
Mita masih menangis di pelukan nenek. Membayangkan jadi istri pria itu membuat Mita ketakutan. Bagaimana mungkin dia yang masih belia menikah dengan pria berumur lima puluhan, ditambah lagi perawakannya seram membuat Mita bergidik ngeri.
Nenek melepaskan pelukan Mita ketika mendengar suara langkah masuk dari pintu. Keduanya menoleh, Rudi, Ayahnya Mita sudah berdiri di sana dengan menunduk. Nenek mendekat ke pintu dan menampar Rudi, Rudi hanya diam saja.
"Sudah, sudah nenek. Biarkan ayah masuk," kata Mita dan membantu ayahnya masuk ke dalam rumah. Rudi menurut dan duduk di ruang tamu.
"Kenapa ayah tega melakukan ini kepada ku ayah?" tanya Mita menangis. Rudi masih menunduk. Rudi juga terlihat sangat menyedihkan. Raut wajahnya terlihat lelah.
"Maafkan ayah Mita, ini semua ulah Farida. Ayah tidak akan membiarkanmu menikah dengan pria itu," kata ayah sedih. Rudi juga tidak mau jika Mita menikah dengan pria itu. Farida istri yang sudah dinikahi hampir tiga tahun menipu Rudi dan meminjam uang ke rentenir atas nama Rudi. Dan perjanjiannya jika tidak bisa dilunasi maka Mita yang akan menjadi istri rentenir tersebut. Bukan hanya itu, gaji bulanan Rudi juga tidak bersisa hanya untuk membayar utang.
Nenek semakin marah mendengar perkataan Rudi. Hanya gara gara istri Rudi , cucunya jadi taruhan. Mita menangis tidak menyangka ibu tirinya tega menumbalkan dia menjadi pembayar hutang.
"Lihat lah ayah, karena ayah salah pilih istri jadi aku korbannya." Mita berkata sambil menangis. Andaikan bundanya masih hidup mungkin Mita tidak mengalami kejadian seperti ini. Rudi juga ikut menangis. Rudi terlihat sangat menyesal, Rudi mendekat ke Mita dan bersimpuh di kaki Mita.
"Maafkan ayah Mita, ayah salah. Ayo pergi dari sini. Ayah akan membantumu bersembunyi," kata Rudi. Mita membantu ayahnya duduk. Melihat ayahnya menangis membuat Mita merasa iba.
"Berjanjilah ayah, ayah akan berubah. Mita memaafkan ayah. Tapi jangan biarkan Mita menikah dengan rentenir itu," kata Mita sambil menatap wajah ayahnya. Raut wajahnya penuh dengan kekecewaan. Sedangkan nenek melihat Rudi dengan sinis.
Rudi memeluk putrinya, tidak menyangka semudah ini memaafkan dirinya
"Maafkan ayah nak, ayah tidak mempunyai apa apa lagi, hanya bersembunyi jalan keluarnya." Rudi semakin menunduk. Mita memeluk ayahnya erat. Melihat ayahnya menangis hatinya juga ikut terluka.
__ADS_1
Rudi membujuk Mita untuk ikut dengannya, Mita menolak begitu juga dengan nenek. Nenek merasa Mita lebih aman bersamanya daripada Rudi. Sebelum keluar dari rumah nenek, Rudi juga menjelaskan bahwa uang yang dipinjam Farida tidak sampai lima ratus juta walau ditambah dengan bunganya. Itu hanya akalan rentenir yang memang doyan daun muda. Dengan lesu dan perasaaan takut, akhirnya Rudi meninggalkan rumah nenek.
Mita berdiri mengantri di depan ATM di sebuah swalayan dekat rumahnya. Setelah memasukkan pin, Mita mencek saldo. Bola mata Mita membesar melihat saldo di atmnya. Ratusan juta tertera di sana tetapi tetap juga tidak cukup membayar utang ke rentenir, yang kata ayahnya bila ditotal dengan bunga tidak sampai tiga ratus juta. Berbeda dengan pengakuan rentenir yang menyebut utang Rudi lima ratus juta. Karena penarikan uang dari ATM terbatas, hanya beberapa juta yang bisa ditarik.
****
Besoknya sepulang sekolah, Mita minta izin ke Alda, Mita tidak bisa seperti biasanya ikut ke rumah Alda untuk memberi Alda les privat. Alda bertanya kenapa dan penasaran, Mita hanya menjawabnya dengan adanya urusan pribadi.
Mita menghubungi Willy, panggilan tersambung tetapi tidak diangkat. Mita memesan taksi online, Mita berniat ke kantor Willy.
Di mobil, Mita sedikit cemas, takut kedatangannya mengganggu Willy dan takut dianggap terlalu lancang. Mita jadi ragu untuk ke kantor Willy. Keraguannya terlambat karena supir taksi sudah berhenti tepat di depan gedung kantor Willy.
Setelah menyerahkan sejumlah uang kepada supir taksi, Mita menurunkan kedua kakinya dari mobil. Sejenak Mita berdiri dan memandang gedung Willy yang menjulang tinggi. Mita menarik nafas panjang kemudian masuk ke area perkantoran.
Mita masuk ke lift, jantungnya sedikit berdebar. Mita kini sudah dilantai yang disebutkan resepsionis tadi. Ada dua ruangan yang membuat Mita bingung untuk mengetuk salah satunya. Kedua ruangan tersebut tanpa pengenal. Sedangkan meja di depan salah satu ruangan tersebut kosong. Mita menduga itu adalah meja sekretaris Willy.
Mita masih berdiri di depan kedua ruangan tersebut, menduga duga yang mana ruangan Willy akhirnya Mita memutuskan untuk mengetuk ruangan di sebelah kanannya.
Benar, suara Willy terdengar menyuruh masuk setelah Mita mengetuk pintu. Jantung Mita semakin berdebar, dengan perlahan Mita mendorong pintu kaca tersebut.
"Om...." Willy terkejut melihat Mita yang masih memegang pintu kaca. Mita juga terkejut melihat Willy tidak sendiri. Sofia ada bersama Willy duduk di sofa. Jarak keduanya hampir tidak ada. Mita bisa melihat badan Sofia menempel di badan Willy. Apalagi Sofia hanya memakai gaun tanpa lengan dan di atas lutut. Membuat dada Mita bergemuruh. Mita tidak bisa menampakkan rasa cemburunya, Mita hanya menunduk dan dadanya terasa sesak. Willy yang menyadari itu langsung berdiri dari duduknya. Menghampiri Mita dan menuntunnya duduk di sofa.
__ADS_1
Sofia yang merasa terganggu memandang Mita sinis. Apalagi kini Willy duduk di sebelah Mita, membuat Sofia makin tidak senang.
"Mita, ada apa kamu sampai datang ke kantor om?" tanya Willy lembut. Mita yang sedikit canggung dengan keberadaan Sofia hanya menunduk.
"Maaf om, aku lancang ke kantor om," jawab Mita.
"Kalau tahu lancang, kenapa datang?" sahut Sofia sinis.
"Sofia, diam lah. Dia datang pasti karena sesuatu yang penting," kata Willy kesal. Sejak kedatangan Mita, Willy sudah berpikir bagaimana caranya mengusir Sofia.
"Iya om, aku mau minta bantuan om," sahut Mita pelan. Mita juga berharap Sofia cepat keluar dari ruangan itu. Selain mengutarakan maksud kedatangannya, Mita juga tidak sabaran meminta penjelasan Willy tentang keberadaan Sofia di ruangan Willy.
"Sofia, bisakah kamu tinggalkan kami berdua?, mungkin Mita agak enggan jika ada kamu di sini," kata Willy pelan, Sofia mengerucutkan bibirnya tanda tidak senang. Keinginannya belum terkabul, Willy sudah mengusirnya secara halus.
"Aku di sini saja mas, Mita! jangan sungkan! kamu mau minta bantuan apa sama mas Willy, bilang saja, aku gak apa apa kog, kamu minta bantuan ke mas Willy," kata Sofia sok pede. Willy sedikit gusar, Willy takut Mita salah paham jika Sofia masih di ruangannya.
"Oke, kalau begitu kita keluar bertiga dari ruangan ini, ayo!" ajak Willy sudah berdiri. Sofia semakin kesal dan melotot ke Mita. Seperti bisa Mita tidak memperdulikannya. Mita ikut berdiri dan mengikuti langkah Willy.
Mita dan Sofia mengikuti Willy. Beberapa karyawan menunduk hormat ketika Willy lewat. Willy memainkan ponselnya dan terus berjalan tanpa berbicara. Hingga di parkiran Willy menyuruh Sofia masuk ke sebuah mobil.
"Sesuai aplikasi pak," kata Willy ke supir setelah mendorong badan Sofia masuk ke mobil. Sofia yang menyadari dia akan pulang dengan taksi online menampakkan wajah protes. Willy tidak perduli dan menyuruh supir untuk jalan.
__ADS_1
Willy berjalan ke arah mobil yang tersendiri dari mobil karyawannya. Sebuah parkir khusus untuk pemilik perusahaan. Mita mengekor.
"Masuk honey," kata Willy membukakan pintu mobil untuk Mita.