
"saya terima nikah dan kawinnya anindira binti handoko wijaya dengan mas kawin tersebut tunai” ucap seorang laki-laki dalam suatu ruangan.
“gimana saksi? Sah?” Tanya penghulu yang sedang menjabat tangan laki-laki yang baru saja menerima ijab darinya.
“SAH!” jawab dua orang saksi yang berada disamping penghulu itu serempak.
“Alhamdulillah!!” suara penghulu, saksi dan para tamu yang hadir mengucap hamdalah bersamaan.
Setelah itu, penghulu mulai memanjatkan doa untuk kedua mempelai, mendoakan mereka hidup sakinah, mawadah, warohmah dan hidup dengan penuh kebahagiaan.
Selesai berdoa, para tamu bergantian memberi selamat kepada keduanya.
"selamat ya dira, selamat ya dimas" ucap beberapa tamu bergantian sambil menjabat tangan kedua mempelai.
sepasang pengantin itu adalah dira dan dimas.
Dira adalah seorang gadis berusia dua puluh dua tahun, walaupun menggunakan gaun pengantin yang sederhana tapi tidak menutupi kecantikannya.
dira menatap tamu-tamu yang tidak lebih dari tiga puluh orang. dia tidak menyangka bahwa akan menikah di usia semuda ini terlepas dari janin yang sedang dikandungnya.
tamu yang hadir tidak banyak yang dikenalnya, karena sebagain besar dari mereka adalah keluarga dimas.
selain ayah, ibu dan adiknya rosi keluarga dira yang hadir hanya ada laki-laki berumur tiga puluhan tahun bernama roy adik dari ayah dira, maya istrinya dan anaknya kinan.
Pernikahan dimas dan dira memang tidak mengundang banyak tamu, hanya saudara dimas dan bebera saudara dira yang ada dikota bandar, tempat dimana dira dan keluarganya
pindah dua bulan yang lalu.
belum banyak orang yang dikenal keluarga dira.pernikahan ini juga dilakukan dengan tiba-tiba karena keadaan dira yang berbadan dua.
__ADS_1
acara sederhana adalah keputusan yang terbaik bagi mereka.
tidak ada tenda yang terpasang dirumah itu,tidak ada pelaminan dan ciri khas pernikahan pada umumnya.
"semoga ini adalah keputusan yang terbaik buatku" gumam dira pelan sambil menghela nafas.
walaupun pelan dimas masih bisa mendengar gumaman dira karena jarak duduk mereka tidak jauh.
dimas menatap wanita yang sekarang jadi istrinya itu dengan sendu begitu lama. ada kekhawatiran yang tersimpan di hatinya. sampai akhirnya dira menyadari bahwa dimas sedang menatap kearahnya.
dira menoleh kearah dimas lalu memperlihatkan senyum pada dimas mengisyaratkan bahwa dia baik-baik saja.
"aku tidak tau kedepannya akan seperti apa, tapi biarkan semuanya berjalan dengan alami, anggaplah aku seperti kakak atau sahabatmu seperti kemarin” Dimas berkata sambil memegang tangan dira.
Dira tersenyum lembut sambil melepas tangannya perlahan.
“aku akan mencobanya.” ucap dira sambil tersenyum tipis.
dira mengangguk lalu tersenyum hangat pada suaminya.
Selama beberapa bulan kebersamaan mereka, sebenarnya dia sudah merasakan debaran-debaran setiap kali bertemu dimas, tapi situasinya membuat dira tidak merasa pantas.
Ada penyesalan dihatinya kenapa dia sampai bisa dalam situasi seperti ini tapi amnesia yang dideritanya membuat semua jalan terasa buntu.
“kita bisa memulai hubungan ini pelan-pelan, aku akan menunggumu menerimaku. jika tidak aku akan melepaskanmu, aku tidak akan membebanimu. " dimas tersenyum sambil menatap wajah istrinya.
Suasana canggung membuat mereka berdua diam dan hanyut dalam fikiran masing-masing, hingga beberapa menit kemudian kedua orang tua dimas menghampiri.
mereka adalah sofia dan krisna.
__ADS_1
“mama papa pulang dulu, ada beberapa saudara kita yang istrahat dirumah, gak enak kalo dirumah gak ada orang” sofia berbicara hanya melihat kearah dimas.
jarak rumah dira dan dimas tidak terlalu jauh, hanya sekitar lima ratus meter saja. sehingga keluarga yang datang dipernikahan dimas ada beberapa orang yang menyempatkan singgah terlebih dahulu.
“kamu sudah menjadi seorang suami sekarang, jaga istrimu baik-baik”. Krisna menepuk bahu dimas.
“ajari istrimu dengan benar biar gak bikin tambah malu keluarga kita. Mama bener-bener gak habis fikir, wanita hamil kok dikawinin, bener-bener mengecewakan. ”sofia melanjutkan perkataan suaminya melirik dira dengan lirikan tidak suka.
“ayo pah pulang” sofia menarik tangan krisna meninggalkan anak dan menantu mereka.
“papa pulang dulu”. Krisna kembali beroamitan dengan mereka lalu keluar dari rumah dira.
“omongan mama jangan diambil hati, dia emang agak galak, tapi sebenernya baik”dimas mencoba menenangkan hati istrinya.
“gak papa kak, aku mengerti” dira tersenyum menyembunyikan kesedihannya. dira memang tidak nyaman dengan perkataan mertuanya yang kasar, tapi dira juga merasa kecewa dengan dirinya sendiri.
Dira menyadari, ibu mana yang akan rela melepaskan anaknya menikah dengan perempuan yang hamil bukan dengan anaknya.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Hai pembaca.. ini karya pertama saya, saya menerima kritik dan saran untuk membantu saya memeriksa kesalahan pengetikan atau alur yang tidak sesuai agar bisa saya perbaiki.
selamat membaca