh di depannya.


__ADS_2